21. Pertama Kali Bertemu

2257 Kata
Tidak ada pembicaraan apapun antara Valerio dan Velyn di dalam mobil. Keduanya diam dengan pikiran yang bercokol di kepala masing-masing.  Velyn melirik Valerio sesaat dan menghela nafas. "Besok-besok kalau Vaden enggak bisa jemput aku. Enggak perlu kamu yang dateng ya," ujar Velyn pelan dan menunduk sebelum kembali memusatkan pandangannya ke arah bangunan-bangunan tinggi di pinggir jalan. "Kenapa?" Velyn melipat bibirnya. "Ya enggak  perlu aja," ujar Velyn. "Kamu mending lupain perasaan itu, mungkin cara terbaik yaitu kita yang gak usah ketemu lagi. Kamu udah punya Fara, jaga dia, kalian mau tunangan, kamu harusnya gak boleh punya perasaan khusus ke perempuan lain," sambungnya menjelaskan. "Aku bakalan putusin pertunangan itu." Ungkapan itu membuat Velyn terkejut, kepalanya menoleh begitu saja ke arah Valerio. "Kamu jangan bercanda, Valerio! Kamu pikir suatu hubungan yang hampir ke tahap lebih serius itu bisa dimainin gitu aja? Kamu harus pikirin perasaan Fara." "Pikirin perasaan Fara dan aku gak peduli sama perasaan aku sendiri?" Valerio menyahut. "Kamu jujur aja, kamu bilang gitu karena takut Fara yang bongkar rahasia kamu, kan? Kalau aku mau, aku bisa aja yang bongkar itu semua biar semua orang tau." Velyn menatap Valerio sengit. "Jangan berani-beraninya kamu." "Aku enggak takut, Vel. Aku cuma mau kamu berani buat hadapi langsung." Velyn mendesah keras dan melipat tangannya, ia juga membuang wajahnya lagi. Ia tidak suka Valerio terus mengucapkan kalimat itu, seolah sudah basi di telinganya. Ia tahu ia harus menghadapi ini, tapi sepertinya Valerio tidak mengerti jika ia juga belum siap untuk saat ini. "Intinya kamu enggak boleh mutusin hubungan kalian gitu aja," ujar Velyn tegas. "Sayangnya kamu enggak ada andil dalam hal ini. Jadi keputusan tetep ada di aku," balas Valerio dengan senyum miring ketika Velyn menoleh ke arahnya. "Terserah, aku juga enggak peduli." Valerio terkekeh pelan. "Kalau masih cinta, bilang aja kali," gumamnya yang masih didengar Velyn, tapi gadis itu pura-pura tidak dengar. Beberapa menit kemudian, mereka sampai tepat di depan gedung perusahaan keluarga Velyn. Sebelum Velyn turun, Valerio memberi sesuatu padanya. "Ini, aku kembaliin," ujar Valerio memberi sebuah buku dengan cover berwarna biru muda pada Velyn. "Dan maaf, mungkin aku bakal kejar kamu lagi. Aku cuma enggak bisa sama Fara lebih lama lagi, aku sadar sama perasaan aku sekarang," sambungnya tersenyum lembut. Velyn sudah terharu melihat buku yang ada di tangan Valerio, dan ia tambah terharu mendengar ucapan pria itu selanjutnya. Tapi jelas ia menyembunyikan ekspresinya dengan baik agar Valerio tidak menyadarinya. "Kenapa kamu kembaliin?" tanya Velyn mengambil buku yang diserahkan Valerio. "Ini ... kamu masih simpen? Padahal udah tujuh tahun." Untuk yang satu itu, Velyn tidak bisa menyembunyikan ekspresi terharunya. Bagaimana mungkin? Buku dengan judul We Are Precious itu sudah tujuh tahun bersama Valerio. Ia bahkan sudah tak memikirkannya lagi karena ia mengira buku itu sudah tiada. Tapi, Valerio masih menjaganya, bahkan dengan baik sekali. Kondisinya masih bagus, persis ketika tujuh tahun lalu, ia memberikan buku itu ke Valerio. *** Velyn yang baru duduk di bangku dua SMA itu sedang berjalan cepat dengan kepala yang menoleh sesekali ke arah belakangnya. Ia merasa diikuti dari tadi hingga membuatnya berjalan di lorong gedung anak IPA. Velyn merasa ia jadi anak baik di sana. Tidak ada masalah yang ia timbulkan. Tapi entah kenapa sejak satu SMA, ada saja orang-orang yang tak suka padanya dan kadang menindasnya. Namun, Velyn tentu tidak diam saja. Walaupun sendirian, ia masih mampu melawan mereka semua. Sekarang juga sama, Velyn merasa ada yang mengikutinya terus sejak ia keluar dari kantin. Ia sampai ke gedung IPA mencoba menjauh dari mereka. Dan kelihatannya sekarang situasi sudah aman, perempuan-perempuan aneh yang suka mengganggunya itu tidak ada lagi di sana ketika ia mengedarkan pandangannya. Velyn melirik ke arah tangga, ia melangkah kesana. Baru satu kaki ia pijakkan ke anak tangga teratas, tiiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang terlempar ke arah punggungnya. Ia melirik ke bawah, sebuah botol minuman kosong terjatuh dari anak tangga teratas, terus menggelinding sampai berhenti di anak tangga terbawah. "Eh sori, gue gak sengaja. Duh sori banget ya." Velyn menoleh dan ia menghela nafas melihat tiga perempuan super centil yang suka mengganggunya itu. Salah satu dari mereka yang kemungkinan besar melemparkan botol tadi ke punggung Velyn, sedang menggulung-gulung rambutnya dengan jari telunjuknya, tidak lupa dengan ekspresi tak berdosa yang membuat Velyn jijik seketika. "Lo sih, jadi orang kok sok cantik banget," ujar yang di pinggir, ia menatap Velyn dari atas ke bawah. "Cewek kayak lo lebih baik gak di sini, di luar negeri sana. Karena lo, semua cowok di sini lo sikat semua." Velyn diam saja, tapi ia juga tidak pergi dari sana. "Bisu dia." "Haha!" "Emang enggak sakit. Tapi, lo semua mau tau gak rasanya di lempar pake botol?" tanya Velyn dengan senyum yang dibuat setulus mungkin. "Lo pikir gue gak bisa bales, hah? Cewek-cewek centil? Lo semua giniin gue karena ngerasa jelek, ya? Enggak mampu nyaingi? Makanya muka dirawat baik-baik, ke salon, kalau enggak ada duit yaa itu mah masalah kalian." Perempuan yang berada di tengah mendekat ke arah Velyn. Wajahnya merah padam karena amarah. "Mulut lo pedes banget, ngalahin cabe yang gue makan. Emang bener orang cantik selalu sombong." "Beneran? Wah mending sih, gue sombong karena gue cantik. Dari pada jelek tapi tetep sombong, parah banget sih itu," ujar Velyn dengan bibir berkedut menahan tawa. "Hem gitu ya ...." Perempuan itu berjalan melalui Velyn, membuat Velyn mengernyi, begitu saja? Biasanya yang mereka lakukan akan lebih dari ini. Dua temannya yang lain juga ikut, mereka melalui Velyn dengan tidak berkata apa-apa. Membuat Velyn jadi kepikiran apakah ucapannya tadi begitu terlalu hingga mereka sakit hati? Sebenarnya Velyn juga tidak bermaksud. Habisnya mereka begitu memancing emosi Velyn. Baru saja Velyn ingin berbalik dan memanggil mereka. Tapi tiba-tiba, ia merasakan ada yang basah pada kemeja bagian punggungnya, mengalir turun ke bawah. "Rasain! Makanya jadi cewek jangan sombong amat!" seru mereka dan pergi dari sana dengan cepat. Velyn mendesah pelan, ia tersenyum terpaksa. Menghela nafas berulang kali agar emosinya tidak meledak. Tangannya terulur ke belakang punggungnya dan tangannya bisa merasakan bagian mana yang basah. Gigi-gigi Velyn bergemeletuk saking geramnya. Dasar perempuan-perempuan itu! Seolah ia sedang beruntung, Velyn melihat ada sebuah ember cukup besar dengan air keruh di dalamnya, sepertinya bekas pel. Velyn dengan cepat berlari ke arah ember itu dan melihat ke bawah di mana tiga orang tadi berdiri di sana, perlahan mendongak ke arahnya dan memberikan tampang mengejek sekaligus jempol terbalik. Mumpung mereka masih di sana, Velyn mencoba mengangkat ember itu sendirian, tapi tidak bisa, ia tidak mampu mengangkat benda seberat itu seorang diri, apalagi pembatasnya cukup tinggi. Velyn menoleh ke sana-sini, mencoba meminta bantuan siapapun yang ia temukan di lorong itu. Dan untungnya ia melihat seorang cowok baru keluar dari kelas dan menguap pelan, ia Valerio. "Eh lo!" seru Velyn, ia segera berlari ke arah Valerio yang terus berjalan tidak menoleh ke arahnya. "Tolong bantu gue plis." Velyn dengan berani langsung memegang tangan Valerio walau saat itu mereka masih asing satu sama lain, matanya memancarkan permohonan pada Valerio yang baru menoleh dan menatapnya tidak suka. "Lepas." "Iya gue lepas kok. Tapi bentarr aja, bantu gue dulu." Valerio menatap Velyn dengan intens sesaat. "Yauda cepet." Velyn tersenyum senang, ia menarik Valerio dan menunjuk ember yang ada di sana. "Bantuin gue angkat ini, terus sama-sama buang ke bawah. oke? Cuma gitu aja kok." Valerio hanya diam memperhatikan, ia tidak banyak bicara dan mengikuti saja apa kemauan Velyn. "Sekarang ayo angkat." Sesuai instruksi, Valerio membantu Velyn mengangkat ember penuh air kotor itu. Ia melihat Velyn melirik-lirik ke bawah sebelum mengangguk ketika menoleh padanya. Mereka semakin memiringkan posisi ember hingga airnya tumpah ruah ke bawah. Velyn tersenyum dengan senang, akhirnya! Ia tadi melirik untuk memastikan posisi tiga cewek centil itu masih di sana dan untungnya mereka memang tidak pergi dari tadi. Ketika ember sudah sangat ringan yang artinya seluruh airnya sudah ditumpahkan, Velyn memberi jempolnya pada Valerio. "Oke, makasih ya." Sebelah alis Valerio meninggi. "Kenapa buang air pel harus ke sana? Bukannya ada kamar mandi?" Velyn terkekeh. "Bukan itu tepatnya," ujarnya dengan kepala perlahan menoleh ke bawah. "Tapi gue mau bal—" Mata Velyn membesar melihat bukan tiga cewek tadi yang basah kuyup di bawah. Tapi mereka tetap ada di sana dan tertawa, menertawakan Velyn yang salah tujuan. Valerio juga ikut menoleh ke bawah dan ia langsung terkejut, ia kemudian menatap Velyn dengan kesal. "Lo? Lo mau ngerjain guru?" tanyanya. "Kenapa ajak-ajak gue?!" Orang yang basah kuyup di bawah sekarang adalah seorang guru baru, laki-laki muda yang walaupun masih baru, kekillerannya sudah meraja lela di mana-mana. Velyn merasa gagap sekarang, ia menatap Valerio dengan pandangan minta maaf. "Sori ...." Rasanya juga tidak bisa menjelaskan apapun lagi karena sekarang ia sangat takut guru itu marah dan mengeluarkannya dari sekolah, secara perbuatannya barusan sangat tidak sopan. Mau tak mau, Valerio dan Velyn harus ikut ke ruang bimbingan konseling. Di sana ada guru BK dan juga pak guru tadi yang sudah berganti pakaian. "Saya mau jelaskan kenapa saya lakuin hal tadi, Pak. Tapi pertama, dia ini enggak ada sangkut pautnya, murni salah saya sendiri." Valerio melirik Velyn melalui ekor matanya, ia cukup takjub karena Velyn betul-betul mempertanggung jawabkan kesalahannya dan tidak melempar ke orang lain yang sengaja tak sengaja sudah membantunya memuluskan aksinya. "Jadi sebenernya saya mau balas ke anak-anak lain yang selama ini suka ganggu saya. Tapi, bukannya mereka, malah Bapak yang ada di sana. Sebelum nuang juga saya udah lihat kok, Pak. Tapi entah kenapa orangnya langsung berganti gitu aja," jelas Velyn dengan suara pelan, ia sudah ketakutan setengah mati. Guru BK yang sudah berpengalaman tentang hal ini pun menyodorkan sebuah kertas kosong dan pena  pada Velyn. "Coba catet nama-nama orang itu," ujarnya dan Velyn langsung mengiyakan. Setelah Velyn mencatat nama ketiganya. Guru BK menyerahkan penyelesaian selanjutnya pada guru muda yang bersangkutan. "Saya tidak mentolerir sebab kamu lakuin hal itu ke saya, entah sengaja atau tidak, itu perbuatan tidak benar." Velyn menundukkan kepalanya, ia menghela nafas dan menyalahkan dirinya sendiri. Apalagi sekarang bukan hanya ia yang mendapat masalah, tapi ada cowok di sampingnya yang jadi ikut-ikutan kena karenanya. "Kalian berdua bersihkan halaman belakang gedung laboratorium, harus bersih hari ini juga." Velyn meringis pelan. Kenapa harus tempat itu? Sampah dedaunan sangat menumpuk di sana, bahkan petugas kebersihan tak mampu mengembannya. Lagipula di sana itu tempatnya tidak pernah dijamah warga sekolah, jadi ya kotor sekalipun tidak ada yang peduli. "Oke, udah diberitahu, kan? Sekarang boleh langsung kerjain," ujar guru BK. Velyn berdiri lebih dulu, ia tidak berani menatap Valerio. "Makasih, Pak." Valerio tidak mengatakan apapun, ia hanya mengikuti langkah Velyn yang keluar dari ruangan itu. Sesampainya di luar, Velyn menunggu Valerio dan menatapnya bersalah. "Maaf, ya. Karena gue, lo jadi ikutan kena dampaknya. Gue enggak tau kalau bakal begini kejadiannya," ujar Velyn menangkupkan kedua tangannya. Valerio tersenyum kecil, dia tidak terlalu tegang karena sejujurnya sudah biasa keluar masuk ruang BK. "Santai aja. Tapi karena lo udah sadar ini salah lo, gue angkat tangan soal bersih-bersih itu, oke? Gue mau pulang," ujarnya dan melalui Velyn begitu saja. Velyn menganga menatap punggung Valerio yang menjauh, ia merengut, tapi tidak bisa juga mengomentari. Kan memang salahnya. Alhasil, setelah sekolah sepi karena semua siswa sudah pada pulang. Velyn mengambil sapu, tong sampah dan mulai mengerjakan semuanya. Ia berkali-kali istirahat dan bahkan sudah mengganti kemeja putihnya dengan kaos karena sudah basah akibat keringat. Ketika Velyn sedang mengumpulkan sampah dan hendak memasukkannya ke dalam tong sampah, ia merasa ada seseorang berdiri di belakangnya. Karena khawatir, Velyn cepat-cepat berbalik. Namun, orang itu ternyata Valerio. Dia datang dengan pakaian kasual, sudah tidak dengan seragam sekolah. "Lo? Ngapain?" tanya Velyn sembari menyeka keringat di dahinya. Valerio berdecak pelan. Entah kenapa ia merasa kasihan meninggalkan Velyn sendirian di sini. "Lo duduk dulu, biar gue yang lanjutin." Mata Velyn berbinar senang. "Beneran?" Ia tentu tidak menyiakan kesempatan, Velyn langsung saja duduk di sebuah kursi panjang dan menenggak air minumnya. Ia juga mengipasi dirinya sendiri yang sudah sangat kelelahan sebenarnya. Valerio sendiri tidak mempedulikan itu, ia langsung mengemban tugas Velyn dengan cepat. Jelas karena tenaga pria jauh lebih besar dari pada tenaga wanita. Valerio juga memindahkan beberapa pot bunga yang keluar dari jalur dan merapikan semuanya. Velyn cukup kaget kalau ada cowok yang tahu berbenah seperti dirinya. Karena Valerio tampaknya asik dan menikmati pekerjaannya, Velyn ingin lebih santai dengan mengeluarkan buku bersampul biru muda dengan judul we are precious. Dia membukanya hingga hampir halaman terakhir karena memang sampai situlah ia membaca terakhir kali. "Gue capek-capek di sini dan lo malah baca gitu aja?" Valerio berkacak pinggang melihat Velyn yang asik membaca, membuat Velyn gelagapan hingga menutup buku itu dengan cepat. "Eh sori gue kira lo suka sama kerjaan ini," ia terkekeh pelan dan kembali mengambil sapu. "Ini gue bantuin deh." Valerio menatapnya datar sebelum akhirnya mereka melanjutkan pekerjaan yang baru selesai ketika sore hari. Jangan tanya bagaimana tampang keduanya, sungguh sangat kelelahan. "Btw makasih banget udah bantuin gue. Kalau gak ada lo mungkin ini besok baru kelar," ujar Velyn memberi jempolnya pada Valerio. Valerio tidak menyahut, ia mendekati kursi yang tadi Velyn duduki dan mengambil buku yang tergeletak di atasnya. "Lo juga suka buku lama?" tanyanya dan Velyn mengangguk sebagai jawaban. Valerio membaca blurb buku yang ada di cover belakang, ia mengernyit. "Gue pinjem buku lo. Kalau udah siap gue balikin. Itung-itung balasan terima kasih lo ke gue." Velyn yang tadinya memejamkan matanya menikmati semilir angin jadi terkejut. "Eh tapi gue belum selesai baca!" serunya dan bangkit berdiri. Namun, sayang, Valerio sudah berjalan lebih dulu meninggalkannya dengan bukunya di tangan cowok itu. Tiba-tiba Valerio berhenti, ia berbalik dan menatap Velyn. "Gue Valerio," ujarnya tersenyum kecil, lebih ke senyum miring sebenarnya. Velyn melengos kesal, tapi ia tetap menjawab. "Velyn." Valerio mengangguk-anggukkan kepalanya dan berbalik. "Sampai jumpa besok, Velyn." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN