20. Mendekati Fara

1697 Kata
Valerio sampai di apartemennya ketika jam sudah menunjukkan pukul sebelas. Hari ini ia tidak melakukan hal yang sulit, tapi entah kenapa ia merasa lelah. Memang benar apa yang orang katakan, semakin bertambah usia, semakin kita lelah entah karena apa alasannya. Valerio melempar jasnya ke arah sofa, ia cepat-cepat ingin tidur mengistirahatkan raganya, tapi lebih tepatnya ia ingin menenangkan hatinya. Valerio sedang membuka kancing kemejanya ketika ponselnya berdenting, ia merogoh sakunya dan melihat notifikasi pesan yang masuk. Sebelah alis Valerio meninggi ketika membaca pesan yang dikirim Fara padanya. Isinya cukup panjang, tapi satu yang tertangkap oleh Valerio. Gadis itu meminta maaf, ia juga berkata kalau rahasia Velyn aman di tangannya jika Valerio masih berada di sisinya, dan yang terakhir ia bilang jika ia yakin bisa mengubah hati Valerio yang tadinya mencintai Velyn, berbalik menjadi mencintai dirinya. Valerio menghela nafas panjang, ia melempar ponselnya ke arah ia melempar jasnya dan untungnya di tempat yang tepat karena kalau tidak, ia harus membeli ponsel baru besok. Valerio hanya merasa pikirannya sekarang sangat ruwet. Satu-satunya hal yang membuatnya lapang kembali hanyalah Avelyn. Membayangkannya saja sudah membuat Valerio merasa ia bahagia. Tapi masalahnya, Velyn terlalu takut, ia selalu mendorong Valerio pergi. Dan satu lagi, hal paling krusial yang Valerio sendiri tidak tahu bagaimana kejelasannya, yakni cinta Velyn. Masih ada padanya kah? Valerio berjalan ke arah balkon apartemennya, melihat padatnya jalanan Jakarta walau sudah larut malam sekalipun. Valerio menghela nafasnya pelan, ia penasaran dengan apa yang dilakukan Velyn sekarang, apa ia masih bersama Vaden atau sudah berbaring di kamarnya? Valerio harap kemungkinan kedua adalah jawabannya. Jujur saja, Valerio masih tidak menyangka jika Velyn ada sangkut-pautnya dengan kecelakaan yang dialami Fara. Ia terkejut Velyn bisa menyimpan hal itu dari mereka semua, bahkan orang tuanya tidak mengetahui soal ini. Namun, dari sana Valerio juga bisa sadar betapa takutnya Velyn kalau kejadian yang mungkin terburuk dalam hidupnya itu diketahui banyak orang. Ia pasti merasa bersalah, tapi Velyn juga harus tahu jika ia juga tidak sepenuhnya salah karena kecelakaan itu bukan disengaja, Samar-samar Valerio mendengar ponselnya berdering, nyaring berkali-kali hingga ia memutuskan berbalik dan menghampiri ke arah ponselnya tergeletak. Tidak ada nama, alias nomor tidak dikenal. Seperti yang sudah-sudah, Valerio menolak panggilan itu. Tapi sedetik kemudian, sebuah pesan masuk dari nomor yang sama. Ini Vaden. Valerio mengernyit. Ia jelas menyimpan nomor telepon Vaden, tapi kenapa pria itu memakai nomor baru untuk menghubunginya? Panggilan yang baru masuk dan tanpa pikir panjang, Valerio menerima panggilannya. "Ada apa?" *** Vaden mengantar Velyn sampai ke depan rumahnya. Akhirnya ia bisa tahu dengan jelas dan lengkap alamat gadis itu. Tadi saja ketika mereka berangkat ke acara Reima, Velyn memintanya menjemputnya di tempat lain yang cukup jauh dari rumahnya. Velyn sudah sangat mengantuk keluar dari mobil Vaden. Matanya terasa panas dan berat akibat menangis. Ia juga tidak sempat menawarkan Vaden untuk mampir karena ia juga ingin langsung tidur, lagipula ini sudah malam. Vaden terus melihat ke arah Velyn sampai gadis itu menghilang di dalam rumahnya. Vaden menghela nafas. Velyn jelas sedang bersedih hati tapi ia tidak tahu apa penyebabnya karena Velyn tidak memberitahunya. Yang jelas, ia tidak suka Velyn sedang bersusah hati seperti itu. Ia lebih suka Velyn bahagia walau karena orang lain daripada seperti ini. Tak lama kemudian, Vaden memutuskan untuk pulang ke kediamannya. Ke kantor juga tidak mungkin, pasti sisa pekerjaannya tadi sudah diurus yang lainnya. Sampai di rumah, Vaden duduk di pinggir kasur dengan dahi mengernyit dalam. Beberapa menit kemudian ia menghela nafas panjang dan mengangguk mantap. Seolah ada yang ia pikirkan dari tadi dan akhirnya mendapatkan jalan keluarnya. Vaden merogoh sakunya mencari ponselnya, lebih tepatnya ponsel cadangannya. Ia kemudian menelepon Valerio, tapi baru beberapa detik, panggilan sudah ditolak. "Ah ya gue lupa," gumam Vaden terkekeh pelan, ia melihat ke arah ponselnya dan mengetik pesan di sana. "Ini anak kan anti orang asing," sambungnya lalu menekan tombol send di ujung kanan bawah ponselnya. Sedetik setelahnya, Vaden kembali menghubungi Valerio dan barulah pria itu menerima panggilannya. Kalimat awal yang diucapkan Valerio bukanlah kalimat ramah atau setidaknya menyapa, tapi lebih ke ingin cepat-cepat mengakhiri panggilan mereka. Vaden tersenyum kecil, dari dulu Valerio memang orangnya cukup cuek, apalagi padanya. Tapi sekarang, kecuekan itu bertambah berkali-kali lipat dan ia tahu sebabnya apa. "Ada sesuatu yang mau gue bicarain," ujar Vaden serius. "Iya, apa? Bilang aja sekarang." Vaden menghela nafas, ini agak berat sebenarnya, tapi apa lagi yang bisa ia lakukan selain ini untuk melihat kebahagiaan Velyn. "Gue bakal deketin Fara," ungkap Vaden, ia menunggu reaksi Valerio atas kalimatnya ini, akankah pria itu marah atau biasa saja. "Maksud lo?" Nada suara Valerio memang terdengar marah. "Bukannya lo suka sama Velyn, terus kenapa Fara? Lo ngekhianatin Velyn?!" Vaden terkekeh pelan. Barusan ia mengira Valerio marah karena berpikir ia juga suka Fara, ternyata kalimat akhirnya membuatnya sadar kalau Valerio memang mencintai Velyn. "Lo bisa sama Velyn lagi." "Maksudnya apa? Lo ngomong enggak terlalu jelas," geram Valerio, ia kesal karena Vaden tidak mengungkapkan seluruhnya secara langsung, "Gue tau lo sama Velyn masih sama-sama ada rasa. Mungkin gue sama Fara ngehalangin banget ya. Lagipula gue udah gak lama lagi di sini. Jadi, di sisa waktu, gue mau Velyn bahagia, sama lo. Kalian bisa sama, sedangkan Fara, itu urusan gue, tenang aja," jelasnya sekaligus, membuat Valerio terdiam beberapa saat untuk mencerna kembali apa maksud dari Vaden. "Lo mau mati?" Kalau saja dekat, mungkin Vaden sudah meninju bibir Valerio. "Enggaklah! Tapi intinya gue di sini enggak lama lagi. Jadi gimana? Lo mau nggak? Ini semua bisa berjalan kalau lo juga kerja sama." "Lo serius? Emangnya mau ke mana kok enggak lama lagi?" "Ada deh, lo tumben kepo. Udah jadinya ini lo mau apa enggak." "Gue mau. Tapi kok gue ngerasa aneh, lo sendiri punya rasa ke Velyn, tapi kenapa kasih kesempatan besar buat gue?" Vaden tersenyum kecil, ia menunduk sesaat. "Karena cintanya Velyn cuma ada buat lo." *** Esok paginya. Velyn dan Fara sama-sama meminta Vaden dan Valerio menjemput mereka. Hanya saja yang datang malah sebaliknya. Jika di Velyn yang datang harusnya Vaden, ketika ia membuka pintu mobil, yang duduk di sana malah Valerio. "Hah? Kok kamu?" Velyn tidak jadi masuk. Ia terdiam di dekat pintu yang terbuka. "Hm Vaden lagi enggak bisa," ujar Valerio dengan cuek, agak kesal karena ucapan Velyn tadi menyerukan seolah ia tidak mengharapkan kedatangan Valerio. "Iyakah? Kenapa dia enggak ngabarin?" gumam Velyn ke dirinya sendiri. "Yauda kalau gitu aku naik mobil sendiri." Valerio menoleh pada Velyn dengan tampang sengit. "Aku udah sampai sini dan kamu gak peduli gitu aja?" serunya tidak terima. Velyn mengerjap. "Tapi perusahaan kita beda arah, ntar ngerepotin kamu," ujarnya pelan. Selain itu, ia juga canggung pada Valerio karena hal tadi malam. "Oh ya? Terus kalau sama Vaden, bukannya sama juga?" Valerio menantang Velyn. "Aku juga enggak bakal ke sini kalau ngerasa ini ngerepotin aku." Velyn menimang jawabannya apakah ia bersedia atau tidak, memang Valerio sudah jauh-jauh menjemputnya dan tidak enak ia menolak. Ia juga sebenarnya ingin bersama Valerio, tapi .... "Gimana sama Fara? Dia biasanya selalu minta jemput sama kamu?" Valerio sudah mencapai batas kesabarannya, ia mencondongkan tubuhnya ke depan dan menarik tangan Velyn cukup kuat hingga mau tak mau perempuan itu duduk di dalam. Valerio juga menutup pintunya dan mengunci otomatis agar Velyn tidak bisa pergi. "Valerio!" "Apa?" sahut Valerio dengan tampang mengejek. Jangankan Velyn, ia sendiripun kesal karena Velyn punya banyak sekali pertimbangan padahal yang hanya ia harus lakukan adalah duduk dan diam. Velyn bersungut kesal. "Nanti kalau Fara tau gimana? Kalau dia gak suka gimana? Kamu mau tanggung jawab kalau dia bocorin tentang kecelakaan itu ke semua orang?" Velyn berucap cepat. "Bisa," jawab Valerio singkat. "Kalau aku jadi kamu, aku enggak bakal sembunyi. Sebaliknya, aku bakal hadapi apapun itu karena aku yakin, sekecil apapun kamu merahasiakan sesuatu, pasti ujung-ujungnya bakalan kebongkar juga, kecium juga baunya, Vel." "Aku tau, tapi gak sekarang," sahut Velyn membuang wajahnya ke arah jendela. "Emang nantinya kamu itu kapan? Kamu mau dibawah tekanan Fara terus? Kamu mau lakuin sesuatu tapi enggak bisa karena dia larang kamu ini itu?" "Memangnya apa yang dia larang? Cuma ngejauhin kamu kok. Aku rasa aku bisa lakuin itu," jawab Velyn cepat, ia menoleh pada Valerio. Berbeda dari ekspetasi Velyn yang mana Valerio akan marah karena kalimatnya, pria itu malah tersenyum. "Oh ya? Yakin bisa?" tanyanya dengan nada terdengar menjengkelkan di telinga Velyn. "Gak tau deh, Vale. Udah kamu cepet nyetirnya, aku buru-buru ke kantor." Velyn menyerah, ia juga mengalihkan tatapannya. Valerio terkekeh, ia tidak menjawab apapun lagi dan hanya fokus pada jalanan padat di depan mobilnya. Sementara itu, di sisi lain, Fara sedang menunggu Valerio dengan hati cemas. Pasalnya ia takut karena kejadian tadi malam, Valerio jadi membencinya dan tidak mau bersamanya lagi, dan hal paling menakutkan ialah kalau pria itu membatalkan pertunangan mereka. Tak lama kemudian, sebuah mobil datang dan berhenti tepat di depan Fara. Mobilnya berbeda, Fara sudah tahu kalau itu bukanlah Valerio. Fara tahu betul bagaimana model mobil Valerio, tipe bahkan platnya. Orang yang keluar dari mobil membuat Fara mengernyit heran. Vaden? Kenapa ia ke sini? Ingin membuat perhitungan dengannya karena ia sudah membuat Velyn menangis tadi malam? Tapi tunggu, tidak mungkin Velyn membocorkan rahasia kelamnya ke orang lain, bukan? "Fara, hai. Maaf aku lama," ujar Vaden dengan senyum lembut, ia terlihat tampan sekali. "Ngapai kamu di sini?" tanya Fara langsung, ia tak ingin berbasa-basi. Ia juga mencoba tidak melihat senyum maut itu, bisa-bisa ia jatuh dalam pesona Vaden. "Mau jemput kamu, jadi apalagi?" "Aku minta Valerio yang jemput, kenapa malah kamu?" Vaden nampak berpikir sesaat. "Dia lagi enggak bisa, makanya nyuruh aku yang jemput kamu." Fara mengernyit. "Enggak mungkin. Valerio selalu bisa kok." Menghela nafas melihat kekeras kepalaan Fara, Vaden akhirnya mengambil tindakan. Ia berjalan mendekat ke arah Fara dan menggendongnya begitu saja tanpa permisi lebih dulu ke perempuan itu. "Vaden! Turunin aku!" seru Fara tidak terima. Tapi Vaden tidak peduli. Ia tetap membawa Fara ke mobilnya sampai Fara duduk di sana. "Kamu diem aja. Aku tetep bakal anterin kamu sampai ke depan ruangan Valerio. Tenang aja." Fara hanya memberengut kesal. Sedangkan Vaden berbalik untuk melipat kursi roda Fara dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil. Fara melihat itu semua melalui kaca spion, ia tersenyum kecil. Ternyata ada pria perhatian lain selain Valerio yang ia temukan. Cara Vaden menggendongnya tadi juga terasa kuat, entah kenapa Fara menyukainya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN