Tidak ada yang tahu tentang rencana Vaden mendekati Fara selain Valerio. Velyn terkadang bertanya siapa pria yang dekat dengan Fara hingga Fara jadi melonggarkan ikatannya ke Valerio, tapi Valerio tidak mau menjawabnya.
Ya walau Valerio katanya sudah memutuskan hubungannya dengan Fara, Velyn sangsi Fara menerima hal itu. Tidak mungkin saja pikirnya, ia tahu pasti bagaimana cintanya Fara ke Valerio. Tapi jika ada seorang pria yang mampu mengambil sebagian perhatian Fara, maka dia cukup hebat, dan Velyn penasaran siapa pria itu.
"Mikirin apa?"
Suara Valerio terdengar di telinga kanan Velyn. Suaranya beradu dengan suara gemericik api unggun di depannya.
"Masih penasaran aja sama cowok yang deketin Fara," jawab Velyn pelan. Ia sudah merasa hangat karena api di depannya yang menyala dan tambah hangat ketika Valerio memeluknya dari samping.
"Oh itu lagi."
Velyn menoleh pada Valerio. "Tentang kecelakaan itu ... aku mohon jangan dibeberin dulu. Tunggu situasi agak runyam aja. Siapa tau Fara ngelupain hal itu dan semuanya bakal baik-baik aja."
Valerio ikut menoleh dan menatap Velyn lekat. "Kalau itu terjadi. Aku yang bakalan bongkar." Valerio cepat-cepat menambahkan ketika melihat Velyn hendak menyela. "Jangan bantah. Ini juga untuk kebaikan kamu sendiri, biar hidup kamu tenang."
Velyn menutup bibirnya rapat-rapat dan mengalihkan pandangannya ke arah kedua kakinya. Benar memang, ia akan tenang jika rahasia itu sudah bukan rahasia lagi. Membayangkan semuanya terselesaikan saja sudah membuatnya senang, apalagi jika terealisasikan.
"Btw, Fara emang beneran sama pria itu sekarang?" tanya Velyn kemudian, ia menoleh kembali ke Valerio.
"Kayaknya gitu, buktinya dari pagi dia enggak ada hubungi aku," ujar Valerio menunjukkan history panggilannya yang memang kosong untuk hari ini.
Velyn melihatnya dengan cermat. "Tapi entah kenapa aku masih belum ngerasa pas, kayak ada yang kurang aja," tutur Velyn mengungkapkan isi hatinya. Bagaimanapun, Valerio harus tahu jika ia masih merasa gelisah.
"WOI!" Beni mengejutkan mereka berdua dari arah belakang. "Kalian kenapa sih? Kok kayaknya pembahasannya berat banget?" tanya Beni duduk di depan mereka berdua, diikuti oleh yang lainnya.
"Bener. Kan udah balikan, harusnya seneng, tapi tampangnya asem banget," timpal Leo menyetujui ucapan Beni.
Valerio hanya diam, sebenarnya ia senang Velyn akhirnya menerimanya. Tapi melihat Velyn yang masih memikirkan keras tentang Fara membuat sebuah dinding tak kasat mata menghalanginya merasakan kebahagiaan itu. Namun memang, tidak hanya Velyn yang khawatir akan hal ini, ia pun juga, seperti tentang bagaimana jadinya jika Vaden gagal mengikat Fara dengannya, apakah Fara akan memaksa kembali bersamanya?
"Kamu tenang aja," bisik Valerio pelan, ia mengeratkan pelukannya di tubuh Velyn. "Semuanya pasti berlalu, dan kita tetep bersama serta bakal baik-baik aja."
***
Sebenarnya Fara belum melupakan Valerio sepenuhnya, ia masih stress memikirkan tentang valerio yang memutuskan hubungan dengannya, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang sampai Vaden datang untuk menghiburnya.
Fara memang merasakan kalau ia punya perasaan tertentu kepada Vaden, seperti terbagi menjadi dua, antara Valerio dan Vaden. Benar jika Valerio memiliki andil lebih besar di dalam hatinya ketimbang Vaden, tapi Fara tidak bisa mengelak kalau ia juga menyukai Vaden.
Seperti yang ia bilang sebelumnya, ia ingin memiliki keduanya. Terdengar egois dan serakah. Tapi begitulah Fara.
Waktu itu Fara masih berada di depan rumah memikirkan tentang semuanya, tentang apa yang ia harus lakukan agar Valerio bisa kembali padanya ketika Vaden datang dan yah, melakukan ini itu layaknya pria yang sedang melakukan pendekatan.
Fara sendiri tidak terlalu memikirkan mengapa Vaden seperti ini. Ia malah senang karena merasa lebih istimewa dari sebelumnya.
"Kamu kenapa?" tanya Vaden pertama kali ketika ia datang, ia juga langsung berlutut di depan Fara.
Fara memperlihatkan eskpresi sedihnya terang-terangan. "Valerio mutusin aku," jawab Fara singkat dengan melirik Vaden sesaat.
Untuk beberapa waktu, Vaden terdiam. Pria itu berpikir mengapa Valerio begitu cepat bertindak? Bahkan ia saja belum begitu bisa mengambil hati Fara. Tapi kemudian Vaden tersenyum kecil di dalam hati. Ya, pasti Valerio mengambil kesempatan sekecil apapun yang ada untuk kembali bersama Velyn.
Sakit memang, Vaden bisa merasakan jelas sesuatu yang nyeri di dalam dadanya. Namun, ada rasa bahagia juga yang tercipta karena ia menjadi penghubung antara Valerio dan Velyn kembali bersama.
"Vaden? Kenapa diam?" Fara menginterupsi pikiran Vaden yang hampir melayang jauh.
Vaden mengerjap dan kembali menatap Fara. Perempuan ini terlihat lugu dan polos, andai ia benar-benar seperti itu, mungkin beberapa pria akan menyukainya, termasuk dirinya.
"Kamu pulang aja gak papa. Pasti kamu juga gak enak, dateng ke sini tapi aku malah bicarain pria lain," ujar Fara pelan.
Tapi Vaden menggeleng. "Enggak, aku di sini aja," soalnya cuma beberapa hari lagi aku di sini, sambungnya di dalam hati.
Melihat Fara yang hanya diam tanpa menjawab sama sekali, Vaden berinisiatif membawanya ke suatu tempat, tapi ia juga bingung harus membawanya kemana, pasalnya ia tak pernah bersama Fara sebelumnya.
Fara melihat ke arah Vaden dengan waktu yang cukup lama. Ia mencoba menelaah isi hatinya. Ia sadar ia tertarik pada Vaden, tapi tak bisa ia elak kalau Valerio tetap menjadi raja di hatinya. Tiba-tiba, suasana hati Fara kembali sendu, memikirkan hubungannya dengan Valerio.
"Ini semua karena Velyn," celetuk Fara, matanya bersinar marah. "Kalau dia gak kembali, Valerio pasti bakal sama aku terus. Pasti kita bisa sampai tahap yang bener-bener serius. Tapi sayangnya ... perempuan jahat itu dateng, ambil Valerio dari aku."
Vaden menatap Fara dengan bibir terkatup rapat. Perempuan jahat, ya? Kata itu sama sekali tidak pantas disematkan ke Velyn yang menurutnya begitu baik hati. Ralat, jahat ketika menolak cinta Vaden.
Vaden berdeham, ingin sekali menimpali jika yang salah sebenarnya bukan Velyn, melainkan Valerio. Ya, jelas saja karena pria itu lah yang menyerang dan mengejar Velyn lagi, bukan Velyn.
"Dia bukan cuma ambil Valerio dari aku." Fara sengaja menunda ucapannya, ia menatap Vaden lekat. "Dia juga yang ambil kebebasan kaki aku."
Vaden mengernyit, beberapa detik ia terdiam, otaknya mencerna apa maksud dari Fara.
"Dia orang yang nabrak aku dan buat aku lumpuh sampai sekarang."
Kalimat penjelasan itu membuat Vaden yang tadi hampir mengerti jadi semakin mengerti. Tapi tunggu, Velyn? Vaden yang baru sadar makna seluruh ucapan itu jadi terdiam, ia melirik kaki Fara sebentar sebelum mendongak menatap kedua mata yang layu itu.
"Kamu pasti belum tau hal ini, kan? Kalian deket pas di Aussie tapi pasti dia gak ada cerita tentang ini, kan? Karena apa? Karena dia udah ketakutan, dia gak tanggung jawab dan egois!" seru Fara dengan mata berkaca-kaca, nafasnya juga naik turun menandakan ia sedang emosional.
"Tunggu." Valerio mengernyit dalam dan menghela nafas panjang. "Kamu serius?" tanyanya dengan ekspresi tidak percaya.
"Kenapa harus bohong? Tanya aja ke dia langsung biar kamu yakin kalau dia itu pelakunya," ucap Fara dengan bengis, seolah perbuatan tidak sengaja Velyn pantas mendapatkan hukuman mati, padahal sebenarnya kedua kakinya bisa sembuh.
Vaden sendiri larut dalam pemikirannya. Memang terkadang, ia mendapati air muka Velyn yang kaku saat mereka berhadapan dengan Fara.
"Valerio ... tau tentang ini?" tanya Vaden pelan.
"Sayangnya udah, tapi dia tetep ninggalin aku," lirih Fara dengan air mata yang mulai mengalir.
Vaden terkelu, jadi Valerio sudah tahu dan pastinya Velyn juga tahu jika Valerio tahu. Mereka berdua juga pasti sudah membicarakan tentang ini. Entah kenapa, ia merasa tersakit. Jadi hanya ia di sini yang tidak tahu menahu soal ini. Velyn juga, kenapa ia tidak menceritakan pada Vaden tentang hal ini, apa ia tidak mempercayainya lagi? Banyak pikiran bercokol pada Vaden dan ia memutuskan untuk menemui Velyn setelah ini.
"Kamu pasti juga gitu, kan. Bakalan ninggalin aku juga," ujar Fara tertawa hambar. "Velyn emang beruntung banget, di kelilingi sama banyak orang yang suka sama dia, peduli sama dia. Bahkan kakak aku sendiri kepincut sama dia."
Vaden mengenyahkan tentang kecelakaan itu untuk sementara, ia yakin ada penjelasan dari Velyn tentang ini, tidak mungkin juga kecelakaan itu disengajakan.
Vaden sadar ini situasi yang tepat untuk mengikat Fara padanya, mengambil hatinya. Tapi Vaden sudah memutuskan untuk tidak terlalu dalam karena bagaimanapun ia tidak bisa menyakiti Fara untuk kebahagiaan Velyn. Jadi, begitu Fara sudah sedikit masuk dan melupakan Valerio, maka setelahnya ia akan pergi.
"Aku gak kayak gitu," ujar Vaden tersenyum. "Kenapa aku harus ke Velyn sedangkan dia yang buat kamu begini. Aku juga kesel karena dia enggak kasih tau aku tentang hal ini." Ucapannya yang terakhir tidak mengada-ada, ia sungguh kesal pada Velyn.
Fara tersenyum kecil, ia merasa ada secercah cahaya di hatinya. Seenggaknya ada seseorang yang lain di pihaknya. "Dia emang jahat, aku enggak tau alasan apa orang lain bisa tertarik sama dia."
Kalau yang itu, Vaden tidak menyahut. Ia tidak bisa juga menjelek-jelekkan Velyn di depan Fara. Walaupun tidak ada Velyn di sini, rasanya akan seperti menjelekkan dirinya sendiri jika Vaden melakukan itu.
"Udah, kamu gak usah mikirin apapun lagi yang buat kamu sedih. Gini, kadang emang hidup itu bisa turun banget, tapi kamu gak boleh terlalu larut, ada banyak hal lain yang bisa buat kamu bahagia. Caranya yaitu ngelupain apa yang buat kamu sedih tadi. Memang susah, tapi apa salahnya di coba," ujar Vaden lembut sembari tersenyum teduh, membuat Fara terpesona padanya.
"Kamu bener."
Vaden kemudian bangkit, ia berdiri di belakang kursi roda Fara. "Dari pada sedih melulu, mending kita jalan-jalan aja. Cari tempat asik," ujarnya sembari mendorong kursi roda itu.
Fara tersenyum, hatinya menghangat. Valerio memanglah raja di hatinya, penguasa di sana, tapi suatu saat posisinya bisa tersingkir karena ada raja baru yang lebih kuat. Mungkinkah itu Vaden?
"Eh tapi, kaki kamu emangnya gak bisa kayak semula, Ra? Misal terapi gitu?"
Suara Vaden yang terdengar dari arah belakang Fara itu membuatnya terkelu, senyumnya juga surut. Jika dengan ia lumpuh, banyak orang peduli dengannya. Jika dengan ia lumpuh, banyak orang yang bersimpati dengannya. Maka ia lebih baik lumpuh saja.
"Enggak bisa, Vaden. Aku lumpuh ... selamanya."
***