"Jadi apa yang mau lo bilang?" tanya Vaden ketika Valerio di depannya berhenti melangkah.
Valerio memang berhenti, tapi ia tidak berbalik. Salah satu alasannya mengajak Vaden bersamanya hanya agar pria itu menghentikan kemesraannya dengan Velyn, ia ... tidak suka.
"Gue mau tanya." Valerio berbalik. "Lo cinta sama Velyn?"
Vaden tersenyum. "Ya, bener. Gue cinta banget sama dia," ujarnya senang. "Mungkin sekarang dia masih terjebak sama laki-laki yang udah punya calon tunangan, tapi enggak ada yang tau tentang kemungkinan yang terjadi nanti. Jadi, gue bakal perjuangin."
Ekspresi Valerio tidak terbaca. "Lo harus jauhin dia."
"Kenapa?" Vaden terkekeh. "Lupa kalau udah punya Fara, Valerio? Gue sama Velyn udah sering sharing cerita, jadi gue tau banget siapa lo bagi dia. Tapi, jangan berharap terlalu besar, lo udah ada Fara. Jaga hatinya."
Rasanya Valerio ingin berasap. Tapi, tidak. Ia kemudian menghela nafas dalam dan tersenyum. "Gue cuma bercanda. Lupain. Gue cuma mau ngetes doang."
Vaden mengernyit, apa-apaan Valerio? Dia tiba-tiba menjadi orang yang tidak stabil. Bercanda katanya? Jelas-jelas Vaden bisa melihat seserius apa ia tadi berbicara.
"Terserah apa maksud lo, Rio. Tapi gue serius bilang kalau lo harus jaga hati Fara," ujar Vaden sebelum berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Valerio.
Vaden juga tentu tidak melewatkan pemandangan di mana tangan Valario terkepal erat di sisi tubuhnya. Sudah jelas jika semuanya bukan hanya bercanda, pria itu memang serius.
Sayangnya, tidak ada yang bisa Valerio lakukan selain cemburu, karena ada Fara dan Vaden yang menghalangi jalannya kembali pada Velyn.
Valerio sendiri sebenarnya ingin sekali menonjok Vaden sebagai bentuk kekesalannya. Tapi, akan lucu rasanya jika ia benar-benar melakukannya. Jadi, Valerio mengurungkannya. Setidaknya kemesraan antara Vaden dan Velyn yang membuat Valerio terbakar tadi sudah tak berlanjut.
***
Vaden sedang duduk di kursi kerjanya ketika ponselnya berdering. Ia melihat layar ponselnya dan muncul tulisan Ayah di sana. Dengan cepat, Vaden menerima panggilan itu.
"Halo, Ayah. Ada apa?"
"Kamu lagi apa?"
"Mengecek email," jawab Vaden dengan mata berfokus pada layar laptop.
"Apa kamu sudah memiliki gadis itu?"
Mata Vaden mengerjap, ia tersenyum miring. "Belum."
"Jadi sampai kapan?"
"Aku enggak tau, Yah."
Terdengar helaan nafas dari seberang telepon. "Kamu enggak bisa lari lebih jauh, Vaden. Hanya tinggal sedikit waktunya, atau mau tidak mau kamu harus menikah dengannya."
Vaden menutup laptopnya begitu saja, wajahnya keruh tepat saat kalimat itu selesai. Vaden mengambil ponselnya dan mendekatkannya ke telinganya.
"Aku tidak akan mau menikah dengannya, Ayah. Perjodohan ini bener-bener aku tolak," ujarnya tak mau dibantah.
"Enggak bisa begitu, Vaden. Satu-satunya cara kamu bisa nolak pernikahan ini cuma satu, kamu bawa gadis itu ke keluarga kita, nikahi dia, maka pernikahan kamu sama Anastasia bisa dibatalkan. Tapi kalau enggak, maka kamu harus menikah dengan Anastasia. Dan waktunya enggak lama lagi, Vaden."
Vaden mengurut keningnya. "Aku tau. Aku tau."
"Ya sudah, itu saja."
Panggilan itu diakhiri begitu saja, tanpa menunggu sahutan dari Vaden.
Anastasia adalah gadis blasteran Indonesia-Australia yang sudah dijodohkan dengan Vaden. Mereka sudah bertemu beberapa kali. Anastasia perempuan yang cantik dan berpendidikan tinggi. Tapi entah kenapa, Vaden tetap tidak bisa memiliki rasa padanya. Ini karena Anastasia tipe perempuan yang sangat berisik, ia terlalu ceria.
Lalu, apa yang harus Vaden lakukan agar Velyn membalas perasaannya dalam waktu dekat? Memikirkannya saja sudah berat apalagi membuat semuanya sesuai dengan ekspetasinya.
***
Malam itu, keluarga Fara sedang melakukan sebuah pesta. Merayakan keuntungan perusahaan mereka yang berlipat ganda. Banyak yang diundang termasuk utusan perusahaan milik keluarga Velyn dan Vaden. Fara juga mengundang khusus Valerio ke dalam acara itu. Jelas saja, Valerio adalah orang penting baginya.
Vaden datang bersama Velyn, mereka juga memakai setelan pakaian berwarna senada seolah sepasang pasangan. Dari jauh, Velyn bisa melihat Valerio duduk bersama Fara di sudut ruangan. Valerio tersenyum lepas dengan tangan memegang potongan kecil kue dan memasukkannya ke dalam mulut Fara.
Velyn tersenyum tipis melihatnya sebelum mengalihkan pandangannya. Kadang kita memang harus memaksa diri untuk tidak melihat dan mendengar apapun yang pada akhirnya hanya menyakiti diri kita sendiri.
Velyn menyandarkan kepalanya ke bahu Vaden dan Vaden dengan sayang mengelus rambutnya sesaat. Sudah seperti pasangan kekasih yang di dambakan banyak orang. Dan itu tidak luput dari pandangan Valerio yang tak sengaja menangkap kehadiran mereka berdua.
"Rio?"
Valerio tersadar dan ia tersenyum kemudian. Tangannya yang sempat berhenti di udara pun kembali melanjutkan perjalannya ke dalam mulut Fara.
Vaden dan Velyn berhenti dan mengedarkan pandangannya.
"Kamu mau duduk di mana, Vel?" tanya Vaden menoleh menatap Velyn yang juga mengedarkan pandangannya mencari sesuatu.
"Avelyn!" seruan itu membuat Vaden dan Velyn sama-sama menoleh ke depan, ke seorang perempuan dewasa yang tersenyum lebar menatap mereka.
"Tante Reima?" Velyn melepas pegangannya pada bahu Vaden dan bergerak masuk ke dalam pelukan Reima, perempuan tadi.
Vaden sendiri tersenyum melihatnya walaupun sedih juga Velyn melepas pegangannya, soalnya sangat jarang Velyn mau melakukan itu.
"Hei, kamu udah gede aja ya, Velyn," ujar Reima tersenyum menggodanya. "Masih imut lagi walaupun udah berumur," lanjutnya.
Vaden terkekeh mendengarnya. Ya, ia setuju. Velyn sudah dewasa pun entah kenapa mukanya belum lepas dari kata imut. Di tambah dengan gaya poninya, pria mana yang tidak akan suka padanya?
Reima kemudian menoleh pada Vaden di belakang Velyn. "Yang ini, yang punya Valo Tower, kan? Calonnya Velyn, ya?"
Velyn terkejut dan menggelengkan kepalanya. "Enggak, Tan. Dia ini kakak aku," ujarnya manja dengan tangan menggandeng lengan Vaden kembali.
Vaden hanya tersenyum kaku mendengarnya. Dan hal itu dilihat oleh Reima. Sepertinya ada cinta yang bertepuk sebelah tangan di sini.
"Jangan gitu, Vel. Ntar diambil orang, baru nyesel deh," ujar Reima tersenyum menggodanya.
Sementara Velyn tertawa dan hanya menganggap kalimat itu hanya candaan semata. Vaden jadi bertanya-bertanya di dalam hati, bagaimana jika ia memang pergi dari sisi Velyn? Apa Velyn akan merasa kehilangan dirinya? Jika ia sendiri, entahlah ia tak bisa membayangkan. Tidak memiliki status spesial dengan Velyn saja, ia sudah sangat menyayangi gadis itu.
"Oh ya, kamu udah ketemu sama anak tante? Selama ini kan tante enggak mublikasiin kedua anak tante."
"Boleh banget, Tan!" seru Velyn semangat.
Reima tersenyum menatap ke sekelilingnya dan Velyn mengikuti pandangannya. Velyn cukup terkelu ketika pandangan Reima terkunci di mana Fara dan Valerio sedang bersama.
"Itu anak bungsu Tante. Dia Fara."
Velyn merasa dunianya berhenti berputar, ia seperti kehilangan keasadaran dirinya untuk sesaat. Vaden juga tidak jauh reaksinya dengan Velyn. Mereka tidak percaya jika Fara adalah anak bungsu Reima.
"Anak Tante?"
Reima mengangguk tegas. "Iya. Fara Reima Putri," jawabnya masih dengan senyum mengembang sempurna. "Dia kehilangan kebebasan berjalannya karena kecelakaan tiga tahun lalu. Tapi, Tante bangga dia tetap semangat jalani hidup. Mungkin ini karena kehadiran Valerio di sisinya."
Jantung Velyn memompa darah dengan cepat. Kenapa seperti ini? Apa Reima belum tahu jika ialah yang menyebabkan anaknya tak bisa berjalan lagi? Dan jika suatu saat nanti terbongkar, apa senyum lebar itu takkan pernah lagi tertuju padanya?
Vaden sadar dengan keterkejutan Velyn. Ia melepas pegangan Velyn dan menggantinya dengan merangkul tubuh Velyn, memeluknya dari samping. Vaden tahu jika Velyn sedang terguncang sekarang. Vaden berpikir jika ketegangan Velyn sekarang dikarenakan kekasih mantannya adalah anak dari seseorang yang dekat dengannya. Padahal bukan hanya itu saja, melainkan hal yang lebih jauh yang hanya diketahui Velyn dan Fara.
"Dan satu lagi, anak cowok Tante," ujar Reima menyipitkan matanya, memberi fokus lebih agar menemukan anak satunya lagi. "Nah itu dia!" Reima menunjuk seorang pria yang sedang mengobrol dengan satu pria lainnya.
Vaden mengikuti arah tangan Reima menunjuk dan mengangguk-angguk, sedangkan Velyn masih tersesat dalam rasa terperangahnya.
"Dia Farhan Feri Putra," ujar Reima kembali menghadap ke Vaden dan Velyn. Tapi kemudian mengernyit melihat Velyn yang terdiam dengan wajah pucat pasi. "Velyn? Sayang, kamu kenapa?"
Velyn tidak mengira hal ini sebelumnya. Ia pikir Valerio diundang juga dan membawa Fara bersamanya. Ternyata tidak, ternyata faktanya berbanding terbalik dengan yang ia pikirkan.
Keluarga Reima dan keluarga Velyn memang tidak terlalu dekat. Hanya relasi. Tapi Reima sudah mengenal Velyn cukup lama dan menyukai karakter gadis itu. Velyn tak bisa membayangkan hal buruk apa yang akan terjadi jika semuanya terbongkar.
"Dia mungkin kelaperan, Tan," jawab Vaden mewakili Velyn.
"Eh bentar dong. Biar Tante kenalin dulu anak-anak Tante ke kalian."
Velyn tersadar dan ia buru-buru menggeleng. Tapi terlambat, Reima sudah lebih dulu memanggil kedua anaknya dan dua-duanya menoleh bersamaan.
Velyn merasa pijakannya pada lantai runtuh seketika ketika Fara datang mendekat bersama Valerio yang mendorong kursi rodanya di belakangnya.
Velyn mendongak dan raut paniknya tak ia sembunyikan pada Vaden. Sebelah tangan gadis itu juga mencengkram jas Vaden seakan meminta pertolongannya. Velyn ingin segera pergi dari sana, ia tak sanggup menelan fakta menyakitkan ini.
Fara sendiri juga terperangah ketika mamanya berhadapan dengan Velyn. Pertanyaan yang timbul dalam benaknya adalah, apakah mamanya mengenal dekat Velyn?
Ketika Fara dan Farhan sudah di dekat mereka. Reima mulai memperkenalkan satu-satu anaknya dengan Vaden dan Velyn. Fara sendiri biasa saja karena sebenarnya ia juga sudah mengenal kedua orang itu. Hanya saja, mengetahui fakta mamanya dekat dengan Velyn, membuat senyum jahat di hatinya semakin melebar.
"Farhan."
Velyn menjabat tangan itu dan menyebutkan namanya. "Velyn."
Namun, Farhan tidak langsung melepaskan tangan Velyn begitu saja setelah perkenalan singkat mereka. Pria itu memberi senyum manis pada Velyn dan menggenggam lebih erat tangannya. Hal itu tentu menjadi perhatian mereka, khususnya Vaden dan Valerio yang tidak suka melihatnya.
"Farhan. Lepasin tangan Velyn. Lama banget jabat tangan aja," celetuk mama terkekeh pelan. "Kalau kamu naksir Velyn ya dideketi baik-baik. First Impression enggak boleh buruk dan mengintimidasi dong."
Vaden dan Valerio semakin tidak suka. Apalagi Vaden, ia menunjukkan ketidaksukaannya terang-terangan tidak peduli keluarga Fara menyadarinya.
Farhan hanya tersenyum kecil mendengar ucapan mamanya. Tapi ia tidak membantah kata naksir yang terlontar. Karena seperti yang dipikirkan Vaden, setiap lelaki yang melihat Velyn, pasti akan terpesona. Namun, setiap yang terpesona belum berarti cinta. Sama seperti Farhan, mungkin ia hanya terpukau, tapi entah kenapa raut wajahnya sudah seperti orang yang jatuh hati.
"Ah dan satu lagi." Reima menunjuk Valerio. "Dia Valerio, calon tunangan Fara. Mungkin Fara bakal ngelangkahi kakaknya, ya."
"Udah kenal, Tante," sahut Vaden tertawa. Sudah bosan malah melihat wajah Valerio, batinnya menambahkan.
Velyn pun mengangguk saja, ia sangat tidak fokus, banyak hal berkeliaran dalam kepalanya. Bahkan sekarang ia sadar dengan sangat jelas jika Farhan sedang menatapnya dengan pandangan penuh minat. Astaga, malam ini harusnya ia tidak datang ke acara ini.
"Salam kenal, ya, Velyn."
Velyn yang sedang pusing tujuh keliling menoleh ketika Fara tiba-tiba berkata padanya dengan senyum manis yang Velyn tahu pasti jika itu palsu. Seolah mengejek Velyn dengan fakta yang ada.
Vaden yang juga tak suka tatapan Farhan ke Velyn serta ia rasa Velyn sudah tak nyaman di sana, memutuskan untuk membawa Velyn pergi dari sana.
"Em Tante dan semuanya. Eh kita ke stand makanan dulu, ya. Kayaknya Velyn udah laper banget," ujarnya diiringi kekehan pelan agar tak terlalu kaku.
"Oh iya. Gak papa. Silahkan," ujar Reima ramah.
Velyn sangat berterima kasi pada Vaden yang memahaminya. Memang untuk saat ini, Vadenlah yang terbaik baginya. Ketika Vaden dan Velyn berbalik, Velyn merasa ada sesuatu yang menyentuh ujung jarinya, ketika ia menoleh, ternyata Farhan.
Dengan cepat Velyn menarik tangannya dan membuang wajahnya. Farhan itu ... kenapa terasa menakutkan?
***