26. Reunian dan Ikatan

1761 Kata
Velyn diam saja sejak mereka berangkat sampai mereka sudah sampai di pinggiran pantai dan para pria sedang membangun tenda. Para perempuan yang lainnya mengambil alih bagian makanan. Semuanya sibuk, kecuali Velyn. Ia hanya duduk memeluk kedua kakinya yang bertekuk. Suasananya memang nyaman, seperti kembali ke masa SMA. Velyn dengan ketiga temannya dan Valerio dengan ketiga temannya juga. Walaupun sudah bertahun-tahun berlalu, ketika bertemu rasanya akan sama seperti dulu. Velyn berdiam diri dengan deru ombak yang menemani. Ia terus menatap ke depan dengan sesekali melirik layar ponselnya yang diam tidak ada notifikasi sama sekali. Ini karena sebelum ia berangkat, Velyn menghubungi Vaden dan menawarinya untuk pergi bersama. Tapi Vaden malah tak menjawab pesannya, bahkan sampai sekarang. Vaden sejak kemarin datang ke kantornya, terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Caranya berbicara dan bersikap seperti orang lain. Velyn sebenarnya penasaran dengan apa yang terjadi? Tapi ia menanya pun Vaden hanya menjawab ia baik-baik saja. Empat pria di belakang, Vaden dan teman-temannya sedang sibuk mendirikan tenda ketika salah satu dari mereka berceletuk ringan. "Lo sama Velyn mau balikan, Yo? Tapi kok kalian diem-dieman gitu, Velyn bahkan dari tadi di sana mulu enggak mau nyamperin yang lain," ujar Beni, pria yang memakai kaos oblong berwarna putih. Valerio berhenti dari pekerjaannya dan melirik ke arah Velyn yang dari tadi memang tidak banyak bicara. "Tapi bukannya lo sama si Fara, ya?" timpal satunya. Leo, si pria berambut gondrong. "Eh bener, lo jangan embat semua dong, Yo. Bagi-bagi kek." Valerio hanya melirik mereka bertiga dengan wajah tanpa ekspresi. "Gue udah gak sama Fara. Gue juga maunya balikan sama Velyn, tapi kayaknya dia yang gak mau." Ketiganya saling lirik. Sebelum masing-masing dari mereka melontarkan banyak kalimat motivasi yang sebenarnya tidak terdengar oleh Valerio, telinga terasa tuli seketika. Ia dengan menghiraukan panggilan teman-temannya, meletakkan tali yang ia pegang dan melangkah mendekati Velyn. Velyn juga sadar ada yang mendekatinya, ia hanya melirik ke bawah, ke sepasang sepatu yang berhenti tepat di samping tubuhnya. Tidak perlu mendongak, Fara sudah tahu siapa orangnya. "Kenapa kamu diem aja?" tanya Valerio langsung, ia menunduk menatap puncak kepala Velyn. "Gak papa." "Kamu gak suka aku di sini? Biar aku pergi." Velyn terdiam mendengar ucapan Valerio barusan. Inginnya menjawab iya, tapi rasanya tidak ingin juga. "Ada yang ganggu pikiran kamu?" tanya Valerio ketika Velyn tidak menjawab pertanyaannya. "Hm ada. Kamu juga pasti tau tentang apa." Valerio diam sesaat sebelum tersenyum kecil ketika tahu hal apa yang membuat Velyn begini. Jadi Velyn seperti ini bukan karena dirinya yang hadir dalam acara ini, tapi karena sesuatu yang lain. "Itu lagi? Aku sebenernya udah muak itu terus alasan kamu jauhin aku," ujar Valerio dengan nada suara yang mulai kencang, hingga keenam teman mereka terkesiap. "Perlu aku yang bongkar? Biar kamu tuh enggak usah selalu mikirin itu?" "Itu yang aku gak suka dari kamu." Velyn masih tidak mau menatap balik Valerio. "Kamu gak tau aja gimana susahnya aku ngelaluin ini. Aku juga butuh waktu buat siapin mental. Kamu pikir gampang ngungkapin kesalahan terbesar kamu ke banyak orang?" Valerio menghela nafas. "Tapi waktunya itu kapan? Ini juga buat kamu makin menderita, Vel. Kamu harusnya paham." "Kamu ngotot mau buka rahasia aku cuma biar aku enggak ditekan sama Fara lagi, kan? Dengan begitu kamu bisa sama aku lagi. Gitu, kan?" Valerio terkekeh pelan. "Pikiran kamu terlalu sempit. Padahal sebenernya aku kayak gini biar kamu itu kebuka pikirannya kalau nunda-nunda juga bikin semuanya makin sulit." Valerio berdeham kemudian. "Mungkin memang harusnya aku gak ikut." "Itu kamu tau." Valerio mengangguk-anggukkan kepalanya. "Iya, emang akunya yang ngotot. Yauda kalau gitu aku balik aja dulu." Kalimat terakhir itu tentu dapat didengar yang lainnya dan mereka terkejut. Sebagian memprotes dan meminta Valerio untuk tetap tinggal. Sebagiannya lagi membujuk Velyn untuk meminta Valerio tidak pergi. "Yo, jangan pergi lah. Baru aja dateng, masa mau pergi gitu aja," ujar Leo yang mendapat persetujuan dari yang lainnya. Velyn sendiri masih diam, ia menyeka keringat di dahinya sebelum bangkit berdiri. Tapi ia tidak mengatakan apapun dan hanya berjalan menghampiri para perempuan yang tadinya sedang menyiapkan makanan. "Gue cabut ya, mungkin besok-besok kita bisa reuni bareng-bareng." "Kita bahkan belum cerita banyak hal, Yo. Jangan gini lah, gak enak banget," seru Beni, ia melirik Velyn dengan ekor matanya. "Vel, lo kok gitu sih? Kenapa memangnya kalau Valerio di sini?" marahnya. "Eh udah dong. Kok malah ribut, tujuan awal kita kan mau mempererat hubungan, bukan ngancurin," sela salah satu perempuan. Valerio menatap  Beni. "Lo jangan marahin Velyn, emang gue yang bandel. Dari awal, Velyn udah bilang kalau gue gak boleh ikut. Jadi ya gak papa, gue pulang sekarang. Kalian mending di sini aja." Tidak ada sahutan apapun dan Valerio sudah bersiap melangkah menjauh kalau saja sebuah teriakan terdengar dari ara belakangnya. "VELYN!" Valerio lantas berbalik dan terkesiap melihat Velyn yang jatuh tidak sadarkan diri. Ia segera berlari menghampiri Velyn dan tanpa basa-basi mengangkatnya dan membawanya ke tenda yang sudah dibangun. "Loh dia kenapa?" tanya Beni panik, pasalnya ia memarahi Velyn tadi, tapi tidak mungkin juga hanya karena ucapan bernada sedikit tinggi bisa membuat seseorang pingsan. "Gak tau tiba-tiba gitu." Valerio tidak peduli apapun, ia meletakkan tubuh Velyn dengan hati-hati di atas matras, ia sudah sangat khawatir. "Kalian tolong di luar dulu, kayaknya Velyn kelelahan ini," ujar Valerio dan meminta teman-temannya untuk tidak mengerumuni Velyn, dan untungnya mereka setuju memberi ruang untuk Velyn. Setelahnya, Valerio menunduk dan melihat Velyn yang matanya mengerjap sayu. Melihat keringat membasahi dahi Velyn membuat Valerio berinisiatif menyalan kipas angin mini yang ia sempat bawa dan mengarahkannya ke wajah Velyn. "Kamu kenapa?" tanya Valerio pelan. "Kalau kamu gak suka aku di sini, aku bakal ngejauh kok," sambungnya dengan tampang lembut, tidak ada kecewa yang ia tunjukkan seperti tadi. Sebelah tangan Valerio terangkat dan mengusap keringat Velyn. "Kamu sakit? Kok keringetnya dingin?" tanyanya semakin khawatir. "Kalau kamu sakit gara-gara aku, aku minta maaf. Aku gak tau kalau maksanya aku buat kamu begini." Velyn tidak sepenuhnya tidak sadarkan diri, ia hanya tiba-tiba merasa sangat lemas dan akhirnya terjatuh. Ia lelah dengan semua yang bercokol di dalam pikirannya, sekaligus lelah dengan rasa cemas dan takutnya akan rahasianya. Sementara itu, keenam teman mereka yang di luar sedang duduk melingkar dan terdiam. Sama-sama sibuk dengan pikirannya masing-masing. "Kayaknya acara kali ini gagal. Mending kita set ulang lagi nanti kapan-kapan, ini kalau udah begini enggak akan seru. Gue bahkan udah mau pulang sekarang aja," ujar Beni terang-terangan. "Jangan dulu lah, Ben. Tunggu dulu aja," sahut Leo yang membuat Beni menghela nafas panjang. Ia juga sedikit merasa bersalah pada Velyn, jadi ia juga akan menunggu. Velyn di dalam tenda mengangkat tubuhnya dan duduk, wajahnya berubah pucat, padahal tadi masih terlihat merona. "Kamu istirahat aja, di sini. Biar yang lain yang kerjain sisanya. Kalau aku, aku bakal pulang sekarang," ujar Valerio pelan. "Atau kamu juga mau pulang? Biar aku anter." Velyn mendongak menatap Valerio dengan poninya yang acak-acakan, tapi ia tidak peduli. Tiba-tiba dengan secepat kilat, Velyn menubruk tubuh Valerio dan memeluknya erat. Hal pertama yang dirasakan Valerio tentu terkejut. Ia bingung kenapa Velyn memeluknya. Tapi karena dirasa pelukan ini penting bagi Velyn, Valerio pun memutuskan menunda pertanyaannya dan hanya membalasa pelukan Velyn sama eratnya. "Kamu kenapa? Coba kasih tau," gumam Valerio di atas kepala Velyn. Velyn menenggelamkan wajahnya di dalam pelukan hangat Valerio. Kali ini, Velyn merasa benar-benar nyaman, rasanya seperti pulang. Tapi ia tidak semudah itu untuk pulang, ada beberapa hal yang menghambatnya. "Boleh aku jujur?" tanya Velyn dengan pelan dan Valerio mengangguk. "Sebenernya aku masih cinta sama kamu, Vale," sambungnya mengakui perasaannya. Valerio terkelu, namun tak ia pungkiri, rasa senang menjalar membuat hatinya menghangat, bibirnya juga tertarik di kedua sisi memebentuk senyum manis. "Tapi, aku enggak bisa sama kamu." Velyn kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Valerio serius. "Aku enggak bisa. Aku terlalu takut sama Fara, jadi plis kamu jangan buat aku tambah stress. Ngedenger setiap kali kamu bilang kamu bisa aja beberin semuanya selalu buat aku takut dan kepikiran, akhirnya aku ngerasa depresi sendiri. Jadi plis, bantu aku." Mata Velyn berkaca-kaca menatap Valerio. "Jadi kamu sakit gara-gara ini?" tanya Valerio menangkup kedua pipi berisi Velyn. Perempuan itu mengangguk. "Kenapa harus di pikirin banget sih, Vel?" Velyn memejamkan matanya sesaat dan melepaskan tangkupan Velyn di pipinya. "Ini dia. Kamu enggak bisa ngerasain gimana takutnya aku sekarang. Kamu cuma peduli sama perasaan kamu doang." "Kata siapa? Aku malah lebih peduli sama perasaan kamu." Valerio kembali menangkup pipi itu. "Sebelum Fara yang beberin dan semuanya bakal lebih berat, lebih baik kamu yang cerita duluan dengan pelan. Aku bakal temenin kamu dan ngedukung kamu." Velyn bisa melihat pancaran keseriusan dalam dari mata Valerio, tapi tetap saja, rasa takut sekaligus cemasnya masih tidak mau hilang. "Vel ... karena kamu udah bilang kamu masih cinta sama aku, jelas aku gak bakal ninggalin kamu. Jadi aku anggap ini salah kamu, kamu yang buat aku udah gak bisa pergi lagi." Velyn tersenyum kecut dan menonjok pelan bahu Valerio. "Tapi aku masih enggak mau sama kamu." "Denger." Valerio memegang kedua bahu Velyn, mata mereka saling pandang. "Besok, kita harus jelasin semuanya ke orang tua kamu, ke orang tua Fara tentang apa yang sebenarnya terjadi. Gak papa, kamu jangan takut, aku pasti terus ada di sisi kamu." Velyn diam mendengarkan penjelasan Valerio. Ucapannya memang meyakinkan tapi entah kenapa Velyn masih belum bisa menerimanya dengan lapang d**a. "Yakin sama aku. Setelah itu, kamu bakalan nemuin rasa nyaman yang buat kamu gak selalu dilanda cemas kayak gini," ujar Valerio. "Lihat sekarang, kamu sampai drop, padahal reaksi mereka nanti belum tentu sesuai sama ekspetasi kamu." "Kalau terlalu jauh dari ekspetasi gimana? Maksud aku malah lebih buruk." Valerio mengusap pelan pipi Velyn yang terkena pasir. "Jangan nethink. Positive aja dulu, kamu juga harus semangatin diri kamu sendiri." Mendengar perkataan demi perkataan Valerio seperti membuat sebuah benteng baru bagi Velyn, ada keberanian yang tiba-tiba mencuat di sebagian hatinya. Tapi sebagian lagi masih cemas. "Udah enggak usah mikirin yang enggak-enggak. Besok begitu kita pulang dari sini, aku bakalan ikut jelasin yang aku tahu ke orang tua kamu dan juga Fara. Oke?" Velyn tidak mengangguk. Matanya masih memancarkan arti jika ia sangat cemas. Untuk itu, Valerio menggenggam kedua tangannya dan mencoba memberi kekuatan padanya. "Gak papa. Habis ini, kamu bakal baik-baik aja," ujar Valerio dengan senyum teduhnya. "Dan setelahnya, kamu udah jadi kekasih aku lagi." Velyn menghempaskan tangan Valerio dari tangannya dan tersenyum kecut. "Ujung-ujungnya pasti ke situ," cibirnya dengan wajah kecut. "Ya jadi apalagi," sahut Valerio mengangkat kedua bahunya. "Atau mau nikah langsung?" "Valerio! Aku masih belum mau!" seru Velyn dengan mata membulat lebar. Di luar, keenam orang tadi saling melempar senyum mendengar seruan itu. Beno adalah orang yang senyumnya paling lebar hingga akhirnya ia tertawa. "Oke deh, kayaknya kita emang harus pulang besok." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN