Suasana di ruang tengah cukup kaku hari itu. Papa dan mama Velyn saling lirik dengan wajah heran dan tanda tanya besar di kepala mereka sebelum mengalihkan tatapan ke depan di mana ada Valerio dan Velyn duduk bersebelahan dengan tegang.
Velyn melirik Valerio melalui ujung ekor matanya, ia berkali-kali menghela nafas agar rasa kesalnya mereda. Tadi, ia dan orang tuanya sedang bercakap ria sampai pria itu tiba-tiba datang dan mengagetkan semuanya, termasuk dirinya.
Apalagi ketika Valerio bilang ia ingin bertemu dengan Velyn, berkata dengan wajah ceria seperti ingin bertemu sang kekasih. Masalahnya ialah, orang tua Velyn taunya Valerio masih dengan Fara, mau bertunangan dengannya, lalu kenapa di sini? Maksudnya bersama Velyn.
"Ada apa, Valerio?" tanya papa dengan tatapan teduh, tapi entah kenapa auranya tidak seteduh tatapannya.
Valerio tidak menduga suasananya akan jadi seperti ini, ia pikir orang tua Velyn sudah tahu ia kembali dengan anaknya. Tapi ternyata tidak, itu mengapa keceriaannya tadi berubah menjadi abu seketika dan ia merasa tegang sekarang.
Tapi Valerio tidak bisa mundur, ia juga tidak ingin mundur. Ia datang ke sana bertujuan untuk semakin dekat dengan Velyn, sekaligus meyakinkan orang tuanya mempercayakan Velyn pada Valerio.
"Kamu mau ketemu Velyn? Ada apa memangnya?" tanya papa lagi, menatap Valerio dan Velyn bergantian. "Inget loh, kamu itu milik Fara. Jangan dekat-dekat sama perempuan lain apalagi mantan pacar, nanti yang ada kekasih kamu sekarang alias Fara bisa cemburu dan akhirnya marah-marah ke Velyn."
Valerio tersenyum kecil. "Valerio udah enggak sama Fara lagi, Om," ungkapnya jujur, ia memang tidak ingin menyembunyikan apapun, walaupun sekarang Velyn sudah menatapnya dengan marah, ia tidak apa.
Bukan hanya Velyn yang terkejut mendengar penuturan Valerio. Tapi mama dan papa Velyn apalagi. Mereka berdua terkesiap dan memandang Velyn intens. Bertanya-tanya tentang apa yang dilakukan anak mereka hingga Valerio tidak bersama Fara lagi.
"Tunggu-tunggu. Kamu udah gak sama Fara dan sekarang mau balik ke Velyn?" tanya papa kemudian, ia menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Iya, Om. Valerio mau kembali ke Velyn. Valerio cuma sadar akan perasaan ini dan Valerio gak bisa bohong juga sama diri sendiri. Maaf kalau Om dan Tante enggak setuju, tapi Valerio bakal tetep pertahanin Velyn," ucapnya tegas, tidak ada keraguan di dalam ucapannya.
Velyn pun menghela nafas dan melipat bibirnya mendengar itu. Valerio kalau sudah nekat yaa pasti akan ia lakukan. Walau Velyn awalnya sudah wanti-wanti pun tetap saja.
"Fara udah tau ini, Rio?" tanya mama Velyn pelan.
"Udah, Tante."
"Dan dia terima?" Papa bertanya, Valerio diam saja. "Gimana sama mamanya? Apa Reima sudah tau hal ini?" tanyanya lagi dan Valerio masih diam karena faktanya Fara memang tidak terima keputusannya, ia juga belum mengklarifikasi masalah ini ke Reima.
Velyn menatap Valerio dan papanya bergantian dengan raut cemas. Ia takut hubungannya dengan Valerio sekarang tidak disetujui.
"Kamu sadar kan udah mau tungangan, Rio? Kenapa malah putusin sekarang? Kamu pasti paham betul kan kalau kamu itu udah nyakitin Fara," ujar papa pelan, membuat Valerio teringat akan papanya sendiri.
"Valerio sadar, Om. Itu kenapa Valerio cepet-cepet udahin semuanya, karena kalau Valerio makin maju, Valerio takut baik Valerio ataupun Fara nantinya akan sama-sama menderita. Jadi ini lebih baik. Valerio yakin di luar sana masih banyak pria lain yang cocok sama Fara," jelas Valerio dengan tampang meyakinkan.
"Om paham sama apa yang kamu rasakan ...." Papa menoleh ke arah mama, mengisayaratka untuk melanjutkan kalimat yang ada di dalam kepala papa.
"Tapi kamu juga harus pikirin perasaan Fara. Perasaan mamanya. Kamu enggak bisa mutusin sepihak, semua yang terlibat dengan pertunangan kamu juga harus tau kalau kalian udah udahan," sambung mama yang mengerti betul apa yang ada di dalam kepala suaminya. "Tante sama Om peduli banget sama perasaan Velyn, gitu juga Reima, jadi kamu harus kasih penjelasan biar dua-duanya sama-sama enak."
Valerio diam dan Velyn menunduk. Mereka berdua terkelu seakan ketahuan mencuri mangga tetangga.
"Iya, Om. Bakal Valerio inget. Abis ini, atau mungkin besok, Valerio akan langsung dateng ke rumah Fara dan jelasin semuanya," putus Valerio akhirnya, membuat papa tersenyum kecil.
"Jadi ceritanya, kamu masih cinta sama Velyn, gitu ya?" tanya mama dengan nada menggoda, tapi Valerio tidak segan-ssgan mengucapkannya..
"Iya, Tante. Gak tau kenapa, enggak mau hilang rasanya," jawabnya jujur dan polos, membuat yang lainnya tertawa.
Velyn menggelengkan kepalanya, yang di sampingnya jni pria umur 25tahun atau anak 5 tahun? Ucapannya itu terdengar terlalu lugu.
"Terus gimana sama Velyn?" Mama beralih ke Velyn yang tiba-tiba terkejut djtanya.
"Kenapa sama aku, Ma?" tanyanya menunjuk dirinya sendiri.
"Valerio cinta sama kamu. Kalau kamu sendiri?" tanya Mama dengan dagu mendongak, menatap Velyn dengan tatapan remeh yang membuat Velyn selalu kesal setiap saat.
Valerio juga menatap ke arah Velyn, menunggu jawaban gadis itu. Memang ia sudah mendengar Velyn mengungkapkannya langsung kemarin, cuma masih kurang saja rasanya.
Melihat semua menunggunya, Velyn akhirnya tidak bisa berkutik dan jujur saja. "Iya, masih," jawabnya pelan, ia menunduk menatap jari jemarinya yang bertaut di atas pahanya.
Valerio tersenyum senang seolah ia mendapat sebuah kemenangan besar. Papa menghela nafas dan memberi senyum seolah berkata 'balik lagi ternyata', sedangkan mama memasang ekspresi mengejek.
"Dulu aja bilangnya benci, sekarang cinta lagi," ejek mama yang mendapat gerutuan dari Velyn. "Tapi mama pribadi belum bisa restui kalian kalau Valerio belum bilang ke Reima, mama takut hal ini malah jadi merusak hubungan kita yang lainnya. Sama Fara juga, kalau Fara belum bisa lepas Valerio, mama belum bisa juga lepas Velyn ke Valerio," sambung mama serius, tidak ada bercanda atau ejekan lagi di raut wajahnya.
Melihat Valerio yang menegang, Velyn cepat-cepat tertawa mencoba mencairkan suasana. "Haha mama ada-ada aja. Kata-kata yang di akhir itu loh, Valerio sama Velyn kan enggak nikah, Ma. Apaan kata-katanya 'lepas' gitu."
Valerio menoleh pada Velyn, ia tampak serius. "Tapi suatu saat kita bakal nikah kok. Bukan 'enggak' tapi 'belum'," ujarnya yang membungkam Velyn, Valerio kemudian menatap mama. "Kalau gitu Valerio harus cepet-cepet kasih tau tante Reima,, Tan. Mungkin nanti sore bakalan ke sana."
Mama mengangguk-angguk, walaupun sebenarnya ada rasa tidak yakin juga. "Mm tapi sebenenrnya Mama kurang yakin. Mama tahu bener gimana sayangnya Reima ke Fara. Apalagi dengan kondisi Fara yang begitu."
Mendengar kalimat akhir Mama, Velyn jadi tegang.
"Tapi yaa yaudah, di coba aja dulu. Kita gak akan tau hasilnya gimana kalau belum dicoba, kan?"
Valerio mengangguk, ia menatap ke depan namun ia bisa menangkap Velyn yang kaku dari ekor matanya.
Papa tidak banyak berkomentar karena apa yang ia rasakan dan pikirkan sudah dikatakan oleh istrinya.
"Mama sama Papa sebenernya hari ini mau pergi. Kalian di rumah aja? Tapi di rumah berdua juga gak baik," ujar mama menatap dua orang didepannya.
"Paling nanti Valerio bakal pulang, Ma. Kalau gak mau yaa aku usir nanti," ujar Velyn yang berusaha untuk melenyapkan ketegangannya tadi.
Mama tertawa mendengarnya. "Usir? Yauda usir aja terserah kamu mau cemana. Mama sama papa harus berangkat sekarang, kalian udah besar tau mana yang baik mana enggak."
Valerio dan Velyn mengangguk sebagai jawaban.
***
Di sisi lain, Vaden sedang bersama Fara. Pria itu lagi-lagi datang ke rumahnya, membuat Fara merasa ada cahaya lain selain cahaya matahari menyinari paginya. Reima sendiri tidak tahu hal ini namun Farhan tahu jika Vaden mendekati Fara, Farhan juga sudah tahu jika Valerio sudah memutuskan hubungannya dengan Fara, tapi Fara memintanya untuk jangan menceritakannya pada Reima dulu sebelum ia mengambil keputusannya sendiri.
Yakni, Vaden atau Valerio.
"Fara, hai. Aku ganggu gak?" Pertanyaan itu muncul dari Vaden begitu Fara membuka pintu rumahnya.
Fara tersenyum dan menggeleng. "Enggak, enggak sama sekali," jawabnya dengan senyuman yang semakin lebar. "Kamu mau apa ke sini?"
"Mau pendekatan lah," jawab Vaden tertawa, ia gamblang memberitahu tujuannya, membuat Fara ikut tertawa karenanya. "Aku hari ini lagi free, kamu mau jalan-jalan, atau kemana gitu?"
Fara tidak bisa menyembunyikan rasa tertariknya, apalagi melihat Vaden yang tatapannya itu persis banget seperti orang yang lagi jatuh cinta. Apa bisa Valerio digantikan secepat ini? Fara bertanya-tanya di dalam hatinya.
"Boleh, tapi ada kakak aku di dalam. Farhan. Kamu udah kenal, kan?" tanyanya yang dijawab anggukan oleh Vaden.
Kebetulan Farhan berada di dekat sana ketika namanya di panggil, ia langsung mendekati Fara dan membuka pintu rumah semakin lebar.
Ah ini dia, orang yang tertarik pada Velyn, batin Vaden. Vaden hanya merasa ada yang aneh dengan Farhan. Jika seperti ini, pria itu terlihat biasa saja dan normal, tapi ketika berhadapan dengan Velyn, matanya berubah, ia seperti predator yang mendapat mangsa lezat.
"Kenapa ini?" tanya Farhan melirik Fara dan Vaden bergantian. "Lo kan yang sama Velyn waktu itu. Mana Velynnya?" lanjutnya.
Vaden terdiam, ia menatap Farhan lurus-lurus, pria ini ... entahlah tapi sebelum ia pergi, mungkin Vaden harus memperingati Velyn agar tidak dekat-dekat dengan Farhan ini.
"Vaden mana tau, kak. Vaden kan gak deket lagi sama Velyn. Ya kan, Vaden?" Fara menatapnya dengan pandangan ceria.
Vaden hanya mengangguk dan tersenyum. Kakak beradik ini, sama saja. Vaden pikir keduanya sama-sama punya obsesi yang tinggi terhadap seseorang.
"Oh gitu. Jadi kalian mau pergi nih? Yauda gak papa," ujar Farhan kemudian. "Dan kamu Fara, gak usah inget Valerio lagi, sekarang ada Vaden, ke dia aja."
Fara mengangguk pelan. Ia tahu kalau sekarang sudah ada Vaden, tapi tentu rasanya pada Valerio belum selenyap itu.
"Dan lo, Vaden. Jangan sakitin adek gue, lo paham, kan?"
Vaden mendongakkan dagunya dan tersenyum miring. "Tentu."
Farhan dan Vaden saling tatap dalam waktu yang cukup lama. Keduanya saling melempar tatapan tajam. Untuk sesaat, Farhan merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan Vaden. Ia ingin mengatakannya pada Fara, tapi sayang Vaden duluan bertindak.
"Kalau gitu kita pergi sekarang aja, Ra," ajak Vaden yang diangguki Fara.
Vaden mulai mendorong kursi roda Fara dan sekali lagi melempar senyum menyebalkannya ke Farhan, membuat pria itu menggeram kesal.
Vaden sengaja memberi tatapan penuh makna itu ke Farhan, dan sekarang pria itu sudah tahu maksudnya mendekati Fara, tapi itu hanya kemungkinan jika Farhan pintar membaca air mukanya. Namun semisal pun Farhan tahu, Vaden tidak akan bisa di dorong mundur karenq sebagian hati Fara sudah ia genggam.
***