Kegaduhan di lorong itu membuat banyak siswa berdatangan dan menonton hal yang bagi mereka adalah sebuah pertunjukkan, ya walaupun sebagian lagi meleraikan. Tidak tahu siapa yang berkelahi karena semua siswa berkumpul mengelilingi hingga tidak bisa melihat sedikitpun.
"Woi itu di pisahin, g****k! Bukan cuma diliatin doang!"
"Biarin ajalah haha!"
Helaan nafas keluar dari seorang pria berambut hitam. Sebelah tangannya masuk ke dalam saku celananya sedangkan satu tangannya lagi tali ransel yang ia sandangkan di sebelah pundaknya.
"Siapa yang berantem?" tanya Valerio ketika seorang siswa perempuan berlari kecil melaluinya.
"Hah? Eh? Enggak tau, Rio."
Mata Valerio menyipit. Ia datang ke gedung IPS hendak menjemput Velyn. Tapi pacarnya itu tidak kelihatan sama sekali. Ia sudah mengedarkan pandangannya pun batang hidung Velyn tidak nampak juga, di telepon juga tidak diangkat.
Nafas Valerio tertahan ketika memikirkan satu kemungkinan. Ia dengan cepat berjalan ke arah kerumunan. Tapi semuanya tidak mau memberi ruang sedikit saja hingga Valerio harus berjinjit untuk melihat siapa yang tengah berkelahi itu. Ia harap bukan Velyn.
Tapi sayangnya, apa yang ia pikirkan ternyata benar. Salah satu dari perempuan yang saling menjambak itu adalah Velyn, pacarnya. Valerio mendengus kesal, ia menghempaskan orang-orang di depannya dengan kuat hingga mereka akhirnya keluar dari kerumunan.
Velyn dan satu perempuan lainnya saling menjambak rambut. Velyn sebenarnya sudah kesakitan, tapi perempuan s****n di depannya ini tidak mau melepakan rambutnya begitu saja padahal ia sudah melonggarkan jambakannya.
Karena semakin kesal dan juga sakit yang semakin menjadi-jadi, Velyn dengan sangat kencang menarik rambut itu. Niatnya agar orang itu melepaskan rambutnya segera jadi pertengkaran mereka selesai. Tapi yang terjadi malah sebelah tangan perempuan itu yang bebas mencubit lengannya hingga ia sangat kesakitan dan akhirnya melepaskan cekalannya.
"LO!!"
Kepala si perempuan asing yang berada di bawah kepala Velyn, dengan cepat mengangkat kepalanya ke atas. Tapi ia tidak tahu jika posisinya sangat tidak menguntungkan hingga kepalanya bertubrukan dengan bawah dagu Velyn.
Hal itu terjadi tepat ketika Valerio masuk ke dalam kerumunan dan hendak meleraikan paksa mereka berdua. Ia melihat dengan jelas keterkejutan Velyn dan langsung berbalik menutup wajahnya.
Semua yang ada di sana juga terkesiap. Suara tubrukannya saja cukup kuat. Tapi Velyn dengan cepat melangkah menjauhi mereka dengan tanga menutup area bawah wajahnya. Valerio sendiri dengan langkah tegas melangkah ke arah Velyn dan menarik kedua bahunya.
"Buka tangan kamu," perintahnya langsung.
Mata Velyn membesar kala melihat Valerio berdiri di belakangnya. Ia bertanya-tanya kapan pria itu sudah ada di sana? Perasaan tadi tidak ada.
"Velyn, buka!" Valerio menarik paksa kedua tangan Velyn, tapi Velyn juga kukuh tidak mau membukanya.
Sampai Valerio melihat ada cairan merah cair yang mengalir dari leher Velyn, ia terperangah dan lebih kuat menarik tangan Velyn. Velyn yang tidak bisa mengimbangi kekuatan Valerio pun akhirnya kalah dan berdecak pelan.
"Cuma tubrukan biasa," ujarnya sepele. Velyn memang merasakan sakit di dagunya, tapi ia tidak sadar jika dagunya sudah mengeluarkan darah. Ia juga merasakan ada yang mengalir dari lehernya, tapi ia pikir itu hanya keringat biasa.
Jari Valerio terangkat dan menyentuh pelan leher Velyn, ia kemudian mengangkatnya dan menunjukkannya pada gadis itu.
"Ini yang kamu bilang cuma biasa?" geramnya. Ujung jari telunjuknya berwarna merah sekarang.
Velyn terkelu, ia juga mengusap lehernya lalu melihat telapak tangannya. Ia terbelalak melihat cairan merah yang menempel di sana. Jadi dagunya seterluka itu hanya karena tubrukan tadi? Ia tak menyangka sampai bisa seperti ini.
Seseorang menyodorkan sebuah cermin di depan wajah Velyn seolah tahu jika ia sedang mencari-cari suatu benda yang bisa memantulkan dirinya.
Velyn kemudian meringis melihat wajahnya yang berantakan, rambutnya juga acak-acakan karena jambakan. Apalagi dagunya, terluka dengan darah yang terus mengalir walau tidak deras.
Valerio mendesah kesal dan mencari tisu dari dalam tasnya. Ia membukanya kasar dan memberinya pada Velyn. Velyn sendiri menatapnya dengan tampang memelas karena tahu setelah ini Valerio pasti akan marah besar padanya.
Selagi Velyn membersihkan dagunya. Valerio mendatangi perempuan tadi dan menatapnya serius. Yang ditatap gugup sendiri dengan mata berpendar cemas karena sengaja atau tidak, ia sudah menyebabkan Velyn terluka.
"Biar adil, coba dagu lo digituin juga," ujar Valerio dengan tenang. "Siapapun yang ada di sini, coba lakuin hal yang sama persis kayak yang dialamin Velyn ke cewek ini."
"Ap-- gue kan gak sengaja!"
"Serius gak sengaja?" Valerio tersenyum kecil menatapnya, matanya memancarkan keseriusan lebih dalam hingga si perempuan tidak berkutik apapun lagi.
Velyn yang melihat itu segera menarik paksa Valerio pergi dari sana. Dan untungnya pria itu menurut tanpa membantah sekalipun.
Sampai di parkiran, Velyn melepaskan cekalannya dari lengan Valerio dan ikut membantu tangan satunya menutupi dagunya.
"Sekarang apa? Itu yang kamu bilang biasa?" tanyanya yang membuat Velyn bersungut kesal, ia sedang kesakitan! "Coba lihat dagunya."
Tangan Velyn terurai dan ia mendongak agar Valerio lebih mudah melihatnya. Sebelah tangan Velyn yang memegang tisu terangkat mengusap sesuatu yang mengalir di lehernya. Ia melirik sedikit tisu putih yang sudah ada bercak merah itu dan melenguh pelan.
"Kita ke apartemen aku." Valerio memutuskan, ia menarik Velyn dan menyuruh gadis itu untuk masuk ke dalam mobilnya.
Di jalan, Valerio tidak berbicara apapun dan hanya memandang ke arah jalan di depannya. Velyn berkali-kali menoleh ke arah Valerio dengan tangan memegang tisu yang ia lekatkan di dagunya.
"Kamu marah, Vale?" tanya Velyn hati-hati. "Tadi dia ngeledekin aku. Awalnya aku biasa aja dan cuek, tapi lama-lama dia malah makin berani. Aku kesel dong, jadi berantem deh."
Valerio masih diam, ia hanya menghela nafas panjang. Siku tangannya menyanggah pada pintu mobil dan ia menggaruk pelipisnya pelan.
Velyn masih menatap Valerio, berharap cowok itu mengatakan sesuatu. Tapi sampai mereka sampai di gedung apartemen Valerio pun, ia tetap tidak bersuara.
Valerio baru menoleh dan berkata ketika Velyn tetap tinggal di dalam mobilnya dan tidak keluar mengikuti Valerio.
"Kenapa di situ aja? Cepet keluar," ujarnya membuka pintu mobil, dahinya mengernyit menatap Velyn.
"Kamu marah? Jawab dulu," paksanya. Ia tidak akan keluar sebelum Valerio menjawab pertanyaannya.
"Kenapa aku harus marah? Kan salah kamu sendiri dan kamu sendiri yang nanggung sakitnya," jawabnya yang membuat Velyn terpelongo. "Udah cepet keluar, atau aku tinggal."
Velyn tidak tahu, ia bingung dengan perasaaannya. Inginnya Valerio tidak marah, tapi mendengarnya berkata seperti itu, malah membuatnya tidak suka juga. Rasanya seperti Valerio tidak peduli lagi padanya.
Melihat Valerio yang sudah berjalan lebih dulu benar-benar meninggalkannya membuat Velyn cepat-cepat keluar atau ia akan tertinggal. Velyn juga bersungut-sungut kesal berjalan di belakang Valerio.
"Masuk," ujarnya ketika pintu apartemen sudah terbuka.
Velyn pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam, ia duduk di sofa dan menaruh ranselnya di sampingnya. Valerio juga melakukan hal yang sama, ia meletakkan ranselnya di sofa dan ke dapur mengambil kotak P3K.
"Aku ngerepotin kamu lagi, ya?" tanya Velyn ketika Valerio sudah kembali ke sana. "Em aku pulang aja kalau gak biar diobatin di rumah," sambungnya dengan tangan sudah mengenggam tasnya, sudah bersiap-siap untuk pergi.
Valerio kembali menghela nafas panjang dan duduk di samping Velyn. "Bukannya marah atau ngerepotin. Cuma kesel aja. Kenapa kamu sering banget nyelakain diri sendiri," ujar Valerio.
"Aku juga enggak expect kalau kejadiannya bakal gini, Vale," sahut Velyn mengerucutkan bibirnya, tapi itu tidak lama karena kulit dagunya tertarik dan ia merasa sakit.
"Kalau gitu dihindarin aja bisa, kan? Udah dua kali kamu kayak gini. Kemarin itu pipi, sekarang dagu, nanti apa lagi?" tanyanya menoleh ke Velyn, ia menunju ke arah pipi Velyn yang masih ada lebam walau samar. "Yang ini aja bahkan belum sembuh bener."
"Ya ... maaf."
"Kalau dipikir-pikir, akhir-akhir ini kamu lebih sering bonyok dari pada aku."
"Ya kan udah minta maaf, Vale."
Valerio tidak menjawab. Ia kesal sekali sekarang, tapi ia juga tidak bisa memarahi atau menyalahkan Velyn. Ia hanya tak suka gadis itu terluka. Karena kalau Velyn terluka, walaupun Velyn yang merasakan sakitnya, tetap saja akan menular pada Valerio.
"Coba lihat dagunya sekali lagi."
Valerio mengernyit melihat luka itu. Tadi ketika di luar sekolah, tidak terlalu jelas hingga ia pikir bisa diobati otodidak. Tapi ia sekarang melihat jelas, kulit dagu Velyn terlihat pecah.
"Kayaknya ini mesti dijahit, Vel," gumam Valerio pelan, jari jemarinya masih memegang dagu Velyn dengan lembut.
"Kok dijahit? Jangan lah. Aku enggak mau." Velyn menolak dan menyingkirkan tangan Valerio dari dagunya. "Enggak usah dijahit, dikasih plester juga sembuh."
Valerio juga tidak ingin sebenarnya, kasihan Velynnya. "Yauda sini aku obatin. Lain kali, bisa gak kamu enggak usah ladeni orang lain? Mau separah apapun yang dia bilang, udah diem aja, pura-pura tuli."
"Enggak bisa, Vale ...."
"Harus bisa!"
Velyn mendesah pelan. "Yauda."
***
Rasanya Velyn berada di atas awan jika mengulang masa lalunya yang manis bersama Valerio. Ia suka bernostalgia semuanya dan itu mampu mengembalikan suasana hatinya.
"Nih."
Velyn menoleh dan menunduk melihat minuman kaleng yang diberikan oleh Valerio. "Thanks."
"Ngelamunin apa?" tanya Valerio sembari menenggak isi botol minuman yang ia pegang.
"Enggak ada," bohong Velyn, ia tersenyum kecil. "Kamu balik aja ke Fara, Vale. Aku di sini dulu, mungkin nanti-nanti pulangnya naik taksi."
Valerio melirik Velyn. "Kalau gitu Fara ngancem kamu supaya enggak deket-deket ke aku karena dia bakal bilang ke semua orang tentang kecelakaan kalau kamu ngelakuin itu?"
Velyn mengangguk. "Enggak usah lihat dari sisi buruknya. Mungkin dia cuma takut aku ngerebut kamu dari dia. Padahal kan enggak."
Valerio tidak menyahut, ia kembali menenggak minumannya.
"Vale, mending kamu pergi aja," ujar Velyn lagi. "Aku belum siap Fara ngebeberin semuanya ke orang lain."
"Kalau aku enggak mau?" Valerio melempar botol minumnya ke arah tong sampah dan langsung masuk. "Aku emang sayang sama Fara, peduli sama dia, tapi enggak sebanyak sama kamu, Vel," ungakpnya jujur.
"Bukan itu masalahnya ...."
"Kamu enggak perlu khawatir atau takut tentang apapun, okey? Kamu mau hidup di bawah perintah Fara? Dilarang ini itu atau dia akan ngelakuin ancamannya?" Valerio mulai dikuasai amarah. "Mau disembunyikan sampai kapanpun, semuanya pasti kebongkar, Vel. Enggak ada yang bakal aman, semua rahasia pasti bakalan terkuak."
"Aku tau, Valerio. Tapi masalahnya aku masih takut ... aku enggak bisa sekarang."
"Jadi mau kapan lagi?" Valerio berdiri di hadapannya. "Jangan Fara yang bilang kalau gak mau semuanya runyam. Tapi kamu sendiri, kamu sendiri yang jelasin ke semuanya tentang kejadian itu. Jelaskan rinciannya dan minta maaf."
Velyn menatap Valerio lurus-lurus. "Kamu gampang ngomongnya. Belum pernah ada di posisi aku sih," gumamnya tersenyum kecil. "Udah sekarang kamu balik aja ke Fara, ya? Aku mau di sini dulu."
"Jadi aku ke sana cuma biar Fara tetep rahasiain semuanya? Biar rahasia kamu tetep aman. Biar nama kamu tetep bersih. Gitu, kan?" Valerio terkekeh. "Maaf, tapi aku enggak mau. Kamu ternyata belum berubah bener, masih selalu mikirin diri sendiri ketimbang perasaan orang lain."
Velyn mengerjap. "Tapi kamu itu calon tunangan dia. Kamu enggak boleh ngekhianatin."
"Sekalipun aku cintanya sama orang lain? Aku ngebahagiain dia tapi enggak ke diri aku sendiri?" sahut Valerio cepat.
"Kalau gitu kenapa kamu tahan tiga tahun sama dia? Kenapa kamu mau ke jenjang yang lebih serius sama dia? Kamu enggak perlu bohong, Vale. Aku tahu kalau sebenernya kamu juga cinta sama dia." Velyn tidak ingin kalah.
"Tau apa kamu tentang apa yang aku rasakan?" Velyn terdiam mendengarnya. "Dan asal kamu tau, aku ngelakuin itu semua karena aku pikir kamu enggak bakal balik ke sini. Aku emang punya rasa peduli yang lebih besar ke Fara dari pada orang lain. Untuk itu, aku coba buat berhubungan lebih jauh. Tapi rupanya kamu kembali dan menghancurkan semuanya."
Velyn terdiam seribu bahasa. Ia tidak tahu harus merespon apa. Kalimat Valerio terlalu sulit untuk dibalas baginya.
"Yauda." Valerio melipat bibirnya dan berdecak setelahnya. "Aku pergi dulu."
Sebelum Valerio benar-benar pergi dari sana. Velyn berjalan cepat ke arahnya dan memeluknya dari belakang.
"Makasih, Vale," gumam Velyn tulus sebelum melepaskan pelukan dan menepuk punggung Valerio dua kali. "Kamu boleh pergi," sambungnya tersenyum pedih dan berbalik melangkah meninggalkan Valerio yang terkelu di tempat.
***