Hari itu, pagi sampai malam. Vaden dan Fara bersenang-senang, banyak yang mereka lakukan dan itu menyenangkan sampai mereka lupa waktu. Keduanya sama-sama menikmati hari, apalagi Fara. Vaden sendiri senang, tapi tidak sesenang itu juga. Pikiran tentang kecelakaan antara Velyn dan Fara menghantuinya. Fara orangnya seru, tapi tidak seseru Velyn. Jika ia dengan Fara bisa menghabiskan waktu kurang lebih dua belas jam bersama, maka dengan Velyn bisa sampai 24 jam penuh, atau lebih karena memang mereka pernah seperti itu dulu.
Setelah mengantar Fara kembali ke rumahnya, Vaden langsung meluncur ke rumah Velyn. Tapi di pertengahan jalan, ia baru ingat jika Valerio dan Velyn sedang reuni dengan teman-teman mereka di pantai. Tidak mungkin juga ia menyusul ke sana, pasti akan jadi canggung.
Vaden tersenyum kecut, ia sadar ia yang memberi rencana ini pada Valerio dan berharap juga akan berhasil. Tapi sekarang, ketika rencana itu hampir berhasil, ia yang malah merasa ada yang tidak enak dengan hatinya. Ya, jujur saja, melupakan Velyn itu sulit, apalagi merelakannya dengan pria lain. Tapi mau bagaimana lagi, Velyn memang tidak bisa membuka hatinya untuk Vaden. Jika pun bisa, Vaden sangsi hal itu bukan karena keterpaksaan.
Vaden kemudian mengambil ponselnya, melihat satu notifikasi yang ada di sana. Dari Velyn, sudah ia terima dari pagi tadi tapi belum ia balas.
Hanya pesan biasa, menanyakan kabar dan di mana. Vaden memutuskan untuk tidak menjawab dan melemparkan ponselnya ke kursi di sebelahnya. Ia menghela nafas sesaat sebelum memutar setir mobil, lebih baik ia pulang sekarang.
***
Fara di kamarnya menatap puluhan foto Valerio yang di pajang di sana. Fara pernah bermimpi suatu saat nanti, Valerio akan datang ke kamarnya dan melihat foto-foto yang ia susun dengan rapi ini. Tapi nyatanya, sudah tiga tahun mereka memiliki hubungan pun pria itu tidak pernah mau masuk ke dalam kamar Fara.
Foto-foto Valerio yang sudah hancur berantakan tidak ia buang, tapi ia satukan kembali dan pajang kembali walau keadaannya sudah tidak utuh seperti semula lagi.
Fara tersenyum kecil. Kemarin ia begitu patah hati, walaupun sekarang masih sama, tapi ia merasa luka besar di hatinya sudah ditambal perlahan-lahan oleh Vaden. Fara hanya berharap, Vaden mampu menggantikan Valerio di sisinya, mesikpun ia juga tidak begitu yakin karena ia sudah memendam perasaan ke Valerio sejak ia SMA.
Senyuman kecil Fara yang lembut tiba-tiba menjadi mengerikan, ia tersenyum miring dengan sorot mata jenaka yang kejam.
"Kalau Vaden jadi milik aku, mungkin aku gak papa Valerio sama Velyn. Tapi jangan harap rahasia itu tetep aman di aku, Velyn," lirihnya dan terkekeh di ujung kalimat.
Fara tidak tahu jika di sisi lain, Velyn sudah menyiapkan mental untuk yang terburuk. Valerio berkali-kali mensugestinya dan meredakan kecemasannya.
"Aku masih tetep takut," ujar Velyn dengan ringisan pelan, ia juga mengacak-acak rambutnya secara kasar.
"Kenapa tetep takut? Gampang aja kok tinggal hadepin."
"Enak kalau ngomong doang," cibirnya ketika Valerio begitu mudah berbicara.
"Ya tapi bener. Kamu hadepin aja apa yang ada di depan kamu. Gak bakal awet sampai selamanya kok, pasti berakhir juga nantinya," ucap Valerio yang duduk di depan Velyn.
Velyn dan Valerio duduk berhadapan di satu tenda, teman-temannya yang lain masih asik bercerita. Awalnya mereka bergabung tapi melihat Velyn yang terlihat gelisah, membuat Valerio akhirnya menyeretnya masuk ke dalam tenda.
"Bahkan mungkin cowok yang deketin Fara sekarang bisa buat Fara lupain aku dan mungkin aja lupain tentang kecelakaan itu, kan?"
"Iya dan setelahnya kamu yang malah bocorin. Iya, kan? Kamu seneng banget buat aku menderita kayak gini," timpal Velyn cepat, membuat Valerio terkekeh dan menggaruk keningnya.
"Itu biar kamu tenang aja. Abisnya kalaupun Fara lupa masalah itu sesaat, suatu saat kalau dia ada urusan sama kamu lagi, pasti bakal ancem kamu lagi. Emang mau gitu mulu?" Valerio memiringkan kepalanya.
"Ya ... enggak."
"Nah itu tau," ujar Valerio mendongakkan dagunya, membuat Velyn jadi ingin menonjoknya.
Tapi sebenarnya, Valerio hanya mencoba bersikap santai agar Velyn tidak terlalu serius dengan masalah ini. Solusinya padahal cukup mudah, toh pada akhirnya Velyn akan melalui semuanya dan akan baik-baik saja.
Velyn menekuk kedua lututnya, ia memeluknya dan meletakkan dagunya di sana. Memang jika di pikir-pikir ia hanya perlu memberitahu semuanya tentang ini, tapi entah kenapa masih ada saja rasa takut dan kecemasan berlebih di hatinya, tidak tahu harus melakukan apa.
"Udah lah gak usah di pikirin kali gitu," tukas Valerio akhirnya. "Kamu jalani aja, apa yang terjadi besok, yauda jalani aja."
Ucapan final Valerio itu masih membuat Velyn kurang puas, seperti ada hal lain agar ia benar-benar lega dengan hatinya.
"Masih cemas juga?" tanya Valerio yang dijawab anggukan oleh Velyn. "Aku tanya sama kamu sekarang. Coba kamu bayangin apa aja yang di kepala kamu bakalan terjadi dan bisa ngehapus rasa khawatir kamu itu."
Velyn mendongak, ia mengurai kakinya menjadi berlipat sila. Velyn bertopang dagu sesaat, berpikir seperti yang Valerio perinthkan. "Aku gak bakal cemas lagi kalau ... kalau yaa semua orang udah tau hal ini," ujarnya jujur.
"Nah ...."
Velyn menatap Valerio sesaat sebelum menghela nafas berat seolah ia sedang dalam masalah besar, tapi memang ini masalah besar.
"Aku gak tau deh harus gimana," ujar Velyn putus asa. "Kayak kata kamu aja, ikuti aja alurnya gimana. Apa yang terjadi besok dan apa yang mau dilakuin besok aja yang dipikirin," ucap Velyn final.
Valerio mengangguk dan memberi jempolnya. "Tapi inget, apapun yang terjadi nanti, kamu jangan dorong aku buat ngejauh karena aku gak akan mau," peringatnya lebih dulu, ia sangsi Velyn akan melakukan hal itu nantinya.
"Enggaklah."
Mata Valerio memicing, kata enggak itu terdengar iya di telinganya. "Kita bisa kayak gini aja susah loh, Vel. Awas aja kamu dorong aku nantinya."
Velyn mendorong wajah Valerio agar lebih mundur. "Dorong ke jurang maksud kamu?" Velyn tertawa. "Enggak lah, gak bakalan, kecuali kalau Fara minta kamu ada di dia supaya rahasia itu gak bocor sih."
"Velyn!"
Velyn terkekeh pelan. "Bercanda." Tapi sebenarnya Velyn agak serius mengucapkannya, pernah terpikirkan soal itu di benaknya.
"Jadi aku sama aja kayak masalah kamu itu ya."
"Kan aku bilang bercanda."
"Bercanda itu setengah serius setau aku," ujar Valerio yang membuat Velyn terdiam. "Bercanda itu hal lucu, kan? Tapi yang tadi itu sama sekali enggak lucu."
Velyn menunduk, Valerio tahu jika ia sedikit serius. "Yauda maaf."
Valerio berdecak pelan. Ia hendak membuka mulut lagi namun tiba-tiba Velyn memeluknya hingga ia terdiam.
"Maaf, Vale. Aku cuma enggak pengen hal terburuk yang pernah aku lakuin kebongkar sama semuanya," ujarnya dengan kepala yang ia benamkan di d**a Valerio.
Valerio membalas pelukan Velyn dan mengecup puncak kepalanya. Ia diam tidak menyahut. Menurutnya, sekarang hanya tinggal Velyn dan bagaimana takdir membawa mereka. Tapi ia tidak akan mau jika dirinya nanti akan di dorong Velyn menjauh hanya agar Fara tidak membongkar semuanya. Jika ia mau dan tidak mempedulikan kecemasan Velyn, ia bisa membeberkannya sekarang juga.
"Yauda mending kamu istirahat aja, tidur itu salah satu cara terbaik buat lupain rasa cemas kamu," ujar Valerio yang diangguki Velyn. Memang benar, walau sesaat, tapi tidur benar-benar ampuh meredakan segala kecemasan yang ada.
***
Mereka pulang keesokan harinya. Di pagi hari langsung karena menurut ramalan cuaca, siang hari nanti matahari akan menghilang dari langit karena awan gelap yang menyembunyikannya alias akan ada hujan besar.
Semuanya berpencar di titik di mana rumah mereka berpencar. Dan Valerio yang mengambil alih mengantar Velyn untuk sampai ke rumahnya walaupun salah satu teman perempuan Velyn tadi sudah berinisiatif untuk mengantarnya sekaligus bercerita tentang ini itu, khas perempuan.
"Kalau tadi aku pulang bareng Inka mungkin kami udah cerita banyak hal," ujar Velyn yang masih cukup sebal sebab Valerio benar-benar memaksa mengantarnya pulang.
"Gak boleh. Lagian apa yang mau di bahas? Palingan mau gosip, kan? Di larang."
Velyn melipat tangannya di depan tubuhnya dan menyandar pada kursi. Ia tak mengucapkan apapun lagi, begitupun Valerio.
"Aku tuh mau ketemu mama sama papa kamu."
"Mau ngapain?" tanya Velyn kaget. "Gak usah, mama sama papa juga masih di luar, enggak ada di rumah."
Seolah tahu apa yang ada di dalam pikiran Velyn, Valerio tertawa dan menggelengkan kepalanya. "Yauda, kapan-kapan aja."
Velyn mengangguk-angguk cepat. Ia hampir terkena serangan jantung ketika Valeiro mengucapkan kalimatnya tadi. Ia sudah bisa menebak apa mau Valerio tapi apakah dia tidak sadar jika situasinya sekarang sedang benar-benar tidak memungkinkan?
Beberapa menit kemudian, mobil Valerio sampai di depan rumah Velyn. Keduanya turun tapi Velyn langsung menyuruh Valerio untuk masuk lagi dan cepat-cepat pergi dari sana.
Awalnya Valerio tidak mau, tapi Velyn memaksanya dan mendorong tubuhnya agar ia cepat masuk ke dalam mobil. Akhirnya Valerio menancap gas pergi dari sana.
Velyn memperhatikan terus mobil Valerio yang menjauh hingga hilang di perempatan jalan. Ia kemudian berbalik dan melangkah ke arah beranda rumah. Baru saja hendak memasukkan kunci ke dalam lubang ketika sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya.
Velyn berbalik dan langsung sadar mobil siapa itu. Ia tersenyum lebar dan cepat-cepat menghampiri si pengendara yang sudah keluar dari mobilnya.
"Vaden! Kamu kemana aja, di chat juga gak di balas," seru Velyn langsunng, ia masih terlihat ceria. Tapi melihat Vaden yang kaku dan tidak ada senyumnya sedikitpun membuat Velyn terdiam dan heran. "Kamu kenapa?"
Vaden menggeleng. "Baru pulang?" tanyanya yang diangguki Velyn. "Ada yang kamu rahasiakan dari aku?" lanjutnya.
"Rahasia? Rahasia apa?" Velyn benar-benar bingung apa yang di maksud Vaden. Tapi Vaden sepertinya tidak ingin berbasa-basi, ia langsung ke inti.
"Kamu ada kaitannya sama lumpuhnya Fara, kan?"
Velyn merasa telinganya berdegung. "Apa?"
***