Bosannya Vaden sudah sangat tidak terbendung, maka dari itu ia memutuskan pergi saja dari sana. Tapi sebelum ia benar-benar angkat kaki dari ruangan besar itu, tiba-tiba Fara memanggilnya dan berkata ingin ikut bersamanya.
Vaden yang baik hati pun mengijinkannya, ia ingin merasakan berada di posisi Valerio untuk sesaat. Mereka pulang ke Jakarta saat itu juga. Fara juga meminta Vaden untuk mengantarkannya ke apartemen Valerio karena kekasihnya itu sedang sakit.
Sejujurnya, Vaden bukan pria penyabar. Kesabarannya begitu luas hanya untuk orang-orang terkasihnya, sedangkan Fara tidak. Jadi, ia cukup malas sebenarnya, mendorong kursi roda Fara dan hal lainnya. Tapi, ia anggap saja ini sebagai bantuannya ke Fara.
Vaden berpikir, Valerio begitu sabar terhadap Fara. Jadi artinya pria itu memang mencintai Fara, ya? Karena kalau Vaden berkaca pada dirinya, ia tidak begitu.
"Di sini," celetuk Fara dan Vaden menurutinya. Mereka berhenti tepat di depan pintu apartemen yang katanya milik Valerio.
Vaden memberi bantuan memencetkan bel berkali-kali untuk Fara. Tak lama kemudian, Valerio muncul dan Vaden bisa menangkap jelas jika pria itu terkejut melihat mereka. Sedangkan Fara tidak menyadarinya dan malah memekik pelan memanggil nama Valerio.
Vaden peka, ia mengamati ekspresi Valerio yang tampak tegang seolah menyembunyikan sesuatu. Kecurigaannya semakin besar ketika Valerio menoleh ke belakang dengan waktu yang cukup lama. Vaden dengan kuat menghempaskan pintu yang hanya terbuka separuh, ia tak peduli akan ada kerusakan karena ia sudah sangat penasaran.
Dan ia kini tahu. Benar, seperti yang ia pikirkan. Ada seseorang di dalam apartemen Valerio selain pria itu. Tapi Vaden tak menyangka jika orang itu adalah Velyn.
***
Valerio menghela nafas. Situasinya seperti Vaden dan Fara menangkap basah mereka sedang berdua di dalam apartemennya. Padahal tidak ada apapun yang terjadi.
"Rio?" Fara mendongak menatap Valerio. "Kenapa bisa ada Velyn di sini?"
Velyn cepat-cepat mengambil berkas yang tadi ia taruh dan menunjukkannya ke Fara. "Aku ke sini buat minta tanda tangan Valerio," ujarnya menunjuk kolom di mana Valerio tanda tangan.
Fara menatap Velyn dari atas ke bawah. "Terus, kenapa masih ada di sini?"
Valerio menghela nafas, ia berlutut di depan Fara dan memegang tangannya. "Tapi aku yang nawarin dia masuk, Ra. Soalnya katanya dia kelaparan dan kebetulan aku buat mi. Jadi, yauda," jelasnya mengangkat pelan kedua bahunya.
"Kenapa? Kamu aja enggak pernah nyuruh aku masuk dengan suka rela?" Fara tampak sakit hati. Selama tiga tahun, baru kali ini rasanya Fara datang ke apartemen Valerio dan itupun tidak diketahui olehnya.
"Bukan gitu, Ra."
Fara membuang mukanya dan menarik tangannya dari genggaman Valerio. Velyn yang melihat itu jadi tidak enak. Entah kenapa sekarang ia merasa seperti orang ketiga dalam hubungan Valerio dan Fara.
"Aku ... aku pulang aja, ya," ujar Velyn bersiap melangkah pergi.
"Enggak!" bentak Fara, dia menatap tajam Velyn. "Aku masih perlu penjelasan. Dari kamu juga."
Velyn rasa penjelasan singkat dari Valerio sudah dapat dipahami. Lalu apalagi? Mereka juga hanya makan dan mengobrol.
Vaden menatap Velyn dengan pandangan mengejek. Seolah menertawakan tertangkap basahnya ia bersama Valerio. Sedangkan Velyn sendiri ingin menampol wajah Vaden dengan berkas yang ia bawa. Jangan-jangan pria itu yang mengajak Fara ke sini? Tapi dari mana dia tahu kalau Velyn sedang bersama Valerio? Ah tidak, ini hanya kebetulan.
"Yauda semuanya masuk aja. Enggak enak juga dilihat tetangga," ujar Valerio akhirnya, ia mempersilahkan Vaden untuk masuk sedangkan ia mendorong kursi roda Fara ke dalam apartemen dan menutup pintu.
Sekilas Valerio melirik Velyn dan gadis itu melempar tatapan menuduhnya pada Valerio, seakan menyalahkan Valerio atas kejadian hari ini. Valerio hanya membalasnya dengan tatapan sinis, apa Velyn lupa siapa yang ingin masuk ke dalam apartemen tadi?
Vaden duduk di sofa panjang bersama Velyn di sampingnya sedangkan Valerio duduk di single sofa dan Fara di sebelahnya.
"Jadi apa yang mau kamu denger, Fara? Aku sama Valerio cuma makan, enggak ada apa-apa lagi," ujar Velyn langsung. Ia harus segera kembali ke perusahaan untuk menyerahkan berkas ini ke Pak Gilang.
Fara menatap lurus ke Velyn. "Aku percaya itu. Tapi masalahnya kenapa Valerio nyoba buat sembunyiin kamu? Apa yang terjadi selain makan dan ngobrol? Atau kalian ada bicarain sesuatu yang senstifi?"
Velyn mengernyit. "Kenapa kamu bisa bilang gitu?"
"Karena kalian mantan!" seru Fara tegas, sorotan matanya sangat mengintimidasi. "Bisa aja kalian balikan lagi, kapanpun itu. Mungkin Valerio udah enggak cinta kamu, tapi kalau kamu ngerayu, bisa aja kan?"
Perkataan Fara kali ini membuat Valerio dan Velyn sama-sama tidak suka mendengarnya. Vaden sendiri menguap dan memejamkan matanya di sana, kenapa coba ada sesuatu yang namanya cinta jika banyak menimbulkan masalah? batinnya bertanya-tanya.
"Tunggu ... kamu tau dari mana aku sama Valerio itu mantan?" tanya Velyn, ia lalu melirik Valerio. "Kamu yang kasih tau dia?"
Valerio ikut heran. "Fara ini adik kelas kita dulu," ujarnya memberitahu. "Kamu mungkin enggak tau karena gedung IPA sama IPS kan beda."
Velyn ternganga menatap Fara. "Jadi dulu yang suka kasih Valerio bingkisan-bingkisan kecil dengan inisial F itu kamu?" serunya terkejut.
"Iya. Kenapa?" Fara mendongakkan dagunya.
"Kamu ... kamu harusnya manggil aku kakak dong!"
Vaden berdeham keras mendengarnya. "Lihat siapa yang ngomong?" gumamnya melipat bibirnya. "Dia sendiri enggak manggil kakak tuh sama yang senior."
Velyn melempar tatapan membunuhnya ke Vaden. "Sama kamu tuh beda. Aku ke yang lain sopan kok," ujarnya bersungut-sungut.
"Emangnya kenapa aku beda? Coba kasih tau alasannya." Vaden menoleh meminta penjelasan dari Velyn.
"Ya ... ya beda aja."
"Mungkin dia punya perasaan ke kamu, Vaden," celetuk Fara.
"Lihat!" Velyn langsung berseru, tangannya menunjuk Fara. "Dia lebih muda dua tahun dari kamu aja enggak manggil kakak, kan?"
"Berarti kamu juga punya perasaan ke Vaden, Ra?" tanya Valerio melirik Fara.
"Eh enggak kok."
"Kamu manggil dia nama doang," ujar Valerio yang membuat Fara mati kutu, ia terkena dampak dari kalimatnya sendiri.
"Ya kan beda, Rio. Aku emang enggak terbiasa. Sama kamu dan Velyn aku aja enggak pakai embel-embel kakak. Beda sama Velyn yang memang punya alasan tersendiri kenapa ke Vaden enggak pake kakak, sedangkan ke yang lain pakai," jelas Fara cepat. Ia takut Valerio marah padanya.
Velyn mendesah pelan. "Udah deh kenapa bahas itu." Ia kemudian melirik Fara. "Udah puas kan, Fara? Aku emang kelaperan, jujur aja. Kalau gitu aku pulang sekarang, ya."
Vaden bangkit lebih dulu. "Aku juga mau ke kantor kamu," ujarnya ketika Velyn menatapnya heran.
"Hah? Ngapain?"
"Enggak ada. Mau sama kamu aja."
Velyn terkekeh pelan. Ia kemudian bangkit dan menggandeng lengan Vaden. "Yauda ayo, kak Vaden," ujarnya yang membuat Vaden menjitak kepalanya pelan.
Fara melirik Valerio. "Mungkin kalau aku manggil kamu kakak lebih bagus, ya?" tanya Fara. "Kak Rio. Bagus gak?"
Valerio ikut menoleh. "Enggak usah. Kayak biasa aja. Aku malah aneh kalau dipanggil begitu," jawab Valerio terlalu jujur hingga cukup membuat Fara kecewa.
Tapi Valerio tidak terlalu fokus hingga ia tak sadar dengan kalimatnya sendiri. Ia lalu bangkit berdiri dan menatap Vaden. "Vaden, sebenernya ada yang mau aku bilang. Kita bisa bicara sebentar?" tanyanya.
Vaden tersenyum kecil dan mengangguk. "Tentu," jawabnya tegas. Ia kemudian menunduk menatap Velyn. "Sebentar ya, baby girl. Kakak mau bicara empat mata sama dia."
Mata Velyn menyipit kesal, ia memukul lengan Vaden pelan. "Eneg dengernya," ujarnya jutek dan menurunkan tubuhnya duduk di tempatnya semula.
Vaden tertawa sedangkan Valerio sudah berjalan lebih dulu. Fara hanya melirik Velyn dan Vaden dengan tampang datar.
Setelah dua pria itu menghilang dari sana. Velyn mengeluarkan ponselnya dan membuka ruang chat agar tak bosan. Sedangkan Fara menatapnya lurus.
"Kamu-"
"Aku tau," sela Velyn cepat. "Kamu pasti mau bilang tentang kecelakaan itu, kan? Kamu tenang aja, aku gak bakal rebut Valerio," sambungnya pelan, arah tatapannya masih ke ponselnya.
"Tapi kamu berlagak seolah kamu mau merebut Valerio diem-diem dari aku."
Velyn menggigit pipi bagian dalamnya, entah kenapa semakin ke sini ia semakin tidak suka dengan Fara. Gadis itu selalu mengancamnya tentang kecelakaan itu dan ia tidak suka.
"Kalau memang Valerio cinta sama kamu, mau aku rayu sekeras apapun, dia enggak akan berpaling kok," ujar Velyn. "Kamu pasti tau sendiri kalau dia tipe yang setia, kan?"
Fara mengernyit. Jika Valerio betul-betul tipe pria setia, maka ia bertanya-tanya apakah cintanya ke Velyn sudah hilang?
Fara berdeham kemudian. "Tapi kenapa kamu takut kalau aku bilang ke semuanya tentang kecelakaan itu? Kan bener, kalau kamu enggak nabrak aku, aku gak akan begini sekarang."
Velyn memang terus menatap ponsel, tapi sebenarnya ia tak membaca apapun.
"Kamu tau gak kalau hal itu hal terburuk selama aku hidup? Aku juga enggak tau kalau hasilnya bakalan seburuk ini. Aku juga udah minta maaf sama kamu."
"Emang maaf kamu bisa buat kaki aku sembuh?"
"Ayo kita ke dokter. Aku yakin terapi bisa sembuhin kamu."
Fara menatap Velyn tajam. "Udah enggak bisa. Lumpuh ini berlaku selamanya. SELAMANYA."
Velyn terdiam, ia menutup ponselnya dan menatap Fara. "Aku ... minta maaf," lirihnya sungguh menyesal.
"Aku denger papa kamu baru-baru ini masuk rumah sakit, ya? Gimana jadinya kalau denger tiga tahun lalu kamu nabrak seseorang sampai orang itu enggak bisa jalan lagi dan kamu merahasiakannya dari semua orang?"
Mata Velyn perlahan menajam. "Apa maksud kamu? Aku kan udah bilang aku juga nyesel, aku enggak tau kalau hal itu bakalan terjadi."
"Terserah aja." Fara mengangkat kedua bahunya tak acuh. "Kamu deketi Valerio, aku bakal bongkar semuanya. Sengaja atau enggak, hasilnya sama aja, kan?"
Dahi Velyn mengernyit dalam. Ia sungguh tidak suka dengan perempuan ini sekarang.
"Kamu lucu. Takut banget ya kalau Valerio aku rebut?" Velyn ingin menyombongkan dirinya sesaat, biar Fara tau kalau bukan hanya Fara saja yang bisa menakutinya, tapi ia juga bisa. "Kalau Valerio cinta banget ke kamu, dia enggak bakal berpaling. Tapi kalau dari awal dia perhatian ke kamu karena kasihan kamu ngejer-ngejer dia dari dulu, mungkin ceritanya bakal beda. Satu tarikan dari aku mungkin bisa buat dia berpaling dari kamu."
Velyn jelas masih ingat tentang hadiah dari perempuan berinisial F yang setiap harinya selalu ada di dalam tas Valerio. Velyn selalu marah-marah ketika menemukannya, padahal di akhir ia juga yang memakai segala bingkisan itu.
"Kamu ngelakuin itu, aku bakal bongkar semuanya!" ancam Fara. "Dan Valerio enggak bakal mau sama pelaku tabrak lari kayak kamu!"
"Tabrak lari kamu bilang? Kamu salah banget. Kamu juga enggak tau gimana ceritanya waktu itu. Jangan terlalu percaya diri ya, Fara. Kamu akhir-akhir ini selalu ngancam, kamu pikir aku gak bisa ancam balik ke kamu?" Velyn tersenyum kecil. "Valerio penting banget buat kamu, kan? Aku bisa aja loh ambil dia balik, karena itu gampang. Kamu jelas tau kan gimana aku sama dia dulu."
"Jangan berani-beraninya kamu."
Velyn tersenyum lebar. "Harusnya aku yang bilang itu."
"Kita buat kesepakatan kalau gitu." Fara kehabisan ide untuk mengancam Velyn. "Kamu jangan deketin Valerio dan rahasia kamu aman di aku."
"Enggak," tolak Velyn mengejutkan Fara. "Aku enggak akan jauhin Valerio. Tapi aku bukan perempuan murahan yang rebut laki-laki yang udah punya kekasih, jadi aku enggak akan rebut dia. Tapi beda cerita ya kalau Valerio yang mau balik ke aku."
"Avelyn!"
Velyn tertawa. "Aku bercanda. Gak usah seserius itu. Kalau jodoh toh bakalan sama-sama juga, kan?" Velyn berdiri, kepalanya pusing berdua dengan Fara. "Aku balik dulu."
Fara tak menjawab apapun dan Velyn berjalan terus sampai ia keluar dari apartemen Valerio. Di luar, ia menghela nafas dan meniup tangannya yang terasa dingin. Sejujurnya, ia ketakutan saat Fara bilang ingin membongkar rahasianya. Tapi, ia tidak bisa selalu di bawah kendali Fara, makanya ia mencoba menantangnya balik.
Namun tetap saja, Velyn sangat deg-degan melakukannya. Ia takut Fara keras kepala dan akhirnya semau terbongkar. Velyn hanya belum siap menerima tatapan menuduh, menyalahkan yang orang-orang layangkan padanya nanti.
Ia juga khawatir terhadap kondisi orang tuanya yang tidak sefit biasanya. Ia menghindari kemungkinan terburuk, itu saja.
Menghela nafas panjang, ketenangan Velyn perlahan kembali. Ia kemudian melangkah meninggalkan lorong itu. Ia juga memberi pesan pada Vaden jika ia pergi duluan.
Fara di dalam sana terdiam seribu bahasa. Matanya kosong, tidak ada ekspresi apapun di sana. Jadi, sekarang, ancamannya sudah tidak berguna, ya?
***