6. Kejadian Tiga Tahun Lalu

1847 Kata
Tiga tahun yang lalu. Velyn mendapat kabar jika mamanya kritis karena infeksi paru-paru. Ia yang tak pernah pulang selama dua tahun, terpaksa pulang hari itu karena sangat mengkhawatirkan kondisi mamanya. Velyn juga merasa jika mamanya tidak menjaga kesehatannya karena terlalu cemas padanya. Velyn memang menutup diri, bahkan dari orang tuanya. Tapi bukan berarti dia benar-benar menghilang di luar negeri, ia hanya jarang mengabari. Velyn yang sampai di bandara, melesat langsung ke rumah sakit. Tapi, di tengah jalan, papanya memberitahunya untuk membawa sesuatu dari rumah. Ini karena papa pikir Velyn masih di bandara, padahal sebenernya ia sudah duduk di dalam taksi. “Yauda, Pa. Velyn ambil terus langsung ke rumah sakit, ya.” Velyn putar balik. Ia menyuruh taksi tidak perlu menunggunya karena ia akan mengendarai mobil pribadinya ke rumah sakit. Ini lebih efisien karena ia bisa menyalip-salip mobil di depannya agar lebih cepat sampai. Sesaat, hati Velyn bergetar karena menyadari fakta jika ia menginjak tanah yang sama dengan Valerio. Tapi … tidak, ia kesini karena mamanya. Bukan siapapun lagi. Velyn menginjak pedal gas dengan kencang. Menyalip mobil-mobil di depan mobilnya dengan lihai walau tetap saja mendapat klakson kencang dari pengendara lain. Velyn dulunya cukup sering ikut balap mobil, bahkan sampai ia kuliah sekalipun. Jadi, yang seperti mudah baginya.  Sebenarnya, walaupun Velyn tidak mengurangi kecepatan mobilnya, ia tetap waspada dengan apa yang ada di depan, samping dan belakang mobilnya. Hanya saja, seseorang tiba-tiba melintas dan ia tak sempat mengerem! Velyn merasa dunianya berhenti berputar sesaat. Ujung jari jemarinya mendingin. Ia juga tak sanggup berkata-kata ketika orang-orang mulai mengerumuni mobilnya. Tapi ia tidak bisa lari dan juga tak ingin lari. Seseorang mengetuk kaca mobilnya dan Velyn mengangguk menyemati dirinya. Ia menarik nafas panjang sebelum keluar dari mobil. Ia lemas seketika melihat orang yang tidak sengaja ia tabrak tergeletak tak sadarkan diri di sana. Ia ketakutan, mana semua orang sedang menatapnya dengan tuduhan. Saking takutnya, Velyn jadi menangis. Ia menghampiri si korban dan menatap wajahnya, bergumam maaf di dalam hatinya. "Gimana ini? Kamu harus tanggung jawab!" Velyn mendongak, ia tentu tahu itu. "I--iya, Pak," jawabnya pelan. Wajahnya tampak sangat tertekan. "Bawa aja ke rumah sakit itu! Cepet jangan lama-lama!" Velyn semakin takut. Tangannya bergetar hebat. Kenapa ia bisa mengalami hal ini? Dan waktunya juga tidak tepat. Waktu itu, tidak terpikirkan sama sekali tentang menghubungi orang lain. Pikiran Velyn terasa penuh antara kecelakaan itu dan mamanya. Perempuan yang tak sadarkan diri itu memang tidak berdarah-darah, tapi Velyn juga tak bisa memastikan apakah ia baik-baik saja atau tidak. Seorang pria dewasa mengangkat tubuh perempuan itu dan langsung membawanya ke arah rumah sakit terdekat yang berada tepat di seberang jalan. "Kamu ikut kami aja dulu. Tanggung jawab." Tangis Velyn pecah kembali. Ia ingin bersama perempuan itu, tapi mamanya ... jauh lebih penting. "Pak. Saya boleh minta tolong?" Velyn menatap seorang bapak dengan tatapan berkaca-kaca. "Mama saya lagi kritis. Saya harus segera kesana. Tapi! Tapi saya tetep tanggun jawab. Sebentar, pak." Melihat si bapak yang percaya pada Velyn, tentu tidak akan ia lewatkan begitu saja. Velyn kembali pada mobil, mengambil sejumlah uang yang begitu banyak serta menuliskan nomor ponselnya pada selembar kertas. "Ini ... uang buat perempuan tadi. Dan ini nomor saya, Pak," ujarnya memberi semua barang di tangannya ke tangan si bapak. "Maaf, ya, Pak. Bukannya saya ngemudahin semuanya pakai uang. Tapi mama saya lagi sakit. Saya gak bohong." Air mata Velyn terus mengucur, di tengah kebingungannya, memang ini lah satu-satunya jalan yang ia tempuh dan sangat bersyukur si bapak mau mengerti. "Saya janji bakalan dateng ke rumah sakit itu begitu mama saya sadar, Pak. Bapak bisa pegang ucapan saya." Sebenarnya, ucapan itu tidak bisa dipercaya begitu saja. Tapi, seseorang tentu bisa melihat pancaran keseriusan dari orang lain. Pasti bisa menilai. Maka dari itu, si bapak percaya dan akhirnya membubarkan massa dan mengijinkan Velyn untuk kembali melanjutkan perjalannya. Velyn, dengan beribu terimakasih, ia hujamkan ke bapak itu. Ia kemudian melajukan kembali mobilnya. Setiap lima menit sekali, Velyn mengusap air mata yang membasahi pipinya. Ia tak bisa berhenti menangis dan rasa bersalah sungguh bercokol di dalam hatinya. Ia hanya bisa berharap perempuan muda tadi baik-baik saja. Di rumah sakit. Melihat mamanya yang terbaring sakit membuat Velyn melupakan perihal kecelakaan tadi. Ia juga tidak memberitahu papanya. Biar ia simpan sendiri, jikalau nanti semakin berat, barulah ia memberitahu. Dua hari kemudian. Mama sadar dan semuanya membaik. Benar, kehadiran Velyn di sana sangat berpengaruh besar. Buktinya perkembangan kesembuhan sang mama pesat sekali. Di hari ketiga, Velyn datang kembali ke rumah sakit di mana perempuan itu di bawa. Ia melirik ke ponselnya dan tak ada satupun panggilan asing yang masuk. Apa semuanya baik-baik saja? Batinnya bertanya-tanya. Di resepsionis rumah sakit, Velyn mencoba menjelaskan secara detail fisik perempuan itu. Mereka paham dan bilang ke Avelyn kalau perempuan yang di maksud sudah keluar dari rumah sakit satu hari yang lalu, keadaannya juga terlihat baik katanya. Velyn lega mendengarnya. Rasa bersalah yang merantai hatinya rasanya lepas seketika. Ia bisa tersenyum lepas kembali. Namun, siapa sangka. Jika perempuan bernama Fara yang duduk di atas kursi roda bersama Valerio yang berlutut di depannya adalah perempuan yang sama yang menjadi korban kecelakaan tiga tahun silam. "Kamu kan ...." "Velyn?" Perhatian Velyn teralihkan, ia bergantian menatap Valerio yang menyebut namanya. "Kamu kenapa di sini?" Untuk sesaat, Velyn tak bisa berkata apa-apa karena masih memikirkan Fara. "Em ... itu ... aku disuruh papa ke sini diskusi tentang pemasaran produk, papa ada urusan makanya aku yang disuruh gantiin," ujar Velyn pelan. Valerio mengangguk paham. "Masuk aja," ujarnya mempersilahkan Velyn. Velyn melangkah masuk dengan tatapan lurus menatap Fara. Apakah ini nyata? Bagaimana mungkin? Ini sungguh kebetulan yang menyesakkan. Bahkan sekarang ia mengesampingkan tentang Valerio, karena fakta tentang Fara ternyata lebih mendominasinya saat ini. Satu-satunya yang sekarang ada di benak Fara adalah kenapa Fara duduk di atas kursi roda? Apa yang terjadi padanya? Apa ini karena kecelakaan waktu itu atau hal lain? Dan apakah Fara mengingatnya karena Velyn sadar, waktu itu Fara sempat melihat wajahnya. Valerio berbalik mengambil berkas-berkas yang dibutuhkan. Ia sempat melirik ke arah Velyn yang terus bersitatap dengan Fara. Kenapa? Apa Velyn sudah tahu kalau Fara calon tunangannya? Terus, apa ya yang dia pikirkan tentang hal ini? Sementara itu, Fara menatap intens ke arah Velyn. Ia tahu yang menabraknya waktu itu adalah Velyn, dengan mata yang hampir tertutup, ia samar-samar melihat wajah Velyn. Ia juga tahu jika Velyn adalah mantan Valerio, jelas saja karena seantero sekolah tahu hubungan mereka. Sayangnya, Velyn tidak mengenal apalagi mengetahui perasaan Fara yang ada untuk Valerio sejak mereka SMA. Fara itu adik kelas Valerio, jurusan mereka sama sedangkan jurusan Velyn berbeda. Gedungnya juga berbeda. Maka dari itu Velyn tidak mengenal Fara. Ketika Valerio masih sibuk mencari berkas yang hilang entah kemana. Fara terus menatap Velyn yang perlahan duduk di sofa walaupun tidak ada yang menawarinya duduk. Posisi Velyn dan Fara yang dekat memungkinkan Fara mengucapkan sesuatu walau pelan. "Aku tau kamu orang itu ...." Fara bergumam, dan hanya Velyn yang mendengar. "Yang nabrak aku dann nyebabin aku lumpuh." Velyn menegang di tempat. Fara mengenalinya. Tapi yang membuat ia lebih tegang adalah kelumpuhan yang disebabkan kecekalaan waktu itu. Yang artinya, dirinya mengambil andil besar dalam kelumpuhan yang dialami Fara. "Kamu juga pasti inget aku, 'kan?" Fara menggenggam tangannya erat. Ia tak bisa melihat jelas ekspresi Velyn karena perempuan itu menunduk. "Jangan coba-coba rebut Valerio dari aku atau aku bilang ke dia kalau kamu yang nyebabin aku kayak gini." Fara jelas mewaspadai Velyn. Apalagi perempuan itu kembali sekarang, bahkan menurutnya Velyn sedang mencoba mendekati Valerio lagi. Dengan kondisinya yang seperti ini, ia merasa kalah lebih jauh dari Velyn. Tapi, ia yakin Valerio mencintainya dan Valerio itu laki-laki yang setia. Namun, meskipun begitu, ia harus tetap memperingatkan Velyn agar tidak menggoda Valerio. Velyn sendiri diam saja. Ia juga tak berniat merebut Valerio darinya. Yang ia takutkan adalah perihal tentang kecelakaan yang kembali mencuat ke permukaan. Velyn hanya ... tidak sanggup. Kejadian itu adalah pengalaman terburuknya selama hidup Kalau memang tidak merebut Valerio, Fara bisa bungkam. Maka ia akan lakukan. Velyn kemudian mendongak, ia melempar senyum manis ke arah Fara yang terkejut melihatnya. "Maaf, ya, karena buat kamu kayak gini," ujar Velyn tulus. Ia mengecilkan suaranya. "Kalau boleh tau, kamu enggak ikut terapi atau apa gitu biar bisa jalan lagi?" Wajah Fara pucat mendengarnya, dari ekspresinya sepertinya ia tidak suka ucapan Velyn. "Enggak perlu. Gak bakalan sembuh." Velyn terkelu. Jadi sudah selamanya ia seperti ini, ya? Perasaan bersalah Velyn semakin besar. Dulu saja saat ia terkilir dan tak bisa berjalan beberapa hari, rasanya sangat menyiksa. Apalagi tidak bisa jalan selama bertahun-tahun bahkan sampai akhir hayat. "Maaf banget ...," lirih Velyn dengan suara gemetar. Kenyataan pahit benar-benar menimpanya. "Kamu udah rebut kebahagian berjalan milik aku. Sekarang cuma Valerio yang buat aku seneng. Jangan sampai kamu rebut dia juga," ujar Fara dengan tatapan tajam. Velyn sebenarnya agak bingung dengan kalimat Fara yang menyuruhnya menjauhi Valerio seolah Fara memang tahu jika dulunya Valerio pernah pacaran dengannya. Tapi jika begitu, dari mana Fara tahu? Dari Valerio? Rasanya tidak mungkin. "Valerio memang milik kamu, kok." Velyn tersenyum. Namun hatinya sebenarnya agak tak rela mengatakannya. Jelas saja karena ia masih punya perasaan khusus untuk Valerio. "Bagus deh." "Kalian bicarain apa?" tanya Valerio berjalan ke arah Fara. Fara mendongak dan melempar senyum terbaiknya sedangkan Velyn diam saja di tempat, tak mau menatap Valerio. "Enggak ada kok. Cuma tanya ke mbak ini udah makan siang apa belum," jawab Fara ceria. Velyn meliriknya dengan dahi mengenyit samar. Entah kenapa, ia merasa ... jika perempuan ini cukup berbahaya. Tapi ... tidak! Velyn menggelengkan kepalanya, ia harus menghilangkan pemikiran itu. Fara seperti ini karena dirinya. Perempuan itu tak menuntut macam-macam saja harusnya ia bersyukur, bukannya malah mencurigai atau berpikiran buruk tentangnya. "Oh gitu." Valerio mengangguk-angguk, ia melirik Velyn yang menunduk selanjutnya. "Kalian belum kenalan, ya? Kalau gitu biar aku kenalin." Velyn baru mendongak, ia menarik nafas pelan. Tanpa perlu Valerio beritahu pun ia sudah tahu siapa perempuan di depannya ini. "Fara, ini Avelyn, dulu aku sama dia cukup deket. Dan Velyn, ini Fara, calon tunangan aku." Sakit banget ya rasanya mendengar kalimat terakhir Valerio. Tapi, semua ini bisa terjadi ya salah Velyn juga. Velyn sadar, jadi ia harus siap dengan sakit ini. "Aku Velyn, Ra." Velyn mengulurkan tangannya. Ia tersenyum manis. "Fara," sahut Fara menjabat tangan Velyn. Ia hanya tersenyum kecil. Velyn meringis dalam hati. Fara nyatanya tidak bisa bersikap ramah padanya, walau bersandiwara sekalipun. Velyn jadi bisa menilai sebesar apa Fara membencinya sekarang. "Oh ya, Ra. Tadi kamu bilang kamu mau ke kantin, 'kan? Sama sekretaris aku aja, ya. Soalnya aku sama Velyn harus diskusi bentar. Nanti kalau udah selesai, aku langsung nyusul kamu." Fara hendak menolak. Namun, melihat ekspresi Valerio yang tidak bisa dibantah, ia pun dengan berat hati mengangguk menyetujui. Fara memang punya perasaan yang cukup peka, ia bisa tahu kapan Valerio ingin ucapannya dituruti atau bisa disanggah. Tapi tentu sebelum ia pergi dari sana, ia harus memberi tatapan peringatan pada Velyn. Dalam hal ini sebenarnya bisa dibilang jika Fara mengancam Velyn. Ketika Fara sudah pergi bersama sekretaris Valerio. Kini tinggal Velyn dan Valerio di dalam. Keduanya tampak saling diam dalam beberapa detik. "Valerio." "Iya?" "Sebenernya ... aku masih sayang sama kamu." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN