22. Lebih Dekat

1823 Kata
Velyn tersenyum tertahan sembari mengambil buku itu. Rindu rasanya dengan buku yang sudah tidak ia lihat selama tujuh tahun lamanya. Ia bahkan sudah lupa sampai mana ia terakhir kali membaca, bisa dikatakan juga ia lupa bagaimana alur di dalamnya. "Jangan lupa baca di halaman yang terakhir kali kamu baca," ujar Valerio. Velyn mengangguk-angguk dengan pandangan yang tidak bisa teralihkan dari si buku. Seolah mendapat harta karun rasanya. "Makasih ya," ucap Velyn tersenyum. "Makasih karena udah jaga buku ini, aku dulu susah banget buat dapetin ini." "Susah? Terus kenapa gak minta balik ke aku?" tanya Valerio mengernyit heran. "Ya kan aku ngerasa bersalah banget karena kamu jadi kena hukum juga. Jadinya aku biarin aja, tapi lama kelamaan malah lupa. Dulu pas pertama kali ke Aussie, emang keinget tapi aku juga enggak mungkin minta langsung ke kamu," jelas Velyn. Valerio terdiam. Ya, jelas. Karena mereka sudah hancur waktu itu. Ia mendongak menatap Velyn yang sedari tadi senyum-senyum sendiri melihat bukunya. Valerio penasaran bagaiamana reaksi Velyn ketika membuka halaman terakhir dan membaca sesuatu yang ia sematkan di sana. "Aku turun dulu, ya. Makasih udah anter." Velyn melempar senyum terbaiknya sebelum keluar dari mobil Valerio. Velyn bisa bersikap seperti itu juga karena pengaruh si buku, yang mampu membuat moodnya melonjak naik. Ia bahkan lupa dengan rahasianya, tapi ini memang bagus, biarlah ia menikmati waktu sedikit di mana ia bisa merasa bebas tanpa terbelenggu apapun. Valerio masih ada di sana, ia melihat Velyn menghilang di dalam lift lalu mengambil ponselnya, menghubungi seseorang. "Gantikan saya hari ini," perintahnya langsung ketika panggilan itu tersambung. Ia juga memutuskan panggilan sebelum memarkirkan mobilnya ke basement. Valerio memang tidak pergi karena ia dan Vaden sudah saling sepakat dalam hal yang satu ini. *** Sesampainya di Valo Tower, Vaden membukakan pintu samping mobil untuk Fara. Ia benar-benar memperlakukan gadis itu dengan manis. Tinggal Faranya saja yang tahan atau tidak dengan semua terjangan Vaden. "Sebentar, aku ambil kursi rodanya," ujarnya menahan agar Fara tidak banyak bergerak Sementara Vaden sedang mengambil kursi roda miliknya, Fara terdiam dengan pikiran membandingkan antara Vaden dan Valerio. Cara keduanya bersikap hampir sama, tapi Vaden memang tipe yang lebih hangat. Fara juga sebenarnya terheran-heran kenapa Vaden tumben sekali terlihat mencoba dekat dengannya padahal ia seringnya bersama Velyn. Apa mungkin ia sudah bosan dengan Velyn dan beralih menyukai dirinya? batin Fara bertanya-tanya. "Fara?" "Hah?" Fara terkesiap dan mendongak, keluar dari lamunannya. "Iya?" Vaden mengedikkan dagunya ke bawah. "Kamu mau turun, 'kan?" tanyanya dan dijawab anggukan oleh Fara. Vaden kemudian mengulurkan tangannya, menaruh masing-masing lengannya ke bawah punggung dan lutut Fara, mengangkat gadis itu dengan mudah dan mendudukkannya di atas kursi rodanya. Beberapa karyawan yang melintas memandang ke arah mereka dengan tatapan aneh. Pasalnya, itu adalah pemandangan tidak biasa. Karena biasanya Valerio lah yang membawa Fara ke gedung itu, tapi kali ini Vaden dan tentu mengejutkan. Vaden sendiri menutup pintu mobilnya lalu mendorong kursi roda Fara. Tidak ada yang tahu jika ia sudah menghela nafas berulang kali, berusaha sabar. Vaden melakukan ini semua, agar Velyn bisa menggapai kebahagiaannya. Memang Vaden yang berkorban dalam hal ini, tapi tak lantas membuatnya merasa rendah, Vaden malah senang karena setidaknya ia memiliki andil besar dalam jalan Velyn kembali ke seseorang yang selama ini menjadi sumber kebahagiannya. Vaden menghentikan langkahnya ketika mereka sampai di depan pintu ruangan Valerio. Percuma, Vaden sudah tahu jika Valerio tidak ada di sana. Ia penasaran juga apa yang dilakukan pria itu dengan Velyn. "Maaf, Pak Vaden. Tapi Pak Valerio sedang tidak ada di ruangannya, beliau meminta semua pekerjaan digantikan hari ini," ujar sang serkretaris berdiri dengan sopan di samping Vaden. "Dan mbak Fara, maaf tapi Pak Valerio tidak ada di kantornya hari ini." "Enggak ada? Jadi Valerio kemana?" tanya Fara kesal. "Kenapa Valerio juga enggak kasih tau aku?" gumamnya selanjutnya, tapi ucapannya itu masih bisa didengar oleh Vaden. "Yauda makasih ya," ujar Vaden ramah pada sang sekretaris. "Kamu boleh kembali ke kerjaan kamu." Setelah si sekretaris pergi berlalu, Vaden membungkukkan tubuhnya dan berbicara pada Fara. "Kalau Valerio enggak ada di ruangannya, kamu mau ikut sama aku aja?" tanya Vaden. Fara terdiam, ia semakin yakin tentang pikirannya jika Vaden beralih menyukainya dan entah kenapa itu membuatnya senang. "Nanti ada Velyn gak?" tanya Fara mendongak. "Enggak, kenapa harus ada Velyn? Dia hari ini enggak ada kontak apapun juga sama aku," jawab Vaden sedikit berbohong karean sejujurnya Velyn sudah menghubunginya tadi pagi. Fara menghela nafas, padahal ia sudah senang. "Oke boleh," ujarnya selanjutnya. Fara adalah tipe gadis yang haus perhatian, haus kasih sayang, untuk itu ia mengincar Valerio dari dulu karena sejauh ia hidup, hanya Valerio satu-satunya cowok yang pernah ia temui yang memiliki rasa kasih sayang yang besar ke orang-orang yang dicintainya. Namun, sejak mengenal Vaden. Sudah tidak hanya Valerio, tapi Vaden juga. Dua pria itu hampir mirip di matanya. Jika boleh jujur, ia tertarik juga pada Vaden walau tetap ia cintanya ke Valerio. Dan sekarang, pikirannya menebak jika Vaden juga tertarik padanya, tidak mungki ia tidak senang. Astaga jika bisa saja, Fara ingin mengambil keduanya sekaligus. Dari atas, Vaden bisa melihat ekspresi Fara dan ia mengernyi heran melihat gadis itu dari tadi tersenyum terus-terusan, ia juga tampak tersipu malu entah karena apa. Jahatnya, Vaden sempat berpikir jika Fara memiliki gangguan kejiwaan. "Ruangan kamu ada di lantai teratas ya," gumam Fara ketika pintu lift terbuka. Ia terpukau karena dari posisinya sekarang saja, ia sudah bisa melihat pemandangan Jakarta karena besarnya jendela kaca transparan di depannya. "Ya gitu," jawab Vaden terkekeh pelan. "Selain aku, siapa lagi yang udah ke sini?" Vaden tersenyum kecil. Kebetulan, hanya Velyn lah satu-satunya gadis sebelumnya yang pernah ia bawa ke sini. Tapi Velyn tidak menjadi satu-satunya lagi karena sekarang sudah ada Fara menempati posisi kedua. "Enggak ada, cuma kamu," jawab Vaden tersenyum lembut. Reaksi Velyn dan Fara tentang jendela transparan itu juga tidak jauh beda, mereka sama-sama terpukau. Fara sendiri tersenyum lebar, hatinya mengembang senang. "Em tapi, alasan kamu aja aku ke sini apa?" Vaden berlutut di hadapan Fara, sama seperti yang Valerio sering lakukan padanya. "Enggak ada, aku cuma mau kamu nemeni aku aja di sini." Fara terbius oleh wajah itu, oleh suara itu. Ia tidak bisa menggerakkan kepalanya, tidak bisa mengerjapkan matanya. Rasanya ada yang membuncah di dalam dadanya. Vaden kemudian melipat bibirnya. "Sebenernya, aku tertarik sama kamu, Ra. Cuma udah ada Valerio di samping kamu." "Kita bisa sembunyi-sembunyi kok." Sahutan cepat dari Fara itu membuat Vaden terkejut dan tidak habis pikir, namun ia menutupinya dengan rapi hingga Fara tidak menyadarinya. "Maksud kamu sembunyi?" tanya Vaden pura-pura tidak tahu. "Aku gak mau kalau jadi bayangan," sambungnya pura-pura kesal padahal sebenarnya memang sudah kesal. Fara tampak sedih. "Entah kenapa aku ngerasa kalian berdua itu cowok yang karakternya tuh pas banget sama aku. Bisa gak ya aku punya dua pria sekaligus?" Vaden berdeham dan bangkit berdiri, ia sungguh tidak percaya Fara bisa berkata seperti itu. Maksudnya, ia tahu sebesar apa Fara mencintai Valerio, tapi ketika ada pria lain mendekatinya, kenapa ia jadi berubah total seperti ini? Seolah Valerio bisa diduakan. Ia tahu ia memang mampu mengikat banyak wanita, tapi untuk Fara yang tergila-gila pada Valerio, ia tak menyangka masih bisa. Kalau begitu, ini akan lebih mudah. "Gak bisa dong. Kamu harus pilih salah satu." Fara mendongak. "Kamu, bukannya kamu sama Velyn? Kayaknya kamu juga suka sama Velyn, kenapa tiba-tiba sama aku?" "Aku sama Velyn cuma temen, enggak lebih." Atau lebih tepatnya, Vaden ingin lebih dari teman, sedangkan Velyn tidak bisa. "Oh gitu ya." Fara mengangguk-angguk. Bibirnya menipis mencoba menahan senyum bahagianya. Mendapatkan dua pria yang  kharismanya sungguh tidak tanggung-tanggung, siapa yang tidak senang. "Tapi kalau kamu emang tertarik selama ini sama aku, kenapa enggak bilang? Kamu malah kelihatan biasa aja bahkan aku sempet mikir kamu enggak suka sama aku," ujar Fara dengan mimik berpikirnya. Vaden berdeham hampir terbatuk. Fara ternyata paham kalau ia waktu itu sempat tidak suka dengan perempuan ini. "Karena ada Valerio," bohongnya lagi, entah sudah berapa  kali ia berbohong pada perempuan ini. "Yauda lupain aja tentang dia, sekarang dia lagi enggak ada, jadi kita bisa berdua," sambungnya dengan senyum manis. Fara ternyata tidak sesetia yang Vaden ekspetasikan. Gadis itu mudah berpaling, ya tentunya berpaling dengan pria yang tidak jauh berbeda dengan Valerio. Tapi tetap saja, bukan? Garis besarnya ialah ia tidak setia. Sementara itu, di sisi lain. Velyn sedang berkacak pinggang melihat Valerio yang berdiri di depannya. "Ngapain kamu ke sini? Sana ke kantor kamu," usirnya terang-terangana, ia juga berbalik dan duduk di sofa mengamati berkas-berkas di tangannya. "Aku mau di sini." Valerio ikut duduk di depan Velyn. "Iya tapi kamu mau apa?" Velyn gemas sendiri jadinya, entah kenapa Valerio jadi menyebalkan sekarang. "Mau bahas proyek kemaren." Velyn tertawa. "Proyek kata kamu? Proyek apa orang udah selesai kok," jawabnya memberengut kesal. "Kamu pergi aja, samperin Fara sana, atau urus pertunangan kalian. Jangan di sini, kamu ganggu konsentrasi aku." Valerio terkekeh, Velyn juteknya memang tidak main-main. Lagipula ia di sana karena ingin kembali merajut hubungannya dengan Velyn, sedangkan Fara di sana sudah di urus Vaden. "Kamu gak baca kelanjutan buku tadi?" Velyn menggeleng, matanya tetap ke bawah memahami isi berkas. "Enggak, nanti di rumah." Ia kemudian meletakkan kertas-kertas di tangannya di meja dan menghela nafas lelah. "Cape banget mahamin semuanya, pusing." Valerio melirik ke bawah. Velyn memang tidak suka tugas ini, ia sudah tahu. "Maunya tuh nanti aku punya suami yang bisa urus perusahaan ini, jadi aku bisa leha-leha di rumah," gumamnya. Ia kemudian mendongak menatap Valerio. "Dan kamu, plis, pergi. Ntar Fara malah marahnya ke aku." "Aku bakalan putusin hubungan aku sama dia, sekaligus pertunangan itu." Velyn terperangah sesaat, tapi kemudian ia kembali menghella nafas lelah. "Jangan ...." "Aku tau kamu masih cinta sama aku." "Kalau pun iya bukan berarti kamu harus putus sama Fara. Kamu sama dia kan sama-sama cinta jadi apalagi?" Velyn menengadahkan kedua tangannya. "Aku gak cinta sama dia. Siapa yang bilang?" Sahutan Valerio membuat Velyn ingin menangis rasanya. "Tapi kamu tau kan kalau rahasia itu ...." "Kamu masih inget kan kalimat aku tadi kalau aku gak peduli sama rahasia itu? Malah aku mau beberin aja biar kamu gak kebelenggu sama apapun." "Bukan gitu masalahnya," seru Velyn kesal. Ia hanya belum siap, dan mungkin tidak akan pernah siap. Tiba-tiba Valerio mendekat dengan cepat, membuat Velyn terkesiap. Tapi gadis itu tidak bisa memundurkan kepalanya lagi karena tangan Valerio menangkup kedua pipinya dengan sebelah tangannya. "Kamu akui kamu masih cinta, aku bakalan putusin pertunangan itu sekarang juga." Velyn mengerjap beberapa kali sebelum mendorong wajah Valerio agar menjauh dari wajahnya. "Apaan coba ...." serunya dengan sebelah tangan memundurkan wajah Valerio secara paksa. "Aku enggak cinta sama kamu lagi." Valerio berdecak dan tertawa kecil, mana mungkin ia percaya ucapan itu. Ia juga merasa hatinya mengembang senang sekarang, rasanya berbeda ketika dengan Fara, sekarang ia merasa lebih lepas dan bebas. Setelah ini, Valerio mungkin akan mendatangi Fara dan meminta maaf padanya. Ia harus menjelaskan tentang perasaannya. Jika nanti Fara mengancam tentang kecelakaan itu, maka Valerio tidak takut dan mempersilahkan Fara melakukannya. Ia tahu Velyn akan kacau setelahnya, tapi tidak apa, karena ia akan selalu berada di samping gadis itu. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN