Vaden dan Velyn berdiri berhadapan di depan stand makanan. Vaden memberi Velyn segelas air putih, tapi gadis itu terlihat masih memikirkan hal tadi, wajahnya tidak menunjukkan ekspresi apapun, matanya kosong. Vaden harus memanggilnya sekali lagi barulah Velyn sadar dari lamunannya dan mengambil gelas yang diberikan Vaden.
"Kamu mikirin apa? Tentang Fara yang rupanya anak Tante Reima?" tanya Vaden dan Velyn terkejut. Ia bertanya-tanya apakah Vaden mengetahui kejadian tiga tahun lalu itu?
"Tante Reima pasti paham, Vel kalau kamu rupanya mantan Valerio dulu. Jangan dipikirin banget, itu hal biasa. Ya emang gak biasa-biasa banget, sih," sambung Vaden yang melegakan Velyn. Ternyata ia tidak tahu.
"Atau karena Farhan itu? Kamu mikirin dia?"
Velyn menggeleng kencang. Tapi, ia kemudian terdiam. Iya juga, pria itu, tatapannya ke Velyn terasa aneh. Ia seperti melihat sesuatu yang lezat di hadapannya.
"Emang agak aneh sih," jujurnya dengan wajah berpikir. "Tapi yaudalah, mungkin dia naksir aku," sambungnya percaya diri sembari menyeruput air minumnya.
"Pede banget," ejek Vaden. "Menurut aku, mata dia itu nunjukkin dia obsesi ke kamu. Mungkin aja sih, ya. Kalau naksir enggak begitu tatapannya."
"Obsesi? Kita aja baru ketemu kali ini," ujar Velyn menolak gagasan Vaden.
"Mungkin aja. Kan cuma menurut aku."
Velyn mengangguk-angguk saja agar perdebatan itu tak berlangsung lebih lama. Ia menganggap apa yang dilakukan Farhan sedikit wajar, tidak aneh-aneh sekali. Karena yang paling menyita pikirannya, tak lain tak bukan adalah bagaimana jika Reima tahu jika ialah penyebab anaknya lumpuh selamanya? Velyn sungguh kehabisan pikiran tentang kemungkinan-kemungkinan yang terjadi kemudian.
Tiba-tiba seorang yang tadi mereka bicarakan datang, Farhan menampilkan senyum terbaiknya pada Velyn dan Vaden langsung tak suka dengannya.
"Hai, Vel."
Velyn membalas senyuman pria itu. "Hai, Farhan."
"Aku sebenernya udah tau tentang kamu. Udah pernah lihat foto kamu juga. Tapi belum pernah ketemu langsung dan ternyata kamu lebih cantik," ujarnya terkekeh pelan, mengundang tawa kecil Velyn.
Farhan ternyata tidak seaneh yang dikira. Malah Velyn merasa ia lucu dan humoris. Tidak kaku seperti Vaden dan Valerio, yang jarang-jarang memujinya cantik. Padahal jika Velyn berpikir lagi, hormon dopamin para gadis pasti akan meningkat ketika mereka dipuji.
"Makasih, aku sadar diri kok," balas Velyn yang membuat mereka berdua tertawa lagi. Ya, setidaknya kecemasan Velyn tentang kecelakaan itu sudah menghilang walau sesaat.
Vaden merasa tersisihkan. Ia tak suka obrolan Velyn dan Farhan. Lagipula, apa Velyn tidak merasa curiga, karena tadi ketika perkenalan Farhan bersikap aneh dan sekarang sudah terlihat biasa mengobrol dengannya.
Di sisi lain, Reima menunduk menatap Fara. "Ra, Mama mau kenalin kamu sama kenalan Mama. Kamu ikut Mama bentar ya," ujarnya tersenyum lembut.
Tapi Fara menggeleng. "Fara sama Valerio aja ya, Ma. Atau Valerio ikut kita aja," tolaknya dengan gelengan.
"Bentar aja kok, Ra. Habis itu kamu bisa sama Valerio lagi."
Valerio mengangguk ketika Fara mendongak meminta persetujuan darinya. Melihat itu, barulah Fara mengiyakan ajakan mamanya.
"Valerio, kamu jangan kemana-mana, ya. Soalnya nanti Fara nyariin kamu," perintah Reima yang diangguki Valerio.
Setelah anak dan ibu itu menjauh, Valerio menoleh ke arah stand makanan di mana ada tiga orang yang sedang mengobrol. Tidak, ia ralat, yang mengobrol hanya Velyn dan Farhan. Vaden hanya menatap mereka dengan pandangan datar dan tangan yang terlipat di depan tubuhnya.
Valerio mendekat, tapi ia tidak langsung ke arah mereka, ia mengambil minuman yang tersaji tepat di belakang Vaden.
"Alamat rumah kamu di mana, Vel?"
Valerio terdiam mendengar pertanyaan itu. Terdengar sensitif bagi orang baru menanyakan alamat tempat tinggal. Ini tidak terjadi hanya pada Valerio, tapi Vaden juga. Ia menguraikan tangannya dan berganti memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
"Apa maksud lo, Farhan?" tanya Vaden. "Lo mau apa di rumah Velyn?" lanjutnya heran. Farhan orang baru dan sudah berani bertanya alamat, ia sendiri saja tidak tahu di mana persisnya letak rumah Velyn.
"Eh kenapa? Enggak boleh nanya, ya?" Farhan tertawa kecil. "Yauda lupain aja. Mungkin nanti aku bakal tau sendiri," lanjutnya yang membuat Vaden semakin mengernyit curiga.
"Oh ya, Vel. Boleh minta nomor? Siapa tau ada hal penting."
Tadi alamat, sekarang nomor teleponnya, lalu nanti apa lagi? Batin Vaden heran. Pria ini berbahaya, ia pasti tipe yang obsesian, tidak jauh beda dengan Fara. Benar-benar adik kakak yang sesungguhnya.
"Boleh-boleh."
Velyn menuliskan nomor teleponnya ke kontak Farhan lalu memberi ponsel itu ke empunya.
Valerio di belakang Vaden melihat itu dari ekor matanya. Apa tujuan Farhan mendekati Velyn? Ia tidak mau mengakui Farhan juga jatuh hati ke Velyn. Cukup Vaden saja sudah merepotkan menurutnya.
"Valerio." Vaden memundurkan kepalanya seolah sudah tahu sudah ada Valerio di sana. "Kita sepertinya harus menyingkirkan pria satu ini," bisiknya kemudian.
Valerio hanya melirik malas. "Kenapa gue harus ikut?" sahutnya cuek.
Vaden berdecak. "Ya, lo emang harus lupain Velyn. Kan udah punya Fara," ejek Vaden sebelum kembali menegakkan tubuhnya.
Pandangan Valerio dan Velyn tak sengaja bertemu, tapi Velyn segera membuang pandangannya. Melihat Valerio sama saja mengingatkannya tentang hal tadi. Lagipula, kekuatan Fara sekarang bertambah, ia tidak bisa dekat dengan Valerio walau katanya mereka berteman. Bisa saja perempuan itu tetap tidak suka dan akhirnya membongkar semuanya. Jadi, lebih baik ia bermain aman saja.
"Ah Valerio," panggil Farhan dan mengayunkan tangannya memberi isyarat jika Valerio harus mendekat.
"Kenapa, Bang?" tanya Valerio berdiri di antara Farhan dan Vaden.
Vaden sendiri melihat itu hanya tersenyum kecut. Pada orang lain, pria itu sopan. Padanya, melawan.
"Lo akhir bulan tunangan, kan?" tanya Farhan yang tidak dijawab apapun oleh Valerio. "Akhir bulan ini lo yang tunangan sama adek gue, dan akhir bulan depan, gue yang tunangan bersama Velyn."
Vaden tersedak oleh ludahnya sendiri, ia menatap Farhan dengan mata membulat. Telinganya tidak salah dengar? Percaya diri sekali dia!
"Sama Velyn?" beo Valerio mengernyit, ia melirik Velyn yang juga terkejut.
"Iya. Tunggu aja."
Velyn terdiam seribu bahasa, Farhan entah kenapa merasa yakin sekali dengan ucapannya. Tapi percayalah, kalau bukan Valerio, Vadenlah lelaki kedua yang sangat berarti baginya. Farhan, padahal baru bertemu dan berkenalan, tapi perkataannya terlalu jauh dan yang lebih mengherankan, tidak ada nada bercanda dalam kalimatnya yang artinya ia begitu serius mengatakannya.
"Eh sori ya nyela," ujar Vaden berdeham membersihkan tenggorokannya. "Tapi maaf, setelah Valerio bertunangan. Gue, laki-laki pertama yang bakal bertamu serius ke rumah Velyn. Lo terlambat, gue udah ngelangkah lebih dulu dan yang paling penting, gue udah kenal Velyn lebih banget lama dari lo."
"Emang kenal lebih lama penting?"
"Mau gak mau lo harus terima fakta kalau itu emang penting."
Vaden dan Farhan saling bertatapan. Tidak ada ekspresi tajam atau kesal di kedua wajah itu. Keduanya terlihat datar, tapi tak bisa disanggah, mereka memang sedang beradu secara tidak langsung sekarang.
Valerio melirik dua pria di depannya sebelum menatap Velyn yang kebingungan di depan sana. Andai tidak ada Fara, dua pria ini sudah ia hempaskan jauh-jauh ke dasar lautan. Mereka berdua tidak apa-apanya di bandingkan apa-apa saja yang ia sudah lalui bersama Velyn dulu.
Ponsel Vaden yang berdering pelan membuat pria itu memutuskan tatapannya dengan Farhan. Ia merogoh saku jasnya dan menerima panggilan itu.
"Hm."
Vaden tampak mengernyit sebelum menghela nafas lelah.
"Iya."
Dan kemudian ia memutuskan sambungan teleponnya.
"Siapa?" tanya Velyn penasaran.
Vaden menoleh dan tersenyum. "Orang gak penting. Oh ya, aku harus balik sekarang, Vel. Kamu mau ikut?"
"Mau."
"Enggak."
Velyn dan Farhan saling menoleh dan bertatapan. Velyn heran kenapa Farhan berkata enggak seolah Vaden bertanya pada pria itu dan bukan dirinya.
"Masa cepet banget pulangnya, Vel? Lagian kan yang ada urusan itu Vaden," ujar Farhan dengan wajah sedikit sedih.
"Kalau Velyn mau pulang, lo gak bisa maksa."
Velyn menipiskan bibirnya. Benar, ia tak bisa pergi begitu saja. Hubungannya dengan Reima sudah erat, jadi akan canggung dan tidak enak rasanya jika ia pulang begitu saja.
"Aku di sini aja, deh," ujar Velyn akhirnya. "Nanti aku pulang naik taksi aja," lanjutnya memberi senyum tipis pada Vaden.
Vaden menghela nafas pelan, ia melirik tak suka pada Farhan. Kalau karena tidak perkataan pria ini, Velyn pasti sudah ikut pulang bersamanya.
"Yauda. Nanti pas kamu mau pulang, telepon aja aku ya biar aku jemput," ujar Vaden yang diangguki Velyn.
"Kalau enggak lupa ya."
Vaden tertawa dan mengacak pelan rambut Velyn. Ia kemudian mendekat dan memberi pelukan singkat pada Velyn.
"Kalau ada yang mencurigakan dari dia, kamu pukul aja kepalanya," bisik Vaden di telinga Velyn sebelum ia melepaskan pelukan itu.
"Siap!"
Vaden tersenyum, ia kemudian berbalik dan melangkah pergi menjauh dari mereka.
Velyn sekarang berada di situasi canggung di hadapan dua pria belum pergi dari sana.
"Em aku ke belakang, ya. Mau ke toilet," ujar Velyn sembari menunjuk ke arah belakang punggungnya.
"Oh oke, Vel. Aku tunggu di sini."
Velyn hanya tertawa pelan menanggapinya dan berbalik cepat-cepat pergi dari sana. Setelah Velyn pergi, Valerio menoleh menatap Farhan yang masih setia melihat Velyn bahkan ketika perempuan itu sudah menghilang di tengah kerumunan.
"Lo suka Velyn, Bang?" tanya Valerio serius.
"Iya. Gue rasa gitu," jawab Farhan jujur. "Entahlah, tapi tadi pas gue lihat di dari dekat. Dia tuh kelihatan imut, gue jadi gemes sama dia."
Valerio menghela nafas lelah. Inilah dampak buruk dari wajah Velyn yang baby face itu. Dulu bahkan Valerio pernah meminta Velyn untuk melakukan treatment agar wajahnya jadi tirus, ini karena Valerio pusing menghadapi banyaknya pria yang suka pada Velyn.
"Tapi kenapa lo bilang mau tunangan sama dia?"
"Karena gue mau dan gue bisa dapetin itu," jawab Farhan tersenyum menatap Valerio. "Yauda deh gue duluan. Sekalian nunggu Velyn keluar dari kamar mandi," sambungnya sembari menepuk bahu Valerio berulang kali.
Valerio terdiam di tempat. Ia memang tidak terlalu mengenal sosok Farhan. Tapi dari kalimatnya, ia bisa menyimpulkan bagaimana sifat pria itu. Ia obsesi pada Velyn.
Karena itu, Valerio tidak bisa mengalihkan pandangannya pada Velyn, walaupun ia sedang bersama Fara. Ia diam-diam terus mengawasi Velyn. Perasaannya tidak enak sejak mendengar kalimat Farhan.
"Valerio? Kamu lihat apa?" tanya Fara saat sadar Valerio sedang tak fokus dengan apa yang ia bicarakan.
"Oh enggak. Kamu tadi bilang apa?"
Fara menghela nafas dan mengulang pembicaraannya, tapi tetap saja Valerio tidak bisa memahaminya karena sebagian besar perhatiannya tertuju pada Velyn yang sekarang sedang mengobrol dengan seorang wanita. Yang menjadi masalah, tidak jauh dari tempatnya berdiri, ada Farhan yang terus menatap ke arahnya.
"Fara."
"Jad-- Iya?" Fara menghentikan ucapannya ketika Valerio memanggilnya. "Kenapa, Rio?"
"Kakak kamu ... sifatnya gimana, ya?"
Fara mengernyit heran, tapi ia tetap menjawab. "Orangnya obsesian. Harus dapetin apa yang dia mau. Selalu begitu makanya enggak ada perempuan yang mau sama dia," jelas Fara jujur dengan ekspresi sebal.
"Obsesian, ya?"
"Iya, bisa lakuin apa aja kalau dia udah mau sesuatu." Fara membenarkan. "Tapi itu jarang banget sih terjadi. Biasanya Kak Farhan cuma keras kepala, obsesiannya munculnya bisa sekali dalam bertahun-tahun."
Valerio mengangguk paham. Ia melirik lagi ke arah Velyn berdiri, tapi ternyata Velyn sudah tidak berada di sana. Dengan cepat Valerio menoleh dan bangkit berdiri, tidak peduli Fara yang memanggilnya karena heran.
Valerio mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Velyn dan untungnya ia menemukannya. Velyn sedang berjalan sendirian ke arah belakang gedung dan tak jauh darinya, ada Farhan yang mengikutinya secara diam-diam.
Valerio menunduk melihat Fara. "Ra, kamu di sini dulu. Aku pergi bentar," pamitnya dan langsung pergi begitu saja tidak peduli dengan panggilan-panggilan dari Fara.
Valerio berlari ke arah Velyn dan Farhan menghilang. Matanya membesar ketika ia melihat Farhan sedang mendekat ke arah Velyn yang berdiri mematung menghadapnya. Valerio jelas tidak membiarkan hal itu terjadi, ia segera berjalan mendekat dan menarik Velyn kuat ke arahnya.
"Valerio?!"
Velyn mendongak menatap Valerio. Wajahnya menunjukkan rasa heran.
"Apa yang mau lo lakuin ke Velyn?" tanya Valerio dengan geram. Ia memegang erat tangan Velyn dan menyembunyikan perempuan itu di belakang tubuhnya.
"Gue? Gak ada. Gue cuma mau rapihin rambut Velyn yang berantakan," ujar Farhan. "Lo ... lo kenapa di sini? Kenapa enggak sama Fara?"
Melihat Farhan yang keheranan melihatnya bersama Valerio, Velyn segera melepaskan pegangan Valerio pada tangannya dan segera menjauh dari pria itu.
"Iya, kamu kenapa di sini? Ntar Fara nyariin kamu."
Valerio menatap Velyn sebelum ia menatap Farhan. Benar, Farhan belum tahu jika ia dan Velyn dulunya sepasang kekasih. Velyn pasti khawatir jika Farhan tahu. Tapi, apa salahnya memberi tahu Farhan.
"Karena gue mantannya Velyn."
***