17. Semua Baik-Baik Saja.

1861 Kata
"Karena gue mantannya Velyn." Velyn terkejut mendengar ucapan gamblang itu. Apa-apaan Valerio?! Ia dengan cepat melepaskan diri dari Valerio dan berdiri di depannya, di tengah-tengah antara Valerio dan Farhan. "Enggak. Kamu salah, Valerio. Kita gak punya hubungan apapun sebelumnya," ujar Velyn dengan tatapan membara menatap Valerio. Velyn hanya merasa kesal kenapa Valerio mengatakan hal itu pada Farhan? Itu adalah hal krusial yang bisa berakibat fatal dan rahasia yang ia pendam rapat-rapat akan terbongkar ke massa. "Velyn ...." "Diam, Valerio! Kamu bukan mantan aku. Jadi tolong jangan ngomong kayak gitu." Farhan melirik Valerio dan Velyn bergantian. Ia  juga bingun yang benar yang mana. Valerio berkata mereka mantan dan hal itu tentu mengejutkannya, tapi Velyn berkata tidak dan menolak gagasan Valerio. Valerio sendiri melayangkan tatapan tajamnya ke Velyn. Apa-apaan dia? Kenapa tidak mengakuinya? Satu-satunya kemungkinan ynag ada di dalam kepala Valerio adalah karena Velyn tak ingin kalimat mantan menyumbat hubungan barunya dengan Farhan. Apalagi jika tidak itu alasannya, bukan? "Kak Farhan." Suara itu terdengar dari arah pintu. Ketiganya sama-sama menoleh dan terkejut ada Fara di sana yang menunduk menatap ke bawah. "Fara?" Farhan berjalan mendekati Fara. "Kak, mending kamu masuk, tadi dicariin mama," ujar Fara berbohong, ia mendongak menatap Farhan yang sudah berdiri di depannya. Farhan pun mengangguk mendengarnya. Ia hendak menoleh ke belakang dan mengajak Velyn bersamanya, tapi dengan cepat Fara menambahkan. "Kamu sendiri ya kak, bukan sama orang lain," tambahnya membuat Farhan menghela nafas dan melangkah pergi dari sana, meninggalkan mereka bertiga dalam situasi yang hening. Velyn berdiri di sana dengan tatapan tajam dari ekor mata yang ia lempar ke Valerio. Masih kesal karena pria itu berbicara secara sembarangan. Harusnya hal itu tidak perlu dipublikasikan. Mengingat wajah Reima yang biasa saja, Velyn yakin Reima belum mengetahui hal ini dan itu artinya Fara tidak memberitahunya. Dan jika Farhan yang tahu tentang ini, ada kemungkinan besar Reima yang tadinya tidka tahu menjadi tahu. "Rio." Fara memanggilnya, ekspresi perempuan itu tak tertebak karena tempat yang juga temaram. "Aku belum pernah bilang kenapa aku bisa seperti ini, kan?" "Bukannya karena kecelakaan? Kamu bilang pelakunya gak bertanggung jawab," ujar Valerio. Velyn sendiri sudah keringat dingin. Fara ingin mengungkapkannya sekarang? Yang benar saja. Bukankah ia sudah menjauhi Valerio? Lalu apa lagi? "Emang karena kecelakaan. Tapi sebenarnya aku tau siapa orangnya, orang yang buat aku kayak gini," ujar Fara menunduk menatap kaki-kakinya. "Tapi sebelum itu, aku mau tanya satu hal ke kamu dan kamu harus jujur." Valerio mengernyit menunggu pertanyaan Fara  sedangkan Velyn menggelengkan kepalanya perlahan ke arah Fara dan melempar tatapan melarang, tapi Fara tidak balas menatapnya. "Kamu masih cinta sama Velyn?" tanya Fara yang mengejutkan dua orang di depannya. Velyn segera menoleh pada Valerio dan menggelengkan kepalanya, matanya memohon agar Valerio bilang tidak. Entah apapun yang pria itu rasakan, tolong jangan katakan iya pada Fara atau ia akan benar-benar tamat. Valerio juga menatap Velyn, ia menghela nafas melihat Velyn yang memintanya untuk mengatakan tidak. Valerio mengalihkan tatapannya ke Fara lagi. "Kamu mau jujur?" Fara mengangguk mantap. Wajahnya datar dan sebenarnya jantungnya sudah berdegup kencang menanti jawaban Valerio yang ia rasa akan menyakitinya. "Valerio!" seru Velyn ketika Valerio hendak berbicara. Velyn kemudian menatap Fara dan menggeleng kencang. "Aku sama Valerio cuma mantan, Fara! Enggak ada perasaan apa-apa lagi antara aku sama Valerio. Valerio juga pastinya cinta sama kamu, buktinya hubungan kalian sampai ke jenjang lebih serius, kan?" Velyn terengah-engah menyelesaikan ucapannya. Ia menelan ludahnya susah payah ketika Fara hanya menatapnya tanpa minat. Valerio juga diam saja. "Tapi aku gak percaya. Sejak kamu datang lagi ke sini, Valerio mulai berubah. Dia kasih perhatian-perhatian kecil ke kamu. Kamu pikir aku gak tau?" Fara mendongakkan dagunya menantang Velyn. Bibirnya tersenyum miring, sudah memberi isyarat pada Velyn kalau Fara akan membongkar rahasianya ke depan Valerio. "Kalau kamu gak percaya silahkan tanya Valerio," ujar Velyn menunjuk Valerio yang berdiri tidak jauh darinya. "Valerio?" Fara memanggilnya dengan nada sedih. Bagaimanapun ia juga ingin Valerio menjawab tidak mencintai Velyn lagi. Tapi, melihat sikap Valerio akhir-akhir ini, rasanya kurang mungkin. "Aku masih cinta Velyn. Itu yang sebenernya aku rasakan," ujar Valerio langsung, tidak perlu memikirkan apa-apa lagi karena ketika ia bertanya ke hatinya pun, jawaban itulah yang keluar dari sana. Velyn menghela nafas kecewa. Rasanya ingin menangis dan berteriak saja. Jujur saja, tidak ada rasa senang di hatinya mendengar pengakuan Valerio. Semua rasa sudah tertutup dengan rasa cemas dan ketakutan akan apa yang dibicarakan Fara selanjutnya. Kalau sudah begini, Velyn sudah angkat tangan, ia sudah tidak bisa apa-apa. Fara pasti membocorkan semuanya dan tamatlah riwayatnya. "Kamu enggak cinta aku selama ini, ya?" tanya Fara dengan suara betul-betul sedih. Matanya berkaca-kaca. Fara tahu ia membunuh hatinya sendiri bertanya hal tadi dan Valerio menyutujui ucapannya. Tapi, ia juga tidak mungkin berkubang dalam rasa penasaran dan bertanya-tanya tanpa tahu kejelasannya. "Aku peduli sama kamu, Ra. Tapi, makin kesini aku makin ngerasa beda. Dan kamu juga minta kejujuran aku, kan?" "Untuk apa kalau gitu hubungan kita di lanjutkan?" Fara terkekeh pelan, ia terlihat marah tapi malah tertawa. "Tapi aku cinta kamu, Valerio. Dari dulu. Dan aku enggak akan lepasin kamu," lanjutnya dengan ekspresi sedih. Air mukanya bisa cepat berubah. Valerio menoleh pada Velyn yang hanya diam di tempat. Ia kira Velyn akan setidaknya menampilkan raut terkejut atau mungkin senang mendengar pengakuannya. Tapi ternyata gadis itu hanya diam dengan pikiran yang tentu tak bisa Valerio tebak. "Maaf, Ra. Tapi emang itu yang aku rasakan. Aku gak bisa lupain Velyn gitu aja." Velyn memejamkan matanya. Hatinya tak tahu merasakan apa, ada banyak rasa di sana dan bercampur aduk. Ia melihat Valerio. Harusnya Valerio tidak mengucapkan hal itu. Fara mengangguk-angguk. "Tapi aku tetep gak akan lepasin kamu. Pertunangan kita akan tetap lanjut, aku gak mau batal," ujarnya dengan senyum lebar, tidak peduli kekasihnya mencintai gadis lain. "Ah ya aku lupa, satu yang paling penting sebelum ini, aku tau siapa orang jahat yang udah buat aku kayak gini." Fara menghela nafas. "Dia udah rebut kaki aku dan sekarang dia rebut hati aku. Jahat banget, kan? Kenapa coba ada orang begitu? Harusnya sadar diri dan bagi bahagia sama orang lain. Tapi dia egois, gak mau ngalah." "Apa maksud kamu?" tanya Valerio heran, ucapan Fara tidak jelas menurutnya. "Velyn."  Fara tersenyum manis. "Velyn, perempuan yang kamu cintai itu yang buat aku kayak gini," sambungnya dengan bibir melengkung ke bawah. Velyn merasa jika kepalanya sudah seperti ingin meledak, sangat panas dan ia tidak bisa menggerakkan kepalanya. Ia tahu kalau Valerio sedang menatapnya karena ia bisa melihat arah sepatu pria itu menghadap ke arahnya. "Tiga tahun lalu, Velyn yang nabrak aku sampai aku lumpuh dan enggak bisa jalan." Fara terus menjelaskan, ia menatap Velyn yang menunduk dengan senyum  miring. "Dan sekarang dia minta aku untuk nyembunyiin semuanya karena dia takut. Tapi aku rasa ini udah gak bisa dirahasiain, makanya aku bilang ke kamu. Dan mungkin nanti bakalan aku bilang ke semuanya." "JANGAN!" Velyn berteriak, ia mendongak. "Kamu jangan bilang ke siapa-siapa lagi." Fara mendesah pelan dan menatap Velyn dengan mata kasihan. "Lihat, kan? Dia mohon-mohon untuk enggak kasih tau siapapun biar orang-orang enggak tau perbuatan buruknya," ujarnya pelan. Valerio mendekati Velyn, tapi Velyn menjauh. "Itu bener, Vel?" Velyn tidak menjawab, ketakutannya sudah meningkat tajam, ia takut hal ini berdampak buruk pada kesehatan kedua orang tuanya. Juga bagaimana Reima nanti akan bereaksi terhadapnya. Ini benar-benar tak bisa ditanggung Velyn secara bersamaan. "Iya bener." Fara mewakili Velyn. Velyn sudah tidak bisa membendung rasa sesak yang bersarang di dadanya. Ia tidak sanggup mendengar lebih jauh hingga memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka. Tapi sayangnya, langkah Velyn harus terhenti karena Valerio mencegahnya. Valerio menunduk menatap Velyn, tapi karena Velyn tidak mau menatapnya, ia pun memegang dagu gadis itu dan memaksanya untuk melihatnya. "Itu bener?" Velyn memang mendongak, tapi matanya tidak menatap Valerio, ia melempar tatapannya ke arah lain dan menepis tangan pria itu. Fara melihat itu dengan wajah datar tapi tangannya mengepal erat. Ia merasa dipermainkan, sudah tiga tahun dirinya memiliki hubungan spesial dengan Valerio dan pria itu memberi perhatian layaknya ia benar-benar kekasihnya. Tapi ternyata itu hanya kepedulian? Lalu apa alasan Valerio mengajaknya ke tahap yang lebih serius? Jika dipikir-pikir, memang Valerio tidak pernah menawarkan suatu hubungan padanya. Hanya terjadi begitu saja. Apa mungkin Valerio mau bertunangan dengannya karena ingin menghapuskan Velyn di hatinya? Fara bertanya-tanya dengan dirinya. "Velyn, jawab aku!" "Iya emang bener, Valerio!" teriak Velyn dengan tatapan terluka yang ia layangka terang-terangan pada Valerio. "Sekarang apa? Kamu salahin aja aku," sambungnya dengan bibir sedikit melengkung ke bawah dengan mata yang mulai berair. Melihat Valerio yang diam saja, Velyn pun mengambil langkah untuk pergi dari sana. Sesaat, ia memandang Fara yang menatap sinis padanya. Perempuan itu ... alih-alih bersimpati, Velyn malah jadi membenci. Velyn terus berjalan tidak peduli ada seseorang yang memanggilnya dari arah belakang karena yang sekarang ia inginkan adalah cepat-cepat pergi dari tempat itu. Valerio sudah tahu hal ini, mungkin sebentar lagi pria itu tidak suka padanya. Setelahnya, jika Fara mengambil tindakan lebih jauh, mungkin semua orang tidak akan suka padanya, dan saat itu terjadi ... Velyn tidak tahu harus melakukan apa, ia tidak sanggup membayangkannya. Air mata Velyn jatuh, ia cemas. Ketakutannya mengusai penuh dirinya. Ia merasa kesal juga kenapa Fara tidak bisa jaga rahasia padahal permintaannya sudah dituruti. "Velyn." Velyn berhenti dan mengusap matanya dengan punggung tangannya, ia berbalik dan menatap Valerio. "Apa?" sahutnya dengan suara serak. "Udah sana sama Fara, aku gak mau dia nyebarin ini lebih luas. Cukup kamu aja," lanjutnya marah-marah. "Vel--" "Aku bilang sana aja, Valerio! Atau kamu mau marah? Yauda marah aja ke aku, gak papa, emang aku yang nabrak dia tiga tahun lalu dan aku renggut kebebasan dia. Iya! Emang bener kok!" Velyn sebenarnya hanya ingin meluapkan rasa frustasi, kesal dan marahnya. Tapi tidak ada tempat untuk meluapkannya hingga ia tidak sadar sudah marah-marah pada Valerio. "Kenapa kamu gak kasih tau?" Velyn yang air matanya sudah berlinang dan terisak, jadi berhenti dan mendongak menatap Valerio. "Apa?" tanyanya dengan dua punggung tangan terangkat mengusap bekas air matanya. "Aku tau kamu gak mungkin sengaja ngelakuin itu," ujar Valerio tenang. "Tapi kenapa kamu gak kasih tau aku? Itu berarti kamu juga pulang tiga tahun lalu, tapi kenapa aku enggak tau?" "Kita mantan," jawab Velyn cepat, ia malas perasaan itu muncul lagi dalam hatinya. Valerio menatap Velyn datar. Sejak kepergian Velyn, ia terkadang memantau rumah gadis itu siapa tau Velyn sudah berada di rumahnya. Tapi, dengan seiringnya waktu dengan hasil yang tiada, ia pun lelah hingga memutuskana untuk tidak memantau lagi. Namun, ia tidak tahu jika Velyn pernah pulang, ia pikir Velyn tinggal di Aussie terus sampai lima tahun tanpa balik ke negara asalnya. "Aku emang beberapa kali balik," ujar Velyn melipat bibirnya. Ia masih terisak. "Tapi ... tapi sumpah, aku enggak ada niatan buat nabrak dia sama sekali. Aku juga enggak tau kalau bakal begini akhirnya," ujarnya dengan air mata yang kembali mengaliri pipinya. Velyn menatap Valerio dengan pandangan memohon. "Aku bisa minta tolong gak ke kamu? Tolong jangan bilang siapapun. Cukup kamu aja yang tau. Fara pasti juga gak bakalan ngomong ke siapapun lagi kalau kamu terus ada di sisi dia. Kamu emang harus sama dia, Vale. Gimanapun cuma kamu yang buat dia bahagia, trus--" Ucapan Velyn terhenti karena Valerio tiba-tiba memeluknya erat, pria itu juga mengecup puncak kepalanya. "Gak papa, semua bakal baik-baik aja dan kamu ... bakal baik-baik aja." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN