Pagi ini. Vaden, Valerio, Velyn dan Fara memulai pagi seperti biasa, selayaknya pagi-pagi sebelumnya. Velyn tidak memiliki firasat apapun tentang hari ini, ia hanya merasa akan baik-baik saja seperti hari-hari yang lalu. Kalau Fara, ia bangun dan menatap foto-foto Valerio di dinding kamarnya, ia tersenyum, di sana bukan hanya Valerio saja yang terpampang, tapi Vaden juga ada, 100% space yang ada di sana diisi oleh dua pria itu secara adil. Valerio sedang mengancing kemejanya di depan cermin, ia memejamkan mata dan mensugesti sebagian dirinya yang masih khawatir kalau ini adalah hal terbaik untuk semuanya, terutama Velyn. Vaden sendiri duduk dengan tangan menyatu di pinggir kasur, ia melirik orang-orang yang mengangkat barang-barangnya, ia akan pergi siang ini, dan hanya Valerio yang tahu keberangkatannya.
Di pulau yang lain, Dieza, calon istri Vaden sudah kegirangan tak sabar melihat Vaden tiba di sana. Berbeda dengan orang tuanya yang berharap-harap cemas. Jika Vaden sungguh datang, mereka harap pria itu sudah melupakan Velyn, perempuan yang katanya dicintai olehnya.
Kembali ke Vaden, ia melihat apartemennya sudah kosong, barang-barang pentingnya sudah diangkut oleh orang-orang suruhannya. Tidak ada satupun barang tertinggal karena ia memang tidak berada di sana lagi, ia akan tinggal selamanya bersama Dieza, dan mungkin tidak akan kembali lagi.
Untuk apa ia kembali? Apa alasannya kembali? Tidak ada. Hanya sakit hati yang ada jika ia berani menginjakkan kaki ke tanah ini lagi. Memang rasanya belum lepas dan ikhlas, tapi Vaden sudah bertekad, begitu ia berada di udara nanti, ia akan mencoba meninggalkan hatinya di sini dan memulai dengan hati yang baru di sana nanti.
Vaden mengambil ponselnya dan menghubungi Valerio. Sekali panggilan dan pria di seberang sana sudah menerima panggilan Vaden.
"Kita ketemu di sana sekarang, lo tinggal ikuti aja gimana alurnya. Gue gak bisa lama-lama karena siang gue harus udah di bandara," ujar Vaden cepat. Ia juga langsung memutuskan sambungan begitu mendengar balasan dari Valerio.
Vaden melipat bibirnya dan menghembuskan nafas dari mulut. Baiklah, ia akan mulai sekarang juga.
***
Velyn cukup terkejut melihat Valerio yang sudah menunggunya di depan rumahnya, padahal ia tidak ada meminta. Dari mereka SMA dulu, Velyn sudah mengatakan pada Valerio untuk tidak menjemputnya jika ia tidak ada meminta, karena terkadang, ada beberapa urusan yang Velyn ingin lakukan sendiri, jadi Valerio harus menerima pendapatnya. Tapi kali ini?
"Maaf, Vel. Aku enggak bilang-bilang dulu, soalnya ada orang yang mau ketemu sama kamu," ujar Valerio keluar dari mobilnya.
"Siapa?"
Valerio juga bingung harus menjawabnya dengan apa karena yang penting itu hanyalah membawa Velyn ke rumah Fara. Tapi lagi-lagi, Valerio entah kenapa merasa jahat pada Velyn, ia takut Velyn akan sangat marah nantinya.
Astaga, sekarang Valerio jadi bimbang kembali, tapi Vaden juga seharusnya sudah sampai di sana, ia tak bisa mundur lagi. Lagipula, ini untuk kebaikan Velyn juga. Perempuan itu tidak akan pernah mengungkap hal ini kalau tidak diungkap orang lain lebih dulu.
"Ada orang. Aku gak bisa kasih tau kamu sekarang. Tapi kamu ikut aja sama aku, okey?" Ia tahu tidak mudah mengajak Velyn ketika gadis itu sudah menunjukkan wajah curiga.
"Aku enggak akan mau kalau kamu gak kasih tau dulu siapa orangnya."
Benar, Valerio tau ini akan sulit. Bagaimana caranya meyakinkan Velyn?
"Aku enggak bisa kasih tau sekarang. Mending kamu ikut aja dulu, ini penting, Vel," ujar Valerio dengan tatapan serius, ia ingin Velyn percaya dan ikut bersamanya tanpa banyak permintaan.
Velyn menatap Valerio cukup lama sebelum akhirnya mengangguk menyetujui ajakan Valerio. "Yauda aku ikut, lagipula aku penasaran, siapa yang bisa buat kamu kikuk gitu, kayak bukan kamu jadinya," ujar Velyn yang mendapat kekehan dari Valerio. Pria itu memang cukup gugup, banyak kebimbangan di dalam hatinya.
"Yauda ayo masuk." Valerio membukakan pintu untuk Velyn, menutupnya kembali saat gadis itu sudah masuk ke dalam.
Valerio berjalan memutari bagian depan mobil dengan doa yang ia panjatkan di dalam hatinya, semoga semuanya akan lancar-lancar saja. Saling memaafkan dan pada akhirnya berbaikan. Yang paling Valerio takutkan adalah Velyn, jadi ia sangat berharap besar supaya Velyn tidak shock nantinya.
***
Di rumah Fara. Seperti pagi-pagi yang sebelumnya, Vaden selalu datang ke rumahnya lalu mengajaknya pergi bersama. Mengunjungi banyak tempat indah seolah Vaden tidak ada kerjaan selain menyenangkan Fara. Tapi memang faktanya, sejak beberapa hari lalu, Valo Tower sudah dipergang oleh orang kepercayaan keluarganya, tidak ia lagi.
"Kita mau jalan-jalan lagi?" tanya Fara antusias.
Vaden tersenyum dan menggeleng. "Hari ini kita enggak jalan-jalan dulu," ujarnya yang membuat Fara kecewa. "Aku mau ketemu mama kamu. Ada di dalam gak?"
Fara terkejut mendengarnya, ia hendak menjawab tapi suara Reima sudah terdengar dari arah belakang tubuh Fara.
"Mau apa nih ketemu sama tante?" tanya Reima dengan alis naik turun menggoda Vaden. Reima dan Fara memikirkan hal yang sama, yakni Vaden ingin lebih dekat dengan keluarga Fara karena mungkin ia akan lebih serius terhadap hubungan ini.
Vaden tersenyum kecil, agak tidak enak juga rasanya ketika kamu bersandiwara dengan seseorang dan orang itu berpikir bahwa kamu serius.
"Ada yang mau aku bicarakan, Tante," ujar Vaden menatap Reima. "Tapi enggak sekarang karena lagi nunggu dua orang lagi."
"Siapa?" tanya Fara mendongak menatap Vaden.
"Valerio sama Velyn," jawab Vaden masih dengan senyum yang tidak luntur dari wajahnya. Fara sendiri yang mendengar itu jadi terkejut, tapi ia tidak sampai kepikiran tentang rahasia itu.
Begitu Fara, begitupun Reima. Sama-sama tidak memikirkan yang terlalu jauh apalagi Reima belum tahu tentang perihal kecelakaan itu.
"Oh yauda. Kamu masuk aja dulu sama Fara, kita ngobrol sambil nunggu Valerio sama Velyn dateng," ajak Reima yang diangguki Vaden. Pria itu juga yang mendorong kursi roda Fara masuk ke dalam rumah sebelum Reima menutup pintunya.
Ketika obrolan antara Reima dan Vaden terjalin, Fara sudah berdebar karena berpikir tentang Valerio yang akan datang. Akhir-akhir ini ia sudah tidak pernah bertemu lagi dengan pria satu itu dan mendengar ia akan datang, entah kenapa Fara tertarik dan semangat, tapi mendengar juga Velyn bersamanya membuatnya langsung dongkol.
Tidak Fara saja, Velyn juga berdebar. Pasalnya Valerio dari tadi diam saja dan hanya fokus pada jalanan, tidak seperti dirinya yang biasanya. Memang sih Valerio lebih suka diam, tapi tidak kaku juga, seperti sekarang ini. Velyn menerka-nerka siapa orang yang dimaksud Valerio? Tapi sejauh apapun ia berpikir, Velyn tetap tidak menemukan jawaban yang tepat.
Sampai beberapa menit kemudian, Valerio memasukkan mobil ke dalam pekarangan sebuah rumah besar yang Velyn belum tahu siapa pemiliknya. Jelas saja karena pesta yang kemarin itu diadakan oleh keluarga Fara, bukan diadakan di rumahnya melainkan di sebuah gedung. Walaupun Velyn cukup dekat dengan Reima, ia tidak tahu dimana tepatnya alamat rumah wanita itu.
"Ini rumah siapa, Vale?" tanya Velyn menunjuk rumah tersebut ketika Valerio mematikan mesin mobil dan membuka seatbeltnya.
Valerio menatap Velyn. "Kita turun dulu. Kamu bakal tau nanti," ujar Valerio dan turun lebih dulu.
Velyn mengernyit penasaran, tapi ia tetap turun dan mengikuti Valerio dari belakang. Velyn mengedarkan pandangannya ke seluruh pekarangan rumah yang luas sampai matanya tak sengaja menatap sebuah mobil yang tentu ia tidak asing, bahkan platnya saja ia hapal. Mobil Vaden!
Baru saja Velyn ingin bertanya pada Valerio tentang ini, tapi Valerio sudah mengetuk pintu dan menekan belnya, membuat Velyn mengurungkan perkataannya dan kembali menoleh untuk memastikan jika plat dan mobil itu memang benar-benar milik Vaden.
Keterkejutan Velyn tidak hanya sampai di situ saja, ia kembali dibuat kaget oleh orang yang membukakan pintu ialah Farhan! Kakaknya Fara!
"Hai, Vel." Farhan langsung menyapa Velyn walau yang berdiri di depannya adalah Valerio.
Valerio yang melihat itu jadi jengkel sendiri, ia langsung membawa Velyn berdiri di belakangnya dan menatap tajam Farhan.
"Iya deh yang mantan pacar. Masih saling cinta sampai nyakitin adek gue," ujaran Farhan itu membuat Valerio maupun Velyn kaget. Farhan tahu mereka adalah mantan kekasih? Dari mana? Dar Fara kah?
Farhan berdecak kemudian. "Yauda ayo cepet masuk, kalian berdua udah ditunggu dari tadi," ujar Farhan menunjuk ke dalam rumah.
Velyn mendongak menatap kepala belakang Valerio, dia ingin bertanya siapa yang mereka temui? Walaupun ada perasaan jika orang yang di maksud adalah Fara, karena sekarang mereka ada di rumah perempuan itu, bukan?
Tanpa berlama-lama, Vaden menarik tangan Velyn supaya masuk dengan cepat. Ini karena Valerio yang tiba-tiba tidak suka dengan Farhan.
Di dalam, tiga orang sudah menunggu kedatangan Valerio dan Velyn. Mereka bertiga menoleh bersamaan ketika Valerio dan Velyn masuk. Vaden yang menangkap keterkejutan Velyn, tapi ia tidak menampilkan ekspresi apapun selain datar. Tidak ada empati lagi, ia akan segera mengungkap rahasia itu di depan Reima.
Reima tersenyum menatap keduanya. "Tante sempet heran pas Vaden bilang kalau ia nunggu Valerio sama Velyn. Tante cuma mikir apa Valerio sama Velyn datengnya bareng? Eh ternyata bener."
Valerio membalas senyum Reima, ia tahu maksud wanita itu. Pasti ia bertanya-tanya mengapa Valerio bisa datang dengan Velyn. Ya, setidaknya Reima tidak akan penasaran lebih lama karena nantinya, Valerio akan mengungkapkan hubungan mereka yang sebenarnya.
"Yauda sini duduk, jangan berdiri terus."
Sekarang mereka berenam sudah duduk mengelilingi sebuah meja. Semuanya saling diam sampai akhirnya Reima yang membuka suara lebih dulu.
"Jadi apa yang mau dibicarakan, nak Vaden? Kamu bilang tadi ada yang mau dibicarain antara kamu, Fara, Velyn dan Valerio, kan?" tanya Reima yang membuat Velyn langsung menatap Vaden dengan raut kaget, entah kenapa perasaannya langsung tidak enak. "Atau kalian butuh privasi? Biar Tante sama Farhan pergi dulu."
Vaden menggeleng. "Enggak perlu, Tan. Tante sama Farhan di sini aja dulu."
Velyn semakin tak karuan, kegugupan dan kecemasannya mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia ... ia sudah tahu akan kemana pembicaraan ini. Ia sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. Velyn menatap Vaden yang menunduk, mencoba memanggil pria itu dari hati ke hati. Tapi percuma karena Vaden tidak mau menatapnya sama sekali.
"Eh tapi ya, Tante penasaran kenapa Valerio bisa sama Velyn? Valerio juga akhir-akhir ini enggak sama Fara lagi," ujar Reima menatap Valerio. "Dan apa bener kamu mutusin hubungan kamu sama Fara, Rio? Termasuk pertunangan itu?"
Valerio menghela nafas, sekarang adalah waktunya. "Iya, Tante. Maaf banget, tapi Valerio rasa ini yang terbaik buat semuanya. Valerio sama Velyn dulunya pernah pacaran."
Velyn meringis dan menunduk sedalam-dalamnya, ia memejamkan mata dan begitu menyesal kenapa ia harus ikut Valerio ke sini.
"Velyn pergi lima tahun yang lalu. Fara yang selalu temenin Valerio sampai akhirnya Valerio kasih kesempatan buat Fara. Tapi semenjak Velyn kembali, rasanya Valerio sadar kalau selama ini Valerio enggak bisa lupain Velyn," jelasnya.. "Maaf, Tante. Bukannya mau mempermainkan perasaan Fara, tapi perasaan Valerio juga enggak bisa dibiarkan gitu aja."
Wajah Reima tegang, ia terduduk kaku dan dari tadi menatap Valerio dan Velyn bergantian. Ia tidak menyangka hal ini. Sebenarnya ada rasa marah di hatinya, tapi ia cepat-cepat memadamkannya dan melihat pada yang terjadi sekarang saja, yakni ada Vaden disamping Fara, menggantikan Valerio. Toh anaknya juga merasa senang dan enjoy saja dengan Vaden.
"Yauda, gak papa, gak perlu minta maaf ke Tante. Minta maafnya ke Fara, gimanapun Fara yang tersakiti beberapa hari yang lalu."
Kata beberapa hari yang lalu bermakna besar pada Valerio dan Velyn. Ini berarti Fara tidak larut dalam keretakan hatinya.
"Karena udah ada Vaden yang selalu sama Fara sekarang."
Sambungan kalimat itu seperti bom yang meledak di kepala Velyn. Ia dengan cepat melihat Vaden yang tersenyum menatap Reima. Apa-apaan? Jadi selama ini Vaden menghilang karena ia bersama Fara? Jadi ia menyukai Fara? Kalau begitu kenapa menyatakan cinta padanya lagi? Kenapa juga ia tidak mengatakan pada Velyn kalau ia mencintai Fara? Ia berkata ia marah karena Velyn merahasiakan kecelakaan itu, kalau begitu apa Velyn bisa marah juga karena Vaden menyembunyikan ini darinya?
"Hm, emang Fara sempet down banget karena Valerio lebih milih Velyn. Tapi gak papa, sekarang Fara punya Vaden yang selalu ada untuk Fara," ujar Fara riang, sebelah tangannya memegang tangan Vaden. "Kamu jangan pernah tinggalin aku ya. Buat aku lebih percaya," sambungnya menatap Vaden.
Ya, Fara ingin Vaden benar-benar meyakinkan hatinya agar ia sepenuhnya melupakan Valerio. Tapi sayangnya, kenyataannya, Vaden akan segera pergi, entah apa yang akan terjadi pada Fara nantinya.
Reima tersenyum menatap Vaden dan Fara. Ini alasan mengapa ia tidak marah tentang Valerio dan Velyn yang ternyata sudah punya hubungan dari lama. Karena sudah ada Vaden yang diyakini Reima sangat menyayangi Fara.
"Jarang-jarang Tante ketemu sama pria-pria yang nerima segala kekurangan pasangannya," celetuk Reima yang mengingatkan Vaden dengan tujuan sebenarnya.
"Ah ya ngomong-ngomong soal kekurangan, ada hal yang sebenarnya pengen aku bilang," ujar Vaden dan kini ia menatap Velyn.
Velyn yang tadinya kesal parah pada Vaden, kini langsung pucat melihat tatapan yang Vaden layangkan kepadanya. Tanpa ditanyapun, Velyn sudah tahu apa yang hendak dikatakan Vaden dan ia dengan segera menggelengkan kepalanya memberi isyarat supaya Vaden tidak berani-beraninya mengatakan apapun.
Tapi, Vaden sudah bertekad. Ia murni melakukan ini agar Velyn tidak perlu cemas apapun lagi. Ia melakukan ini bukan karena ia tidak suka pada Velyn, malah karena ia sayang makanya ia sampai seperti ini. Vaden menghela nafas pelan dan memejamkan matanya sesaat, meminta maaf pada Velyn di dalam hati sebelum mengucapkan kalimat yang mengejutkan Reima dan Farhan, khususnya.
"Orang yang enggak sengaja nabrak Fara, yang buat Fara lumpuh ... adalah Velyn."
***