24. Keputusan

1349 Kata
Di sebuah rumah yang luas dan megah. Seorang perempuan mungil yang cantik berjalan cepat ke arah ruang tamu di mana kedua orang tuanya sedang duduk berdiskusi tentang sesuatu. Ia tampak senang sekali. "Ma, Pa. Jadi gimana? Udah ada kabar dari Vaden? Dia jadinya sama aku, kan?" Kedua orang tuanya menoleh padanya dan tersenyum. Mamanya yang menjawab kemudian. "Iya, Vaden enggak bisa bawa perempuan itu, Za. Jadi mau gak mau dia harus nikah sama kamu di pertengahan bulan." Ucapan itu membuat Dieza memekik senang. Ia adalah perempuan yang sudah dijodohkan dengan Vaden. Perempuan berdarah dua negara yang begitu cantik, tapi belum bisa memikat hati Vaden walau sebenarnya mereka juga sudah kenal lama. "Tapi, Za. Kamu gak papa? Maksud Mama, Vaden kan cinta banget sama perempuan itu. Dia ke sini juga karena ternyata perempuan itu udah cinta ke peia lain. Kalau enggak pun, kalau mereka saling cinta, Vaden pasti enggak ke sini, Za," ujar sang mama khawatir, bagaimanapun pernikahan adalah hal yang kalau bisa hanya dilakukan sekali dalam hidup. "Kamu tau kan maksudnya apa, artinya Vaden tuh mau ke sini karena terpaksa, Za." Dieza itu perempuan yang hyperaktif, dia selalu ceria. "Enggak papa, Ma. Nanti lama kelamaan Vaden pasti juga cinta sama aku. Belum waktunya aja. Lagian kalau udah nikah nanti, kalau udah serumah nanti, pasti perasaan itu bakalan tumbuh walau perlahan." Mama melirik papa yang hanya tersenyum kecil. "Apapun yang terjadi di rumah tangga kalian nanti. Harus sering bilang ke Mama sama Papa," ujar papa memperingati Dieza. "Siap, Pa! Kalau gitu Dieza ke kamar dulu, masih ada tugas yang mau dikerjain," pamitnya dan segera berjalan ke arah tangga begitu ia mendapat anggukan dari kedua orang tuanya. Dieza masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya kemudian. Ia berjalan ke arah ranjang dan mengambil ponselnya. Ia melihat ke arah galerinya dan mencari-cari satu foto yang membuatnya cemburu. Dieza tahu tentang Avelyn, dia mengakui jika Velyn adalah perempuan yang hampir memiliki seluruh tipe perempuan idaman para pria. Bagaimana bisa Vaden tidak mencintainya ketika Velyn menjadikan Vaden tempatnya bersandar. Dieza menarik nafas pelan melihat foto Vaden dan Velyn yang saling tertawa dan menatap satu sama lain. Di foto itu, Dieza bisa mengartikan tawa mereka. Velyn murni tertawa karena bahagia, Vaden juga begitu, bedanya di mata Vaden ada cinta sedangkan Velyn tidak. Velyn mencintai pria lain tapi pria itu katanya akan bertunangan dengan perempuan lain, untuk itu Vaden percaya jika ada kesempatan untuknya di hati Velyn. Namun, semua cuma sebatas ekspetasi karena nyatanya Velyn hanya mencintai pria itu. Karena itulah akhirnya Vaden menyerah dan tidak lama lagi akan terbang ke Australia menghadiri acara pernikahan mereka. Dieza tahu Vaden terpaksa, tapi sama seperti Vaden yang semangat mendapatkan kesempatan dari Velyn, iapun juga gigih mendapat kesempatan dari Vaden. Ia juga sadar kalau hubungan mereka bukanlah hubungan yang nantinya bisa diputuskan begitu saja jika tidak cocok, tapi Dieza sudah terlanjur mencintai Vaden, keyakinan Vaden akan membalas perasaannya suatu saat nanti juga membuatnya semakin semangat. Dieza kemudian meletakkan ponselnya ke atas tempat tidur. Ia memejamkan matanya. Jika tidak dicoba, ia akan penasaran bagaimana hasilnya. Mengambil sesuatu yang beresiko besar jika gagal, akan mendapat kenikmatan tiada tara jika berhasil, Dieza yakin itu. *** Valerio membawa Fara pergi dari sana, benar-benar pergi dan membawanya ke rumah perempuan itu. Dari tadi, Valerio juga tidak mengucapkan apapun sedangkan Fara kebingungan dan bertanya-tanya kenapa ia malah di bawa pulang. "Valerio?" Tapi Valerio tidak jawab, ia masih fokus dengan jalan di depannya. "Kamu marah? Aku minta maaf, Rio. Aku juga enggak bakalan bocorin rahasia Velyn." "Asal aku ada terus di samping kamu, kan?" sahut Valerio cepat. Ia tersenyum kecil. "Tapi sayangnya aku enggak bisa jalanin ini lagi, Ra. Aku semakin sadar sama perasaan aku dan ini sama sekali enggak bisa di paksa." Fara tertawa menanggapinya. "Bentar, aku tebak, kamu mau mutusin pertunangan itu, iya? Sayangnya aku enggak mau, Rio." "Ya kamu bener." Fara terdiam dan ia menggeleng, matanya berkaca-kaca. "Aku enggak mau, gimanapun kukuhnya kamu, aku tetep enggak mau. Kalau kamu tetep lakuin itu, aku bakal--" "Beberin rahasia Velyn? Silahkan. Aku sadar ada banyak pihak yang tersakiti, tapi aku bakal selalu ada di samping Velyn dan--" "Valerio!" Fara berteriak, air matanya sudah membasahi pipinya sekarang. "Aku enggak mau. Aku enggak mau pisah sama kamu. Kamu gak boleh ninggalin aku gitu aja mentang-mentang udah ada Velyn. Waktu Velyn gak ada, kamu ke aku. Velyn ada, kamu ninggalin aku. Kamu pikir itu apa namanya?" Valerio menghela nafas. "Aku kira aku sama kamu bakalan bisa ngehapus perasaan aku ke Velyn. Tapi faktanya enggak, Ra. Sama sekali enggak. Dari pada aku nyakitin kamu lebih jauh, mending stop sampai di sini." Valerio menoleh pada Fara. "Aku yakin kamu bakal dapet orang yang lebih baik dari aku." Fara menggeleng. "Enggak, aku udah bilang enggak kan dari tadi. Aku cuma perlu sedikit waktu lagi supaya kamu beneran cinta sama aku. Kamu juga enggak usah bohong, perhatian kamu selama ini juga enggak bisa bohong kalau sebenarnya kamu punya perasaan ke aku." "Itu cuma rasa peduli, Ra. Entahlah, tapi waktu itu, aku enggak punya perempuan spesial makanya aku tuang semuanya ke kamu. Tapi pas Velyn balik, semuanya ditarik sama dia. Bukannya aku mau ninggalin kamu, tapi memang enggak bisa lagi. Mau dipaksain gimanapun entar yang sakit malah kamu," ujar Valerio pelan, berharap Fara akan mengerti dirinya. "Kamu egois banget. Cuma mikirin perasaan kamu sendiri." Valerio sebenarnya memikirkan perasaan Fara juga. Ia sudah memikirkan bagaimana jadinya jika ia tetap mempertahankan hubungannya dengan Fara tapi hatinya sudah tidak ada di sana, tidak ada untuk Fara. Awal-awal kedatangan Velyn, semuanya masih normal karena Valerio masih sanggup menahan goncangan hatinya. Tapi lama kelamaan, Velyn yang memegang kutub magnet hatinya, menarik semuanya hingga tak ada tersisa untuk Fara. Apalagi keyakinan tak berdasar tentang Velyn yang masih mencintainya membuat Valerio semakin bersemangat mengembalikan hubungannya dengan Velyn. "Ini yang terbaik, Ra." "Enggak. Cuma buat kamu tapi enggak di aku. Pokoknya aku mau tetep lanjut!" Fara bersikeras. Ekspresinya menunjukkan kalau ia sangat marah sekarang. Ketika mobil sampai di depan rumah Fara. Valerio diam saja ketika menuntun perempuan itu sampai ke dalam rumahnya. Valerio juga tidak mengatakan apapun lagi dan hanya meninggalkan Fara yang memanggili dirinya. Di dalam mobil, Valerio sedikit bingung dengan apa yang harus ia kerjakan lebih dulu untuk menuntaskan semua masalah yang ada. Kalau saja Velyn terang-terangan mengatakan masih mencintainya, maka jalan Valerio akan terasa lebih terang benderang. Tapi semuanya masih abu-abu, walaupun yakin Velyn masih mencintainya, tapi Velyn juga belum membenarkannya. Hal pertama yang Valerio inginkan adalah memutuskan pertunangan itu, tapi ia juga harus punya alasan mengapa, satu-satunya alasan ialah Velyn. Namun, jika Velyn tidak bisa diajak bekerja sama, semuanya akan kacau. Di tengah kefrustrasian Valerio, sebuah deringan panjang dari ponselnya membuatnya mengalihkan fokus dan menerima panggilan dari Vaden itu. "Ya?" sahut Valerio menempelkan ponselnya ke telinga kanannya. "Kemana lo bawa Fara? Kenapa lo bawa gitu aja?" "Gak papa. Jadi lo nelpon cuma bilang itu doang?" "Gue tau lo frustrasi, Rio. Udah, lo gak usah terlalu pikirin. Karena gue bakal bantu lo." Valerio masih bingung sebenarnya, Vaden itu juga menyukai Velyn, harusnya ia bersaing dengan Valeiro untuk mendapatkan Velyn. Tapi entah kenapa ia malah mendekati Fara dan meminta Valerio kembali merajut hubungan dengan Velyn. "Gue denger besok sampai minggu, Velyn ada reuni kecil bareng temen-temen SMAnya, lo mending ikut aja. Masalah Fara, gue yang tanganin." "Gue cuma mau Velyn bahagia. Dan bahagianya dia ada di lo. Jadi jangan sakitin lagi. Dia udah berubah, bukan Velyn yang dulu. Percaya sama gue." "Dan, lo gak usah percaya dia yang bilang enggak cinta sama lo lagi. Dia bohong, karena faktanya ... ya gitu deh." "Udah ya. Gue masih ada urusan sebenernya, gue tutup." Valerio baru ingin menyahut, tapi Vaden sudah mematikan sambungan telepon secara sepihak. Jadi itu alasannya? Karena menurutnya bahagia Velyn ada di Valerio? Jadi ia mundur begitu? Valerio memang tahu rencana Vaden yang mengikat Fara sementara, lalu memberi ruang dirinya dan Velyn bersama. Tapi baru detik ini Valerio tahu mengapa Vaden melakukan itu semua. Namun rasanya seperti masih ada yang disembunyikan Vaden, kalau hanya bahagia, Velyn juga terlihat bahagia bersama Vaden. Valerio menghirup nafas panjang, apapun itu ia sangat berterima kasih ke Vaden, pria yang melancarkan jalannya bersama Velyn kembali. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN