Setelah mobil Vaden meninggalkan pekarangan rumah. Farhan yang tadinya masih berdiri di ambang pintu pun akhirnya berbalik dan masuk ke dalam. Ia sendirian di sana, pembantu yang membantu mereka merapikan rumah belum datang. Mamanya alias Reima juga sudah pergi sejak pagi-pagi sekali.
Farhan memang tampak biasa, tapi sejujurnya ia marah pada Valerio. Karena telah membuat satu-satunya adik yang ia punya bersedih hati. Ia kesal, karena Fara harus menderita selama bertahun-tahun hanya karena satu pria yang sekarang sudah bahagia tertawa bersama perempuan lain.
Farhan tidak tahu akan jadi seperti apa masalah ini ketika Reima tahu Valerio balikan dengan Velyn. Fakta bahwa Velyn adalah mantan Valerio dan mereka balikan lalu meninggalkan luka untuk Fara mungkin akan menjadi sesuatu yang emosional.
Farhan berjalan ke arah meja makan di dapur, mengambil sebuah apel hijau lalu menggigitnya kasar. Ia mengunyah cepat kemudian mengambil pisau. Ia meletakkan apel yang sudah cekung di satu bagian itu ke atas meja, selanjutnya ia mengangkat tinggi-tinggi pisaunya lalu menghunuskan tepat di tengah-tengah tubuh apel itu.
Membahas tentang Velyn, Farhan jadi tersenyum miring.
Memang sekarang sudah ada Vaden di samping Fara dan adiknya itu tampak bahagia, tapi Farhan rasa Vaden bukan orang yang tepat. Jadi, Valerio sekarang mencintai Velyn, bukan?
Kalau begitu ia harus melakukan satu hal dengan dua manfaat yang akan ia dapat. Pertama, memberi balasan ke Valerio dan kedua, memberi ruang untuk adiknya kembali bersama Valerio.
Mungkin setelah ini, Farhan harus mensugesti Fara untuk segera melakukan terapi penyembuhan kakinya. Karena menurutnya, kelumpuhan Fara sudah tidak bisa di manfaatkan. Sekarang, kecantikan yang sempurna mungkin juga menjadi faktor utama, jadi Fara harus mampu menyaingi Velyn.
"Well, let's do it," gumam Farhan memegang gagang pisau, membawa apel itu bersamanya.
***
Setelah kedua orang tua Velyn pergi dari sana dan hanya meninggalkan mereka berdua di ruang tamu. Velyn menghela nafas berat seolah ia sudah menjalani tes wawancara di perusahaan besar, ia kemudian melayangkan tatapan tajamnya ke Valerio.
"Kalau kamu gak dateng, aku gak jantungan kayak gini," serunya menyalahkan Valerio, ia juga memukul pelan lengan pria itu saking kesalnya.
Valerio tertawa. "Ya kan aku mau dateng aja."
"Alah kamu sengaja, kan? Terus sekarang malah kamu sendiri yang rasain dampaknya, kan?" ujar Velyn. "ITapi jangan kamu kasih tau dulu deh, ntar aku takut malah ke itu lagi ujung-ujungnya."
Valerio memang dari tadi memikirkan hal itu, ia menoleh ke Velyn yang sudah berbaring di sofa dengan tubuh miring dan kaki yang ditekuk. "Aku tetep bilang kalau memang hal itu syarat biar orang tua kamu setuju sama hubungan ini."
Velyn memeluk lututnya, kepalanya bergeser mencari tempat nyaman untuk kepalanya. "Emangnya yang kamu maksud itu hubungan apa? Kita gak pernah ucap balikan kalau kamu lupa."
"Emangnya harus? Aku bisa aja selangkah lebih jauh kalau kamu mau," balas Valerio langsung, membuat Velyn mendongak menatapnya terkejut, tapi melihat Valerio yang serius ia pun menghela nafas lelah.
"Jangan dulu, Vale. Masih banyak banget masalah. Harus semua selesai dulu baru bisa cerita tentang itu." Velyn kembali membaringkan kepalanya. "Kalau kamu bilang ini cuma soal kecelakaan itu, maka kamu salah. Bukan cuma itu, tapi juga perasaan, kamu tau pasti kalau Fara cinta banget sama kamu, kan? Biar gimanapun dia loh yang sama kamu selama aku enggak ada. Kamu enggak bisa lepas gitu aja."
"Jadi aku harus sama dia gitu? Walau terpaksa?"
Velyn bangkit dengan cepat dan menepuk pipi pria itu cukup kencang, Valerio bingung ingin menyebutnya tamparan atau pukulan ringan.
"Seenggaknya hargai, Valerio b**o. Seenggaknya untuk sementara," sewot Velyn, geram karena Valerio bertingkah polos seolah ia tidak tahu dengan apa yang harus ia lakukan.
"Kalau dia udah cinta sama pria lain gimana?"
Velyn terdiam. "Kalau gitu, ya gak papa. Kamu enggak perlu ngehargai lagi, ya maksud aku ikatan dia ke kamu udah enggak ada. Mungkin kalau itu kejadian nanti, aku bakal plongg banget."
Melihat Velyn membayangkan tentang apa yang tadi barusan ia ucapkan menjadi kenyataan dan juga dirinya yang menginginkan hal sama, membuat Valerio berharap dalam hati kalau Vaden sungguh bisa menarik hati Fara.
Tapi ada satu yang Valerio penasaran, yakni apakah Vaden sebenarnya memiliki rasa pada Fara? Vaden memang tidak mengatakan apapun tentang hal yang membuatnya menjalankan rencana ini, tapi bisa saja dan ada kamungkinan bukan jika sebenarnya Vaden suka Fara, namun caranya harus seperti ini.
"Vale? Kamu mikirin apa?" tanya Velyn menginterupsi pikiran Valerio yang mulai merambat jauh. "Sekarang kamu pulang aja deh ya, aku masih mau masak bentar soalnya sarapan tadi mama cuma masak buat berdua doang, aku enggak dibagi," sambungnya dengan ekspresi berubah-ubah, dari tajam saat mengusir Valerio hingga lesu karena mamanya sengaja menyuruhnya memasak sendiri.
"Kamu nyuruh aku pulang disaat kamu tau aku juga gak akan mau pulang?"
Velyn menatap Valerio dengan pandangan malas. Memang, tidak ada gunanya juga repot-repot menyuruh Valerio hengkang dari sana. Pria itu tentu tidak akan mau.
"Jadi kamu mau apa sekarang? Kalau mau ganggu, mending pulang aja," usir Velyn terang-terangan, ia bangkit berdiri dan mengibaskan tangannya beberapa kali. "Aku paling enggak suka diganggu pas masak."
Valerio mendongak dan tertawa. "Kamu ngomong kayak kamu handal aja dalam masak. Aku tebak nih pasti kamu mau buat mi goreng kan pagi ini?"
Velyn terkesiap mendengar penuturan Valerio yang pas sekali dengan isi kepalanya. Ia hendak berucap menyanggah ucapan itu, tapi ia berpikir ulang. Jika ia mengatakan kebohongan, ia pasti akan ketahuan karena Valerio juga tidak mau pergi dari rumahnya.
"Terserah deh," ujar Velyn akhirnya dan berbalik berjalan cepat ke arah dapur, meninggalkan Valerio yang tertawa dan tentu mengikutinya dari belakang.
"Kamu jangan ikut dong, aku kan grogi kalau diliatin gitu," pinta Velyn dengan bibir merengut, sudah bisa dikuncir.
Valerio berdiri di depan meja dapur dengan tangan terlipat, kalau hal ini memang ia sudah tahu tapi ia penasaran dan bertanya-tanya apa Velyn masih dengan kegugupannya yang dulu atau sudah berubah.
Melihat Valerio yang diam saja membuat Velyn menghela nafas panjang. "Yauda terserah kamu aja deh," putusnya, mulai beraksi normal padahal ia memang gugup jika selalu dilihatin oleh seseorang ketika hendak mengerjakan sesuatu yang serius.
"Kenapa mienya cuma dua? Aku juga mau loh," seru Valerio ketika melihat Velyn hanya mengambil dua bungkus mi dari dalam laci. Dua mi yang sekarang berada di tangan Velyn itu hanya untuk dirinya sendiri, ia harus mengambil tiga jika ingin berbagi dengan Valerio.
"Kamu bukannya udah sarapan ya pas mau datang ke sini?"
"Udah memang, tapi kan aku mau juga," ujarnya dengan tampang memelas.
"Kalau gitu mending kamu aja yang buat nih, kamu kan lebih jago masak daari pada aku." Velyn meletakkan tiga bungkus mi ke atas meja dapur, tapi Valerio cepat-cepat menambahkan.
"Lah aku maunya kamu yang masak, udah lima tahun dan aku penasaran gimana rasa masakan kamu sekarang. Ya walaupun cuma sebatas mi goreng," ujarnya pelan di kalimat akhir. Pura-pura mengejek kemampuan Velyn yang masih sama walaupun sudah bertahun-tahun berlalu.
"Eh ngejek ya .... Kamu gak tau kan aku bisa gulai, semur, nyambel, banyak deh." Velyn membentuk lingkaran tak kasat mata dengan tangannya, jadi isyarat kalau sebanyak itu juga yang ia bisa lakukan.
"Terus kenapa enggak itu? Kenapa malah mi goreng?'
Velyn menatap Valerio dengan mata yang lurus datar. "Suka ati aku ya, Vale. Kamu mau ya oke, kamu gak mau pulang sana."
Valerio tertawa kencang mendengar kalimat itu, Velyn ini minta digigit sepertinya. Tidak tahu saja dia Valerio sudah menahan diri sekeras mungkin hanya karena melihat varanya memasak yang di mata Valerio terlalu imut.
"Oh ya, kamu enggak ada ayam atau bakso gitu?" Valerio bertanya ketika menyadari jika Velyn hanya membuat mi goreng simpel tanpa ada tambahan-tambahan seperti suwiran ayam atau apa yang membuat mi gorengnya terlihat istimewa.
"Enggak. Males banget, ribet. Mending begini aja, udah enak juga kan, kenyang, selesai," tutur Velyn dengan mata fokus ke arah kuali.
"Kalau sosis sama telur gimana?" Valerio berjalan kesana-sini mencari apa saja yang bisa dibuat menjadi tambahan untuk mie goreng ala anak kos yang dibuat Velyn.
Velyn terkekeh melihat Valerio yang celingak-celinguk mencari-cari sosis atau telur. Sebelah tangannya sendiri sedang mengaduk nasi di dalam kuali hingga benar-benar matang.
"Udahlah, Vale. Gini aja juga enak kok. Kamu gitu amat," ejeknya dengan bibir melengkung ke bawah.
Valerio putus asa tidak bisa menemukan satupun yang cocok untuk menjadi pelengkap, ia kemudian kembali berdiri di atas meja dapur dan bergumam pelan, "Itu mie goreng harus enak, awas aja kalau gak enak."
***
Vaden dan Fara sedang berada di sebuah kafe, tertawa bersama menceritakan sebuah momen lucu yang pernah dilalui Fara. Namun keberlangusan itu harus terhenti ketika sebuah deringan masuk ke ponsel Vaden.
Vaden melirik membaca sebuah huruf yang muncul di layar ponselnya dan ia dengan cepat menolaknya.
D. Ia menamainya seperti itu, entah apa maksudnya tapi itu adalah Dieza.
"Siapa? Kok gak kamu angkat? Angkat aja dulu," ujar Fara mempersilahkan Vaden sebelum meminum minumannya.
Vaden melirik lagi ke ponselnya, lagi-lagi Dieza meneleponnya. Ia cukup kesal sebenarnya, ia sedang tidak mood walaupun sedari tadi tertawa. Jujur saja Vaden tidak menyukai Dieza, entah kenapa, mungkin karena perjodohan itu. Memang bukan salah Dieza, tapi tetap saja ia tidak suka.
"Gak perlu, gak penting."
Fara mengerjap. "Kalau aku jadi kamu, aku bakal angkat semua telpon apalagi dari orang yang penting," ujarnya pelan. "Segak penting apapun aku bakal ladenin."
"Masalahnya orang ini juga enggak penting," sahut Vaden tertawa hambar. "Sampai mana tadi kita ngobrolnya?"
Fara hanya mengangguk semangat dan kembali melanjutkan ceritanya yang tertunda. Sedangkan Dieza di sisi lain, melihat ponselnya dengan mata bersinar pilu.
Dieza berada di kemarnya, berdiri di dekat jendela dengan mata menatap keluar di mana gedung-gedung tinggi menjulang. Tadi ada cekcok antara orang tuanya dengannya, tentang perjodohan itu. Orang tuanya dan sebagian keluarganya menyarankannya untuk tidak melanjutkan perjodohan, karena mereka khawatir Vaden tidak bisa melupakan Velyn dan ujung-ujungnya menyakiti Dieza.
Tapi rasanya sudah terlanjur, Dieza sudah memiliki ketertarikan besar terhadap Vaden sejak mereka pertama kali bertemu. Melihat cara jalannya, wajahnya dan sorot matanya, Dieza suka semuanya. Walaupun ia tahu ini akan sulit mendapatkan perhatian apalagi hati Vaden, tapi ia yakin ia bisa, ia mampu mendapatkannya nanti.
Sekarang, suasana hatinya sedang buruk-buruknya, ia ingin membagi cerita pada Vaden, namun seperti yang sebelum-sebelumnya, pria itu tidak mau menerima panggilannya. Mau berapa kali pun Dieza mencoba, ujung-ujungnya tetap sama, suatu keajaiban jika Vaden suatu saat nanti menerima telepon darinya.
Kadang kala, Dieza merasa ia tak mungkin melakukan ini, ia merasa putus asa. Tapi ia juga tidak bisa mundur karena sebagian besar hatinya sudah berada di dalam genggaman Vaden. Maju salah, mundur juga lebih salah. Andai ada seseorang yang mengerti betul perasaan Dieza, mungkin ia akan senang sekali.
***