9. Sebenarnya Penasaran

1972 Kata
Waktu itu. Sesaat setelah Fara dan Vadentahu jika Valerio dan Velyn menyukai buku-buku lama. Mereka berdua bergerak. Fara tiba-tiba berkata jika ia menyukai buku-buku lama seperti Valerio. Padahal nyatanya tidak sama sekali. Vaden juga bilang jika ia sedikit menyukai buku lama dan akhirnya memutuskan mengoleksi apa saja, mencoba membuat Velyn nyaman dekat dengannya. Pada suatu hari, Valerio tak sengaja mendengar pembicaraan Fara dengan mamanya. Ia mengatakan jika ia sebenarnya tidak menyukai buku-buku dari Valerio. Ia mengatakan jika ia suka hanya karena agar Valerio senang semata. Vaden pun begitu, ia tertangkap basah ketika Velyn bertanya tentang isi buku itu. Awalnya Vaden mengernyit memikirkan jawaban yang tepat untuk Velyn, tapi akhirnya ia menyerah dan mengatakan yang sejujurnya. Velyn tidak marah, hanya heran saja kalau begitu kenapa Vaden mengoleksi semuanya susah payah kalau ia tidak suka? Jadi, faktanya, yang menyukai buku-buku lama hanyalah Valerio dan Velyn. Yang lainnya tidak, hanya menumpang nama. "Vel," panggil Vaden. Ia dan Velyn berjalan bersama di sebuah lorong menuju lift. "Iya?" "Dia, Valerio mantan kamu, 'kan?" Velyn berhenti dan menekan tombol basement di sebelah lift, ia menghadap Vaden dan mengangguk pelan membenarkan. "Kamu seriusan udah tau tentang Fara? Lift terbuka. Vaden dan Velyn sama-sama masuk ke dalamnya. "Tau, sejak aku pulang kemaren juga udah tau." "Aku boleh ngomong ini gak?" Velyn melempar tatapan sengit. "Gimana bisa tau boleh atau enggak kalau kamu aja belum ngomong ke intinya, Vaden," kesalnya. Vaden terkekeh. "Oke oke. Kamu liat deh Fara, dia itu kan bisa dibilang udah cacat ...." Velyn menegang, kecacatannya itu karena dirinya. Vaden menyadari ketegangan Velyn, tapi ia pikir itu karena ucapannya yang mungkin kedengaran merendahkan. "Vel ...." "Eh iya? Kok berhenti ngomong. Kenapa emang?" Vaden berdeham. "Aku gak bermaksud jelek. Cuma yaa Valerio bisa selapang itu gitu loh nerima Fara. Padahal, menurut aku, dari segi sifat, Fara agak minus." Velyn diam. Ia berpikir kalau bisa saja Fara memiliki sifat kurang baik karena kefrutrasiannya tidak bisa berjalan lagi. Dan ... itu semua berawal dari kesalahannya. "Hm, Valerio emang cowok limited edition," jawab Velyn sembari melangkah keluar dari lift, diikuti Vaden dari belakang. "Terus gak pengen balikan sama dia?" Vaden berhenti melangkah, kedua tangannya terlipat. "Aku bisa tau kalau Valerio masih cinta sama kamu. Bisa aja kan kamu balikan sama dia. Lagipula kamu masih cinta sama dia." Vaden penasaran, apa jawaban Velyn akan ucapannya ini. Apa dia akan menolak gagasan itu atau menerimanya? Tapi Vaden ingin Velyn menolaknya, menyanggah kalau ia sebenarnya sudah tidak mencintai Valerio. Velyn berbalik dan melempar senyum pada Vaden. "Udah ada Fara, 'kan? Dia juga keliatan bahagia-bahagia aja. Kalau gitu, aku juga harus bahagia." Dahi Vaden mengerut, apa maksud dari kalimat itu? Membenarkan kalau Velyn masih mencintai Valerio? Diam-diam tangan Velyn mengepal di sisi tubuhnya. "Aku boleh jujur?" tanyanya lirih. "Sebenarnya aku masih berharap Valerio bakal balik ke aku, tapi dindingnya tinggi banget, gak akan bisa. Kayak yang aku bilang, Valerio itu laki-laki yang jarang banget ada di dunia. Sayang banget aku bisa putus sama dia dulu. Tapi yaa mungkin udah takdirnya kali ya." Vaden awalnya terlihat serius mendengarkan kata demi kata yang keluar dari bibir Avelyn. Tapi kemudian ia tertawa, membuat Velyn sebal karenanya. Gadis itu sedang emosional dan Vaden malah tertawa seolah Velyn sedang melucu. "Emang bener kalau laki-laki yang bisa nerima perempuan apa adanya itu jarang. Tapi Vel, hampir semua laki-laki bakalan kayak Valerio kalau dia bener-bener sayang sama satu perempuan. Bakalan terima semuanya," ujar Vaden menyuarakan pendapatnya. Namun sayangnya, Velyn sama sekali tak setuju persepsi itu. "Enggak. Yang bener itu, laki-laki yang bisa terima apa adanya jarang. Kebanyakan laki-laki minta ini itu padahal dia belum ngaca dirinya itu gimana," balas Velyn berseru kesal. Vaden tertawa kencang. "Eh itu kan di sisi kamu. Di sisi para cowok beda kali. Kalau udah cinta ya bakalan terima semuanya. Kamu sendiri tau kan kalau cinta itu buta." Velyn berbalik badan dan mengangkat kedua tangannya ke atas lalu melambai. "Aku. Enggak. Percaya." Ia menoleh ke belakang menatap Vaden sesaat. "Jangan lupa dua bukunya. Aku tunggu di pelabuhan jam delapan," ujarnya memutuskan pandangannya pada Vaden dan melangkah ke arah mobilnya yang terparkir. Vaden tersenyum miring, matanya bersinar jenaka. Velyn tidak percaya? Kalau begitu ia tinggal membuktikannya saja. *** Valerio membawa Fara ke dalam ruangannya lagi. Perempuan itu tidak ingin pulang ke rumahnya dengan alasan tidak ada orang di rumahnya. Sebenarnya, Valerio memiliki banyak pekerjaan penting, ia tidak apa jika Fara kukuh berada di sana. Hanya saja, ketika ia ingin bepergian, Fara kadang melarang. Itu tentu membuatnya terhambat. "Rio. Itu piring siapa?" Valerio terkesiap, astaga ia lupa satu hal itu. Velyn juga tidak mau repot-repot memulangkannya. Sekarang ia harus jawab apa ke Fara? Kalau bilang ia yang makan, tentu Fara tidak percaya. Kapan makannya dan kenapa ia tadi makan lagi di kantin. Apalagi Fara orangnya kritis, ia pasti terus bertanya saat dirasa jawaban darinya belum jelas. "Oh itu. Tadi Velyn bilang dia tiba-tiba laper, jadi makan deh," ujar Valerio yang tidak sepenuhnya bohong. Fara terdiam. "Tapi kamu enggak, 'kan?" "Enggaklah kan piringnya cuma satu." "Siapa tau sepiring berdua." Ide bagus. Sebenarnya Valerio dan Velyn sudah sangat sering melakukannya dulu. Tapi untuk sekarang, sudah tidak pernah sama sekali. "Enggak, kok. Cuma Velyn doang," ujar Valerio melangkah mengambil piring itu dan membawanya keluar. Setelah Valerio keluar, Fara mencengkram pahanya. "Dia gak akan bisa ambil Valerio. Valerio cuma milik aku." Ada yang tak enak di hati Fara. Siapapun pasti bisa memahami perasaan seseorang pada orang lainnya hanya dari tatapan dan nada bicara. Fara melengos ketika mengingat tatapan Valerio pada Velyn tadi, memang hanya sesaat tapi ia bisa paham arti dari pandangan itu. "Padahal udah lima tahun. Padahal dia baru aja pulang," geram Fara dengan mata menyorot tajam. Ada setitik kepercayaan di dasar hati Fara yang terdalam tentang Valerio yang takkan pernah jadi miliknya. Ia tak akan mampu menggantikan posisi maha agung Velyn di hati Valerio. Tapi sayangnya, kepercayaan itu hanya setitik kecil, yang tentunya akan kalah dengan 99% dari bagian hatinya yang terobsesi dengan Valerio, percaya jika Valerio akan benar-benar menjadi miliknya seutuhnya. "Ra. Kok diam aja?" Fara terkejut mendengar suara Valerio yang masuk ke telinganya. Ia terlalu larut dengan kekesalannya hingga tidak menyadari jika Valerio sudah masuk dari tadi. "Oh enggak kok, tiba-tiba kepikiran papa aja," sahut Fara tertawa kecil. Valerio berlutut, ia mengulurkan tangan dan mengusap lembut rambut Fara. Hal yang amat sangat disukai Fara, untuk sesaat biarlah ia percaya sepenuhnya jika Valerio hanya mencintai dirinya. "Kamu jangan sedih-sedih, ntar ngaruh ke kesahatan kamu loh," ujarnya. Valerio bisa merasakan apa yang Fara rasakan. Mamanya sudah tidak ada dalam waktu yang lama dan ia merindukannya. Valerio bahkan terkadang menggenggam foto mamanya dan bercerita tentang harinya di ujung hari. Dulu ketika SMA, ia bercerita tentang Velyn kalau ia sangat mencintainya dan tak ingin kehilangannya. "Kamu jangan pernah tinggalin aku, ya. Aku enggak mau itu terjadi." Valerio mengernyit, baru kali ini Fara mengatakan itu selama tiga tahun terakhir mereka berhubungan. Tapi Valerio tetap mengangguk sebagai jawaban. "Yauda kamu di sini aja. Ada beberapa berkas lagi yang harus aku urus," ujarnya bangkit berdiri dan melangkah ke arah mejanya. Fara tak bereaksi, ia terus menatap Valerio. Ia sudah merencanakan sesuatu di dalam hatinya, yakni kalau Velyn melakukan sesuatu yang keluar dari kesepakatan mereka, maka ia tak segan-segan dan tak menunda-nunda membeberkan tentang kecelakaan itu, terutama pada Valerio. *** Sesuai kesepakatan, Velyn melaju membawa mobilnya ke pelabuhan sebelum jam delapan malam. Ia cukup malas untuk tepat waktu jika sudah memiliki janji pertemuan dengan Vaden. Pasalnya, pria itu selalu tidak tepat waktu, ia pasti datang lebih lambat sepuluh sampai lima belas menit dan pasti hal itu sangat menjengkelkan. Entah apa yang ada di dalam pikiran Vaden saat melakukan itu, tidak tahu tujuannya apa. Bermenit-menit kemudian. Velyn sampai di pelabuhan. Ia memarkirkan mobilnya dekat dengan bibir pantai. Cepat-cepat ia keluar dan bersorak senang ketika angin laut malam menerpa wajahnya.  Rasanya sangat tenang dan ketenangan seperti ini sangat sulit di dapatkan, uang bahkan terkadang tidak bisa membelinya. Velyn kemudian naik ke atas mobilnya, menempatkan dirinya di atas bamper mobil. Melihat ke atas menatap langit cerah bertabur bintang. Kadang, Velyn bisa menjadi seseorang yang melankolis, seperti ini contohnya. Velyn lalu menunduk menatap arloji mini di pergelangan tangannya, sudah jam delapan tepat dan ia harus menunggu sepuluh menit lagi sampai Vaden tiba di sini. Namun, sepertinya ekspetasi Velyn sedikit melenceng saat ini. Karena setalah ia melirik arlojinya, sebuah deru mobil terdengar dari arah kanannya. Velyn tersenyum kecil, ia menoleh ke kanan dan baru saja ingin berseru menyebut nama Vaden kalau saja ia tidak menyadari jika bukan Vadenlah yang datang, melainkan Valerio. "Valerio?" Velyn bangkit berdiri. "Kamu ngapain di sini?" tanya Velyn heran. Valerio tampak berpikir, ia juga membuang tatapannya. "Gak tau." "Hah?" Mulut Velyn terbuka sedikit saking tak percayanya dengan jawaban Valerio. "Aku gak tau. Tiba-tiba udah di sini," ujar Valerio cuek. Velyn tersenyum aneh menatap pria itu. Yang benar saja, masa iya dia tidak tahu kemana tujuannya dan tiba-tiba sudah berada di pelabuhan? Jawaban yang tidak rasional. "Ngapain juga ya disini." Valerio menatap Velyn. "Aku balik aja deh. Duluan ya," ujarnya berpamitan. "Eh tunggu." Velyn menghalanginya. "Kamu enggak sama Fara?" tanyanya melirik ke arah bangku penumpang di dalam mobil Valerio, tidak ada orang disana. "Enggak. Kenapa?" Velyn menghela nafas lega. Baguslah kalau begitu. Ia kemudian menatap Valerio. "Kamu di sini aja dulu, udah jauh-jauh juga kan. Temenin aku sampai Vaden dateng, ntar kalau dia udah di sini, kamu boleh pergi." Velyn asal saja dengan kalimatnya, ia merasa tak perlu menyaringnya. "Sekalian nostalgia. Kita dulu suka ke sini juga kan," ujar Velyn ceria ketika Valerio tidak menyahut kalimatnya. Tapi yang kali ini pun, Valerio juga tidak menjawabnya, membuat Velyn merasa bingung harus memberi topik apa pada pembicaraan ini. "Oh satu lagi." Velyn menatap Valerio dengan senyum lembut. "Kita emang mantan, tapi bukan berarti harus ngejauh, kan? Kita bisa temenan, temen deket. Gimana?" Valerio masih menatap Velyn dengan mulut terkunci rapat. Sebelum kemudian melangkah perlahan mendekati Velyn. Velyn juga hanya terdiam kaku dan bertanya apa yang mau dilakukan Valerio. Masih dengan diam seribu bahasanya, Valerio tiba-tiba memeluk Velyn. Awalnya ringan, seperti pelukan singkat biasanya. Namun, lama kelamaan mengerat hingga Velyn sesak nafas. "Aku kangen banget tau sama kamu." Velyn menegang dalam pelukan Valerio. Jantungnya berdegup kencang. Valerio akhirnya menyuarakan isi hatinya yang ia pendam-pendam. Entahlah, suasana yang tercipta saat ini memberi dorongan agar Valerio mengungkapkan apa yang ia rasakan. "Temanan?" Valerio melepaskan pelukannya. "Yauda kalau itu mau kamu," ujarnya tersenyum menunduk menatap Velyn. Velyn tersenyum kaku, canggung sekali rasanya. Perasaan juga ia yang meminta Valerio mau berteman dengannya. Tapi ketika Valerio menyutujuinya, ia malah kecewa. "Rasanya udah lama banget ya enggak kesini. Kira-kira enam tahun yang lalu," ujar Valerio melangkah ke arah pembatas. Velyn di belakangnya mengernyit. "Jadi kamu enggak kebetulan ya kesini? Emang pengen kesini gitu?" Valerio menghela nafas dan terkekeh pelan. Ketahuan juga. Sebenarnya ia penasaran apa yang mau dilakukan Vaden dengan Velyn di sini makanya ia menyusul. Ingin sekali mengabaikan keberadaan Velyn, tapi masih susah rasanya. "Jadi ...." Valerio berbalik menatap Velyn, ia bersandar pada pembatas. "Kamu punya banyak mantan ya di Aussie?" Velyn tersenyum canggung. "Enggak sebanyak itu sih. Cuma ...." Ia berpikir sesaat. "Cuma delapan deh kalau gak salah. Tiap semester aku selalu ganti." Velyn sudah terdengar seperti seorang play girl sekarang. Tapi percayalah, ia mengencani delapan pria itu hanya ingin mencari yang memiliki kepribadian seperti Valerio. Harusnya ia tidak melakukan itu, ia tahu. Toh yang seperti Valerio di dunia ya hanya Valerio. Hanya ada satu Valerio Gilbert di dunia ini, tidak akan ada yang sama meskipun ia mereinkarnasi dirinya di masa depan. "Kenapa ngelakuin itu?" "Karena--" Ucapan Velyn terhenti ketika sebuah klakson terdengar kencang dari arah belakangnya. Ia pun menoleh dan ternyata Vaden! Pria satu itu membuka kaca jendelanya dan melambai pada Velyn. "Tumben lebih cepet," gumam Velyn tertawa kecil. Vaden turun dari mobilnya dan langsung mengangkat tinggi-tinggi dua buah buku yang sudah sangat ditunggu-tunggu oleh Velyn. "Aaa Vadenn!" Dan Valerio akan bertransformasi menjadi nyamuk kembali sekarang. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN