36. Sudah Tidak Kembali

2123 Kata
Di tengah jalan menuju bandara, pikiran Vaden dipenuhi dengan Velyn. Ia tahu dan sadar masalahnya belum selesai, malah baru dimulai. Tapi, ia juga tidak bisa berlama-lama karena waktunya sudah tiba. Setidaknya, ia sudah membongkar rahasia itu. Tapi masalahnya ... walaupun ia sudah mesugesti dirinya untuk tetap tenang, ia sudah melakukan yang terbaik. Tetap saja ia merasa bersalah, ia juga merasa ia telah membuka permasalahn baru. Belum lagi Fara, ia memang sama sekali tidak punya perasaan khusus pada perempuan itu. Tapi, kepergiannya pasti membuat Fara kecarian akan dirinya. Membuat Vaden lebih khawatir karena ujung-ujungnya pasti memberatkan Velyn lagi. Vaden sampai di bandara beberapa detik kemudian. Orang-orang berseragam sudah berdiri menunggunya. Sesaat Vaden merasa kesal, ia sudah dewasa dan tahu apa yang ia harus lakukan. Tapi keluarganya dan keluarga Dieza sangat mengawasinya. Sembari berjalan lambat, pikiran Vaden kembali ke Velyn. Ia sampai menggaruk kepalanya kasar dan membuat orang-orang di sana heran karenanya. Tapi otak Vaden memang ruwet, seolah ada ratusan benang yang terjuntai dan saling mengikat di dalam sana. Vaden bingung, apakah ia harus kembali? Membatalkan pernikahan itu? Tapi sama saja ia menantang dua keluarga maha besar dan pastinya ia tidak sanggup. Lagipula, Vaden sudah berjanji, inilah hasil akhir yang harus ia terima. Beberapa langkah lagi maka Vaden tidak bisa kembali. Semakin ia banyak melangkah, semakin banyak hawa panas yang terhantar ke dalam kepalanya. Vaden menggelengkan kepalanya dan ia memejamkan mata erat. Ini adalah pilihan terbaik! Ya, terbaik! Mau bagaimanapun ia berusaha, jika cintanya Velyn selalu ada pada Valerio, maka ia tidak bisa dapat kesempatan. Lalu bagaimana dengan masalah baru yang kau buat? Pertanyaan itu muncul sendiri dan ia jadi mencaci maki suara yang timbul di dalam kepalanya itu. Namun, jawabannya tidak. Ia tidak membuat masalah baru. Melainkan menciptakan satu jalan untuk Velyn agar masalahnya terselesaikan dengan segera. Vaden membuka matanya dan mengangguk tegas. Kini ia sanggup dan siap. Selagi perasaan itu masih kuat mengontrolnya, Vaden dengan cepat dan langkah tegap berjalan lurus meninggalkan semuanya yang sepertinya memang layak untuk ditinggal sebelum ia kembali overthinking tentang Velyn. *** Kata 'selamat tinggal' masih menjadi beban pikiran Velyn. Tapi tidak terlalu kuat hingga melampaui pikirannya tentang rahasia yang terkuak. Velyn juga merasa tiba-tiba teringat akan sikapnya pada Valerio tadi, ia jadi tidak enak. Astaga, di saat seperti ini, di saat ia sedang sangat berpikiran tinggi tentang sesuatu, hal-hal lain muncul ingin dipikirkan juga oleh Velyn. Karena sudah tidak ingin memikirkan hal lain yang tak perlu untuk saat ini, Velyn menjauhkan ponselnya dari dirinya, tak lupa sudah ia alihkan ke mode senyap sebelumnya. Velyn menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, sekarang ia harus berpikir tentang alasan. Mungkin hal pertama ialah ia tidak sengaja melakukannya, tapi jika ditanya kenapa menyembunyikannya? Apa yang harus dijawab Velyn? Karena ia takut? Memang itu alasan jujur, tapi bukankah kedengaran sedikit aneh? Takut selama tiga tahun? Velyn menggaruk keningnya yang tak gatal. Yang paling paling ia takutkan adalah mereka yang tidak percaya jika kecelakaan itu bukanlah hal sengaja. Bagaimana nasib Velyn jika hal itu beneran terjadi selanjutnya? Velyn masih mengurut sebelah keningnya yang berdenyut nyeri ketika pintu kamarnya diketuk dua kali. Ia langsung waspada, dan tubuhnya langsung menegang seketika. Itu pasti mamanya. Ada apa? "Iya, Ma?" seru Velyn masih setia dengan posisinya. Jantungnya berdebar kencang sekarang. Tapi mama bukan menjawab, melainkan tetap mengetuk pintunya. Rasa cemas Velyn berganti sekarang, ia bertanya-tanya apa yang mengetuk itu mamanya? Atau orang lain? Penjahat mungkin? "Ini Mama. Buka pintunya dulu." Sahutan mama itu mematahkan pemikiran buruk Velyn yang lainnya. Sudah dikatakan bukan jika pikiran Velyn akan semakin kemana-mana kalau ia sudah overthinking. "Iya, Ma. Bentar." Velyn membalas ringan, dari nada bicara mamanya yang biasa, ia yakin mamanya ingin memberitahu hal yang biasa juga. Jika tadi berseru marah, barulah ia yakin kalau ini tentang kecelakaan itu. Velyn membuka pintu dengan cepat. Mamanya berdiri dengan senyum kecil di wajahnya. Tubuh Velyn menegang kembali seketika, tidak perlu ia tanya untuk mengkonfirmasi benar atau tidak, ia sudah tahu kalau sesuatu yang ia hindari dulu akan ia hadapi di depan mata. "Kamu bisa turun bentar, ada Papa juga di bawah," ujar mama menunjuk ke arah belakang tubuhnya. "Oh ya, abis kamu naik ke kamar, Valerio datang ke sini, sebenernya ia mau ketemu kamu. Tapi, karena mama bilang kamu di kamar, jadinya dia ke kantor dulu dan katanya bakal balik nanti." Apa yang memberitahu Valerio? Lalu mama menelepon papa untuk segera pulang? "Bukan," celetuk mama tiba-tiba. "Bukan Valerio. Tapi Reima." Pundak Velyn sungguh kaku saat ini. Bukan cuma karena mamanya yang pandai menebak pikirannya dari mimik wajahnya, tapi juga fakta kalau sekarang mamanya sudah tahu tentang kecelakaan itu. Velyn langsung menatap mamanya dengan pandangan memelas. "Ma ...." Mama melihat Velyn dengan pandangan datar. "Ayo ke bawah dulu," ujarnya dengan pelan, pertanda bahwa mama sedang serius. Velyn tidak punya penawaran apapun selain ikut saja terhadap permintaan mamanya. Ia dengan memanjatkan segala doa di hatinya, berharap kalau orang tuanya bisa memahami keadaannya dan tidak menghakiminya. Dari anak tangga teratas, Velyn sudah bisa melihat papanya yang duduk dengan tenang di single sofa. Papanya bahkan bela-belain pulang ke rumah padahal Velyn yakin ada banyak pekerjaan yang menumpuk. Ini semua dilakukan pasti karena ingin mewawancarai dirinya. Nafasnya terasa berat karena dadanya yang sesak. Velyn pun melanjutkan langkahnya, menuruni anak tangga dengan gerakan lambat. Sampai di anak tangga terakhir, ia mendongak dengan tatapan sayu ke arah papanya yang menatapnya. Sedangkan mama, tangannya sudah terlipat di d**a seakan begitu siap membasmi Velyn. "Sini duduk. Ada yang mau ditanya dari papa sama mama," ujar papa dengan pelan, ia juga tersenyum, membuat Velyn ingin menangis karena papanya terlihat paham dengan dirinya. Merasa mendapat suntikan energi, Velyn dengan percaya diri, mendekat dan duduk di depan papanya, sendirian di sofa yang panjang. Karena tidak ada satupun yang angkat suara, Velyn memutuskan untuk berbicara lebih dulu. "Maaf, Ma, Pa." Kalimat itu rasa-rasanya kalimat wajib yang pertama kali Velyn harus katakan. "Jadi bener apa yang dibilang Reima, ya?" tanya papa yang mendapat persetujuan dari Velyn. "Kenapa? Kenapa kamu diem aja? Itu udah lama, tiga tahun, kan?" Velyn mengigit bibir bawahnya, ia semakin ketakutan. Tenggorokannya tercekat, seolah tidak mengijinkan Velyn untuk berbicara. "Kamu tau kan, Vel. Kalau hal ini bukan hal main-main, kamu pikir ini masalah gampang? Dampak dari perbuatan kamu itu fatal, buat Fara lumpuh, enggak bisa jalan lagi dan kamu diem aja, rahasiain hal ini dari semua orang termasuk orang tua kamu sendiri?" Mama berseru menekankan seluruh kata dalam kalimatnya, membuat Velyn terdiam tak mampu berkutik sedikitpun. Papa yang duduk di depan Velyn berdeham cukup kuat, disengaja. "Coba Velyn ... kamu jelasin dari awal gimana, kok bisa kamu kecelakaan?" Velyn sedikit lega karena papanya tidak seperti mama yang langsung berseru kesal. "Waktu itu kan Velyn mau liat Mama. Velyn khawatir banget waktu itu. Mobilnya dilajuin kenceng, padahal Velyn udah yakin enggak ada siapapun di depan, tapi tiba-tiba Fara nyebrang gitu aja dan ... dan ... ya jadi gitu," jelasnya pelan dan menunduk tidak berani melihat mata mama papanya. Papa memegang lengan mama dan menggelengkan kepalanya isyarat jika mama tidak perlu memarahi Velyn lagi. Tapi mama tidak menuruti. "Terus kenapa kamu rahasiakan ini, Vel?!" Mama terdengar berteriak sekarang. "Kalau kamu gak sengaja nabrak, harusnya kamu gak takut. Kalau gini, sekarang gimana? Reima sama keluarganya pasti udah kesel banget sama kamu! Mama begini bukannya ikut kesel, tapi Mama kasihan sama kamu. Mama takut kamu jadi dipandang sinis sama orang-orang. Kalau aja kamu bilang dari awal, semuanya bisa diselesaikan." Velyn diam saja tidak menjawab, tapi telinganya tidak ia tulikan hingga masih mendengar seluruh perkataan mamanya. Mungkin mama benar, tapi mau bagaimana lagi, sudah terlanjur.. "Udah, Ma. Sekarang kita lihat ke depan aja. Gimana solusinya sekarang. Enggak perlu lihat ke belakang lagi." Velyn mendongak dan mengangguk samar menyetujui ucapan papanya. "Tapi gimana, Pa? Reima pasti enggak mau berhubungan sama keluarga kita lagi. Bukannya apa-apa, tapi Mama enggak mau punya hubungan buruk terhadap siapapun." Mama terlihat sungguh-sungguh dengan kalimatnya. "Tenang, Ma. Kita bisa dateng baik-baik dan minta maaf ke mereka. Kasih penyembuhan terbaik ke Fara, enggak ada yang enggak mungkin, kan? Siapa tau ada keajaiban Fara bisa jalan kembali," ujar Papa dengan senyum teduh di wajahnya. Mama menarik nafas berulang kali menetralkan kekesalannya yang memuncak. Ia tahu tidak seharusnya ia seperti ini karena pasti akan membuat Velyn semakin tertekan. Mama kemudian menatap Velyn, dan yang ditatap langsung mengalihkan pandangan ke arah bawah. "Kamu juga harus minta maaf!" Perintah mama dan diangguki Velyn. "Dan kamu juga harus lepas Valerio." Kalimat terakhir itu bukan hanya mengagetkan Velyn, tapi juga sang papa. Mereka berdua ternganga menatap mama yang memutuskan keputusannya sendiri. "Ma?" "Fara cintanya ke Valerio. Cara terbaik sebagai maaf kamu ke dia cuma lepasin Valerio ke dia," tukas Mama cepat. "Sebelum kamu kembali, mereka baik-baik aja dan enggak ada masalah apapun. Jadi sekarang, kamu mending pergi dari kehidupan me--" "Ma!" Papa menyela tajam, setajam tatapannya sekarang ke mama. "Mama gak bisa negputusin hal yang belum disetujui mereka berdua." Velyn masih terdiam, entah kenapa ada rasa tidak rela jika Valerio benar-benar ia lepaskan ke Fara. Seperti tidak mau karena Valerio adalah miliknya. "Mama salah. Sekarang Fara cintanya sama Vaden, bukan ke Valerio." Velyn berani mendongakkan kepalanya menatap sang mama sekarang. Ia sebal karena mama mengikutsertakan Valerio dalam hal ini. "Vaden? Owner Valo Tower itu, kan? Emang udah berapa lama sama dia?" Mama membalas tatapan Velyn. "Sama Valerio udah tiga tahun, Vel. Kamu pikir tiga tahun itu sama kayak tiga hari?" Velyn mengernyit dalam. "Mama kenapa gini sih? Kenapa coba malah merambat ke Valerio? Gak ada hubungannya sama dia, Ma. Intinya Velyn nyesel kenapa enggak dari dulu aja Velyn kasih tau mama sama papa. Ini karena dulu Velyn takut kalau ujung-ujungnya nanti Velyn yang bakal disalahin, padahal sumpah! Sumpah Velyn enggak sengaja nabrak dia ...." Velyn berujar panjang lebar dengan nada bicara yang cukup tinggi, kesabarannya hampir mencapai batas, matanya juga sudah memerah antara emosi dan juga ingin menangis. Mama yang melihat itupun akhirnya menghela nafas dan melemaskan punggung serta bahunya. Ia menyandarkan tubuh ke sofa dan memijit keningnya yang berdenyut. "Jujur, Mama kaget pas Reima kasih tau tadi. Tepat setelah kamu nutup pintu kamar. Awalnya gak percaya, tapi Reima juga gak mungkin bohong tentang hal sepenting ini," ujar mama pelan. "Mama bukannya apa-apa, image ke orang lain itu penting, tapi yang paling penting itu kamu. Mama gak mau kamu dipandang buruk sama satu hal yang kamu sendiri gak sengaja lakuin." Mata Velyn melebar terkejut mendengar kalimat itu. Begitupun papa yang tersenyum kecil. Mama akhirnya mengakui dan menyetujui gagasan jika Velyn memang tidak sengaja melakukannya. "Mama ...." Velyn bangkit dan berjalan ke arah mamanya, memeluknya dan mewek di sana. Velyn bertranformasi menjadi anak kecil sekarang. Mama tersenyum lucu yang terpaksa. "Tapi Mama tetep kesel loh ya karena kamu nyembunyiin ini. Awas aja kalau kamu ulangin sekali lagi. Mama keluarin kamu dari kaka." Velyn tersedak oleh tangisnya sendiri. Ia tidak percaya ini, secepat ini mama papanya memaafkan dirinya? Ia sama sekali tidak berekspetasi tinggi tapi yang terjadi malah diluar bayangannya. "Iya, Ma. Velyn janji. Makasih banget udah mau ngertiin." Velyn berujar sepenuh hati sebelum melepaskan pelukannya. "Jadi gimana sama tante Reima, Ma? Ini pasti bakalan susah banget." Mama menghela nafas lambat. "Ini dia. Mungkin nanti mama sama papa bicarain baik-baik ke keluarga mereka." Velyn melesu. "Hal ini berdampak ke perusahaan kita gak ya, Ma? Keluarganya Fara punya perusahaan-perusahaan besar, bisa aja kan--" "Ssh!" Mama menyela tajam. "Hal kotor kayak gitu enggak mungkin dilakuin Reima. Mama yakin dia pasti maafin walau bakalan butuh waktu lama." Velyn mengangguk setuju. Benar sekali. Ia bahkan berpikir kalau Reima akan memaafkannya kalau Fara bisa berjalan kembali. Tapi hal itu rasanya mustahil, Fara saja sudah dinyatakan lumpuh selamanya walau dilakukan terapi berulang kali. *** Di dalam pesawat, Vaden duduk dengan mata terpejam dan earphone yang bertengger di kepalanya. Ia mendengarkan lantunan lagu asing yang ia suka. Isinya tentang sebuah hati yang patah, yang mengharuskan si pria pergi dari rumah. Seperti ia sekarang. Perlahan-lahan, mata Vaden terbuka, bulu matanya yang lurus tampak manis. Ia menoleh ke arah kirinya di mana awan-awan terlihat mengiringi perjalanannya. Vaden tersenyum kecil, satu pertanyaan muncul di dalam kepalanya. Apa yang sedang dilakukan Velyn sekarang? Apa ia baik-baik saja? Apa masalahnya sudah selesai? Vaden hanya berharap jika semuanya memang baik, dan Velyn akan mendapatkan kebahagiaan sejatinya. Walaupun menyakitkan, Vaden akui ia juga senang melihat Velyn senang. Vaden juga bertanya-tanya apakah Velyn merasa kehilangan ketika ia pergi? Mungkin iya mungkin juga tidak. Tapi yang jelas, Vaden tidak bisa kembali, ia akan tinggal di sana bersama Dieza. Bisa saja ia kembali suatu saat nanti, tapi kemungkinannya begitu kecil sampai ia merasa itu mustahil. Vaden melirik ke ponselnya di tangan kirinya, ponsel yang tidak terhubung ke earphonenya. Ia sengaja mematikan daya, agar Velyn tidak bisa meneleponnya, tapi apa iya Velyn meneleponnya? Membuka pesannya saja mungkin tidak. Vaden terkekeh pelan dan memutuskan memejamkan matanya kembali. Mungkin keputusan tidak akan kembali adalah yang tertepat. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN