Vaden tadinya ingin ke lantai ruangannya. Tapi ia salah pijit angka dan akhirnya berhenti di lantai perusahaan Valerio. Dan ia tak menyesal karena dengan kesalahannya, ia bisa bertemu dengan seseorang yang dulunya ia kenal baik saat kuliah di Australia.
Vaden tersenyum kecil. Dulu, Velyn pernah bercerita padanya tentang seorang mantan yang tidak mau pergi dari kepala dan hatinya. Velyn juga menyebutkan namanya Valerio, hanya Valerio. Awalnya Vaden mengira Valerio Gilbert lah orangnya, Valerio adik kelasnya dulu ketika SMP, tapi rasanya tidak mungkin juga.
Namun, melihat ketegangan Velyn, dan juga Valerio yang air mukanya keruh tepat setelah ia memanggil Velyn dengan panggilan sayangnya, kini membuatnya yakin jika Valerio inilah mantan yang dimaksud Velyn.
Enggak cowoknya, enggak ceweknya, sama-samaa engggak sopan memanggilnya hanya dengan nama saja, batin Vaden cemberut.
Vaden adalah senior Velyn dan Valerio. Tapi dua manusia di depannya ini sungguh mengabaikan senioritas. Awalnya memang sopan, tapi lama kelamaan sopannya hilang. Vaden juga sebenarnya tidak terlalu peduli senioritas kalau levelnya masih yang ringan.
"Udah. Terima ajalah faktanya kalau aku yang punya gedung ini, Vel," celetuk Vaden ketika Velyn masih tidak percaya padanya.
"Tapi aku masih gak percaya," seru Velyn. "Soalnya kamu pas di Aussie, gayanya kere banget. Jadi kan aku gak bisa percaya."
Valerio menipiskan bibirnya agar tidak tertawa. Velyn terlalu jujur kali ini. Tapi kemudian Valerio paham, jadi Vaden dan Velyn bertemu saat di Australia. Valerio juga tahu Velyn kuliah di sana, tapi ia tak tahu pasti apa universitasnya, maka dari itu ia tak menyusul Velyn.
Vaden sendiri pura-pura tersinggung dengan kalimat Velyn. Namu, percuma saja, Velyn tidak akan tergugah. Tak mau repot-repot menarik kata-katanya. Vaden heran, kenapa seluruh juniornya bersikap seperti ini padanya sedang pada senior lain tidak.
"Kamu jahat banget. Aku tuh berpenampilan kayak gitu supaya yang deket sama aku gak cuma karena kekayaan," ujar Vaden menoyor pelan dahi Velyn.
"Hm gitu, ya."
Vaden mendengus sebal. Tangannya berkacak pinggang. "Sekarang kamu mau kemana?"
"Mau pulang," jawab Velyn cepat.
"Cepet banget," protesnya sebelum beralih ke Valerio. "Lo sendiri?"
"Kantin," jawab Valerio mengambil ancang-ancang untuk pergi. "Duluan ya."
"Eh!"
Vaden berseru di tempat membuat langkah Valerio berhenti. Ia berbalik dan melempar tatapan tanda tanya pada Valen.
"Gue ikut deh." Vaden kemudian menggandeng tangan Velyn, memaksa! "Kamu juga harus ikut," ujarnya tidak bisa dibantah.
"Enggak mau. Aku pulang aja, papa pasti udah nunggu. Lagian aku udah makan siang," ujar Velyn mencoba melepaskan tangan Vaden.
"Enggak boleh nolak," tekannya yang sebenarnya masih sia-sia. Velyn mana mungkin mau menuruti permintaannya kalau tidak gadis itu sendiri yang bersedia melakukannya.
Tapi, Vaden punya satu cara ampuh.
"Aku punya buku Kappa karya Akutagawa," ujarnya dengan senyum angkuh. Tangannya melepas tangan Velyn begitu saja.
Valerio mengernyi melihat Vaden. Hah! Dia juga punya. Tapi satu fakta lagi yang diketahui Valerio, yakni Vaden yang tahu jika Velyn suka koleksi buku lama. Apa pria itu juga memberikannya pada Velyn secara percuma?
"Beneran?" Mata Velyn bersinar gembira dan Vaden mengangguk dengan senyum angkuh yang masih bertengger di wajahnya.
"Aku bisa pinjem gak?" Velyn menatap Vaden dengan mata berbinar-binar. Vaden hampir tertawa karenanya, reaksi Velyn yang ini benar-benar mood booster baginya.
"Aku bahkan kasih ke kamu asal mau ikut aku ke kantin."
"Ayo kalau gitu!"
Tawa Vaden pecah. "Kalau jadi pacar aku gimana?" tanyanya setelah tawanya mereda.
Valerio menegang mendengarnya, ia mengalihkan tatapan. "Gue duluan ya."
"Eh tunggu dulu. Samaan lah kesananya," cegah Vaden secepat mungkin.
Velyn sendiri tak kaget mendengarnya, ia tahu jika Vaden hanya bercanda. "Enggak deh, makasih. Aku udah punya pacar," bohongnya.
"Kayak ada yang mau sama kamu aja."
"Mantan aku di Aussie seribu satu tau."
Valerio merasa jadi nyamuk di sana. Sementara Velyn dan Vaden masih berdebat, Valerio memutuskan pergi saja tanpa berpamitan pada mereka.
Vaden yang menyadari Valen sudah jalan lebih dulu pun menarik Velyn agar segera menyusul langkah Valerio, membuat Velyn protes padanya.
Sebenarnya Vaden memiliki alasan mengapa memaksa Velyn ikut dengannya ke kantin. Sebelumnya, ia melihat Fara yang berada di kantin bersama sekretaris Valerio. Ia tentu tahu siapa Fara bagi Valerio. Setelahnya ia menemukan Velyn dan Valerio dan yakin jika Valerio adalah mantan yang diceritakan Velyn dulu padanya. Masalahnya, Velyn masih terlihat memiliki rasa pada Valerio sedangkan Valerio sudah punya pacar yang akan nantinya berubah status menjadi tunangan. Vaden pikir Velyn tidak tahu hal ini, jadi ia ingin Velyn sadar jika Valerio sudah milik orang lain.
Di jalan. Mereka bertiga banyak mencuri perhatian dari orang-orang. Jelas saja karena ketiganya begitu mencolok. Velyn yang berjalan di tengah-tengah Vaden dan Valerio apalagi, gadis manis itu menjadi topik pembicaraan karyawan pria lainnya.
Valerio diam saja dan tanpa ekspresi. Berbeda dengan Vaden dan Velyn yang masih terus berdebat akan hal-hal yang tidak penting sama sekali.
Di kantin. Fara duduk bersama sekretaris Valerio. Mereka duduk berhadapan dengan sebuah piring di depan masing-masing. Sebenarnya si sekretaris bisa menghabiskan makanannya hanya dengan waktu sepuluh menit. Tapi karena Fara makan begitu lama, ia jadi melambat-lambatkan makanannya.
"Gak enak," gumam Fara dengan bibir melengkung ke bawah. "Kamu rasa enak? Agak asin, kan?"
Sekretaris itu tersenyum canggung. Ia tahu ini agak asin, tapi tidak terlalu juga. Masih dalam batas enak sebenarnya.
"Ya gitu, Bu."
Fara semakin merengut. Ia makan juga sedikit-sedikit, kebanyakan air yang tertelan olehnya. Kenapa Valerio tadi menyarankan dirinya ke kantin ini, lebih baik delivery saja yang penting makanannya enak.
Suasana kantin tiba-tiba riuh membuat Fara dan si sekretaris mengangkat pandangan melihat apa yang membuat kantin riuh. Sang sekretaris terkejut melihat tiga orang yang terlihat menonjol dari lainnya. Kalau sekretaris saja terkejut, maka Fara terkesiap dan terkelu. Tapi rasa kesal lebih mendominasi.
Kenapa Velyn ada di antara dua pria itu?
Valerio melempar senyum kecil pada Fara yang terus melihat ke arah mereka. Valerio juga memberi isyarat kalau si sekretaris pergi dari sana dan wanita itupun pergi akhirnya.
Vaden sendiri memperhatikan reaksi Velyn ketika ia menatap Fara. Biasa saja, itulah yang ditemukan Vaden. Ia kemudian mendekat ke arah telinga Velyn dan berbisik pelan.
"Itu pacarnya Valerio, namanya Fara. Mereka mau tunangan. Btw Valerio ini kan mantan yang sering kamu ceritain ke aku dulu," bisiknya cepat.
Velyn menoleh ke arah Vaden dan menatapnya dengan pandangan malas. "Aku tau, Vaden Valo," ujarnya dengan nada bicara menyebalkan. Habisnya, hatinya sedang tak enak dan Vaden malah membuatnya semakin tak enak.
"Eh kamu tau?"
Velyn mengangguk membenarkan. Ia kemudian menarik kursi yang berada tepat di depan Fara. Sedangkan Valerio dan Vaden berhadapan dengan Vaden yang berada di sampingnya.
Fara belum apa-apa sudah melayangkan tatapan tajam memperingatkannya pada Velyn, membuat Velyn balas menatapnya namun dengan pandangan biasa. Ia tak melakukan kesalahan apapun. Juga tak mendekati Valerio.
"Kok enggak dihabisin?" tanya Valerio langsung menunduk menatap piring Fara yang nasinya hanya berkurang sedikit.
"Aku gak selera," jawab Fara lesu.
Velyn bertopang dagu, jadi ia di sini sekaligus melihat kemesraan Valerio dan Fara yang membuat hatinya panas, ya?
Merasa pusing, Velyn melipat tangannya di atas meja lalu meletakkan dahinya di sana. Ia memejamkan matanya ketika seseorang datang dan menanyakan tentang makanan yang ingin mereka pesan.
"Nasi ulam satu ya."
"Aku juga," timpal Fara yang membuat Valerio heran. Nasi yang dipesannya saja belum habis. Tapi Valerio tak berkomentar, ia membiarkan saja.
"Vel, kamu?" tanya Vaden mengangkat rambut Velyn yang terurai di sisi kepalanya. "Hey jangan tidur, ini di kantin loh."
Velyn memiringkan kepalanya melihat Vaden. "Aku gak tidur."
Valerio dan Fara di depan memperhatikan dua orang di depan mereka dengan ekspresi yang sama dengan makna yang berbeda. Sama-sama tidak suka. Jika Fara tidak suka karena Velyn menarik perhatian banyak lelaki, maka Valerio tidak suka karena Vaden yang memperlakukan Velyn cukup istimewa.
"Kamu pesen apa nih?"
"Kan aku udah bilang aku udah makan siang," ujar Velyn cuek. Ia ke kantin juga karena buku tadi.
"Mi gimana?" tanya Vaden dengan sebelah alis yang meninggi menggoda Velyn.
Valerio tertegun kembali. Menatap Vaden tak percaya. Sejauh apa pria ini mengetahui diri Velyn? Kenapa ia juga tahu jika Velyn menyukai mi?
"Boleh banget!" seru Velyn dengan kepala yang tegak kembali. Ia seperti disuntik banyak energi, rasa semangat muncul lagi di wajahnya.
Vaden terkekeh, ia pun memesankannya untuk Velyn.
"Kalian keliatan deket," celetuk Fara membuat ketiganya melihat ke arahnya. "Udah kenal lama, ya?"
Vaden mengernyit sebelum mengangguk. "Tiga tahun yang lalu. Kita bahkan pernah seapartemen, Ra," beritahunya dan ketiganya terkejut.
Velyn menggeplak pelan lengan Vaden dan menggeleng menatap Fara. "Cuma sehari kok," ujarnya dengan raut cemas. Ia menatap Fara, tapi sebenarnya kalimatnya ditujukan ke Valerio.
Valerio terkejut tentu saja. Tapi ia memilih diam saja dan menunduk membuka ponselnya.
"Kita kapan seapartemen, Rio?" tanya Fara pada Valerio.
Valerio menoleh dan tersenyum manis padanya. "Abis tunangan mungkin bisa," jawabnya yang membuat Fara hampir menjerit senang.
"Tapi kamu bilang abis nikah aja?"
"Aku berubah pikiran."
"Aaa gak sabar."
Velyn menatap keduanya bergantian dengan tampang cengo. Ia merasa panas mendengarnya. Apartemen Valerio, ya? Padahal banyak kenangan mereka di sana dan sekarang harus ditimpa oleh Fara yang jelas akan mengukir banyak momen dengan Valerio.
"Vel," panggil Vaden.
"Hm?" Velyn menoleh malas. Energi yang tadi tersuntik karena mi langsung surut mendengar ucapan Valerio.
"Nanti kita ketemu di pelabuhan gimana?"
"Mau ngapain?" Velyn melipat tangannya kembali ke atas meja.
"Ada sesuatu. Kamu mau gak?"
Valerio diam-diam mendengarkan percakapan itu walau ia juga harus menanggapi seluruh perkataan Fara padanya.
"Boleh sih. Tapi malam aja gimana? Soalnya abis ini harus ke kantor papa dulu."
Vaden menepuk kepala Velyn dengan pelan dua kali. "Siap, baby girl."
Velyn bertopang dagu dan memejamkan matanya, lelah menunggu mi yang entah kenapa lama sekali datang.
"Rio. Kamu jadi beli buku The Setting Sun?" tanya Fara, membuat mata Velyn yang terpejam jadi terbuka sempurna.
"Kamu juga suka buku-buku lama?" tanyanya antusias dan Fara hanya mengangguk pelan.
Valerio menatap keantusiasan Velyn dengan hati yang tersenyum senang.
"Iya udah. Nanti aku anter ke rumah kamu, ya."
Velyn yang terkelu jadi terpelongo. Valerio memberi buku ke Fara? Masa? Seberapa besar cinta Valerio ke Fara? Padahal dulu dengannya, boro-boro di kasih, dipinjam saja tidak boleh.
"Makasih, Rio!" seru Fara senang.
Velyn lemas. "Enak banget. Aku dari waktu itu cari buku itu," ujarnya dengan tampang sedih.
"Aku juga punya kali, Vel."
Secepat cahaya Velyn menatap Vaden. "BENERAN?!" Ia bahkan tak sadar suaranya terdengar kencang sekarang.
"Yep. Nanti di pelabuhan aku bawa keduanya. Kappa sama The Setting Sun. Makanya harus dateng."
"SIAP!"
Velyn jadi semangat kembali, amat sangat semangat. Vaden tak pernah keliru dengan ucapannya. Jadi ia pasti benar-benar membawa kedua buku yang terbit tahun 90-an itu.
Velyn yang sudah semangat, semakin semangat saat mi yang ia pesan datang. Astaga uapnya saja sudah terasa di penciuman Velyn. Air liurnya ingin menetes saat piringnya dihidangkan di depannya.
Valerio melirik malas, ia suka Velyn bahagia. Tapi yang kali ini pengecualian. Ia tak suka kesenangan Velyn yang berasal dari Vaden. Andai gadis itu tahu jika buku yang ia beri pada Fara adalah buku tiruan atau palsu dari versi aslinya. Ini dikarenakan Valerio sudah tahu jika sebenarnya Fara tidak suka buku-buku lama, ia lebih suka buku dengan gaya modern. Bisa dibilang, Fara pura-pura memiliki ketertarikan yang sama dengan Valerio.
Harusnya memang Valerio tidak menyimpan buku-buku itu dan berharap suatu saat nanti ia bisa memberinya ke Velyn, tapi salahkah jika ia juga merasa tak rela memberi semuanya pada Fara?
***