32. Dua Pertanyaan

1941 Kata
Hari-hari berlalu dengan cepat, semuanya aman dan tentram hingga beberapa orang lupa dengan masalah mereka. Velyn yang mulai lupa kekhawatirannya tentang kecelakaan itu dan Fara yang mulai melupakan Valerio sekaligus ancamannya pada Velyn. Kedua perempuan itu juga sama-sama bahagia sekarang. Tapi sayangnya, sesuai dengan rencana awal, Vaden harus pergi meninggalkan Fara. Rencana pendekatan hanyalah tipu belaka agar Valerio dan Velyn kembali bersama. Vaden sekarang berhadapan dengan Valerio di pelabuhan. Malam-malam Vaden meminta Valerio untuk bertemu dengannya dan sekarang pria itu masih terdiam belum mengucapkan sepatah katapun. "Jadi, kenapa?" tanya Valerio berdiri dengan kedua tangannya berada di dalam saku celananya. Vaden bertopang dagu, mendongak dan berdeham. "Gue pergi besok. Ke Aussie," beritahunya singkat. Valerio mengernyit sesaat. "Besok? Cepet banget, baru beberapa hari lo sama Fara." Vaden tertawa mendengar penuturan itu. Jelas sekali Valerio ingin ia lebih lama dengan Fara agar ia lebih banyak waktu dengan Velyn. Dasar! "Pemikiran gue gak kayak gitu btw," sambung Valerio seolah tahu apa yang ada di dalam kepala Vaden. "Gue murni nanya kenapa secepet itu? Gimanapun lo itu yaa temen gue juga." Vaden tersenyum miring. "Tapi lo seneng juga, kan? Gak perlu bohong. Lo seneng enggak ada lagi saingan lo buat rebut hati Velyn. Lo juga seneng kan karena hati Fara udah berhasil gue rebut separuhnya jadi dia enggak bergantung lagi sama lo," ujarnya panjang lebar. "Tapi inget, gue cuma mampu ambil setengahnya, sisanya masih ada di lo." Valerio mau tak mau tersenyum lebar, ia akui perkataan Vaden memang benar, tapi yang ia katakan sebelumnya juga bukan hanya bualan semata. Vaden itu temannya, walaupun juga musuhnya dalam soal peercintaan, jadi kalau ia hendak pergi jauh dalam waktu yang cukup lama, tak enak juga rasanya. "Tunggu, lo sampai kapan di sana?" tanya Valerio baru teringat hal itu. "Gue gak bisa pastiin. Tapi kemungkinan gue selamanya di sana," ujar Vaden mengangkat kedua bahunya pelan. "Gue nikah, bangun keluarga di sana." "Jadi yang urus Valo Tower siapa?" "Ada orang lain yang gantiin gue." Vaden menatap Valerio lurus-lurus. "Pada akhirnya, Velyn akan ada di lo. Tapi gue mau bilang, kalau lo jangan pernah sakitin dia, dia itu berharga banget buat gue." Jangan ditanya sebesar apa rasa sayang Vaden ke Velyn. Tapi memang ada sebuah dinding tinggi besar yang tak bisa ia tembus hingga tak bisa mencurahkan segala rasa yang ia punya kepada Velyn. Dinding itu ialah Valerio. "Dan untuk Fara. Gue gak tau gimana reaksinya nanti pas tau gue ninggalin dia. Mungkin sedih, tapi yang terburuk adalah dia yang ngotot pengen balik ke lo." Mata Vaden bersinar serius. "Kalau itu terjadi, pasti dia bakal ancam Velyn lagi, gue gak akan biarin itu." Valerio mengernyit, ada yang janggal di kalimat Vaden. "Apa maksud lo Fara ngancem Velyn?" tanyanya dengan pandangan heran, tapi perlahan ia menyadari sesuatu dan menatap Vaden terkejut. "Lo udah tau tentang kecelakaan itu?" Vaden membentuk mulutnya menjadi huruf o, ia baru sadar jika Valerio tidak tahu jika ia sudah tahut tentang hal ini."Iya Fara yang kasih tau gue, shock sih awalnya tapi sekarang udah gak papa." "Jadi, apa yang mau lo lakuin?" "Bilang ke semuanya tentang kecelakaan itu." "Enggak! Jangan!" Valerio dengan cepat menyanggah, membuat Vadean terkesiap dan memundurkan kepalanya, ia tampak kaget dengan jawwaban Valerio yang berada di luar ekspetasinya. "Velyn ketakutan kalau itu terbongkar, gue tau banget kalau dia belum siap untuk itu. Jadi enggak usah dulu unutk sekarang, mungkin nanti-nanti baru kita boleh bocorin." "Mau sampai kapan? Gue bukannya enggak peduli sama perasaan Velyn. Tapi ini memang udah enggak bisa ditahan lagi, enggak bisa ditunda lagi. Gue takutnya si Fara ngancem Velyn untuk ngembaliin lo ke dia, dan akhirnya dia sendiri yang susah. Jadi gue gak mau ambil resiko apapun, sekarang cuma itu jalan satu-satunya biar gue lega dalam perjalanan besok." Valerio mengangguk, ia juga memikirkan hal yang sama. Hanya saja, ia takut Velyn akan shock ketika sadar semua orang sudah tahu satu-satunya rahasia terbesarnya besok. "Lo kapan berangkatnya besok?" tanya Valerio setelahnya. "Gue harap lo gak rencanain buat ngungkapin rahasia itu malam ini juga." Vaden terkekeh. "Ya enggak malam ini lah, paling besok pagi." Vaden berdecak pelan dan melirik mobilnya. "Gue balik dulu, sampai jumpa besok di rumah Fara, ajak Velyn ke sana juga." Valerio diam sesaat sebelum mengangguk merespon ucapan Vaden. *** Begitu Valerio dan Vaden bubar, yang satu ke kanan dan satunya lagi ke kiri. Keduanya sama-sama berpikir. Valerio berpikir dua hal. Pertama tentang rahasia itu. Ia takut hal ini berdampak buruk ke Velyn, bayangan terburuknya ialah Velyn yang menghilang pergi. Sejujurnya ia sama seperti Vaden yang ingin mengungkap fakta itu, tujuannya baik, tapi melihat ketakutan Velyn setiap suatu pembicaraan menyinggung kelumpuhan Fara, ia jadi bersimpati dan ujung-ujungnya tidak tega. Kedua ialah tentang Fara. Ini juga sangat menyita pikirannya. Seperti yang dikatakan Vaden jika ia hanya mampu merebut sebagian hati Fara, Valerio juga mempercayainya. Momok menakutkannya ialah Fara yang kembali memaksanya bersamanya ketika Vaden nanti pergi. Jelas saja karena beberapa hari terakhir perempuan itu merasa diperhatikan selama ada Vaden. Ketika Vaden hilang, maka ia akan kembali pada Valerio. Walaupun Valerio belum tahu pasti akan bagaimana jadinya, tetap saja membayangkannya ka sudah khawatir. Valerio menghela nafas panjang, mungkin memang mengungkap rahasia itu adalah jalan satu-satunya yang mereka punya. Jadi, s*****a andalan Fara hilang dan ia tidak bisa memaksa serta mengancam lagi. Mungkin dengan begini, semuanya akan selesai. Di sisi lain, Vaden juga berpikir ruwet. Namun, yang paling menyita ialah tentang ia yang akan meninggalkan Velyn. Ia belum siap, masih ingin rasanya bersama Velyn dalam beberapa waktu ke depan. Velyn itu satu-satunya perempuan yang klop dengannya. Sejauh ini, hanya ia. Tapi, ia juga tidak bisa memaksakan seluruhnya sesuai dengan kehendaknya. Velyn mencintai Valerio dan begitupun Valerio. Ia dan Fara hanya penghalang maka dari itu mereka harus menyingkir. Vaden memukul setir dengan pelan sebelum kemudian matanya menyorot tajam ke arah jalanan. Ia akan menemui Velyn sekarang juga, berbicara beberapa hal dengan perempuan itu sebelum memutuskan dengan matang apa yang ia lakukan esok hari. Jawaban Velyn nantinya sangat berpengaruh untuk besok, tapi tentu, apapun keputusan Vaden, ia takkan membocorkannya sedikitpun pada Velyn. Tak butuh lama bagi Vaden untuk sampai tepat dan cepat di rumah gadis itu. Ia melihatmya sesaat dengan seksama, sudah malam, sepertinya penghuni di dalam rumah semuanya sudah tertidur. Vaden melirik arlojinya di pergelangan tanganya dan mengernyit melihat angka yang ditunjuk oleh jarum jam. Sudah jam sebelas? Mengapa ia tadi merasa sepertinya masih jam sembilan malam? Kalau begitu pantas saja, ini sudah waktunya untuk tidur. Tapi Vaden tidak mau mundur, ia sudah sampai maka Velyn harus menemuinya. Karena bisa saja malam ini adalah malam terakhir mereka bisa bertatap muka. Vaden kemudian keluar dari mobilnya. Ia berdiri dan mendongak menatap jendela di lantai dua rumah yang sudah gelap. Vaden membuang nafas dan mengambil ponselnya, ia mencari nomor Velyn dan segera menghubunginya. Vaden mengernyit ketika samar-samar ia mendengar suara nada dering dari sebuah ponsel. Ia mendongak dan tercengang melihat lampu dari kamar yang ia tebak kamar Velyn sudah menyala. Vaden terdiam sesaat, ia bahkan sempat berpikir ia takkan bertemu Velyn malam ini. Tapi nyatanya, sekali panggilan dan perempuan itu langsung terbangun. Antara ingin minta maaf karena sudah menganggunya atau terima kasih karena sudah terbangun dari lelapnya. intinya Vaden jadi bahagia. Vaden juga bertanya-tanya, mengapa Velyn menyetel nada dering sekuat itu? Ia tebak mungkin volumenya Velyn naikkan sampai maksimal, kalau tidak ya tidak mungkin ia bisa samar-samar kedengaran sampai luar. Apa untuk semua panggilan ia setel seperti itu? "Vaden!" Vaden berjingkat kaget mendengar teriakan itu tepat di telinganya karena memang ia sudah menempelkan speaker ponsenya didekat sana. "Kamu denger aku gak sih? Dia yang nelpon dia sendiri yang diem." Vaden mengerjap, ah ya, ia terhanyut dalam lamunannya tadi hingga tak sadar Velyn sudah memanggilinya dari tadi. "Hehe maaf, ya. Aku gak konsentrasi tadi," ujar Vaden terkekeh. "Kok nada bicara kamu aneh?" Velyn terdiam beberapa detik. "Udah lah gak heran orangnya sendiri kadang aneh. Jadi, kamu mau apa malam-malam gini nelpon? Awas aja kalau gak penting, aku udah bangun padahal masih tidur tadi." Jadi tadi Velyn memang benar-benar tidur, dan ia bisa terbangun dalam sekali dering dari panggilannya. "Kamu bisa turun bentar? Aku di bawah." Begitu Vaden menyelesaikn ucapannya, seseorang bangkit dari atas tempat tidur dan langsung berlari ke arah jendela. Vaden bisa melihat bayangannya hingga wajah terkejut Velyn terpampang di jendela. Vaden mengangkat tangannya dan melambai, ia juga memberi kode agar Velyn segera turun ke bawah menemuinya. Tanpa butuh waktu lama, Velyn segera turun dan membuka pintu rumahnya. Ia juga tidak mengganti bajunya, masih memakai piyama motif sapi, piyama kesukaannya. Vaden tersenyum dan menurunkan ponselnya dari telinganya sebelum memasukkannya kembali ke dalam sakunya. Velyn menatap Vaden dengan malas, sepertinya ia masih mengantuk. "Apa? Kamu mau bilang apa?" "Sebelumnya aku mau tanya. Kamu setel nada dering memang sekenceng itu?" tanya Vaden, ia penasaran sekali tentang ini. "Enggak. Maksudnya tuh ya biasanya enggak, cuma akhir-akhir ini aku setel begitu di nomor kamu, abisnya kadang susah banget dihubungin, jadinya kan aku setel kenceng biar pas ada keajaiban kamu nelpon, aku langsung angkat gitu," jelasnya yang membuat Vaden terpaku di tempat. "Jadi itu khusus buat aku?" tanyanya tidak percaya, tapi Velyn mengangguk. Untuk sesaat, Vaden merasa dirinya berharga bagi Velyn. Rencana akan pergi besok rasanya ingin ia batalkan saja dan menentang semuanya agar ia terus bersama Velyn. Tapi! Tapi ia langsung ingat. Tidak, mau bagaimanapun perhatian Velyn padanya, hati perempuan itu tetap ada pada Valerio. "Jadi, kamu mau ngomong apa malem-malem gini? Aku mau lanjut tidur nih." Velyn menguap setelah ia berbicara, menandakan jika ia benar-benar mengantuk. Vaden menghela nafas panjang, tangannya gemetar pelan saking senangnya perihal nada dering tadi. "Aku mau tanya dua hal sama kamu, kamu tinggal jawab jujur dan setelahnya aku bakal pulang," ujarnya menunjukkan simbol damai dua jarinya pada Velyn. "Hm oke, apa emang?" Vaden menatap Velyn lurus-lurus. "Ini terakhir kalinya aku nanya tentang hal ini dan aku harap kamu jawab dengan sejujur-jujurnya." Ia menjeda sesaat. "Kamu cinta gak sama aku?" Velyn mengerjap, beberapa kali dan tersenyum. "Kenapa tanya itu? Jelas iyalah. Cinta sebagai kakak dan sahabat," ujarnya riang. "Lagian kenapa tanya itu padahal kamu udah tau jawabannya." Rasanya itu seperti angin di dalam hatimu disedot paksa, hati yang tadinya menggembung jadi mengempis sekempis-kempisnya hingga tak rasanya sesak. Vaden berusaha mempertahankan senyumnya ditengah hatinya yang terasa dicubit oleh tangan tak kasat mata. Lagi-lagi ia harus menahan kesakitan. Kadang kala, ia merasa perhatian Velyn itu adalah bentuk kasih sayang lebih dari teman, tapi ketika di tanya, yaa jawabannya tetaplah sama, yakni cinta sebagai kakak dan sahabat. Kalau begitu, tidak ada alasan lagi untuk Vaden tetap tinggal, besok ia harus pergi meninggalkan negara ini dan orang-orang yang kenal dekat dengannya. "Oke," gumam Vaden sembari menghembuskan nafas. "Yang kedua, kapan kamu mau ungkap rahasia kamu? Besok?" Velyn mengernyit. "Kenapa selalu itu yang ditanya? Kayak kamu tuh maksa banget buat aku ungkap semuanya," ujar Velyn tidak suka, kentara dari wajahnya yang kusut seketika. "Aku serius, Vel. Besok? Atau kapan?" "Ternyata kamu lebih ngeselin ketimbang Valerio." "Velyn. Besok atau kapan?" Vaden terus menanyakan hal yang sama. Velyn semakin kesal dibuatnya. "Aku enggak tau! Udahlah itukan masalah aku, aku tau kapan aku harus ungkap semuanya. Kalian tuh gak ngerti tau gak, aku juga tau kapan waktu supaya aku ungkapin semuanya," seru Velyn. Vaden mengangguk-angguk. Keputusannya semakin bulat sekarang, tidak ada waktu lagi. Ini juga untuk kebaikan Velyn sendiri. "Yauda. Aku cuma mau tanya itu aja," ucap Vaden tersenyum tipis. "Kalau gitu aku balik dulu. Sampai jumpa besok." Velyn tidak mengucapkan sepatah katapun lagi, ia sudah terlanjur kesal dan hanya menatap kepergian Vaden tanpa repot-repot membalas sapaan pria itu. "Sampai jumpa besok katanya?" Velyn bergumam sendirian. "Kayak dia ada waktu aja. Akhir-akhir ini aja enggak bisa dihubungi saking sibuknya," sambungnya pelan, menggelengkan kepalanya dan berbalik masuk kembali ke dalam rumah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN