Sesuai dengan instruksi mama, mereka harus bertamu ke rumah keluarga Fara dan meminta maaf padanya. Entah apa reaksinya nanti, yang terpenting minta maaf terlebih dahulu.
Tapi memang, tidak bisa berekspetasi banyak-banyak tentang ini, karena sedari awal mereka sudah disuguhkan oleh wajah Reima yang kecut, ia terlihat sama sekali tidak menerima keluarga Velyn.
Velyn melirik mamanya yang duduk di sampingnya. Ia ingin meminta pulang saja karena entah kenapa di posisi seperti ini, ia malah kasihan sendiri dengan orang tuanya.
"Bisa kita bicara secara pribadi? Tanpa anak-anak kita?" tanya mama yang mengagetkan Velyn. Jadi, ia harus apa kalau begitu?
"Itu memang lebih baik." Reima bangkit dari duduknya. Menatap papa dan mama bergantian. "Kalian. Ayo ikut aku," ajaknya sembari melangkah lebih dulu.
Ketika papa dan mama Velyn mulai bangkit, Velyn cukup panik karena itu berarti ia akan ditinggal sendiri di sana, bertiga bersama Fara dan Farhan yang auranya kental sekali.
Tapi orang tuanya tidak menggubrisnya, hanya papa lah yang hanya menepuk bahunya sekali sebelum mengikuti arah langkah mama. Velyn menatap kepergian orang tuanya dengan wajah memelas. Akan lebih baik kalau ia di rumah saja.
Velyn menatap Fara dan Farhan bergantian. Farhan diam saja dengan mata terpejam di sudut sofa. Tapi kemudian dengan tak terduga, kedua matanya membuka dan dengan cepat menatap Velyn.
Velyn yang kaget langsung mengalihkan pandangannya ke lain arah dan tak menampik jika jantungnya berdebar kencang sekarang, berdebar yang takut. Tapi tatapan Farhan ke Velyn itu tidak lama, karena beberapa detik setelahnya, Farhan bangkit berdiri lalu menghilang di dapur.
Velyn membuang nafas melalui mulut, melirik Farhan yang sudah pergi dengan raut lega. Ia kemudian berdeham dan melihat ke arah Fara yang hanya menautkan jari jemarinya di atas pahanya. Hm, jika seperti ini, Fara terlihat minta dikasihani dan Velyn tak mau berbohong kalau ia tidak bersimpati.
"Fara," panggil Velyn dan Fara mendongak menatapnya. "Maaf. Udah buat kamu kayak gini. Aku bener-bener minta maaf, mau disesali juga udah lalu, gak bisa keulang lagi walaupun pengen banget. Jadi, aku cuma bisa andelin maaf dan berharap kamu maafin. Aku siap kok jadi pendamping kamu pas kamu mau terapi, siapa tau kamu bisa jalan lagi, kan? Dicoba aja dulu, Ra," sambungnya dengan ekspresi berubah dari tegang, segan lalu ceria.
Tapi, Velyn tidak bisa mengharapkan apapun karena Fara hanya diam melihatnya dengan mulut berkatup rapat. Seperti ucapan panjang Velyn tidak ada menariknya sama sekali.
"Aku udah gak bisa jalan. Lupa, ya?"
Velyn tertohok mendengarnya, wajahnya yang tadi sempat ceria menjadi surut kembali.
"Aku udah gak peduli sama kaki ini." Fara menunjuk kedua kakinya. "Kemana Valerio?" tanyanya kemudian yang mengejutkan Velyn.
Perasaan Velyn yang sudah high emotional sejak berdebat dengan mamanya, jadi terpicu kembali. "Kalau kamu minta Valerio dari aku, maaf aku enggak bisa, Ra. Kami saling cinta dan itu udah hasil akhir."
Fara tersenyum miring. "Aku tau. Sebenernya aku masih mau berjuang. Tapi ada yang lain yang bisa gantiin Valerio di hati aku," ujarnya tersenyum lebar. "Vaden. Di mana dia? Aku enggak lihat sejak tadi pagi ngikutin kalian keluar."
Velyn melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul dua belas siang. "Enggak tau. Dia sama aku pisah tadi, jadi enggak tau," jawab Velyn jujur. "Btw, kalian udah lama sama, ya?"
"Kenapa? Kamu cemburu? Urus aja Valerio sana."
Velyn tertawa hambar. "Enggak lah. Aku kan cuma tanya."
Fara menatapnya intens. "Kami baru sebentar samaannya, tapi udah klop. Terus, kamu gak usah bohong, keliatan kalau kamu cemburu. Jangan serakah, udah ada Valerio, jangan ke Vaden lagi."
"Seriusan aku enggak cemburu." Velyn mencoba memastikannya pada Fara.
Fara sendiri menghela nafas panjang dan mengangguk-angguk kecil. "Kamu belum sadar aja. Jangan nangis kalau hubungan aku sama Vaden nantinya makin jauh."
Velyn hanya terkekeh mendengarnya, ia tidak begitu mengindahkan ucapan Fara karena menurutnya ia hanya mencintai Valerio saja.
Untuk sesaat, Velyn sadar kalau pembicaraan antara ia dengan Fara terdengar lebih enak dari pada sebelumnya. Apa karena mereka tidak terpaku pada satu lelaki yang sama lagi? Kalau begitu ada untungnya Vaden dekat dengan Fara. Namun, hal yang mengganjal perasaan Velyn adalah apakah Vaden memiliki ketertarikan khusus pada Fara? Kalau begitu mengapa masih bertanya apakah ia mencintainya atau tidak tadi malam?
"Kamu ada nomor Vaden?"
Pikiran Velyn teralihkan, ia mendongak dan mengangguk lambat. Mereka sudah dekat tapi Fara belum punya nomor Vaden?
"Boleh minta?"
Velyn lagi-lagi mengangguk lambat dan menyerahkan ponsel yang sudah menampilkan kontak Vaden ke Fara. Faara mengambilnya dan dengan segera menyalin nomor itu ke buku teleponnya.
"Jangan salah paham. Ini karena Vaden yang kelupaan buat kasih nomornya," celetuk Fara ketika ia masih menyalin. Velyn hanya diam tidak menjawab.
Tapi dulu, ketika mereka bertemu di Australia, Vaden dengan cepat memberi nomor ponselnya ke Velyn, bahkan Velyn sebenarnya tidak memerlukan hal itu waktu itu.
"Hm okey."
Tak lama kemudian, setelah ponsel Velyn kembali ke pemiliknya. Papa dan mama berjalan mendekat ke arah anaknya dan Reima yang ke arah Fara.
Velyn hanya diam dan tidak berani menatap Reima, perempuan yang sepertinya masih belum bisa memaafkannya.
"Jadi intinya, Fara enggak perlu terapi-terapi dari kalian. Keluarga saya dengan amat sangat mampu bisa terapi sendiri. Yang buat saya kesal, yang buat saya marah hanya karena Velyn yang menyembunyikan segalanya. Kenapa? Takut? Kan emang perbuatannya, harusnya bertanggung jawab," ujar Reima pedas, ia tidak peduli walau ada orang tua Velyn di sana.
Fara juga tampak tidak peduli, ia hanya mengotak-atik ponselnya tanpa mau repot-repot melihat wajah tiga orang di depannya.
Mama mengangguk dengan senyum di wajahnya. "Yauda kalau itu yang kamu mau, Reima. Kami cuma mau minta maaf sebesar-besarnya akan hal ini. Velyn juga pastinya kami nasehati lebih jauh lagi agar hal yang sama tidak terulang. Tapi maaf, kamu juga gak bisa merendahkan anak aku, dia pasti punya pendapatnya sendiri tentang ini walau aku juga enggak setuju dengan caranya. Dan kalau kamu menolak bantuan dari kami, itu gak papa, yang penting kami sudah menawarakan," ujarnya dengan senyum yang tidak luntur sedikitpun. Sepertinya mama ingin membalas perkataan Reima dengan nada rendah namun memiliki penekanan yang sama dengan ucapan Reima tadi.
Tapi Reima juga bukan wanita yang gampang terpengaruh. Ia hanya tersenyum membalas perkataan mama Velyn. "Intinya, Fara jadi korban di sini, jadi Velyn tidak bisa mengelak."
"Untuk itu kami memohon maaf," sahut papa langsung, membuat semua pasang mata menatap ke arahnya. "Karena keluarga ini sudah memaafkan, kami sangat berterima kasih dan semoga tidak ada membekas apapun lagi. Jika butuh bantuan, kami siap membantu. Tinggal kalian saja yang sudi kami bantu."
Velyn tersenyum tertahan, astaga ia baru tahu jika orang tuanya sangat pandai berkata-kata.
"Permintaan tidak membekas itu kayaknya agak sulit. Maaf emang mudah, tapi buat hapus seluruhnya itu susah. Jadi, jangan berharap terlalu besar."
Mama terdengar menghela nafas panjang, dua kali. "Yauda, Reima. Velyn yang bersalah dan dia udah minta maaf. Aku harap hubungan keluarga kita enggak bakal putus."
Reima diam tidak menyahut lagi, begitupun Fara yang kembali asik dengan ponselnya, membuat Velyn penasaran apa perempuan itu sedang berbalas pesan dengan Vaden? Karena ia tampak tersenyum-senyum. Hm padahal tadi ketika Velyn menghubunginya, Vaden tidak aktif sama sekali.
"Kalau gitu kami pulang sekarang saja. Sampai jumpa lagi, Reima dan Fara. Sekali lagi kami minta maaf atas semua yang terjadi," ujar mama terakhir kali serta melempar senyum tulus.
Hanya anggukan kecil dari Reima dan mereka bertiga melangkah meninggalkan rumah besar dengan pekarangan yang begitu luas itu.
Ketiganya diam tidak berbicara, bahkan sampai di dalam mobil. Hanya ada percakapan kecil antara mama dan papanya, sama sekali tidak ada membahas atau menyindir tentang kecelakaan itu. Velyn tidak berkomentar apapun karena ia juga setuju untuk tidak membahas hal itu lagi. Jika diingat lagi pun, ini memang ciri khas mama dan papanya yang ingin melupakan sesuatu yang tidak ingin terjadi tapi terlanjur terjadi, seperti hal ini contohnya.
***
Sebenarnya masih tidak percaya di dalam kepala Velyn bisa melalui hal ini. Ia tak habis pikir kalau akan semudah ini. Bahkan bisa di katakan, kurang dari dua belas jam rahasia itu terbongkar kemana-mana, tapi suasananya sudah tenang, tidak ada bentrok apapun.
Fara juga tampak tenang-tenang saja padahal jika dilihat dari segi ia yang suka menekan Velyn agar keinginannya terwujud, hal ini pastilah merugikannya. Tapi tidak, perempuan itu malah biasa saja seolah tidak ada hal besar yang terjadi.
Mungkin karena Vaden?
Mengingat Vaden, Velyn jadi merasa bersalah karena sudah marah padanya padahal pria itu berniat baik, begitupun dengan Valerio yang sudah bekerja sama dengannya. Inginnya menelepon Vaden, meminta maaf sekaligus berterima kasih, tapi sayangnya pria itu tidak aktif sama sekali. Velyn mencoba mengecek sosial medianya dan sama saja. WhatsAppnya tidak aktif, bahkan foto profilnya sudah kosong, bio di privat begitupun kapan terakhir kali terlihat. Aneh. Mengecek di i********: juga sama saja, Vaden tidak aktif.
Velyn duduk bersila di atas tempat tidur dan berpikir dalam. Seketika ia baru sadar jika ia tidak pernah tahu tentang keluarga Vaden yang tinggal di Indonesia, khususnya Jakarta. Atau bahkan ia tidak punya sanak keluarga di sini karena yang Velyn dengar keluarganya tinggal di luar negeri.
Kalau sudah seperti ini, Velyn bingung harus menghubungi Vaden dari mana karena dari segala arah, jalannnya buntu.
Karena sudah putus asa, akhirnya Velyn menyerah dan memutuskan untuk menelepon Vaden nanti malam atau keesokan harinya. Ia turun dan hendak masuk ke dalam kamar mandi kalau saja tidak terdengar ketukan pelan dari pintu kamarnya.
Velyn mengurungkan niatnya masuk dan melangkah ke arah pintu, ia dengan cepat membukanya dan ternyata mamanya yang mengetuk.
"Ada apa, Ma?" tanya Velyn begitu pintu terbuka dengan lebar.
Mama sepertinya masih kesal pada Velyn, terlihat jelas dari raut wajahnya yang masih datar tidak berekspresi. "Itu ada Valerio di bawah. Dia kayaknya khawatir banget sama kamu."
Velyn mengernyit, kenapa Valerio tidak menghubunginya saja? Apa karena ia pikir Velyn masih marah?
"Iya nanti Velyn turun. Suruh dia nunggu aja ya, Ma. Velyn mau pipis dulu," pinta Velyn yang hanya diangguki pelan oleh mama.
Setelahnya Velyn menutup pintu kamarnya dan berlari ke arah kamar mandi. Sesuatu yang sesak di bawah sana sudah tidak tertahankan lagi ingin dibuang dengan cepat.
***