Reuni yang dimaksud adalah pergi ke pantai dan mendirikan kemah di sana. Untuk semalam tapi akan terasa seribu malam. Teman-teman Velyn ketika ia SMA itu sebenarnya termasuk teman-teman Valerio juga karena baik Velyn maupun Valerio, teman-teman mereka berdua bersatu.
Awalnya rencana itu hanya diisi oleh beberapa orang dan semuanya perempuan. Hanya berempat dengan Velyn. Tapi ketika tiba-tiba Valerio mengajukan diri untuk ikut, maka para cowok yang masih single-single pun ikut meramaikan.
Velyn sempat kesal pada Valerio karena ia sendiri ingin menikmati sela-sela waktu padat dengan para gadis. Hanya gadis, tidak ada pria. Tapi Valerio malah menghancurkannya.
"Kamu ngapain ikut-ikut? Kalau mau reuni, reuni sendiri sana sama temen-temen laki kamu. Jangan ikut-ikut kita," ujar Velyn kesal. Dahinya mengernyit dalam benar-benar menolak gagasan Valerio akan ikut dengan mereka.
"Perasaan cuma kamu yang nolak aku ikut."
"Karena bakalan enggak enak kalau ada kamu."
"Oh ya?"
"Iya. Jadi kamu gak usah ikut."
"Gak mau."
Velyn berdecak pelan. Mau sepanjang apapun perdebatan itu, tetap saja Valerio akan kukuh dengan maunya dan akhirnya Velyn akan menerimanya dengan lapang d**a. Tapi itu dulu, kalau sekarang ....
"Yauda kamu ikut, silakan. Tapi aku enggak jadi."
Ia bisa menentukan apa yang ia mau. Jika memang tidak ada jalan bagi orang lain, maka ia membuat jalannya sendiri.
"Kamu kenapa ngotot banget?" tanya Valerio heran.
"Kamu yang aneh. Udah tau punya Fara, tapi malah deketin mantan. Kamu paham gak perasaan dia? Pasti sakit hati, Valerio," ujar Velyn gemas.
Valerio mendengarnya tertawa kecil. "Enggak perlu musingin Fara, dia udah sama cowok lain."
"Apa maksud kamu?" Velyn melempar tatapan tanda tanya.
"Udah, intinya aku ikut, kamu juga ikut. Enggak ada bantahan, enggak ada pembatalan."
Velyn menatap Valerio dengan pandangan menyelidik. Tidak percaya jika Fara sudah dengan pria lain. Baru beberapa hari yang lalu ia melihat bagaimana bucinnya Fara ke Valerio. Jadi, tidak mungkin dia berpaling begitu saja dengan laki-laki yang lainnya.
"Kamu gak perlu bohong, Vale. Percuma juga kamu ngejer aku toh aku udah enggak cinta sama kamu, perlu aku bilang berapa kali biar kamu yakin?" tanya Velyn dengan serius. Matanya menunjukkan jika ia tidak main-main dengan ucapannya.
Untuk sesaat, kepercayaan diri Valerio lenyap begitu saja. Ekspresi itu bukanlah bercanda, Velyn terlihat serius. Jadi sudah tidak ada perasaan tersisa? Tidak ada secuilpun untuk dirinya? Entah kenapa, Valerio merasa hampa sekarang. Seolah tidak tahu apa yang ia harus lakukan dan ucapkan selanjutnya.
Velyn juga diam saja melihat Valerio yang tak mengucapkan satu patah katapun. Dibalik Velyn yang tampak serius, di dalam ia berdebar karena cemas akan reaksi Valerio.
Velyn hanya ingin damai. Biarlah Valerio bersama Fara, ia yang akan berkorban dan mungkin nantinya akan membuka hati pada pria lain, Vaden adalah nama pertama di dalam daftarnya. Karena setelah Velyn pikir-pikir, biarlah rahasia itu disimpaj saja rapat-rapat. Tidak akan ada yang membeberkannya jika semuanya sesuai dengan permintaan Fara.
"Gitu, ya?"
Valerio melipat tangannya di d**a, ia menunduk tapi tidak melihat lantai, matanya seperti menerawang akan sesuatu.
"Tapi aku gak percaya," ujarnya tegas mendongak menatap Velyn. "Kenapa kamu gak mau dikejar? Jangan bilang kamu gak cinta karena aku tau kamu sebenernya cinta. Ada alasan lain, kan?"
Velyn memejamkan matanya sesaat. Tidak semudah itu mengelabui Valerio. Apalagi pria itu sudah tahu menahu tentang kejadian itu, ia tentu bisa menebak.
"Aku bisa percaya kamu gak cinta lagi ke aku kalau kamu bongkar rahasia kamu, kamu tetep nolak aku dan setelahnya kamu berhubungan sama pria lain." Valerio menggerakkan kepalanya pelan. "Aku bakal mundur kalau itu terjadi."
"Satu lagi. Perasaan Fara emang penting, tapi bukan berarti perasaan aku enggak penting dan enggak perlu diperhatiin. Kalau kamu mikir begitu, kamu salah besar." Valerio kemudian bangkit berdiri, wajahnya jadi datar tak ada ekspresi. "Aku akan tetep dateng di acara itu," sambungnya sebelum berbalik dan pergi meninggalkan Velyn yang termenung.
***
Fara berada di dalam kamarnya, terdiam memandangi pajangan foto Valerio yang begitu banyak di dalam kamarnya. Ada satu dinding yang penuh dengan wajah Valerio, membuktikan betapa besarnya ketertarikan Fara pada pria itu.
Tapi, perasaan Fara sedang hancur. Bibirnya bergetar sebelum air matanya mengucur perlahan, tak lama kemudian ia berteriak dan mencengkram kepalanya.
Dari posisi Fara sekarang yang dekat dengan kasur. Tangannya terulur mengambil bantal dan guling, lalu ia lemparkan ke arah dinding di mana foto-foto itu terpajang dengan rapi.
Alhasil, karena lemparan yang terjadi berulang kali, beberapa bingkai foto terjatuh dan satu dari mereka pecah di atas lantai. Tangis Fara semakin menjadi-jadi, ia bahkan memutar roda untuk meraih beberapa benda berat lainnya dan melempar lagi ke arah wajah Valerio yang tersenyum manis.
"KAMU JAHAT!" teriak Fara dengan histeris. Hatinya begitu sakit karena Valerio akan meninggalkannya. Bukan hanya wacana, tapi akan menjadi fakta. Omongan Valerio tidak pernah main-main jika ia sudah seserius itu. Jadi, tidak ada jalan Fara untuk mundur, ia hanya harus menerima semuanya.
Namun, yang menjadi masalah ialah, Fara fidak bisa!!
"ARGHH!!!"
Fara semakin histeris. Jiwanya seakan ingin memberontak karena tidak terima dengan keputusan sepihak Valerio. Entahlah, tapi emosi Fara itu seperti dedaunan kering yang dipantik oleh api, awalnya kecil lama kelamaan membesar hingga tak terkontrol.
Seperti sekarang ini, ia sudah diluar kendali dirinya. Hingga Reima tiba-tiba datang dengan wajah panik masuk ke dalam kamarnya.
"Fara? Fara ya ampun sayang, tenangin diri kamu," ujar Reima dengan cepat menghampiri Fara yang sudah hendak jatuh dari kursi rodanya.
Reima memegang bahu Fara dan membaguskan posisi duduknya. Setelahnya, ia memegang kedua lengan Fara agar ia tenang dan tidak menggerak-gerakkan tangannya dengan asal dan kasar.
"Hey kamu kenapa?" tanya Reima pelan, ia menatap Fara dengan lembut. "Bilang sama Mama, kamu kenapa? Apa yang nyebabin kamu gini?"
Fara diam, ia sesenggukan dengan tangisnya yang tak mau berhenti. Reima kemudian menoleh ke belakang dan terheran-heran melihat foto Valerio berjatuhan ke lantai, ada beberapa barang keras dan bantal guling di sana yang artinya menjadikan mereka sebagai s*****a. Tapi, kenapa Valerio? Apa emosinya Fara sekarang ada hubungannya dengan Valerio? Reima bertanya-tanya dalam hatinya.
"Valerio, Ma ...." rengek Fara dengan tangis yang semakin deras. "Dia mau mutusin pertunangannya sama Fara cuma karena mantan dia yang balik ke sini."
Reima terkejut, ia tercengang dengan kalimat Fara barusan. Masih mencerna dengan baik tiap kata yang terlontar sebelum Fara kembali berteriak histeris, sungguh-sungguh histeris hingga Reima tanpa sadar memundurkan kepalanya.
"Sayang, kamu yang tenang. Tarik nafas, lalu keluarin perlahan," instruksinya dengan pelan, lega ketika Fara masih mendengarkannya dan mengikutinya.
Karena sebenarnya, Fara pernah lebih meledak dari yang kali ini dan Reima tidak mampu mengatasinya hingga ia meminta pertolongan para dokter. Fakta yang tidak diketahui banyak orang ialah Fara yang sebenarnya memiliki gangguan kejiwaan, penyakit mental ini juga dialami oleh Farhan. Ini dikarenakan faktor genetik. Tapi meskipun begitu, Fara dan Farhan mampu bersikap normal selayaknya orang dengan kejiwaan yang normal lainnya. Namun, terkadang di suatu waktu, penyakit mereka bisa kambuh dan bisa berakibat buruk pada orang-orang di sekitar mereka.
Reima tahu anak-anaknya bukanlah anak yang berusia belasan tahun, tapi ia tetap merasa kedua anaknya harus dijaga extra, ia takut kedua anaknya melewati batas kontrol dan malah menyakiti diri mereka sendiri.
Apalagi Fara, semenjak kecelakaan tiga tahun lalu, yang menyatakan ia lumpuh tidak bisa berjalan lagi, hal itu sangat memukulnya hingga ia benar-benar depresi berat dalam kurun waktu 24 jam.
"Sekarang, ceritain ke Mama, kenapa Valerio? Siapa mantannya?" tanya Mama lembut ketika Fara mulai tenang. "Mama yakin Valerio cinta sama kamu, Ra. Enggak mungkin dia milih mantannya."
Fara menatap mata mamanya dan menggeleng. "Mantan dia jahat, Ma. Dia ngerebut Valerio gitu aja dari Fara," ujarnya dengan bibir melengkung ke bawah dan mulai menangis lagi.
Reima tidak tahu harus berkata apa sekarang. Menyuruh Fara untuk tenang juga bukan yang tepat, mengatakan kalau Valerio mungkin bercanda juga mungkin tidak pas.
"Apa karena dia lebih cantik dari Fara?" gumam Fara menunduk menatap kaki-kakinya yang mati rasa. "Apa karena Valerio bosen sama Fara yang cacat? Makanya dia lebih milih mantannya?" Wajah Fara tampak datar.
"Biar Mama nanti yang bicara sama Valerio. Kita omongin baik-baik dan minta alasan jelasnya ke dia," ujar Reima tersenyum lembut, sebelah tangannya mengusap rambut Fara sama lembutnya.
"Terus kalau dia tetep mutusin hubungannya sama Fara, Mama mau apa? Enggak ada yang bisa dilakuin, Ma!" serunya berteriak, sepertinya jiwa gelapnya hendak mengusai dirinya lagi. "Apa aku harus cantik juga? Harus sempurna juga?"
Bentuk perempatan jalan samar terlihat di kening Reima. "Kamu udah cantik, Ra. Sekarang kamu tenang dulu ya, Mama bakalan ngomong sama Valerio."
"Fara harus bisa jalan lagi, Ma," ujar Fara antusias, membuat Reima terkejut. "Kaki Fara kan bisa sembuh kalau Fara terapi, Fara mau jalanin itu, Ma."
Reima yang tadinya terkejut, menghela nafas pelan seolah kaki Fara yang bisa sembuh bukanlah hal mengagetkan, seolah mereka sudah tahu jika sebenarnya Fara masih bisa berkesempatan merasakan luar biasanya kaki menginjak tanah.
"Bukannya kamu bilang Valerio makin perhatian pas kamu kayak gini?"
"Emang, Ma. Tapi sekarang udah beda, Valerio udah berubah." Fara tampak semangat kali ini. "Anter Fara ke rumah sakit, Ma. Fara mau bisa jalan lagi."
"Kamu gak papa semua orang tahu kamu sebenernya bisa jalan lagi? Karena kayak yang kamu mau, kita buat seolah-olah kamu lumpuh selamanya, Ra. Apa Valerio enggak marah setelah dengar ini karena kamu bohongin dia?"
Ucapan panjang Reima itu membuat Fara terdiam. Itu benar juga, jika ia bisa berjalan kembali, maka yang ada Velyn dan Valerio semakin bersama karena rasa bersalah Velyn akan kelumpuhannya sudah hilang.
Tiba-tiba Fara menggeleng. "Enggak. Enggak sekarang, Ma," ujarnya kemudian.
Ya, Fara berpikir singkat tentang ini, ia tidak akan membuat kakinya bisa berjalan sebelum ia membongkar rahasia Velyn yang ia simpan rapat-rapat.
***