35. Vaden Kemana?

1711 Kata
Fara sebenarnya hendak menyusul Vaden yang keluar rumah mengikuti Valerio dan Velyn. Tapi Reima dengan cepat menahan langkahnya tidak peduli walau Fara memberontak dan tidak terima sekalipun. "Mama? Fara mau kejer Vaden, dia pergi. Ma," ujar Fara memelas mendongak menatap Mamanya. Reima menunduk. "Kecelakaan itu, memang Velyn pelakunya?" tanya Mama yang membuat Fara mengangguk mengiyakan. "Ada beberapa hal yang Mama mau tanya." "Ma. Apalagi? Intinya emang Velyn yang nabrak Fara. Sengaja atau enggak, Fata enggak tau," tutur Fara cepat, ia ingin menyusul Vaden soalnya. Reima menghela nafas panjang. "Kenapa kamu gak bilang dari awal? Velyn ... dia kelihatan ceria-ceria aja, seolah enggak ada hal buruk yang dia simpan, ketemu Mama dia juga masih biasa aja. Tapi kenapa?" Reima mengusap wajahnya kasar. Ia sebenarnya peduli pada Velyn. Tetapi fakta bahwa anaknya seperti ini karenanya, membuatnya tiba-tiba menjadi tidak suka. "Semua orang itu enggak sebaik yang dikira, Ma. Mereka punya rahasia-rahasia masing-masing yang kalau dibeberkan juga kita enggak nyangka," ujar Fara serius. "Yauda sekarang, Fara mau nyusul Vaden." "Tunggu!" Reima kembali menyela. "Apa bener kamu ancem Velyn? Ngancem apa kamu?" Ekspresi Fara tampak terkejut. "Mama percaya sama omongan mereka? Enggak, Ma! Fara enggak ada sedikitpun ancem Velyn, itu cuma bualan. Valerio memang dari awal cintanya selalu sama Velyn, enggak ada sedikitpun untuk Fara," sambungnya dengan mata yang mulai berkaca, sedih karena faktanya ia sulit mendapatkan cinta seorang pria. Reima tentu saja percaya. Lagipula tidak ada bukti berita itu benar. Fara yang mulai menangis membuat Reima tidak sanggup menahan kesedihannya. Fakta bahwa Velyn pelakunya, Velyn yang mengambil Valerio dari sisi Fara, membuat Reima sangat kesal. "Sayang. Udah ya, kamu jangan nangis. Suatu saat kamu pasti bakal dapet hadiah indah karena udah sabar ngelalui ini," ujar Reima mengusap air mata Fara. "Maafin Mama juga, Mama seneng-seneng aja padahal anak Mama lagi berjuang ngelawan sakit ini itu." "Vaden ... harapan Fara cuma Vaden, Ma. Tapi dia tadi ...." Ingatan Fara bagaimana Vaden membela Velyn dan buru-buru menyusulnya tadi membuat Fara jadi takut sendiri. Ia takut Vaden juga sayang ke Velyn seperti yang dilakukan Valerio. Reima juga paham maksud Fara. Tapi ia segera menepis pemikiran itu. "Kamu tenang aja, Mama yakin Vaden orang yang tepat buat kamu. Dan Farhan ...." Reima mencari keberadaan Farhan dan pria itu ternyata masih duduk di posisinya semula dengan tatapan kosong. "Kamu coba kejer Vaden, kalau masih diluar ajak dia masuk ke sini." Farhan baru menoleh ke Reima setelah ia diberi perintah. Tanpa bantahan apapun ia segera berdiri. "Kamu juga kesel kan Fara diginiin?" tanya Reima ketika Farhan hendak melaluinya. "Pastinya, Ma," sahut Farhan singkat sebelum kembali melanjutkan langkahnya ke arah beranda rumah. Reima menghela nafasnya. Jangankan mereka, keluarga Fara yang lain yang mengetahui Fara lumpuh pasti juga akan beramai-ramai menghakimi Velyn ketika tahu perempuan itulah pelakunya. "Mama akan telepon orang tua Velyn. Mereka juga harus tau apa yang dilakukan anaknya ke anak Mama." Reima bangkit dan segera mengambil ponselnya, hendak menelepon Mamanya Velyn. Fara terdiam di belakang Reima. Wajahnya kesal karena faktanya ia sudah tidak bisa mengancam Velyn lagi, rahasia itu sudah terbongkar dan Vaden orangnya. Ia menyesal sudah memberitahu Vaden. Kalau begitu lebih baik tidak usah saja. Yang membuat Fara semakin sedih ialah Vaden yang malah mengikuti Valerio dan Velyn, bukannya tetap tinggal memberinya semangat, mendorong cerianya timbul kembali, tapi yang dilakukan malah sebaliknya, alih-alih ceria, Fara malah semakin sengsara. *** Valerio dari tadi terus menoleh ke arah Velyn yang terdiam dengan pandangan mengarah keluar jendela. Ia tidak tahu pasti apa yang sedang dipikirkannya tapi Valerio dengan berani mencoba menggenggam tangan Velyn. Tapi belum juga sedetik, ia sudah menghempaskan tangan Valerio. Valerio menghela nafas panjang. "Maaf, Vel. Kamu pasti syok, kamu pasti kaget--" "Udah tau kan kalau aku bakal begitu?" sela Velyn menoleh ke Valerio dengan mata memerah. "Udah tau kan aku bakalan kayak gitu? Terus kenapa masih dilakuin, hm? Sengaja kan kalian. Kamu sama Vaden enggak mikirin gimana kedepannya. Gimana nasib aku selanjutnya. Kalian cuma peduli sama diri kalian doang." Valerio mengernyit, ia tampak tidak terima dengan kalimat Velyn. "Justru kami ini mau kamu itu bebas dari ancaman-ancaman Fara, Velyn. Emangnya apa untungnya rahasia ini kebongkar untuk aku sama Vaden? Enggak ada. Murni cuma biar kamu bebas, Vel. Masalah ke depannya, coba aja dihadapin, pasti bisa," ujar Valerio dengan nada tidak ramah. "Plis kamu harus paham kalau ini dilakuin juga buat diri kamu sendiri." "Tapi aku belum--" "Belum siap?" potong Valerio tersenyum miring. "Emang kapan siapnya, Vel? Keburu semuanya udah jadi bubur. Kamu enggak bisa begitu terus, okey? Percayalah ini yang paling baik. Kamu pasti bakalan ngerasain gimana enaknya nanti," sambungnya sebelum kembali memusatkan perhatiannya ke arah depan. Velyn hanya diam tak mampu membalas perkataan Valerio. Jika ia pikir kembali, memang ia yang akan diuntungkan nantinya. Ia tidak perlu lagi mendengar apapun tentang ancaman Fara yang malah membuatnya tidak bisa bergerak bebas. Memang benar ... tapi ... Velyn memejamkan matanya, ia ingin menangis kencang! Tapi ... ia belum siap dipandang tidak suka oleh banyak orang. Lihat saja tadi bagaimana Reima menatapnya, ia sudah tidak punya harapan Reima akan seperti dulu lagi kepadanya. Semua pasti akan berubah. Tapi dengan seiringnya waktu, apa semua akan kembali seperti semula? Ah ya, mungkin akan kembali seperti sedia kala jika dampak utamanya terselesaikan, yakni kelumpuhan Fara. Tapi, Fara saja sudah divonis lumpuh selamanya. Velyn menghela nafas kasar, ia tidak tahu harus apa sekarang selain berteriak kencang di dalam kamarnya nanti meluapkan rasa kesalnya. Setidaknya hal itu mampu membuat bebannya sedikit berkurang. "Kadang kamu harus hargai perjuangan orang lain, Vel. Kadang, buat ngelakuin sesuatu, dia perlu berjuang, enggak mikirin dirinya sendiri. Mungkin di kamu, kamu ngerasa ini beban, tapi sebenarnya orang itu pengen kamu lepas dari beban," celetuk Valerio panjang lebar dengan suara lembut, berbeda dengan yang sebelumnya. Lima detik setelah perkataanya selesai, mereka sampai tepat di depan rumah Velyn. Valerio menoleh dan dengan cepat mengecup kening Velyn dengan sayang. "Sekarang masuk dulu, kamu harus pikirin semuanya ya. Jangan mikir yang buruk-buruk terus karena semuanya akan pulih oleh waktu. Coba aja mikirin tentang hikmahnya, keuntungannya buat diri kamu," ujarnya menasehati Velyn. Velyn sendiri hanya melirik Valerio sesaat dan mengangguk. Benar, memang benar. Tapi Velyn butuh waktu sendiri untuk memulainya. "Aku turun sekarang," gumam Velyn dan keluar dari mobil begitu saja. Ia juga tidak repot-repot menunggu Valerio pergi karena ia langsung cepat-cepat masuk ke dalam rumah. *** Velyn menyandarkan tubuhnya di pintu dengan mata yang terpejam rapat. Ia menghela nafas perlahan. Kepalanya terasa penuh, ia merasa tidak bisa lagi memikirkan apapun. Reaksi Reima tadi terbayang-bayang di pikirannya. Mama Velyn berjalan lurus di depannya, awalnya beliau tidak menyadari ada Velyn di sana. Namun, ketika merasa ada yang mengganjal di ekor matanya, ia segera menoleh dan terkejut mendapati Velyn berdiri terdiam dengan mata menerawang. "Velyn?" panggilnya yang membuat Velyn sadar seketika. "Kamu kenapa ada di rumah? Maksud Mama kenapa balik? Bukannya mau ke kantor nyusul Papa? Tadi Mama lihat kamu juga bareng Valerio perginya, terus dia mana sekarang?" Velyn menatap kosong pada mamanya yang berjalan ke arahnya. Ia tidak punya ketertarikan untuk menjawab pertanyaan itu. Rasanya ia ingin sendiri di dalam keheningan, tidak ada satupun orang agar ia bisa menata hati dan pikirannya kembali. Dari rahasia yang sudah bukan rahasia lagi, lalu kecewanya ke Vaden yang membeberkan hal ini begitu saja dan terakhir, Reima. Ia khawatir dan cemas perempuan itu jadi membencinya. "Velyn? Kamu ini kenapa? Kok kayak tegang gitu?" tanya Mama yang menyadari bahasa tubuh Velyn. Menghela nafas, Velyn mencoba sedikit menyantaikan bahunya yang terasa kaku. Ia juga tersenyum kecil. "Gak papa, Ma. Velyn enggak bisa ke kantor karena ngerasa gak enak badan. Jadi Velyn pulang," ujarnya menelan saliva susah payah. "Kalau gitu, Velyn ke kamar dulu ya, Ma." "Tap--" Ucapan mama terhenti karena Velyn melaluinya begitu saja. Aneh, karena anak itu biasanya tidak bersikap begitu. Mama jadi yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh anak semata wayangnya itu. Tapi mama tidak terlalu diambil pusing, ia pikir mungkin Velyn sedang ada masalah cinta dengan Valerio dan itu sudah menjadi hal biasa, dulu pun mereka sering sekali bertengkar dan ujung-ujungnya Valerio yang meminta maaf dengan datang ke rumah Velyn. Velyn sendiri berjalan cepat menuju lantai dua rumah. Ia berlari ke kamarnya lalu menutup pintu dan menguncinya. Ia kembali bersandar di pintu dan menghela nafas berulang kali. Mamanya belum tahu soal ini, terlihat dari raut wajahnya yang normal seperti biasa. Velyn membasahi bibirnya yang kering. Ia berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di pinggirannya. Ia termenung kemudian, mencari banyak alasan dan cara agar ia mampu melalui ini semua. Sudah tidak bisa mundur, ia harus selalu maju mau bagaimanapun terjalnya area di depan mata. Velyn memejamkan matanya sedetik sebelum ia berteriak tertahan dan mengacak rambutnya kesal. "Aku harus gimana sekarang?" gumamnya dengan air mata yang mulai meluncur dari kedua matanya. Ia juga naik ke tempat tidur lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang, menekuk kakinya lalu memeluknya serta kepala yang ia benamkan dalam-dalam diantara kedua lututnya. Ia masih sedikit beruntung karena Reima tidak secepat itu memberitahu kedua orang tuanya. Sedikit beruntung bukan berarti seluruh keberuntungan akan jadi milik Velyn, karena ia yakin tidak lama lagi Reima pasti menginfokan hal ini. Hal-hal buruk sudah lebih dulu menguasai pikiran Velyn, membuatnya stress walaupun belum tahu akan bagaimana reaksi orang tuanya. Tapi memang, selain marah, hal apalagi yang mungkin terjadi pada mama dan papanya? Di tengah kacaunya Velyn, di tengah ia berpikir untuk melarikan diri. Tiba-tiba ponselnya bergetar, ia sama sekali tidak minat untuk mengambilnya. Tapi karena ia tidak sengaja melihat siapa pengirimnya, dengan cepat ia pun menyergap ponselnya. Pesan singkat itu dikirim oleh Vaden, pria yang sekarang ini dibenci Velyn. Bagaimana tidak jika karena dia, hal ini semua malah terjadi. Kalau saja menunggu lebih lama, ia pasti lebih mempersiapkan dirinya walau masih takut juga. Velyn tidak membaca isi pesan itu terlebih dahulu, ia malah menelepon Vaden tapi anehnya panggilan itu tidak tersambung. Velyn yang awalnya sudah kesal, jadi semakin kesal. Ia menggerutu sembari terus menelepon ke nomor Vaden. Ia ingin pria itu menerima panggilannya dan ia bisa memarahinya dengan puas. Tapi jangankan diterima, tersambung saja tidak. Velyn menghela nafas kasar, ia menyerah dan memutuskan untuk tidak menelepon lagi. Tapi kemudian ia teringat pesan tadi dan segera membukanya. Pesan singkat yang isinya juga teks singkat. Maafin ya, Vel. Aku lakuin itu demi kamu. Selamat tinggal. Baik-baik ya. :) Satu-satunya pertanyaan yang timbul di dalam kepaa Velyn setelah membaca pesan itu ialah, kemana Vaden? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN