Vaden dan Valerio saling tatap, mereka seolah berbicara dari tatapan itu. Sedangkan Velyn masih sibuk dengan dua bukunya. Dari tadi terus menciumi bau dari kertas-kertasnya. Ia kemudian menatap cover buku itu dengan lesu, dia ingin pulang sekarang, tidak sabar membaca keduanya lalu membawanya tidur.
"Kalian berdua, aku pulang duluan ya," ujar Velyn menoleh ke arah Vaden dan Valerio.
"Enggak!"
Dua pria itu menjawab bersamaan, membuat keduanya bingung dan saling bertatapan.
"Rio, gue gak bermaksud apa-apa," ujar Vaden mengawali pembicaraan mereka. "Tapi bisa gak lo pergi dari sini. Gue mau ngomong sesuatu ke Velyn."
Valerio bereaksi tak enak. Usiran terang-terangan itu membuatnya kesal. "Tapi gue duluan yang dateng ke sini. Percaya gak percaya, gue sering ke sini buat self-healing."
Velyn mengernyit mendengarnya. Jadi Valerio sering datang ke pelabuhan ya? Self-healing? Dulu kata-kata itu sering diucapkan Velyn ketika ditanya banyak orang tentang apa yang ia lakukan di pelabuhan malam-malam.
"Tapi yauda, gue balik aja." Valerio memberi senyum simpul sebelum berbalik pergi dari sana. Ia tak mengatakan apapun pada Velyn, hanya memundurkan mobilnya dan berlalu meninggalkan mereka berdua.
Tatapan Velyn terus mengikuti arah Valerio pergi sampai Vaden memanggilnya dan menyuruhnya untuk mendekat.
"Emangnya kamu mau ngomong apa sih? Sampai usir Valerio segala." Velyn mendongak menatap Vaden, ia penasaran.
"Ya karena ada yang mau aku bicarain," jawab Vaden sedikit kesal. "Kamu marah gitu aku usir Valerio?" tanyanya ketus.
"Ya kan dia bilang mau self-healing. Kasian aja kan disuruh pergi," jawab Velyn pura-pura bersikap tidak peduli sembari berbalik ke arah pantai dengan buku yang terbuka di hadapannya.
Vaden menghela nafas dan menaruh tangannya yang besar ke atas buku yang terbuka itu. Vaden cepat-cepat berujar ketika Velyn melayangkan tatapan tajamnya.
"Ini gelap-gelapan kamu malah mau baca," ujar Vaden yang membuat Velyn akhirnya menyutujui gagasannya dan akhirnya menutup bukunya.
"Iya deh. Terus apa yang mau kamu bilang?" tanyanya berbalik badan, menyandar pada pembatas.
"Sebenarnya ini ungkapan sih," ujar Vaden dengan ekspresi berpikirnya.
Velyn memandangnya dengan datar. "Jangan bilang kamu suka sama aku." tukas Velyn sebelum Vaden menyuarakan apa yang ia ingin katakan.
"Kok bisa tau?" Vaden terlihat kaget, tapi sebenarnya ia juga merasa lucu Velyn sudah melarangnya lebih dulu.
"Jadi bener?" Dan Velyn juga kaget, membuat Vaden lebih kaget.
"Lah kenapa kaget? Kan kamu udah tau tadi," ujarnya tertawa kencang. "Jadi ya gitu. Sebenernya sih udah lama, cuma kayaknya kamu masih punya rasa ke Valerio ya."
Velyn terdiam tidak menjawab. Ia tak menyangka jika tebakannya ternyata benar. Padahal ia hanya asal saja tadi mengucapkannya.
"Ah gara-gara kamu ungkapan aku jadi enggak ada romantis-romantisnya," tuduh Vaden ketika Velyn masih terdiam di tempatnya.
Velyn mendapat kesadarannya kembali ketika beberapa detik kemudian telah berlalu. "Ya ampun, Vaden. Jadi bener? Padahal aku udah anggap kamu kayak sahabat gitu."
Percayalah jika sebenarnya Velyn merasa canggung sekarang. Tapi ia tidak boleh memperlihatkannya secara terang-terangan atau hubungan ia dengan Vaden akan tidak enak ke depannya.
"Sahabatpun tetep pakai kata kayak, ya," ujar Vaden tertawa. Namun, kemudian tawanya surut. "Emang sih aku udah duga jawaban kamu kayak gitu pas aku ungkapin ini."
Velyn tersenyum lembut, tangannya menepuk punggung Vaden. "Kamu itu sahabat plus kakak buat aku. Dari pertama ketemu, udah ngerasa nyaman, dan mutusin buat jadiin kamu di posisi itu. Btw itu posisi spesial banget loh, enggak ada satupun orang yang bisa jadi sahabat sekaligus kakak selain kamu."
Vaden tersenyum menatap Velyn. Kalau ditanya ia senang atau tidak, maka jawabannya; tentu ia senang. Tapi sepertinya kesenangannya akan bertambah dua kali lipat jika Velyn menjawab rasa sukanya dengan suka juga.
"Tapi kayaknya aku harus ralat ucapan kamu tadi, Vel," ujar Vaden pelan. "Aku bukan suka sama kamu, melainkan cinta sama kamu."
Velyn tertegun, tangannya mendadak kaku dan berhenti di udara sebelum melemah dan terurai di sisi tubuhnya. Ia pun menghela nafas dan menatap ke depan.
"Kenapa gitu sih? Kan jadi awkward sekarang," tawanya, rambutnya melambai ditiup angin malam. "Bener yang kayak kamu bilang, aku masih cinta sama Valerio. Dan buat ngelupainnya, itu susah banget. Udah lima tahun berlalu, aku juga udah kencani banyak cowok, tapi hasilnya tetep aja begitu."
Vaden menatap sisi samping wajah Velyn dengan lekat. "Tapi udah ada Fara di sisi dia sekarang."
Velyn tersenyum pedih, ia mengangguk memahami hal itu. "Aku tau. Aku juga enggak maksa sama perasaan aku."
"Boleh aku jujur tentang perasaan Valerio menurut pandangan aku? Aku rasa Valerio memang masih cinta sama kamu. Tapi walaupun begitu, enggak bisa dibilang kalau Valerio tidak mencintai Fara."
Velyn menoleh dengan cepat. "Jadi dia punya dua cinta di satu hati gitu?"
"Mungkin. Karena aku juga enggak bisa pastiin." Valerio mengambil nafas dalamnya. "Gimanapun ceritanya, kalian udah pisah selama lima tahun dan lima tahun itu enggak lama. Pasti ada bagian dari hati kalian yang udah lapuk dan akhirnya mati."
Velyn tersenyum manis. "Dan yang mati itu akan hidup kembali ketika seseorang spesial yang lain masuk ke dalam kehidupan aku," ujarnya menatap lurus pada Vaden. "Serius deh, posisi kakak sekaligus sahabat itu berarti banget buat aku."
Vaden tak ingin menghancurkan momen ini, tak ingin melunturkan senyum itu. Tapi ia ingin menanyakan satu pertanyaan lagi agar ia bisa mendapat jawaban pasti dari Velyn.
"Jadi kamu nolak perasaan aku nih ya," ujar Vaden pura-pura sakit hati padahal sebenarnya hatinya memang sedang pilu, berduka cita.
Velyn pun ikut berpura-pura sedih. "Kan udah dibilang, jadi kakak sekaligus sahabat itu spesial banget tau," ujarnya dengan bibir melengkung ke bawah, membuat Vaden geli dan langsung menarik pipi Velyn hingga melebar ke kanan.
Baiklah, berarti memang Velyn murni masih mencintai Valerio. Dia tidak apa, sungguh tidak apa. Vaden mencoba memberi sugesti ke dirinya.
"Tapi aku gak akan berhenti, Vel."
"Kenapa? Nanti kamu cape," ujar Velyn jujur. Amat sangat jujur. Ia ... tidak tahu kalau ia bisa menghilangkah Valerio dari hatinya atau tidak.
"Aku enggak cape. Tenang aja. Selagi kamu belum punya siapa-siapa," ujar Vaden dengan mengedipkan sebelah matanya. "Kamu gak perlu khawatir. Enggak perlu juga ngerasa canggung."
"Siapa juga coba yang canggung," ketus Velyn dan melipat tangannya di depan tubuhnya.
"Haha siapa tau kan."
"Tapi kamu juga jangan berubah," perintah Velyn dengan jari telunjuk yang mengacung tepat di depan wajah Vaden.
"Siap!"
Vaden dan Velyn sama-sama tertawa. Seolah tidak ada hal spesial terjadi dan semuanya normal-normal saja. Vaden juga menyalahkan dirinya, ia paham betul Velyn mencintai Valerio tapi ia nekat mengungkapkan perasaannya.
Tapi jika ia tidak mengungkapkan sekarang dan terus menunda, ia akan mati penasaran. Bisa dibilang jika Vaden mencoba keberuntungannya. Tapi masalah cinta memang tidak ada yang beruntung. Semuanya berdasarkan hati dan juga pikiran.
***
"Avelyn. Mukanya jangan gitu."
Velyn sedang merengut, ia lesu dengan tangan bertopang dagu. Jelas saja karena sekarang ia dan papanya di sampingnya sedang menunggu para petinggi lain untuk datang ke ruangan rapat. Kata papanya ia harus belajar menjelaskan dan mempresentasikan dengan cara yang baik dan benar, dan satu-satunya cara terbaik adalah mempraktekkannya langsung. Tapi Velyn sedang tidak mood, ia juga merasa pusing, maka dari itu ia meminta dispensasi dari papanya dan meminta ijin agar ia hanya melihat dan memperhatikan selama presentasi berlangsung.
Tapi masalahnya, ia dan papanya sudah menunggu lebih dari sepuluh menit di ruang rapat dan tidak ada yang masuk ke sana selain mereka berdua.
"Pa, kok mereka lama banget. Apa enggak tau ya kalau ada rapat sekarang," protes Velyn menegakkan kepalanya. Apa mereka tidak tahu jika menunggu adalah hal paling membosankan di dunia?
"Kan emang dimulai pukul sepuluh, Vel. Masih lima menit lagi sebelum semuanya ngumpul."
Velyn ternganga, jadi ia dari tadi duduk di sana, menunggu bosan bukan karena petinggi lain tidak tepat waktu? Melainkan memang belum waktunya?! Kalau saja orang di sebelahnya bukanlah papanya, mungkin Velyn sudah menyiapkan kuda-kudanya.
"Kenapa Papa gak bilang dari tadi?" Keluh Velyn. Ia tidak membawa ponsel juga karena dilarang papanya. Dan sekarang ia sangat bosan tidak tahu mau melakukan apa.
"Kamu enggak nanya. Kalau Papa emang selalu begini, Vel. Papa selalu datang sebelum jamnya dimulai," ujar papa. "Nanti kamu juga gitu, ya. Kadang kita gak selalu bisa on time, Vel. Pilihannya cuma dua, datang lebih dulu atau datang lebih lama. Jadi kita harus profesional dengan datang lebih dulu kalau merasa enggak bisa on time."
Cara papa menjelaskan sangat adem rasanya di hati Velyn. Ia tersenyum dan mengangguk walau tidak tahu ia akan bisa atau tidak seperti itu.
Sepertinya bawahan papanya diisi dengan orang-orang profesional karena sekarang satu persatu dari para manajer, direktur, mulai berdatangan bahkan jarum jam belum menunjukkan pukul sepuluh tepat.
"Kita udah lengkap, Pak. Mau dimulai sekarang?" tanya seseorang yang belum diketahui Velyn siapa namanya.
"Belum. Sebentar, satu orang lagi."
Velyn mengedarkan pandangannya. Memang ada satu kursi lagi yang masih kosong di sana. Lama kelamaan, pukul menunjukkan angka sepuluh tepat. Velyn mengernyit, berarti satu orang ini tidak profesional!
Pintu pun kemudian terbuka. Seseorang yang masuk ke sana sungguh mengejutkan Velyn.
"Maaf, semua. Saya telat," ujar Valerio dengan tampang bersalah.
"Haha enggak papa, Rio. Duduk aja," balas papa dengan senyum teduh. Ia maklum dengan keterlambatan Valerio.
Velyn masih menatap Valerio dan Valerio juga menatap ke arahnya. Mereka saling pandang untuk beberapa detik. Velyn lebih dulu melempar senyumnya. Namun sayang, Valerio tidak membalas senyumnya dan malah pergi begitu saja membuang tatapannya dari Velyn.
Velyn mengernyit melihat itu. Kenapa Valerio tampak cuek? Memang pria itu dari dulu cukup cuek, tapi biasanya ia selalu membalas senyum Velyn. Lalu kenapa kali ini tidak? Apa Valerio tahu jika ia menyebut pria itu tidak profesional tadi?
Rapat itu ternyata tentang proyek yang diemban perusahaan papanya dan Valerio. Keduanya juga membahas tentang strategi pemasaran yang padahal sudah di bahas dengan Velyn kemarin. Ternyata, Valerio belum cukup puas ya dengan hasilnya hingga memutuskan untuk merevisi kesepakatan mereka kemarin.
Velyn memutuskan untuk diam saja dan terkadang memberi pendapatnya ketika di tanya. Ia lebih banyak memperhatikan Valerio dan papanya yang saling beradu pendapat, dan disetujui oleh yang lainnya pada tahap final.
Ketika semuanya selesai dan satu persatu dari yang hadir keluar dari ruang rapat. Papa meminta Valerio untuk tetap di tempat dan Valerio menyanggupi permintaannya.
"Kenapa ya, Om?"
Papa tersenyum. "Om mau tanya, gimana kemarin Velyn? Dia bagus enggak dalam menyampaikan pendapat atau yang lainnya. Coba, Om mau tau."
Velyn menatap Valerio, dalam hatinya memanggil-panggil Valerio agar menatap juga ke arahnya supaya ia bisa memberi isyarat agar Valerio tidak mengucapkan hal-hal lain yang merugikan dirinya. Tapi laki-laki itu sama sekali tidak mau menoleh sedikitpun ke arahnya.
"Dia baik-baik aja, Om," ujar Valerio yang membuat Velyn lega. "Tapi emang cukup lama mahamin, Om."
Velyn menegang mendengarnya. Bibirnya menipis, ia menunduk dan memejamkan matanya. Ia juga lemot karena memikirkan hal Fara kemarin. Dasar Valerio!
"Oh gitu ... tapi dia enggak ada buat masalah apa-apa, kan?"
"Enggak ada kok, Pa." Velyn menyela, ia yang menjawab pertanyaan papanya.
"Iya bener kok, Om."
Papa pun mengangguk paham. "Yauda sekarang kamu boleh keluar."
Valerio tersenyum kecil. "Iya. Duluan, Om," pamitnya tanpa repot-repot melihat apalagi berpamitan dengan Avelyn.
Ketika Valerio sudah menghilang di balik pintu. Velyn dengan cepat bangkit. "Pa, Velyn keluar bentar ya," ujarnya dan pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dari papanya.
Velyn keluar dari ruangan rapat dan mengejar Valerio. Ia memanggil pria itu tapi sayangnya Valerio tidak mau berhenti. Hingga akhirnya Velyn mencekal lengan Valerio hingga pria itu menghentikan langkahnya.
"Kenapa?" tanya Valerio dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Kamu kenapa?"
Valerio mengernyit. Ia menghempaskan tangan Velyn hingga pegangannya terlepas dari tangannya.
"Kamu yang manggil makanya aku tanya kenapa," ujar Valerio. "Kalau enggak ada yang mau ditanya ... yauda aku mau balik. Fara udah nunggu aku di sana."
Bibir Velyn menipis samar. "Enggak. Aku cuma mau tanya kamu kenapa? Ya soalnya kayak beda aja," jawabnya. "Aku pikir ada masalah. Kamu bisa cerita ke aku, kita kan temen."
Sejujurnya Velyn mengatakan itu agar dirinya sadar posisinya sekarang. Tak sepantasnya ia merasa cemburu di hatinya ketika Valerio bilang ada Fara yang sedang menunggunya.
Valerio sendiri tersenyum kecut. "Aku duluan," ujarnya tak menjawab pertanyaan Velyn dan mulai melangkah menjauhi Velyn yang tercengang di tempatnya.
***