29. Memaafkan

1572 Kata
Vaden duduk di atas bamper mobilnya, tangannya terlipat di depan tubuhnya dan matanya menatap lurus ke arah Velyn yang terdiam kaku di depannya. Tidak perlu Velyn menjelaskan lebih lanjut, ia sudah menduga jika yang ia katakan adalah kenyataannya. "Bener, ya?" Vaden berdeham. "Aku enggak masalahin kecelakaan itu, aku tau kamu gak mungkin lakuin itu. Tapi kenapa kamu gak cerita? Semuanya kamu ceritain ke aku termasuk tentang Valerio. Tapi kenapa yang ini enggak?" Velyn masih terdiam dengan pandangan kosong, ia merasa kehilangan pita suaranya. Mendadak bisu dan tidak bisa menggerakkan kedua bibirnya. "Ah tapi, ini kan terserah kamu ya mau cerita atau enggak," gumam Vaden dengan terkekeh pelan. "Iya-iya, kamu gak perlu mikirin banget." "Kamu ... tau dari mana soal ini?" Vaden mendongak menatap Velyn, ia terkelu dengan mata tak berkedip. Jadi ia sungguh tidak sepenting itu? Dari mana Vaden tahu soal ini nyatanya lebih pentin dari pada menjelaskan mengapa Velyn tidak memberitahu Vaden tentang ini. Vaden menegagakkan punggungnya, tapi ia tetap duduk. "Dari seseorang. Gak penting--" "Penting!" sela Velyn kencang, tak sadar hingga ia berteriak. Mata Vedin berkedip beberapa kali. Bagus, sekarang sakit di hatinya terasa semakin luas. Jangan sampai terlalu dalam kalau tidak ingin terpuruk. "Dari Fara," jawab Vaden singkat, ia berdiri dan menatap Velyn dengan tatapannya yang datar. "Aku balik sekarang," sambungnya tanpa basa-basi lagi, segera berbalik badan dan masuk ke dalam mobilnya. Ia rasa sampai sini saja sudah cukup untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Tapi nyatanya, Velyn buru-buru mengejarnya dan menahan pintu mobil yang sudah dibuka oleh Vaden. Ia menahannya sesaat sebelum memberi dorongan lebih kuat hingga pintu itu kembali tertutup. "Apa lagi?" Vaden menatap Velyn dengan dahi mengernyit. "Aku mau pulang sekarang. Kalau enggak ada hal penting yang mau dibicarain, lebih baik aku pergi." Velyn menggeleng. "Kenapa bisa Fara? Maksud aku, kamu sama Fara? Ngapain dan apa yang dia bilang tentang kecelakaan itu?" tanya Velyn buru-buru. Vaden menatapnya cukup lama dengan bibir terdiam. "Gak papa, intinya dia bilang kalau kamu orang yang buat dia lumpuh," jawab Vaden tidak mensensor kata-katanya. "Tapi kamu kok bisa sama Fara? Ngapain?" Yang satu itu tidak mau di jawab oleh Vaden, ia hanya melirik sesaat dan hendak kembali membuka pintu mobil. Tapi lagi-lagi Velyn menahannya dan membantingnya. "Vaden. Aku beneran enggak sengaja ngelakuin itu," seru Velyn mendongak, matanya bersinar cemas yang kental, Vaden bisa merasakannya. "Sumpah aku enggak sengaja, aku bukannya gak mau tanggung jawab, tapi waktu itu aku gak tau sedikitpun tentang Fara, jadi aku nggak bisa nemui dia." Vaden mencerna kalimat itu walau tidak menyahutnya. Tidak perlu dibilang oleh Velyn pun ia sudah tahu jika Velyn tidak mungkin melakukan hal buruk itu. Vaden sebenarnya tadi sudah merasa marah pada Velyn, tapi melihat Velyn yang matanya berkaca-kaca dengan tatapan yang minta dikasihani itupun akhirnya Vaden jadi luruh dan mencoba penghapus kekesalannya. Ia hanya mencoba untuk berlapang d**a dan mencoba menerima kenyataan bahwa faktanya Velyn tidak sebegitu menganggapnya penting. Lain lagi jika dilihat dan ditanya dengan dirinya sendiri, yang jelas jawabannya dia sangat peduli dengan Velyn. "Yaudah namanya juga udah lalu, minta maaf aja ke dia bilang kalau kamu tuh sebenernya nggak sengaja," ujar Vaden dengan nada suara lebih bersahabat, membuat Velyn jadi semangat. "Kamu yakin dia mau maafin? lagian aku terlalu takut buat bongkar rahasia itu ke semuanya?" tanya Velyn. "Tapi bentar yang kamu bilang tadi kamu jumpa sama Fara, kok bisa?" "Dimaafin enggaknya aku kurang tau karena ini tergantung Fara, tapi aku rasa kamu bakalan dimaafin karena kan juga enggak sengaja," jawab Vaden yang engah kenapa rasanya lebih menenangkan di telinga Velyn dari kalimat Valerio yang suka mengancamnya. Aku bisa aja beberin semuanya sekarang. Velyn hampir menghela nafas kesal mengingat kalimat yang suka sekali dilontarkan Valerio. Niatnya mungkin bagus, tapi Velyn tetap belum siap. "Iya, emang bener aku yang lakuin," ungkap Velyn akhirnya, ia mengalihkan tatapan tidak sanggup menatap mata Vaden. "Aku jahat banget. Pasti frustrasi jadi Fara yang keman-mana harus pakai kursi roda. Kalau aja waktu itu aku lebih pelan nyetirnya, pasti ini semua enggak akan kejadian." Vaden menatap Velyn dengan pandangan biasa. "Kamu gak sengaja, kan? Atau sebenernya sengaja?" Velyn dengan cepat menatapnya, dahinya mengernyit dan Vaden menebak ia akan membantah. "Enggak! Aku beneran enggak sengaja, Vaden. Sumpah! Tiga tahun lalu aku buru-buru ke rumah sakit nengok Mama, tapi tiba-tiba, Fara nyebrang gitu aja dan aku enggak sempet rem, jadi ya ... akhirnya gitu," ujarnya lesu di akhir. Vaden hanya mengangguk-angguk sebagai respon, dan hal itu terasa aneh di mata Velyn karena biasanya Vaden tidak sesantai itu jika terkait dengan dirinya, apalagi masalah ini tidak bisa dibilang masalah kecil. "Terus, kenapa kamu bisa tau tentang ini dari Fara? Maksud aku kok bisa? Kamu sama Fara?" tanya Velyn, berharap Vaden menjawabnya karena ia juga bingung dan sibuk menerka-nerka bagaimana bisa Vaden tahu? Satu-satunya orang yang menjadi tersangka hanyalah Fara. Valerio ... tidak mungkin. Tapi Velyn bersyukur, orang-orang yang tahu kecelakaan itu hanyalah Valerio dan Vaden selain Fara. Dua orang yang sangat dekat dengannya dan sudah tahu dirinya, mereka juga percaya kalau Velyn tentu tidak sengaja melakukannya. Vaden kemudian menatap Velyn lekat untuk sesaat sebelum ia mengangkat kedua bahunya pelan. "Kemarin ketemu, terus yauda, gitu," balasnya singkat, membuat Velyn heran. Velyn terdiam dengan otak yang tak bisa diam, ia terus berpikir apa yang membuat Vaden menjadi kaku seperti ini. Ia terus mengingat hingga akhirnya kerutan di dahinya memudar, ia tahu sekarang. Velyn menghela nafas dan tertawa. "Kamu marah karena aku enggak kasih tau kamu, ya? Maaf, aku setakut itu jadi gak bisa cerita ke orang lain. Siapapun bahkan mama sama papa aku belum tau tentang ini. Aku takut banget ... Vaden. Aku harap kamu paham." "Dan Valerio?" Velyn tersenyum hingga terkekeh. "Fara juga yang kasih tau dia. Aku juga down waktu itu," ujar Velyn. "Mungkin kamu juga saran supaya aku bongkar aja semuanya, tapi aku ngerasa belum siap. Bayangan aku tuh kalau aku kasih tau semuanya, orang-orang bakal natap aku benci, semua bakal ngejauh. Jadi, aku enggak bisa." Vaden mengangguk paham. Velyn yang melihatnya jadi ingin menangis, sebenarnya apa yang terjadi dengan Vaden? Velyn melangkah maju dan memeluk Vaden. Vaden adalah salah satu dari sekian banyak orang yang ia sayang dan menurutnya, memeluk orang yang disayang itu sangat ampuh meredakan gundah gulana yang ia rasakan. "Kamu kenapa? Aku kan udah minta maaf," gumam Velyn menyandarkan pipi kanannya ke d**a Vaden. Tapi dadanya terlalu keras, membuat Velyn tidak jadi melakukannya. Vaden melepaskan pelukan itu. Velyn jadi bertanya-tanya. Tapi saat ia mendongak menatap Vaden, pria itu sudah tersenyum menatapnya, senyum yang teduh dan tulus khas dirinya. Kedua tangan Vaden juga memegang kedua bahu Velyn, sepertinya ia ingin mengucapkan sesuatu, kedua telinga Velyn sudah sangat siap mendengarkannya. "Kamu lihat deh, aku sama Valerio ngejauh gak?" tanyanya dan Velyn menggeleng. "Nah gitu juga yang lain. Kamu coba aja dulu, kalau gak coba kamu gak akan tau gimana hasilnya, sesuai gak sama ekspetasi kamu." "Cuma kalian. Bahkan aku enggak bisa yakin sama mama papa, karena ... karena aku udah nyimpen ini lama banget, aku takut mereka kecewa dan marah banget," jawab Velyn dengan kecemasan yang tergambar jelas di wajahnya. "Emangnya itu bakalan berlaku selamanya? Enggak Vel. Mungkin memang kecewa, tapi enggak bakal sekecewa itu sampai ngeluarin kamu dari kartu keluarga," ujar Vaden tertawa. "Intinya kamu coba aja ya, pelan-pelan. Aku bisa bantu kamu kalau kamu mau. Gak enak hidup begini, kamu pasti juga ngerasain kan." Velyn terkelu sesaat, ia menghela nafas panjang dan mengangguk menyetujui perkataan Vaden. Vaden sendiri tersenyum kecil. Ia tidak tahu hal ini sampai kemarin. Ia ingin menyalahkan Velyn karena ia tidak memberitahu Vaden langsung. Andai Vaden sudah tahu dari awal, ia akan mendorong Velyn untuk mengungkapkan semuanya, tidak bersembunyi seperti dan akhirnya Velyn sendiri yang menderita. Tapi sudah terlanjur, yang lalu biar jadi masa lalu. Sekarang, Vaden hanya ingin Velyn sudah bebas dari masalahnya agar ketika ia pergi nanti, meninggalkan Velyn, ia ingin perempuan sudah bahagia seutuuhnya. Jadi ia bisa pergi dengan d**a yang lapang. "Yauda, harus cepet kamu bilang ke semua orang, atau mau aku yang bilang?" Velyn langsung mendongak dan memasang tampang kesal. Kenapa sekarang jadi sama seperti Valerio? Mengancamnya lagi? Dua pria itu tidak jauh beda dalam hal membuat Velyn sengsara. "Apa? Abisnya aku gak yakin kamu bakal bilang secepetnya. Aku tebak pasti kamu selalu sembunyi di kalimat 'aku belum siap' ya kan?" tebaknya yang membuat Velyn menahan nafas, tepat sekali. "Ntar kalau udah selesai, kamu sendiri yang bakal nyaman," sambung Vaden dan tersenyum. Ia melepaskan pegangannya pada bahu Velyn. "Yaudalah, aku pulang dulu. Kamu masuk sana, istirahat, pasti cape kan." Velyn mengangguk mengiyakan, jelas ia sudah lelah, lelah batin dan raga tentunya. "Jadi kamu udah maafin, kan?" tanya Velyn sesaat sebelum Vaden membuka pintu mobilnya. "Ya gitu. Kalau aku masih marah, aku gak bakal kasih senyum ke kamu," jawabnya tersenyum miring, membuat Velyn ingin menggetok kepalanya. "Terus yang sama Fara, kok bisa kamu sama dia? Kebetulan ketemu atau emang sengaja ketemuan?" "Emang kamu peduli?" Velyn bungkam. Tentu ia peduli, bukan? Tapi atas dasar apa ia peduli? Velyn bertanya-tanya di dalam hatinya. Terserah Vaden harusnya ingin bertemu dengan siapa saja. "Ya kan aku pengen tau aja. Terus aku juga penasaran sebab apa sampai Fara bisa kasih tau kamu hal ini," ujarnya menemukan alasan tepat. Vaden hanya mengangguk-angguk, seolah pertanyaan Velyn tidak penting. Membuatnya semakin kesal saja. "Udahlah, intinya kita ketemu dan akhirnya ngobrol sampai situ," ucap Vaden. Dia membuka pintu mobil dan berkata lagi sebelum masuk. "Aku pikir kamu cemburu makanya nanya itu terus. Tapi ... ya gak mungkin juga. Yauda lah ... aku pulang, sampai jumpa, baby girl." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN