Malam itu, sebenarnya Valerio tidak benar-benar pergi. Ia tetap di sana mengawasi. Ia memang tidak bisa memastikan sebesar apa ketakutan Velyn akan kecelakaan itu. Tapi yang jelas, semua orang pasti akan memaafkannya.
Jadi, harusnya Velyn tidak perlu takut semuanya terbongkar. Mungkin memang terkejut di awal, tidak menyangka. Tapi, dengan penjelasan dan waktu yang memahamkan, pasti semua akan baik-baik saja. Walau memang, tentu tetap ada pihak-pihak yang merasa dirugikan.
Mengetahui fakta kalau ternyata selama ini Velyn diancam oleh Fara juga membuatnya merasa ada sesuatu-semacam perasaan tidak suka di hatinya pada Fara. Entahlah, tapi di matanya, Fara adalah perempuan yang baik. Ia mengancam Velyn karena takut Velyn merebut dirinya? Padahal Velyn diam saja pun, Valerio sudah ditarik olehnya.
Sekarang ia harus apa? Kembali ke Fara seperti yang diminta Velyn juga tidak mungkin rasanya. Perempuan itu pasti akan marah dan sedih padanya, secara ia sudah mendeklarasikan kalau ia masih mencintai Velyn.
Jika boleh jujur, jika memejamkan mata dan memahami betul isi hati Valerio. Ia dapat melihat mana bagian untuk Velyn, dan mana bagian untuk Fara. Bagian mereka berdua sangat berbeda jauh, Velyn mengambil tempat hampir 90% dari total keseluruhan hatinya.
Jadi, bagaimana mau berpindah ke hati lain jika Velyn saja masih mengikat kuat di sana. Sudah lima tahun padahal, sudah dua kali dikhianatin padahal, tapi tetap saja tidak mau menghilang.
Valerio jadi berpikir, apa ia membatalkan acara pertunangan itu? Ia telaah lagi, sepertinya ia tidak sanggup. Ini masalah hati, jika diteruskan, ia sendiri juga yang akan terluka dan juga pasti menyakiti Fara. Tapi untuk sekarang, Valerio masih bingung langkah pertama apa yang ia harus tempuh.
Valerio melirik ke arah kanannya. Velyn masih duduk di sana dengan lutut yang ditekuk dan kedua tangan memeluknya. Sudah puluhan menit dan ia tidak berpindah posisi. Valerio penasaran apa yang dipikirkan Velyn. Tiba-tiba ia ingin menjadi orang yang bisa membaca pikiran orang lain.
Valerio juga ingin sekali mengatakan pada Velyn kalau semua akan baik-baik saja. Ia siap menjadi tempat bersandar jika gadis itu nantinya akan tertimpa masalah. Ia sudah siap bantu. Tapi, Velyn malah mendorong dirinya menjauh. Jadi, untuk sekarang, ia akan mengawasi terlebih dahulu.
Valerio berdecak pelan ketika melihat Vaden datang setelah tak lama ia pura-pura pergi. Jadi, Velyn menghubunginya. Valerio sadar dan paham benar jika Vaden sudah termasuk ke dalam daftar orang-orang penting di hidup Velyn, hanya saja tidak terlalu dalam hingga ia begitu takut kehilangannya. Tapi, tidak ada yang tahu, tidak ada yang bisa memastikan apakah selamanya akan seperti itu atau perlahan Vaden dapat memasuki bagian terdalam hati Velyn yang dimaksud Valerio.
Valerio juga sadar jika bukan satu-satunya ia lagi pria yang begitu menyayangi Velyn setulus hati. Kepada siapapun Velyn berlabuh, ia ataupun Vaden, Valerio rasa gadis itu tetap akan merasa seperti ratu karena diperlakukan sangat istimewa.
Namun, semuanya tergantung Velyn. Yang bisa merasakan semuanya sekaligus yang menerima seluruh perlakuan darinya dan Vaden, hanyalah Velyn. Hanya dia yang bisa menilai mana yang lebih tinggi atau mungkin keduanya sama rata.
Melihat Vaden memeluk Velyn dari jauh membuat Valerio mau tak mau merasakan sakit. Rasa inilah yang membuatnya sadar kalau sebenarnya perasaannya dulu pada Velyn sampai sekarang tidak berubah, hanya terpendam saja selama lima tahun terakhir. Sekaligus membuatnya sadar jika perasaannya pada Fara tidak lebih dari rasa kasihan. Mungkin terdengar kejam, tapi memang itu yang dirasakan Valerio. Menyaksikan apa saja dilakukan Fara untuk menarik perhatiannya selam bertahun-tahun hingga perempuan itu lumpuh selamanya, membuat Valerio tersentuh dan akhirnya mencoba membuka hatinya untuk Fara.
Tapi, yah, semuanya melebur ketika Velyn kembali. Seolah seluruh cerita dipegang dan berpusat oleh Velyn. Mau bagaimanapun usahanya, tetap saja Velyn yang menang.
Valerio tersenyum kecil. Ia tidak punya posisi spesial selain mantan sekarang, jadi ia juga tidak bisa protes ini itu. Sekarang, yang paling baik ia lakukan adalah pulang. Menenangkan hati dan pikirannya.
***
Sebelumnya. Farhan mengernyi melihat Velyn yang tampak buru-buru pergi meninggalkan acara padahal acara intinya sudah mau dimulai. Farhan kemudian berbalik karena ia dipanggil seorang teman, tidak melihat Valerio yang juga melangkah cepat mengejar Velyn di belakangnya.
Ketika temannya meninggalkannya sendiri. Farhan berbalik kembali dan melihat ke arah di mana Velyn menghilang. Ia menghela nafas, padahal ia ingin lebih dekat dengannya.
"Farhan?"
Reima menghampirinya dan tampak sibuk dengan merapikan pakiannya yang padahal sudah sangat rapi dari tadi.
"Iya, Ma?" sahut Farhan.
"Kamu lihat Fara? Coba cari dia. Ini acara intinya mau mulai. Mama juga mau kenalin kalian berdua ke seluruh kolega Mama," jelas Reima. "Kamu cepet cari adik kamu. Terus suruh dia ke podium langsung," perintahnya dan melangkah tanpa menunggu balasan dari Farhan.
Farhan sendiri menghela nafas, ia sudah tahu di mana Fara. Jadi ia berjalan ke arah belakang gedung dan sudah terlihat tubuh Fara yang duduk di atas kursi roda.
Farhan semakin mendekat. Ia mengedarkan pandangannya dan mengernyi. Kenapa tidak ada Valerio? Jika ia ingat, Valerio masih ada di sana bersama Velyn ketika ia pergi tadi.
"Kemana Valerio?"
Fara menatap kosong ke arah depan. "Apalagi kalau bukan kejar mantannya," ujar Fara datar. Ekspresinya memang terlihat biasa, tapi sebenarnya ia menangis, menangis dalam diam dan Farhan tidak menyadarinya.
"Velyn maksud kamu?"
Fara tersenyum kecut, tangannya terangkat mengusap pipinya yang basah. "Siapa lagi kalau bukan dia."
"Jadi mereka beneran mantan? Mama tau soal ini?"
Fara menggeleng. "Enggak. Mama gak tau. Dan ya, mereka beneran mantan. Fakta menyakitkannya adalah Valerio yang masih cinta sama dia," ujar Fara tersenyum pedih. "Padahal mereka udah pisah selama lima tahun, tapi masih aja ujung-ujungnya aku gak dipeduliin. Mungkin emang semua cinta adanya ke Velyn ya."
Tadi ketika Valerio mulai mengejar Velyn, Fara sebenarnya sudah memanggil namanya berulang kali supaya berhenti dan tetap tinggal bersamanya. Tapi, berapa kalipun ia memanggil, Valerio tidak berhenti juga. Jangankan berhenti, mungkin pria itu bahkan mendadak tuli akan suaranya.
Padahal, sudah bertahun-tahun Fara mencoba mendapatkan cintanya Valerio. Sedikit demi sedikit, ia mulai mendapatkannya. Dan ia sungguh merasakan seperti apa rasanya menjadi gadis yang disayang Valerio, walau sedikit. Entah bagaimana jadinya jika ia menjadi Velyn yang seluruh kasih sayang Valerio jatuh padanya. Namun, sekarang, jangankan sedikit, mungkin sudah tidak ada ruang lagi untuknya di sana karena Velyn yang kembali. Secepat itu, dan seringkas itu, ia dibuang.
Fara menunduk menatap kakinya yang mati rasa. Ia mengernyit marah dan mengumpat di dalam hati. Apa karena kakinya ini yang membuatnya terlihat jelek? Tapi, kaki ini juga yang membuat Valerio datang padanya waktu itu!
"s**l*n!"
Farhan terkesiap di belakang Fara. "Fara?"
Fara mendongak menatap Farhan, air matanya mengalir. "Mungkin kaki ini yang buat aku semakin enggak ada apa-apanya di mata Valerio, Kak. Aku benci kaki ini," ujarnya seraya menangis deras. Berapa kalipun ia mensugesti tentang Valerio yang bersamanya berkat kaki ini, tetap saja pada akhirnya ia merasa jelek karena cacat.
"Fara ...." Farhan berjongkok di depan adiknya itu.
"Apa? Kakakpun juga suka sama dia, kan? Padahal baru ketemu, udah langsung suka. Memang dari awal, Velyn tuh beruntung banget. Dia bisa narik pria manapun ke dia dan merugikan perempuan lain," ujar Fara kesal, tangisannya semakin deras.
Farhan terdiam mendengarnya. Memang benar, aura Velyn memang begitu kuat. Entahlah, Farhan tidak bisa menjabarkan bagaimana ia langsung tertarik pada Velyn dalam sekali pandang. Dan memang, perempuan itu punya magnet tersendiri menarik perhatian banyak orang.
"Hey coba denger ini." Kedua tangan Farhan terulur memegang kedua tangan Fara. "Kamu bilang Valerio itu mantan Velyn dan masih cinta sama dia, kan?"
Fara diam saja, tidak mengangguk maupun menggeleng. Ia sedang malas, kesal karena kakaknya pun ikut-ikutan menyukai Velyn, perempuan yang menempati posisi teratas dalam daftar orang-orang yang tak disukai Fara.
"Kamu suka Valerio, Kakak suka Velyn. Kenapa enggak kita saling tarik aja keduanya, kamu fokus ke Valerio, Kakak ke Velyn," ujar Farhan tersenyum miring. "Kamu tenang aja, enggak usah pikirin yang lainnya, cukup Valerio aja. Urusan Velyn, biar Kakak yang urus."
Farhan tersenyum di dalam hatinya, ini adalah win win solution baginya dan adiknya. Mereka menyukai masing-masing dari Valerio dan Velyn, jadi ini akan menguntungkan. Farhan akan membuat Velyn sibuk dengannya hingga tidak ada waktu bersama Valerio, begitu juga Fara.
"Emang Kakak bisa? Pertama, emang iya Velyn mau sama Kakak? Di samping dia udah ada Vaden dan Valerio, apa mungkin dia nerima satu orang lagi?" Fara bukan bermaksud menjelekkan, tapi ia berbicara sesuai fakta. "Kalaupun Velyn nerima, emang Valerio atau Vaden gak bertindak? Enggak semudah itu, Kak."
Farhan menghela nafas. "Kalau dengan tawaran enggak bisa, maka paksaan jadi jalan keluar," putusnya. "Kamu fokus aja ke Valerio, dia bakalan enggak ada waktu buat ketemu Velyn. Kakak jamin kamu akan terus-terusan sama Valerio."
Sebenarnya tidak bisa terlalu dipercaya karena kedengarannya tidak mungkin. Tapi Farhan tipe yang selalu mengabulkan setiap kata yang keluar dari mulutnya, jadi Fara dapat senang walau belum terwujud.
"Oke kalau gitu," sahutnya dengan senyuman mengembang.
Farhan tertular senyum itu. Ia berdiri dan menepuk puncak kepala Fara dua kali. "Oke sekarang kita ke tempat Mama. Oh ya, kamu gak mau kasih tau ke Mama tentang Valerio dan Velyn yang rupanya mantan?"
Fara menggeleng. "Enggak, jangan. Kita gak bisa tau pasti akan gimana reaksi Mama. Bagus kalau Mama berpihak ke kita, kalau malah mereka?" Fara bergidik, membayangkannya saja mengerikan.
"Hm kamu bener juga. Untuk sekarang mending diem aja dulu."
Selagi mendorong kursi roda Fara masuk ke dalam gedung, Farhan tersenyum di dalam hatinya. Akhirnya ia bisa mendapatkan Velyn, dan adiknya bisa mendapatkan Valerio. Sungguh situasi yang menguntungkan!
***
Vaden datang sesegera mungkin sejak detik di mana Velyn meneleponnya dan meminta ia untuk datang ke pelabuhan. Vaden cukup terkejut melihat Velyn duduk di sana sendirian, bertekuk lutut dan tampak sedih.
"Kamu kenapa udah di sini? Kenapa gak stay di acara tadi?"
Velyn menoleh padanya. Sayangnya, Vaden juga tidak tahu apa-apa tentang ini. "Enggak ada apa-apa." Velyn tersenyum sedih. "Makasih ya udah dateng."
Vaden mengernyit dan menghampiri Velyn, ia juga duduk di samping gadis itu. "Kenapa kamu? Kok gak enak gitu mukanya? Kamu kan gak bawa mobil, terus siapa yang anter kamu?"
"Valerio tadi."
Vaden menegang mendengar nama itu. Krusial di telinganya.
"Kamu tadi ada kerjaan, ya? Maaf banget ya udah ngerepotin."
Vaden mengernyit. "Kamu beneran Velyn asli bukan? Kok tumben banget minta maaf. Biasanya kan juga udah sering ngerepotin, tapi gak pernah minta maaf," ejek Vaden yang membuat Velyn kesal dan akhirnya memukul lengan pria itu dengan pelan.
"Aku lagi bad mood, jangan diajak bercanda!" seru Velyn yang membuat Vaden tertawa.
"Bisa juga ya kamu bad mood? Kirain cuma punya good mood," ujarnya mengacak pelan rambut Velyn. "Jadi, kenapa? Apa karena Fara lagi?"
Velyn mengangguk mengiyakan. "Hm, kalau ada dia, pasti aku selalu bad mood," jawab Velyn pelan, ia tampak benar-benar sedih.
Vaden terdiam sebelum tertawa kecil kemudian. "Karena dia nyoba rebut Valerio?" tebaknya dan Velyn diam saja.
Vaden memang tidak tahu-menahu tentang kecelakaan itu dan ia juga tidak punya niatan untuk memberi tahunya. Velyn ingin meminimalisir orang-orang yang tahu tentang kejadian naas tiga tahun lalu.
"Enggak sepenuhnya itu sih." Ya walau adanya Fara untuk menarik Valerio lebih dekat dengannya juga membuat Velyn bad mood, tapi pengaruh paling besar tetap saja kecelakaan waktu itu.
Vaden menghela nafas melihat wajah Velyn yang tak bercahaya sama sekali. Sangat berbeda dari dirinya yang biasa. Melihat itu pun, Vaden juga ikut sedih, ia tidak tahu pasti apa yang terjadi karena Velyn juga tidak seterbuka itu dengan dirinya semenjak mereka bertemu kembali di negara ini.
"Kamu jangan sedih gitulah. Kalau Valerio emang jodoh kamu, pasti bakalan sama juga. Tapi kalau enggak, ya mau gimana udah takdir." Vaden mengangkat kedua bahunya. "Siapa tau aku jodoh kamu, kan? Bisa aja loh."
Velyn tertawa dan menonjok pelan bahu Vaden. Menurutnya, omongan Vaden itu ngaco. Tapi setelahnya, mereka berdua sama-sama tertawa walau di Vaden, tawa itu palsu.
Velyn kemudian memeluk Vaden dan Vaden membalasnya dengan erat. Lengan besar pria itu melingkupi tubuh Velyn.
Dulu, Velyn juga sering seperti ini padanya jika tertimpa masalah, dan ia dengan setulus hati akan menjadi tempatnya bersandar.
Vaden menunduk melihat mata Velyn yang terpejam. Ia tersenyum dan sadar betapa ia menyayangi gadis satu ini, tapi ia juga sadar kalau ia takkan pernah mendapatkan Velyn seutuhnya karena ada Valerio yang mengakar kuat di sana. Meskipun begitu, Vaden tetap ingin Velyn bahagia. Maka dari itu, mungkin kalau ia mencuri perhatian Fara dan menjauhkannnya dari Valerio, Velyn bisa kembali bersama dengan pria itu.
***