"Valerio."
"Iya?"
"Sebenernya ... aku masih sayang sama kamu."
Velyn meringis pelan ketika bayangan itu masuk ke dalam kepalanya. Tidaklah, tidak mungkin ia melakukannya. Sama saja ia bunuh diri. Untuk sekarang, menyatakan perasaannya ke Valerio sama saja menusukkan sebilah pisau ke tubuhnya.
"Vale, kita bisa mulai langsung," ujar Velyn langsung. Ia tak sadar memanggil Valerio dengan panggilan sayangnya dulu.
Valerio yang berdiri di sana terkejut mendengar panggilan Velyn barusan. Bibirnya tertutup rapat. Ia melirik Velyn yang juga mengeluarkan berkas-berkas miliknya dengan wajah datar. Tidak ada ekspresi apapun di sana.
"Valerio? Kenapa diam aja?"
Velyn mendongak ketika menyadari Valerio tidak bergerak sedikitpun dari posisinya berdiri. Walaupun Valerio adalah mantan kekasih Velyn, bukan berarti Velyn harus bersikap canggung padanya. Velyn tidak ingin ada jarak di antara mereka biarpun sudah putus, ia ingin mereka tetap akrab. Ya meskipun untuk Valerio, ada sedikit pengecualian karena nyatanya peran Valerio di hidupnya dulu sangat besar. Jadi terkadang, rasa gugup timbul di diri Velyn saat bertatap mata dengan Valerio.
Valerio mengerjap sekali sebelum sadar dan melangkah mendekat ke arah Velyn. Ia duduk di single sofa tepat di depan Velyn.
Valerio menatap Velyn dan berdeham pelan. "Kamu udah lama pulang?"
Velyn bertopang dagu dan menunduk melihat-lihat berkas sembari menjawab, "Belum. Pas kamu ke rumah, itu pas banget sama kepulangan aku," ujarnya mengambil beberapa berkas dari Valerio. "Aku baca dulu, ya. Soalnya aku belum tau gimana persis bentuk projeknya."
Valerio mengunci mulutnya rapat-rapat sementara Velyn membaca cepat berkas-berkasnya.
"Kok aku gak paham, ya," celetuk Velyn memukul pelan kepalanya dengan telapak tangannya. Ia kemudian memegang kertas itu dengan kedua tangannya dan mata yang bersinar fokus. Tapi tetap saja, ia masih tak paham.
Ini karena otak Velyn penuh dengan Fara. Ia tak menyangka tentang kelumpuhan itu. Rasanya juga tak enak ketika Fara menyuruhnya tidak merebut Valerio, seolah ia perempuan yang hanya terpaku dengan satu pria saja.
"Kamu masih gak paham?"
Velyn mendongak. Valerio berubah, ia tampak lebih dewasa. Berwibawa. Bahkan karismanya semakin kental. Velyn melihat dirinya sendiri, apa yang berubah darinya selama lima tahun terakhir? Ia tetap menjadi perempuan manja.
"Vel?"
Rasanya sesak. "Bentar, ya, aku coba pahami sekali lagi," ujar Velyn memegang kepalanya, berusaha fokus pada deretan tulisan di depannya.
Walaupun Valerio bersama Velyn hanya kurang lebih dua tahun. Ia sudah bisa memahami semua karakter perempuan itu. Ia juga bisa mengerti kalau sekarang Velyn sedang memikirkan sesuatu yang berat hingga tak bisa fokus dengan yang lainnya lagi. Mau sampai berapa kalipun ia mengulang bacaan di kertas, ia takkan paham sebelum pikiran beratnya yang tadi tuntas.
"Udah sini." Valerio mengambil paksa kertas itu lalu menyusunnya menjadi satu, membuat Velyn terheran-heran.
"Loh kenapa?"
"Udah gak perlu dibaca lagi."
"Eh kamu marah?"
Gotcha!
Velyn dan Valerio saling tatap. Jika Velyn menatapnya dengan tatapan tanda tanya, Valerio menatap Velyn dengan pandangan 'kenapa hal itu muncul lagi?'
Velyn terkadang bisa terlalu polos menanggapi sesuatu. Ia langsung melontarkan apa yang ia pikirkan. Dulu, di apartemen Valerio. Velyn pernah mencoba merapikan isi apartemen yang ia berantakan. Tapi, bukannya rapi, malah semakin berantakan dengan hancurnya beberapa barang mudah pecah yang ia tak sengaja sentuh. Valerio pun merebut sapu dari tangan Velyn, bermaksud agar Velyn tidak membuat kekacauan lebih jauh dan takutnya barang yang pecah mengenai dirinya. Tapi, Velyn berpikiran berbeda. Ia dengan polosnya bertanya apakah Valerio marah padanya karena ia memecahkan beberapa barang di apartemennya.
Dan hal itu terjadi lagi sekarang. Padahal kan Valerio bukan marah, hanya bisa memprediksi apa yang akan dilakukan Velyn nantinya.
"Pikiran aku lagi kusut. Jadi enggak bisa mikir yang lain," keluh Velyn menyandarkan punggungnya ke sofa. Kepalanya mendongak bersandar pada bagian atas sofa dan hanya langit-langit ruangan yang ada dalam pandangannya.
Valerio menaruh berkasnya di sana. Ia kemudian bangkit berdiri dan melangkah keluar dari ruangannya tanpa berpamitan dengan Velyn.
"Lah dia kemana?" Velyn menegakkan tubuhnya dan mengernyit melihat Valerio yang benar-benar keluar.
Sepertinya Valerio benar-benar marah padanya, ya, batin Velyn. Tapi kenapa dia pergi begitu saja? Apa sopan seperti itu? Terus dia kemana? Menyusul Fara di kantin kah?
Velyn menghela nafas lelah, tangannya terulur mengambil berkas-berkas tadi dan membacanya sekali lagi.
Kelumpuhan Fara itu disebabin kamu.
Kelumpuhan Fara enggak akan ada kalau kamu enggak nabrak dia.
Tangan Velyn yang berada di atas meja mengepal. Ia kemudian memukul keningnya beberapa kali dengan pelan. Kenapa suara-suara itu muncul di kepalanya?! Ia sama sekali tidak bisa fokus.
"Kayaknya aku pergi aja deh," gumamnya lesu. Hatinya merasa tak tenang sekarang, ia ingin bercerita hal ini pada seseorang. Tapi masalahnya ia tak punya teman lagi. Semuanya menghilang dan ia sendirian.
Kalau ke mamanya, tidak mungkin. Ia tidak punya keberanian.
Velyn memejamkan matanya sesaat. Ia menghela nafas panjang dengan tangan terlipat. Baik, ia akan duduk di sini lebih lama lagi dan menenangkan dirinya sebelum pulang.
Semuanya akan baik-baik aja kalau Velyn tidak dekat dengan Valerio. Fara gak akan membocorkan kejadian itu ke siapapun. Itu cukup mudah, ia hanya harus memusnahkan sisa perasaannya pada Valerio.
Velyn membuka mata dan bertopang dagu. Tapi itu belum tentu berjalan mulus. Kalau perasaannya tetap ada tapi ia menjauh dari Valerio bisa-bisa saja, bukan?
Velyn meringis kencang karena tak ada orang juga di sana. Hatinya benar-benar tidak enak. Bagaimana bisa ia melalui ini? Apa mungkin ia harus bilang ke semua orang tentang penyebab kelumpuhan Fara?
Kepala Velyn menggeleng kencang. Tidak, ia bisa dipenjara! Eh, tapi apa iya?
Velyn rasanya ingin menangis. Ia merasa tersesat tidak tahu arah mana yang harus ia tuju. Arah manapun yang ia pilih rasanya tetap memberikan resiko besar baginya.
Di tengah sibuknya Velyn memikirkan ini itu. Pintu ruangan terbuka dan Valerio masuk dengan sebuah piring di tangannya.
"Aku kira kamu pergi nyusul Fara," celetuk Velyn mendongak mengikuti langkah Valerio yang mendekat ke arahnya.
Valerio meletakkan piring yang ia bawa tepat di depan Velyn. "Makan dulu coba."
Seperti yang sudah Valerio perkirakan dari awal, reaksi Velyn ketika melihat apa yang berada di atas piring pastilah mata yang membulat sempurna dan pekikan kecil dari mulutnya.
"Valerio ....?" Velyn mendongak menatap Valerio dengan mata berbinar. "Kok kamu tau, sih?"
Makanan yang berada di atas piring adalah mi goreng. Avelyn adalah seseorang pecinta mi akut. Sama seperti kegilaannya tentang buku lama tahun 90-an, ia juga merasa gila jika dihadapkan dengan berbagai mi. Ia menyukai semuanya!
"Makan gih terus baca lagi berkasnya," ujar Valerio sembari duduk di kursinya tadi.
Tanpa disuruh dua kali, Velyn melahap habis mi itu. Memang cara makannya tidak berantakan apalagi belepotan, tapi Velyn benar-benar bisa menghabiskan porsi besar mi hanya dalam tiga menit.
"Ini enak banget," ujar Velyn dengan sebelah pipi yang menggelembung. "Pas banget aku belum makan siang."
Makan makanan kesukaan salah satu obat mujarab ketika Velyn dilanda pemikiran berat yang membuat moodnya buruk. Valerio tentu tahu dan mengingat hal ini.
"Boleh aku bahas tentang lima tahun lalu?" tanya Valerio yang membuat kunyahan Velyn berhenti. "Aku tau hal ini udah lama banget, tapi masih ada hal yang buat aku penasaran."
Velyn menelan susah payah mi di dalam mulutnya yang belum melembut. "Kamu mau tanya apa?"
"Apa alasan kamu pergi gitu aja?"
Valerio merasa sesuatu yang panas di hatinya bangkit. Tak seharusnya ia mengungkit hal ini. Tapi mumpung ia hanya berdua dengan Velyn, keinginannya untuk bersuara semakin kuat.
"Kenapa kamu gak bilang dulu? Kenapa gak pamit?" tanyanya dengan tatapan tajam menghunus Velyn.
Velyn menunduk tak berani melihat. Kenapa Valerio jadi menakutkan? Tadi ia terlihat tenang dan santai. Ia berubah dengan cepat.
"Aku gak bisa nolak pemintaan papa buat gantiin posisi papa di perusahaan, tapi aku juga gak bisa terima. Itu kenapa aku pergi secepet mungkin."
"Terus kenapa gak bilang ke aku?"
"Kita kan mantan."
Valerio tersenyum kecil. "Hem jadi gitu ...." Ia menegakkan tubuhnya dan diam tak mengucapkan apapun setelahnya.
Velyn sendiri juga tak tahu harus berbuat apalagi selain menyuapkan sesendok terakhir mi ke dalam mulutnya.
"Jad--"
"Minum dulu."
"Aku gak--"
"Itu minum," sela Valerio lagi sembari menunjuk ke samping di mana sebuah botol air mineral berdiri di atas meja Valerio.
"Iya aku ambil."
Velyn bangkit dan berlari kecil mengambil botol itu. Ia membukanya cukup payah sebelum akhirnya terbuka beberapa detik kemudian.
"Duduk kalau minum."
Velyn baru saja ingin mengarahkan bibir botol ke mulutnya ketika ucapan Valerio terdengar. Ia berdecak kesal sebelum melangkah dan duduk di tempat duduknya lalu menenggak isi dalam botol sampai tersisa setengah.
"Kalau gitu, sekarang aku coba pahami lagi."
Velyn sedang membaca serius berkas-berkasnya saat Valerio menatap gadis itu intens. Entah apa yang berada di dalam pikirannya sekarang tapi Velyn sadar jika ia sedang diperhatikan oleh Valerio.
"Kamu sama Fara kapan tunangannya?"
"Akhir bulan," jawab Valerio cepat.
Velyn mengangguk-angguk paham. Sebentar lagi ternyata. Ini memang masih awal bulan, tapi untuk ke akhir bulan tidak lama. Sekejap mata, Valerio sudah tidak bisa digapai lagi. Ah lagipula, Velyn tidak ada niatan merebutnya dari Fara.
"Cepet juga, ya."
"Iya."
Velyn melipat bibirnya. Ia menyerahkan berkas lalu mengangguk kecil. "Aku udah lumayan paham. Kita bisa diskusi sekarang."
Agak kaku sebenarnya, tapi memang Velyn tidak bisa santai, cukup kaget saja ternyata acara pertunangan Valerio dan Fara diselenggarakan tak lama lagi.
Valerio dan Velyn saling adu pendapat. Tapi kebanyakan Valerio yang kukuh dengan pendapatnya. Velyn mengernyit melihat Valerio yang terasa memaksa hingga akhirnya ia mengiyakan saja.
"Jadi, kita enggak berpatok sama sosmed ya. Influencers kamu yang urus."
Valerio mengangguk membenarkan.
"Yauda kalau gitu udah selesai, 'kan? Aku pamit pulang, ya," ujar Velyn mengambil berkas miliknya dan langsung bangkit berdiri tanpa menunggu jawaban dari Valerio.
Valerio sebenarnya ingin menyahut, tapi karena Velyn pergi begitu saja, ia pun mengurungkan kalimatnya dan ikut bangkit, ia harus menyusul Fara atau gadis itu akan merajuk padanya.
Saat Valerio berjalan tepat di belakang Velyn, ia meneliti gadis itu dari atas hingga bawah. Tidak ada yang berubah dari Velyn, ia masih tetap jadi Velyn dulu yang pernah menempati posisi penting di hatinya. Valerio merasa emosional sekarang, tapi ia juga harus realistis. Tidak bisa hidup terus dibayang-bayang oleh masa lalu.
Valerio berbelok ke kiri sedangkan Velyn ke kanan. Langkah mereka semakin jauh.
"Baby girl?"
Valerio menghentikan langkahnya. Panggilan itu tentu ia dengar, tapi bukan panggilannya yang terpenting. Suara itu ... ia mengenalinya. Valerio pun berbalik, ia terperangah melihat pemandangan di depannya di mana Velyn sedang dipeluk oleh seorang pria yang jelas ia kenal. Vaden Valo, pemilik Valo Tower.
"Kamu kok di sini?"
Velyn melepaskan pelukannya. "Iya. Ada urusan. Kamu ngapain di sini?"
"Aku? Aku yang punya gedung."
Velyn memundurkan wajahnya. Ekspresinya seperti orang yang mendengar jika katak bisa terbang, maksudnya hal yang tidak mungkin.
"Masa?"
Vaden, pria tinggi dengan rahang tegas yang memanggil Velyn dengan panggilan sayangnya itu tersenyum tipis. Ia kemudian mendongak melihat ke arah Valerio yang terkelu di ujung sana.
Vaden melirik ke arah Valerio lalu Velyn, Valerio lagi lalu Velyn. Ia kemudian terkekeh, ia memahami sesuatu sekarang.
"Valerio," seru Vaden memberi isyarat agar Valerio mendekat ke arah mereka.
Velyn sendiri terkejut karena Valerio ternyata berdiri di belakang mereka. Ia juga merutuki Vaden di dalam hati karena memanggil Valerio dan menyuruhnya mendekat ke arah mereka.
Valerio mau tak mau mendekat. Ia melirik Velyn lalu Vaden. Apa hubungan mereka?
"Heh lo kok bengong aja di sana," ujar Vaden menepuk bahu Valerio.
"Gak papa," jawab Valerio pelan, matanya masih menatap Velyn yang tak mau menatapnya balik.
"Vel, coba kamu tanya Valerio. Bener gak aku yang punya gedung ini," ujarnya dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.
"Iya bener."
Velyn terperangah. Ia mengerjap sungguh tidak percaya. "Kok bisa?"
"Kamu belum tau nama panjang aku, ya? Vaden Valo, baby girl. Yang punya Valo Tower."
Valerio mengernyit dalam mendengar panggilan itu. Baby girl? Untuk Velyn? Yang lebih membuatnya heran ialah mereka saling kenal? Kapan dan di mana?
Vaden terkekeh melihat reaksi Velyn. Sepertinya gadis itu masih tak percaya. Tapi beginilah faktanya. Valo Tower memang di pimpin oleh pria muda yang berkarisma tinggi bernama Vaden. Senior Velyn ketika ia kuliah dulu.
***