23. Dua Rasa

1534 Kata
Jika bisa satu pandangan dibagi menjadi dua. Maka bisa dilihat jika Vaden-Fara dan Velyn-Valerio sedang bersenang-senang. Hanya saja, keduanya bersenang-senang dengan perbedaan yang cukup mendasar. Jika Valerio-Velyn tampak tertawa murni dari hati, beda lagi dengan Vaden yang tertawa terpaksa. Ia meringis pelan melihat Fara yang terlalu heboh akan sesuatu, ia selalu berlebihan hingga membuat Vaden bosan. Entah sebenarnya Fara itu seperti ini atau tidak. Tapi yang jelas Vaden tidak suka karakter gadis yang terlalu aktif. Fara tampaknya diam kemarin itu, tapi sekarang kenapa jadi berubah menjadi perempuan manja dan cerewet? Apa Valerio juga mengalami hal yang sama? Lantas apa yang membuat pria itu bertahan? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di dalam kepala Vaden. Sementara itu, Velyn dan Valerio sedang memasak mi di dapur kantor. Percekcokan di antara keduanya tak bisa terelakkan. Namun meskipun judulnya adalah berselisih, mereka merasa senang dengan situasi ini. "Itu bumbunya di akhir," celetuk Valerio yang tidak digubris Velyn, ia tetap menuangkan bumbu terlebih dahulu. Valerio hanya berdecak pelan melihatnya. Velyn memang susah diarahkan kalau sudah merasa benar dengan apa yang ia lakukan. Kalau begitu tidak ada gunanya juga ia di sini, minta diarahkan tapi ketika diarahkan, orangnya tidak mengikuti. Velyn tidak menuruti ucapan Valerio karena ia sudah menonton bagaimana cara memasak yang benar, jadi untuk sekarang ia yakin saja dulu dengan masakannya. Velyn hendak berbalik, tapi deringan panjang dari ponsel yang ada di sakunya membuatnya berhenti dan melihat dari siapa panggilan itu "Siapa?" tanya Valerio penasaran. Velyn hanya meliriknya tanpa mau menjawab, Valerio terlalu kepo. Ia kemudian menerima panggilan orang itu cepat-cepat. "Halo?" Ekspresi Velyn nampak jutek, sepertinya orang yang meneleponnya membuatnya kesal. "Hah? Udah di bawah? Yauda ke atas aja." Velyn kemudian melirik Valerio cukup lama, membuat sebelah alis pria itu meninggi, isyarat tanda tanya. "Hm, di sini juga. Kenapa memangnya?" Velyn masih melirik ke Valerio sebelum seseorang di seberang telepon memutuskan panggilannya secara sepihak. "Siapa yang nelpon?" tanya Valerio ketika Velyn melepaskan ponselnya dari telinganya "Vaden. Dia udah di bawah," jawab Velyn dengan pipi menggelembung. "Tapi udah aku suruh ke atas sih." Valerio mengangguk paham. Tapi di dalam hati ia juga bertanya-tanya kenapa Vaden ke sini? Apa ia bersama Fara juga? Apa ia tidak tahan dengan tingkah Fara jadi ingin mengembalika gadis itu padanya? Apa rencana mereka di putuskan begitu saja? "Valerio?" Valerio tersadar dari lamunannya dan menatap Velyn yang terheran-heran memandangnya. "Kamu bisa gak ke depan aja? Tunggu Vaden di sana. Aku masih mau lanjut masak mi nya. Belum selesai," ujar Velyn menunjuk pancinya. "Gak mau." Mata Velyn lurus seketika. Valerio memang menyebalkan. "Yauda kalau gitu kamu pergi aja sana. Ngapai coba di sini, ganggu aku aja," serunya kesal dan berbalik memunggungi Valerio. "Kan udah dibilang aku mau ngejer kamu lagi." Velyn merengut di tempat. Tak dipungkiri ia senang, ia juga masih mencintai Valerio. Tapi masalahnya ialah Fara! Tidak mungkin cinta perempuan itu diabaikan begitu saja. Walaupun Valerio sadar tidak mencintai Fara, tapi bukan berarti Fara bisa dicampakkan begitu saja. Apalagi ada rahasianya bersama perempuan itu, bisa gawat kalau Fara marah dan membeberkan semuanya. "Kamu dari tadi buat mi gak selesai-selesai." Velyn berdecak dan cepat-cepat menuang mi kuah dari dalam panci ke mangkuk yang sudah ia sediakan. Ia kemudian menaruh panci ke tempatnya semula dan mengangkat mangkuk tinggi-tinggi ke arah Valeiro. "Nih-nih udah siap. Kamu bawel banget," ejeknya dan berjalan meninggalkan Valerio. "Kok cuma satu? Kamu buat cuma untuk kamu doang?" tanya Valerio mengikuti langkah Velyn. "Iya. Emangnya kenapa? Kamu kalau mau ya buat sendiri." Valerio harus menahan kekesalannya. Padahal jika ia yang sedang memasak mi, ia pasti tidak lupa dengan Velyn walau gadis itu tidak memintanya. Tapi sekarang, Velyn tidak mau repot-repot memasakkan sekalian untuknya. Ketika Velyn baru meletakkan mangkuk mi nya ke atas meja, pintu ruangan yang belum ditutup itu di ketuk dua kali hingga Valerio dan Velyn sama-sama menoleh ke arahnya. "Vaden?" Velyn cukup terperangah karena yang datang bukan hanya Vaden, tapi juga Fara. Dua orang itu, kenapa bisa bersama? Sama seperti Velyn yang terheran-heran kenapa Vaden bersama Fara. Fara pun bingung kenapa Valerio bisa ada di sini? Apa ia tidak bekerja? "Kamu kenapa enggak jemput aku?" Pertanyaan itu begitu spontanitas, diucapkan hampir berbarengan antara Velyn dan Fara. Mereka berdua mengernyit dan melirik satu sama lain. Jadi Fara meminta Valerio untuk menjemputnya? Dan Velyn sebenarnya meminta Vaden menjemputnya? Valerio sendiri tersenyum tipis. Ia menghela nafas dan melirik Vaden yang tersenyum minta maaf. Bukan bermaksud untuk datang dan mengacaukan semuanya. "Vel. Berkas yang semalem aku minta mana ya? Aku mau lihat dulu," seru Vaden menyela. Bisa gawat jika dua gadis ini mengetahui rencananya dengan Valerio. "Itu di atas meja. Yang di klip," jawab Velyn, seketika ia lupa dengan pemikiran-pemikiran tentang kenapa Vaden bisa bersama Fara dan Valerio bersamanya padahal Fara dan Velyn sama-sama meminta pria mereka masing-masing untuk menjemput. Vaden kemudian memberi tatapan agar Valerio membawa Fara pergi segera dari sana. Tapi sayangnya, Valerio menggeleng pertanda tidak mau. Vaden menghela nafas melihatnya, padahal sebentar saja, pria itu sudah tidak ingin lagi ternyata. "Rio ...." Fara memutar roda kursinya dan mendekat ke arah Valerio. "Aku minta maaf soal kemarin. Aku yang salah neken banget ke Velyn. Aku harusnya tau kalau waktu itu kejadiannya juga enggak sengaja, tapi aku malah minta Velyn buat jauhin kamu biar aku enggak bongkar kejadian waktu itu." Velyn mengernyit dalam. Tidak membongkar katanya? Lalu kenapa dia bisa berbicara seperti itu di depan Vaden juga yang pastinya mendengar ucapannya! Kalau ingin meminta maaf pada Valerio, harusnya meminta maaf saja. Apa sebenarnya mau Fara? "Kejadian? Kejadian apa maksud kamu, Ra?" tanya Vaden yang membuat Velyn ingin tenggelam saja ke dasar laut. Benar, kan? Vaden pasti dengar dan penasaran. "Apa yang terjadi antara kamu dan Velyn dulu?" Fara tampak terkejut, ia pura-pura panik, membuat Velyn ingin menjambaknya saja. Padahal ia pasti sengaja mengucapkannya agar Vaden penasaran dan mencari tahu tentang ini, lalu pada akhirnya tidak suka juga pada Velyn. Tapi apa akan begitu? Vaden kan tidak punya hubungan khusus dengan Fara? Tapi entahlah, Velyn juga tidak bisa memastikan. Fara sendiri tersenyum lebar di dalam hatinya. Benar, ia memang sengaja. Karena ia sudah berpikir jika Vaden menyukainya. Ia jadi berpikir juga kalau Vaden tahu Velyn yang membuatnya lumpuh, mungkin Vaden akan tidak suka dengan Velyn. Fara tertawa senang. Ia ingin memiliki Vaden dan Valerio secara bersamaan. Vaden sudah mengakui jika ia tertarik padanya. Kalau Valerio, memang pria itu bilang masih mencintai Velyn dan menyakiti Fara. Tapi Fara tidak akan diam, ia harus tetap kukuh agar pertunangannya dengan Valerio tetap berlangsing dan ia juga punya Vaden sebagai bayangan. "Em itu. Aku emang punya kejadian buruk sama Velyn dulu," ujar Fara terlihat sedih. Fara hendak mengucapkan kalimat selanjutnya, tapi Valerio dengan cepat mendekat ke arah Fara dan mendorong kursi rodanya. "Kami pergi dulu," ujarnya datar dan membawa Fara keluar dari sana. Ia juga menutup pintu ruangan dengan bantingan yang cukup keras. Valerio tentu masih ingat dengan ucapannya kalau ia tidak takut membeberkan rahasia Velyn ke depan umum. Tapi entah kenapa mendengar Fara akan membeberkannya di depan Vaden, ia merasa tidak mau, ia takut hal itu akan menyakiti Velyn lagi hingga dengan terpaksa ia membawa Fara menjauh. Di dalam. Vaden dan Velyn saling diam, hingga akhirnya Vaden membuka suaranya. "Jadi, kenapa kamu sama Fara dulu? Ada sesuatu yang aku enggak tau?" tanya Vaden ketika Velyn berjalan ke arah sofa. "Pastinya ada yang kamu enggak tau. Tapi aku enggak akan kasih tau," sahut Velyn duduk dan mengambil mangkuk minya. "Kamu tau kan kalau dalam sekejap aja aku bisa tau hal apa itu?" Velyn mengangguk. "Iya. Silakan aja. Kalau nanti kamu tau, jangan tunjukkin reaksi apa-apa ya karena sumpah aku enggak sengaja." Velyn tahu kalau Vaden juga akan segera tahu. Jelas karena pria itu bisa mendapatkan informasi apapun jika ia sudah penasaran. Tapi tetap, Velyn tidak ingin memberitahunya dengan mulutnya sendiriz Vaden menghela nafas dan mengacak rambutnya. Ia pensaran tapi Velyn sudah mengetahui sifatnya dan terpaksa ia harus mencari sendirian. "Terus kenapa kamu bisa sama Fara? Tapi kata Fara tadi dia juga minta Valerio buat jemput dia?" Velyn tampak berpikir, membuat Vaden cemas. "Kalian bersekongkol ya? Tapi buat apa?" Ketahuan juga. Tapi untungnya, Velyn tidak menemukan alasan apa mereka melakukan itu. Dan Vaden juga tidak bisa memberitahunya. "Ah ... aku mau tidur dulu. Jangan ganggu." Alih-alih menjawab, Vaden hanya berjalan ke arah sofa panjang di depan Velyn dan berbaring memejamkan mata di atasnya. "Pertanyaan aku tadi belum di jawab!" "Jawab pertanyaan aku dulu baru aku jawab pertanyaan kamu," ujar Vaden mengedipkan sebelah matanya, membuat Velyn kesal. Vaden hanya tersenyum kecil dalam matanya yang terpejam. Ia sudah tidak lama lagi berada di sana, mendapatkan hati Velyn seutuhnya juga tidak mungkin, jadi dengan sisa-sisa hari terakhir, inilah yang bisa ia lakukan. Sebenarnya sedih, tapi entah kenapa ia juga bahagia. Melihat Velyn yang jauh darinya dan tak tergapai membuatnya bersedih hati. Tapi melihat Velyn bahagia dengan seorang peia yang dicintainya juga membuat Vaden senang walau senangnya juga diiringi kepiluan karena bahagianya Velyn tidak bersama dirinya. Tapi yah, Vaden tetap akan pada rencananya. Membuat Fara betah bersamanya, dan menjauhkannya dari Valerio agar Valerio bisa kembali dengan Velyn. Namun, Vaden agak riskan ia bisa bertahan atau tidak dengan Fara karena tadi saja ia sudah sangat bosan makanya membawa Fara ke sini. Vaden berdecak pelan di dalam hatinya, kenapa coba ia harus melalui ini demi melihat Velyn bahagia. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN