34. Perpisahan

1934 Kata
Semua terdiam dengan keterkejutannya masing-masing, kecuali Vaden dan Valerio. Vaden menunduk menatap tangannya yang bertaut, sedangkan Valerio menoleh menatap Velyn di sampingnya yang tidak bergerak sama sekali, bahkan matanya tidak berkedip. Ia pasti sangat terkejut dan tidak menyangka hal itu akan keluar dari bibir Vaden. Valerio mengangkat tangannya hendak menyentuh lengan Velyn, tapi dengan cepat gadis itu menepisnya. Membuat Valerio kaget. Kekagetan itu bertambah ketika Velyn melempar tatapan tajam padanya, mata gadis itu juga memerah. Dalam pandangan itu, tersirat makna kalau Velyn menuduh Valerio, ia menebak kalau Valerio sudah merencanakan hal ini dengan Vaden. Pria itu sengaja membawanya ke sini dan membeberkan rahasia itu. Pada akhirnya, beberapa minggu terakhir yang ia selalu takut dengan ancaman Fara dan berharap jangan dulu membongkar rahasianya, malah ternyata Vaden pelakunya. Velyn tersenyum kecut. Reima sendiri tidak percaya dengan apa yang ia dengar, ingin meminta Vaden mengulang kalimatnya tapi ia merasa semuanya sudah jelas. Hanya saja, ia tidak menyangka, ia tidak percaya. Farhan orang yang paling cepat sadar dari keterkejutannya, ia segera menoleh pada Velyn. "Apa itu bener, Velyn? Kamu yang nabrak Fara tiga tahun lalu?" "Tunggu!" Reima menyela. Ia menatap Velyn sesaat sebelum menatap Fara yang juga diam membisu. "Mama tanya sama kamu, Ra. Dan kamu harus jawab jujur. Apa yang dibilang Vaden itu bener? Velyn orangnya?" Fara menatap Reima dengan sayu. Velyn sendiripun tidak menghalanginya, ia sudab menyerah, benar-benar menyerah. Tubuhnya kebas dan tangannya berkeringat dingin, tidak ada pembelaan diri, ja sudsh tertangkap basah dan hanya tinggal mengakui. "Iya, Ma. Velyn orangnya. Maaf, karena enggak kasih tau Mama dari awal. Ini karena Fara enggak mau Mama dan yang lainnya marah ke Velyn," ujar Fara dengan wajah meyakinkan. Velyn tersenyum miring. Ya, dan sekarang semua kesalahan tertuju padanya. Vaden dari tempatnya duduk, fokus menatap Velyn yang tidak menatapnya balik. Ia saja gugup saat ini, ia takut Velyn marah besar padanya. "Jadi Velyn--" "Eh Tante!" Vaden bangkit berdiri menyela perkataan Reima. "Maaf aku bicara lancang banget tadi. Tapi aku enggak bermaksud buat nyudutin Velyn. Aku bilang begini biar Velyn enggak ngerasa bersalah lagi. Yakin deh, Tan kalau kecelakaan itu juga diluar kendali Velyn," ujarnya terengah-engah karena bicara tanpa jeda. Velyn masih tidak mau menatap Vaden, ia masih sakit hati. Walaupun pria itu berbalik membelanya sekarang, tapi Velyn merasa dikhianati. Padahal ia sudah bilang kalau ia tidak ingin hal ini dibeberkan secepat ini. "Valerio juga yakin itu, Tante," ujar Valerio ikut membela Velyn. "Velyn enggak ngelakuin itu dengan sengaja. Kalau masalah dia yang sembunyiin ini dari kita semua, itu karena Velyn yang selalu ketakutan kalau semua orang bakal nuduh dia." Valerio kemudian menoleh pada Velyn. "Iya kan, Vel?" Velyn diam. Matanya berair. Dari semua pembelaan itu, kenapa Velyn masih merasa kurang cukup? Masih ada yang harus ia hadapi sekarang, kemarahan Reima, dan juga pastinya kedua orang tuanya. Berita ini sudah bocor, tumpahannya pasti akan merembes kemana-mana, Velyn sudah tidak bisa mencegahnya lagi. "Maaf, Tante," gumam Velyn sebelum mendongak menatap Reima. "Itu emang bener ... Velyn salah ... ma--" "Kalau kamu ada di posisi Fara gimana?" potong Reima yang membuat Vaden dan Valerio sama-sama mengernyit tidak suka, sedangkan Velyn hanya tersenyum sedih, ia sudah tahu kalau ujungnya akan seperti ini. "Pasti kamu ngerasain apa yang namanya depresi, kamu pikir enggak bisa jalan lagi itu enak? Saya tahu kamu mungkin takut, tapi kalau udah tiga tahun tetep gitu aja, namanya pengecut," ujar Reima pelan tapi tajam. "Kalau Vaden enggak kasih tau sekarang, mungkin sampai kapanpun saya enggak akan tahu hal ini, mungkin orang tua kamu juga belum tau kan?" Velyn menunduk tidak menjawab sepatah katapun, jari-jemarinya sangat dingin sekarang. "Fara," panggil Reima menatap anak bungsunya, ia mendekat dan berlutut di depan Fara. "Kenapa kamu sembunyiin ini dari Mama? Kenapa, Sayang? Kamu terlalu baik kalau kamu sembunyiin semuanya sedangkan dia tenang-tenang seolah enggak punya dosa. Dia juga yang rebut Valerio dari kamu, terus kenapa kamu--" "TANTE!" Bibir Vaden tertutup rapat ketika Valerio berseru, ia telat beberapa milidetik dari seruan Valerio akibat kekesalan yang tidak terbendung pada Reima. "Maaf Tante, tapi Velyn enggak salah di sini. Dia enggak sengaja lakuin itu, kenapa Tante malah jadi nyalahin Velyn gitu? Tante gak bisa judge gitu aja padahal enggak tau gimana kejadian pastinya." Reima mendongak menatap Valerio dan bangkit dari posisinya. "Emang kamu tau gimana kejadian pastinya? Enggak juga, kan? Yang tau, yang bener-bener tau itu ...." Reima meanatap Velyn melalui ujung ekor matanya. "Cuma dia dan Fara. Saya enggak percaya lagi ke dia, dan cuma Fara sekarang. Tapi Fara terlalu baik sampai dia nutup-nutupin rahasia ini dari saya." "Tante maaf banget," gumam Valerio. "Tapi alasan kenapa Vaden beberkan masalah ini adalah--" "Valerio." "Karena Fara udah sering ancam Velyn." Valerio menyelesaikan ucapannya, tidak peduli panggilan Velyn sebelumnya berarti menyuruhnya untuk berhenti mengucapkan perkataannya. "Ancam apa maksud kamu, Valerio? Kalian ini kenapa? Pelaku kecelakaan, yang buat Fara begini udah di depan mata, dan jujur, saya sangat kecewa. Tapi kalian malah bela Velyn, apa kalian ada hubungannya dengan ini semua?" Pemikiran Reima semakin kemana-mana. Ia semakin dibutakan oleh rasa kecewa. Jelas, ia masih belum percaya dengan apa yang ia dengar. Fakta ini begitu menyakitinya. Ia sudah cukup lama mengenal Velyn, menyayanginya juga bahkan, tapi mendengar jika yang menyebabkan kecatatan pada anak kandungnya adalah Velyn ... rasa sayang itu musnah dan mungkin berbalik menjadi kebencian."Mama ...," lirih Fara menggenggam tangan Mamanya. Ia memberi sedikit tarikan supaya mamanya duduk dan menenangkan diri. Farhan sendiri masih terdiam dengan mulut terkunci rapat. Vaden dan Valerio sama-sama memikirkan Velyn, takut gadis itu kenapa-kenapa karena sejak tadi ia diam saja. Reima yang mulai mengatur nafasnya meredakan emosinya pun duduk di samping Fara, sedangkan Fara berpikir singkat akan ucapan Valerio tadi. Vaden melakukan ini bukan karena ingin membuat Velyn kacau? Tapi melainkan ingin menghentikan aksi ancamannya yang selalu ia gunakan ketika menginginkan sesuatu dari Velyn? Kenapa ia tidak suka dengan gagasan itu sekarang? Seolah Valerio dan Vaden begitu perhatian dengan perasaan Velyn. Fara menatap ke depan di mana Valerio berusaha mengajak Velyn berbicara dengan nada pelan. Tapi Velyn tidak merespon sedikitpun. "Jadi ...." Reima mulai berbicara kembali setelah dirinya lebih tenang, ia menatap Velyn dan Velyn juga menatapnya. "Jadi itu bener?" Velyn menipiskan bibirnya, sudah ia katakan ia sudah tidak bisa mundur lagi. bukan? Maka ia hanya mengangguk sebagai jawaban. Reima tersenyum hambar dan mengangguk-angguk beberapa kali. "Kenapa baru dibilang sekarang? Kamu tahu Vel, di pertemuan kita, kamu itu selalu senyum dan ceria seolah enggak pernah ngelakuin hal salah sekecil apapun. Bener emang kata orang, kalau seseorang itu enggak bisa dinilai dari covernya aja. Nampaknya baik, tapi rupanya pembunuh." "Velyn enggak sengaja, Tante. Maaf." Velyn kemudian menatap Fara. "Kamu juga, Fara. Aku minta maaf," sambungnya pelan. Velyn hendak merendahkan harga dirinya ketika ia memajukan tubuhnya hendak berlutut di kaki Reima dan Fara, tetapi Valerio mengetahui hal itu dan segera menahan tubuhnya dan memberi gelengan samar pada Velyn. Reima terkekeh. "Walaupun Fara bisa sem--" "Mama!" Fara berteriak, membuat Reima cukup terkejut. Ia menoleh pada Fara dan langsung paham dengan ekspresi putrinya. Benar, ia jangan memberitahu hal itu sekarang. Semuanya kemudian diam tidak ada yang memulai pembicaraan. Velyn yang sudah tidak tahan dan ingin cepat-cepat pergi dari sanapun akhirnya bangkit berdiri. "Sekali lagi, Velyn minta maaf untuk Tante dan Fara, untuk Farhan juga. Ini ... ini emang salah Velyn. Sengaja enggak sengaja toh hasilnya Fara yang dirugikan," ujar Velyn berbesar hati. "Dan sekarang, Velyn mau pamit pergi." Reima menatap Velyn dengan mata melebar. "Udah terbongkar dan sekarang kamu mau pulang gitu aja?" tanyanya dengan nada kencang. Velyn balas melihat Reima dengan pandangan sakit. Seperti yang ia pikirkan, Reima berubah 100% ketika sudah tahu rahasia ini. Tapi memang ibu mana yang tidak akan emosi melihat langsung seseorang yang membuat anaknya cacat, apalagi orang itu ialah orang terdekatnya sendiri. Valerio menghela nafas. "Tante. Biar Velyn pergi dulu. Dan sekali lagi, Velyn enggak sengaja lakuin itu, Tante enggak bisa judge gitu aja sebelum tau pasti kebenarannya gimana," ujarnya sembari menarik Velyn berjalan bersamanya keluar dari rumah itu. Reima hanya memandangi mereka dengan tawanya yang tiada makna. Memang benar ia kecewa dan marah, tapi tidak terlalu besar karena ia tahu Fara masih bisa sembuh asal ia terapi. Gadis itu malas terapi dan masihh ingin dengan kelumpuhannya, sejujurnya hal ini juga membuatnya bertanya-tanya tentang ancaman yang Fara layangkan pada Velyn, apa itu benar? Vaden tidak diam saja melihat Valerio dan Velyn yang sudah keluar dari rumah. Ia pun hendak berlari mengejar, tapi sayangnya Fara langsung menahan tangannya. "Kamu mau kemana?" taanya Fara merengut, ia sudah bisa menerka kalau Vaden mau menyusul kepergian Velyn. "Aku keluar dulu, bentar ya." Vaden memberi tatapan meyakinkannya karena sulit membuat Fara yakin sampai akhirnya melepaskan cekalannya dan membiarkan Vaden pergi mengikuti Velyn. Di luar, Velyn linglung dan sorot matanya kosong. Air matanya juga perlahan turun membasahi kedua pipinya. Valerio melihat itupun mengusap air matanya. "Hey udah dong. Sekarang kan kamu pasti lega semuanya udah beres, ya kan" "Lega? Lega apanya orang sekarang aku makin stress," jawab Velyn pelan, ia tidak menatap Valerio. "Kamu sengaja kan lakuin ini? Udah bersekongkol dengan Vaden, kan? Banyak banget ya yang kalian sembunyikan dari aku." Velyn melepaskan paksa pegangan Valerio di tubuhnya lalu menatap pria itu tajam. "Kamu juga pasti tau kalau pria yang kamu bilang berhasil ngerebut hati Fara adalah Vaden. Bener, kan? Terus kenapa kamu sembunyiin?" tanya Velyn pelan, tapi percayalah nada suaranya itu membuat Valerio lebih suka Velyn mengeluarkan segala emosinya dibandingkan seperti ini. "Aku ngelakuin itu semuaa untuk kebaikan kamu sendiri, Velyn." Suara Vaden terdengar dari arah belakang Velyn, membuat Velyn menghela nafas panjang mencoba meredakan emosinya dan kekecewaan yang membludak akibat pengakuan Vaden. "Seharusnya kalau kamu benci, ya ngomong aja," ujar Velyn dengan sesenggukan. "Benci?" Vaden membeo dan tertawa. "Kalau benci malah aku gak akan lakuin sejauh ini. Aku peduli makanya aku beberkan rahasia kamu itu sekarang juga. Nanti di akhir, kamu bakalan berterima kasih kok ke aku karena udah bocorin hal ini." Valerio diam saja di depan Velyn. Ia sudah tahu akan kemana masalah ini, itu kenapa ia memilih diam saja dan membiarkan waktu hanya untuk Velyn dan Vaden sementara. "Berterima kasih?" Velyn berbalik menatap Vaden dengan pipi basah. "Aku gak butuh itu sekarang, aksi heroic kamu itu sama sekali enggak nolong aku." Vaden terkesiap melihat wajah Velyn, seketika rasa bersalah hinggap di dadanya. "Velyn ...." Tidak, ia tidak bisa mengatakan tentang kepergiannya dengan Velyn. Tapi apalagi alasannya membongkar hal ini cepat-cepat selain karena ia yang akan segera pergi. Velyn kemudian berbalik menghadap Valerio.  "Ayo pulang sekarang." Valerio mendongak menatap Vaden yang terdiam di anak tangga teras rumah sebelum menunduk melihat Velyn. Inignnya menyuruh Velyn untuk bersama Vaden dulu karena ini jam terakhir Vaden ada di sini. Tapi melihat Velyn yang sudah begitu putus asa, membuatnya hilang keberanian untuk berbicara. "Velyn ...." Vaden berjalan pelan menghampiri Velyn.  "Maaf. Aku enggak bermaksud nyusahin kamu atau buat kamu sengsara. Aku lakuin ini cuma agar kamu enggak terbayang sama hal-hal buruk di masa lalu kamu." Velyn tersenyum, ia menatap Vaden dengan senyuman walau air matanya tetap mengaliri pipinya. "Iya gak papa kok. Makasih ya," ujarnya yang malah membuat Vaden semakin merasa bersalah. "Aku pergi dulu." Vaden terkelu dan tidak bisa bergerak ketika Velyn pergi dari hadapannya. Valerio sendiri menepuk bahu Vaden sesaat seolah mengatakan kalau semua akan baik-baik saja. Suatu saat Velyn akan sangat bersyukur karena tindakan Vaden hari ini. "Apa yang lo lakuin udah bener." Vaden memejamkan matanya sesaat sebelum melirik Velyn yang sudah berjalan lebih dulu dan masuk ke dalam mobil Valerio. "Ya, mungkin," gumamnya. "Satu jam lagi pesawat gue berangkat. Bilang ke Velyn gue minta maaf, dan jangan lupa buat hubungin gue kalau semuanya udah membaik karena mulai detik ini, kepentingan Velyn udah full jadi tanggung jawab lo." Valerio tersenyum kecil. "Udah dari dulu begitu." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN