Mata Velyn berpendar sedih. Ia tak tahu apa yang terjadi dengan Valerio, tapi yang jelas ia cemas dan penasaran. Mata Velyn terlihat sayu lama-kelamaan. Ia memejamkannya sesaat sembari menarik nafas. Harusnya tidak seperti ini. Tapi! Mereka teman, bukan? Jadi ini mungkin hal normal ketika seorang teman mencemaskan temannya yang lain.
Rasanya seperti sedang membohongi dirinya sendiri. Jika dipikir-pikir, Velyn memang membohongi dirinya sendiri. Namun ia juga tak bisa bergerak seluas mungkin, semuanya terbatas dan ia dihimpit dari segala arah. Masa lalu dan Fara adalah dua hal utama yang paling mendominasi.
Melihat Valerio yang semakin mengecil di pandangannya, membuat Velyn memutuskan berbalik. Tapi begitu ia berbalik, papanya ternyata sudah berdiri di sana dengan sebuah senyum teduh yang selalu mampu menyejukkan hatinya yang gundah gelana.
"Kamu masih cinta dia ya?" tanya papa lembut. "Kamu bisa jawab dengan jujur. Enggak papa. Papa juga paham kok."
Velyn merasa emosional sekarang, matanya berkaca-kaca dan ia hampir tersedak oleh rasa sedih yang tiba-tiba mencuat seketika.
"Iya, Pa," jawab Velyn tertawa pelan, tawa yang menyakitkan. "Tapi lupain aja deh, Pa. Dia juga udah punya Fara. Velyn enggak boleh egois."
"Jalani aja sesuai sama yang kamu inginkan. Tapi inget, sesuaiin sama keinginan yang buat orang di sekitar kamu juga bahagia. Kamu sendiri yang bilang enggak boleh egois, 'kan?"
Velyn melipat bibirnya dan mengangguk beberapa kali. "Iya. Papa bener."
"Kayak yang kamu bilang. Udah ada Fara di sisi Valerio. Walaupun Valerio juga masih cinta sama kamu. Ada Fara yang perasaannya enggak bisa diombang-ambingkan gitu aja."
Velyn tersenyum getir. "Iya, Pa. Velyn juga enggak ada rencana sama sekali buat rebut Valerio dari dia."
"Kamu yakin?" Papa masih melempar senyum teduhnya.
"Iya, Pa."
Papa mengangguk setuju. "Yauda bagus kalau gitu. Masih banyak pria lain, Vel. Kamu cari aja dulu. Yakin aja, kalau udah jodoh, mau gimanapun halangannya pasti bakalan bersama juga di akhir cerita."
Velyn tertawa kecil. Ia mengangguk paham. Ya, segigih apapun dikejar jika bukan jodoh ya sama saja. Kejar boleh, tapi jangan berlebihan. Velyn akan mengingat kalimat papanya.
***
Valerio sedang dalam perjalanan kembali ke kantornya. Ada bayangan tentang wajah Velyn yang terluka. Jika dipikir-pikir, tidak pernah sekalipun Valerio menyakiti Velyn dengan sengaja sejak dulu. Baru kali ini dan ia takkan minta maaf untuk itu.
Valerio menggelengkan kepalanya pelan. Mensugesti diri bahwa ia sudah punya Fara dan seperti itulah berjalan seharusnya, mereka juga akan melangsungkan pertunangan di akhir bulan, jadi sudah sepatutnya Valerio tidak memikirkan perempuan lain selain Fara, apalagi perempuan ini adalah mantannya.
Mungkin Valerio harus sungguh-sungguh menjauhi Velyn dan tidak berkontak apapun dengannya. Dengan begitu, ia semakin mudah menyingkirkan sisa perasaan yang ada untuk Velyn. Tapi Valerio kurang sadar jika sisa perasaan yang ia maksud, tidak sedikit, sisa perasaan yang ia maksud berkisar antara 80-90% dari seluruh hatinya.
Dan jika boleh jujur, cueknya Valerio kali ini bukan semata karena ingin menjauhkan Velyn darinya. Tapi juga karena kejadian tadi malam. Apa-apaan Vaden dan Velyn berduaan saja di pelabuhan, tempat yang rasanya sangat penting dalam hubungannya dengan Velyn dulu. Jelas saja Valerio tidak suka.
Valerio menghela nafasnya dan memutar setir melajukan mobilnya ke arah basement kantor. Di sana ia kebetulan bertemu Vaden. Ia memang melihatnya tapi tidak menyapanya, sedangkan Vaden tidak sadar kalau ada Valerio di sana.
"Rio!"
Valerio membuang nafasnya. Berdecak pelan lalu berbalik badan, baru saja ia berpikir jika Vaden tidak melihatnya. Sekarang pria itu malah memanggilnya.
"Kenapa?" tanya Valerio pelan.
Vaden mendekat ke arahnya dengan cepat. "Enggak ada. Tapi ya ... sori yang tadi malam. Gue gak maksud usir lo kok."
Valerio mengangguk paham. "Gak papa, santai aja," jawabnya.
Vaden tersenyum kecil. "Soalnya Velyn marah-marah ke gue karena nyuruh lo pergi."
"Gak papa."
Mata Vaden menelisik wajah Valerio, pria ini tampak biasa saja seolah tidak ada hal tak enak yang terjadi sebelumnya. Ada yang salah dengannya atau ia memang seperti ini?
"Yauda, gue duluan ya," pamit Valerio ketika Vaden tak mengatakan apapun lagi.
Vaden sendiri menatap punggung Valerio yang menjauh dengan dahi mengerut. Tapi ia kemudian mengangkat bahunya memutuskan tidak memikirkan lebih jauh.
Valerio sendiri terus melanjutkan langkahnya sampai ia masuk ke dalam ruangannya. Sebenarnya tidak ada Fara di sana. Ia berbohong pada Velyn. Valerio kemudian duduk di sofa dan kepalanya menyandar di sana. Matanya terpejam, akhir-akhir ini ia merasa sering lelah padahal tak banyak yang ia lakukan.
Valerio lalu membuka matanya dan menghela nafas pelan. Ia mengecek ponselnya dan tidak ada panggilan ataupun pesan dari Fara, ia bisa bebas sekarang.
Valerio bangkit dan berjalan ke arah meja kebesarannya. Namun, belum juga ia sampai di sana, ponselnya sudah berdering nyaring. Tapi ini bukan Fara, ia tahu karena nada deringnya berbeda.
Valerio merogoh sakunya dengan tak sabar. Siapa yang meneleponnya saat sekarang di mana ia sudah menenangkan dirinya. Valerio menunduk melihat siapa penelepon itu. Bukan nomor yang tersimpan di kontaknya, alias nomor asing.
Valerio memutuskan untuk tidak menjawab dan mensilentkan ponselnya. Si penelepon harus bersyukur tidak di jawab karena biasanya Valerio melakukan yang lebih parah, yakni memblok nomor tak di kenal.
Pria itu kemudian duduk di kursinya, membuka laptopnya dan mulai bekerja. Semuanya berjalan santai sampai ia risih sendiri ketika layar ponselnya terus menyala menandakan orang tadi terus meneleponnya.
Dengan kesal, Valerio mengambil ponselnya dan memutuskan untuk memblokir nomor itu. Tapi jarinya belum menyentuh tombol blokier, ia tiba-tiba kepikiran siapa tahu ini panggilan penting.
Valerio pun menunggu orang itu menelepon lagi, tapi ternyata tidak ada telepon selanjutnya, membuat Valerio melupakannya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
***
Di sisi lain, Velyn sedang memegang sebuah ponsel dengan tangan gemetar. Wajahnya pias dan air matanya meleleh perlahan. Dari ujung lorong, ia mendengar langkah-langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Tapi ia tak sanggup menggerakkan kepalanya.
"Velyn ...."
Velyn merasa dirinya ditarik oleh orang itu. Cukup kuat hingga ia berdiri dan masuk ke dalam pelukannya. Velyn terdiam dan merasa hangat di dalam rangkulan dua lengan itu. Ia memejamkan matanya perlahan dan bulir air mata keluar lagi dari sana.
"Udah gak papa. Semuanya pasti bakal baik-baik aja."
Velyn mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan itu lebih erat. Kedua tangannya bahkan mencengkram punggung Vaden, ingin meluapkan rasa frustrasinya.
"Tapi ...," isak Velyn. "Tapi aku enggak sanggup. Aku ngerasa dipukul dari dua arah," gumamnya dengan air mata yang semakin deras, mulai membasahi kemeja Vaden.
Vaden mengusap lembut punggung Velyn. Sungguh, ia juga bingung karena tangis Velyn semakin deras saja di bahunya.
"Enggak papa. Percaya deh. Papa sama mama kamu pasti baik-baik aja," ujar Vaden berusaha menenangkan Velyn yang terguncang.
Velyn kembali terisak kencang. Padahal tadi papanya baik-baik saja. Tapi ada telepon jika mamanya tiba-tiba masuk rumah sakit karena paru-parunya kembali kambuh. Papa yang punya riwayat serangan jantung tiba-tiba sesak nafas sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit yang sama dengan mamanya dilarikan.
Ini kenapa Velyn bilang jika ia merasa diserang dari dua arah karena tidak papanya tidak mamanya, keduanya sekarang sama-sama jatuh sakit dan itu sangat membuatnya ketakutan.
"Kenapa gini ...." Velyn masih terisak dan tak mau melepaskan pelukan Vaden. Ia merasa nyaman. Di sisi lain ia juga merasa senang karena ia memiliki tempat bersandar yang sungguh ada di saat apapun.
Tadinya, ketika Velyn berada di luar menunggu pemeriksaan selesai. Ia yang tak tahu harus apa, tak tahu harus curhat ke siapa. Akhirnya dengan keberanian tinggi, menelepon Valerio yang nomornya sudah ia simpan di kontaknya. Entahlah tapi sebagian besar dari diri Velyn menginginkan Valerio.
Tapi sayang, Valerio bahkan tak sudi menjawab panggilannya. Sepertinya memang Velyn yang berharap terlalu besar. Setelahnya barulah ia menghubungi Vaden dan pria itu langsung menjawab dalam sekali panggilan, Velyn menceritakan semuanya walau tidak jelas karena ia menangis. Hanya butuh empat menit, Vaden langsung tiba di rumah sakit dan menghampiri Velyn.
Jelas sekarang. Siapa yang selalu ada untuknya, siapa yang tidak. Tapi sebagian kecil hati Velyn menolak gagasan itu karena secara logika, Valerio tentu tidak menyimpan nomor telepon barunya dan mengiranya orang asing. Apalagi Valerio adalah tipe pria yang langsung memblokir seluruh nomor asing, tidak peduli penting atau tidak.
"Yauda sekarang kamu duduk dulu, terus tenangin diri. Semuanya bakalan baik-baik aja." Vaden mengulang sugestinya dan Velyn perlahan melepas pelukannya.
Velyn duduk di bangku dan Vaden duduk di sampingnya. Tak sengaja, dari ekor matanya, Velyn seperti melihat seseorang dan ia menoleh. Tapi orang itu sudah berbalik dan berbelok. Velyn menghela nafas dan menyandarkan kepalanya ke bahu Vaden, air matanya masih mengalir dan Vaden dengan telaten menghapusnya.
Velyn merasa dadanya sangat sesak sekarang. Air matanya semakin kencang melaju turun. Ada dua hal sekarang yang bercokol di pikirannya. Orang tuanya dan Vaden. Velyn terharu, tiba-tiba otaknya mengulang seluruh momen-momen di mana Velyn sedih dan Vaden selalu ada di sisinya. Pria itu menormorsatukan dirinya dan ia? Apa yang ia lakukan untuk Vaden agar pria itu bahagia? Tidak ada.
Bahkan Velyn mampu menolak perasaannya terang-terangan walaupun dengan gaya bahasa yang lembut dan tidak menyakitkan. Tapi tetap saja, judul besarnya adalah menolak.
Tapi, memberi Vaden kesempatan juga rasanya malah menyakitinya karena Velyn dengan sungguh jelas, masih bisa merasakan jika ia mencintai Valerio.
***
Valerio adalah seseorang yang Velyn lihat di ujung lorong, seseorang yang berbalik badan dan menghilang sebelum Velyn sempat melihat.
Valerio memang tidak menjawab ataupun menghubungi balik nomor itu. Tapi karena ia merasa ada sesuatu yang tak enak di hatinya, ia mengecek nomor itu di w******p dan baru mengetahui jika nomor itu milik Velyn.
Tentu saja Valerio kaget. Ia tak tahu apa yang terjadi hingga Velyn menghubunginya berkali-kali. Rasanya ingin menelepon kembali, tapi ia kan dalam tahapan menjauhi Velyn. Egonya besar hingga ia memutuskan untuk diam dan melanjutkan pekerjaannya.
Namun, ia mendapat informasi dari sekretarisnya jika papanya Velyn masuk rumah sakit, beserta mamanya. Ego Valerio seolah musnah begitu saja, hancur lebur menjadi debu. Ia buru-buru bangkit sampai melupakan ponselnya. Ia sudah tahu alamat rumah sakit dan langsung meluncur dengan perasaan cemas luar biasanya.
Di jalan, ia ingin menghubungi Velyn, tapi ia lupa ponselnya. Ia ingin menanyakan keadaan gadis itu dan menyuruhnya untuk menunggunya di sana. Valerio tahu sebesar apa rasa sayang Velyn ke kedua orang tuanya. Ia anak tunggal dan seluruh kasih sayang tercurahkan padanya. Untuk itu, ini pasti hal yang amat sangat berat bagi Velyn.
Bagaimanapun hubungan mereka sudah usai, Valerio tetap ingin menjadi orang yang bisa dijadikan Velyn sebagai tempat bersandar.
Tapi, Valerio harus menerima rasa kecewa ketika ia melihat Vaden sedang berpelukan dengan Velyn. Dari posisinya, Valerio bisa melihat jika Velyn menangis. Ia ingin sekali memeluk Velyn dan menenangkannya. Namun, sepertinya sudah ada Vaden dan itu cukup untuk Velyn. Ia sudah tidak dibutuhkan.
Kedua tangan Valerio mengepal dan ia memutuskan untuk kembali saja, tepat ketika pelukan itu terurai. Valerio berbalik dan langsung melangkah meninggalkan koridor itu. Benar-benar menelan pil pahit, Valerio kembali ke kantornya dengan perasaan campur aduk.
***