Avelyn tidak tahu ia harus apa dan bagaimana ia mengungkapkan rasa bersyukurnya karena dokter bilang kedua orang tuanya akan baik-baik saja. Bahkan mamanya sudah sangat fit, bisa berjalan kesana-sini dan bahkan memarahinya karena Velyn terus-terusan menangis.
"Vel, udah dong nangisnya. Nangis mulu," protes mama dengan wajah pura-pura kesal. Wajah mama masih terlihat pucat walau sedikit.
Velyn mengusap air mata yang menumpuk di ujung matanya dan terkekeh pelan. "Makanya Mama sama Papa jangan sakit-sakit dong. Velyn kan jadinya sedih," ujar Velyn dengan suara serak. Menatap bergantian antara papanya yang terbaring di atas ranjang dan mamanya yang duduk di samping papanya.
Papa hanya tersenyum kecil dan mamanya melayangkan tatapan menyelidik. "Mama liat dari kemaren-kemaren kamu sama satu cowok, siapa? Kamu enggak ada kenalin dia ke Mama atau Papa."
Velyn ber-oh ria. "Itu Vaden. Dia sama Velyn ketemunya pas di Aussie. Dia senior Velyn, orang yang juga selalu bantu Velyn," jelasnya jujur.
"Kamu ... enggak ada perasaan gitu ke dia? Maksud Mama perasaan khusus?" tanya mama dengan pandangan penasaran. Tapi bukan hanya itu, mama juga tampaknya tertarik dengan bahasan ini.
"Tunggu," ujar papa menyela percakapan mereka. "Vaden Valo maksud kamu?"
Ekspresi mama berubah dalam sekejap, seperti melihat makhluk tak kasat mata. "Yang punya Valo Tower, bukan!" seru mama alih-alih bertanya.
Velyn mengangguk membenarkan. "Ya gitu, Ma, Pa. Walaupun Velyn masih agak kurang percaya kalau Vaden yang punya gedung itu. Soalnya dia tuh biasa banget, enggak kayak pemilik perusahaan lain yang gayanya kadang too much. Terus pasa di Aussie, dia ngakunya kalau dia orang kurang pinter yang kebetulan kuliah di sana. Jadinya kan pas Vaden bilang dia yang punya Valo Tower, Velyn kurang percaya."
Mama tertawa. "Jadiin pelajaran. Kita gak bisa nilai seseorang cuma dari luarnya doang."
Velyn mengangguk-angguk paham.
"Jadi, kamu belum jawab pertanyaan Mama tentang perasaan ...." Mama melempar tatapan seolah beliau adalah debt collector yang sedang menagih hutang pada Velyn.
"Cuma temen, Ma," jawab Velyn malas. Mamanya kadang suka kepo, walaupun itu pertanda jika mama memperhatikan dirinya. "Em lebih tepatnya tuh, sahabat plus kakak sih, Ma. Soalnya orangnya tuh baik banget parah. Velyn enggak tau bakalan gimana kalau kehilangan Vaden."
Mama melirik papa dan papa melirik mama. Mama kemudian menatap Velyn dengan senyum lembut. "Mungkin kamu belum sadar, kalau sebenernya kamu udah punya rasa ke Vaden. Percaya gak percaya, kamu bakalan ngerasain itu ketika Vaden pergi dari sisi kamu."
Tapi memang sepertinya Velyn belum mengerti betul, ia bahkan sekarang melempar tatapan sebal ke mamanya. "Mama jangan bilang gitu, ntar Vaden jadi beneran pergi."
Mama memberi tatapan mengejek dengan bibir melengkung ke bawah. Anaknya masih terlalu terpaku dengan Valerio jadi ia belum sadar dengan perasaannya pada Vaden yang sebenarnya sudah mulai tumbuh.
"Kamu enggak cek perusahaan?" tanya papa mengganti topik pembicaraan mereka.
Velyn mengangguk. "Udah, Pa. Tadi pagi. Pak Gilang bagus kok, tangan kanan Papa itu emang keren," ujar Velyn mengacungkan ibu jari tangan kanannya.
"Tapi dia cuma jadi pengganti sementara. Pengganti selamanya itu ya kamu, Vel."
Velyn tahu itu. Tapi entah kenapa perkataan papanya seperti memiliki makna ganda. Seolah papanya akan pergi selamanya.
"Tapi Velyn gak terlalu mahir, Pa. Makany Papa harus tetep sehat biar selalu bisa nyokong Velyn dari belakang," ujar Velyn cemberut. "Kalau Velyn sendiri, yang ada perusahaan bisa terancam, Pa."
"Makanya kamu seriusin belajarnya dari sekarang."
Velyn mengernyit, bukan itu yang ia ingin dengar. Melainkan ia ingin dengar papanya menjawab kalau ia tentu membantu Velyn.
"Proyek sama Valerio, gimana?"
Velyn mengangguk dan mengacungkan ibu jari tangan kirinya. "Aman, Pa. Pak Gilang udah atur semuanya."
"Bukan Pak Gilang. Tapi kamu. Pak Gilang pasti cape urusin semuanya."
"Emang kenapa harus Velyn, Pa?"
"Emang kenapa kalau kamu?" Mama yang menjawab.
Velyn terdiam dengan mulut terkunci rapat. Kalau sudah begini, ia tak bisa berkutik apapun lagi. Ia tentu menghindari Valerio. Meminta Pak Gilang untuk membereskan masalah proyek dengan Valerio alih-alih dirinya yang menangani.
"Biar Mama yang jaga papa. Kamu ke kantor aja bantuin Pak Gilang," pinta mama dengan pelan.
Avelyn mengangguk dan berdiri dari duduknya. Ia berjalan ke arah mama dan mencium pipinya, begitupun papanya. Setelahnya ia keluar dari sana.
***
Firasat papa sepertinya memang benar karena sekarang, Pak Gilang sedang tampak kesusahan menangani semuanya. Beliau bahkan langsung memanggil Velyn ketika matanya menangkap sosok Velyn sedang berdiri tak jauh dari sana.
"Avelyn. Syukur kamu datang," ujarnya terlihat sangat lega.
"Kenapa, ya, Pak? Ada yang bisa saya bantu?" Velyn menawarkan diri dengan lapang d**a, ia berempati melihat Pak Gilang yang memijit-pijit pelipisnya.
"Ada berkas yang harus ditanda tangani Valerio. Tapi katanya dia sakit dan enggak ada di kantornya. Di susul ke tempat tinggalnya juga enggak ada. Padahal ini urgent, enggak bisa ditunda."
Velyn langsung tahu apa maksud dari Pak Gilang. "Saya cari Valerio aja, Pak," ujarnya langsung. "Berkasnya mana ya, Pak?"
Wajah Pak Gilang langsung cerah, ia memilah-milah berkas yang bertumpuk di sana lalu memberi pada Velyn ketika mendapatkannya.
Velyn menunduk melihatnya. Ada dua kolom tanda tangan di sana, papanya sudah mengisi di salah satunya dan tinggal Valerio saja. Velyn kemudian pamit undur diri dan keluar dari ruangan itu.
Tidak ada cara lain, satu-satunya cara adalah menelepon Valerio. Velyn tidak yakin jika nomornya tidak di blokir, tapi ia akan mencoba.
Velyn menekan kontak Valerio yang belum ia beri nama dan mendekatkan ke telinganya. Suara operator; nomor yang anda hubungi sedang sibuk pun langsung bertamu di telinganya.
Mungkinkah Valerio sudah memblokir nomornya atau dia sedang ada panggilan dengan orang lain? Velyn berniat ingin pergi ke apartemen Valerio. Namun tiba-tiba logikanya bertindak. Valerio mungkin sedang ada panggilan, bisa saja itu sekretarisnya, bukan? Pak Gilang juga pasti sudah memberi tahu sekretaris Valerio terkait hal ini. Kalau memang begitu, ia tak perlu repot-repot ke apartemen Valerio, bukan?
Pikiran Velyn buyar ketika ponselnya berdering, ia mengangkat tangannya yang memegang ponsel dan matanya langsung membesar begitu sadar jika yang meneleponnya adalah Valerio.
Tidak biasanya Valerio menelepon balik nomor asing yang tiba-tiba masuk ke ponselnya. Apa ia tahu kalau yang meneleponnya adalah Velyn?
Tak bisa berpikir lebih lama, Velyn cepat-cepat menjawab telepon itu.
"Kenapa?"
Velyn mengerjap. Valerio benar-benar tau ini dirinya, ya. Bagaimana bisa?
"Kamu di mana?" tanya Velyn langsung.
"Apartemen."
"Tapi katanya kamu enggak di sana tadi." Velyn mengernyit heran.
"Iya tadi aku cari makan."
Suara Valerio terdengar serak, ia betulan sakit ternyata. Selama ini, Velyn tidak pernah melihat seorang Valerio sakit, dan rupanya pria itu bisa juga dilanda sakit.
"Ada berkas yang harus kamu tangani," ujar Velyn. "Aku kasih ke sekretaris kamu aja, ya. Pas kamu udah sembuh, langsung tanda tangan aja."
"Berkas?" Valerio menjeda ucapannya. "Itukan harus hari ini, ya. Yauda tunggu aja di sana, aku ke sana sekarang."
Velyn terkesiap. "Tapi kamu sakit," ujarnya panik.
"Udah jangan berisik."
Velyn terlihat kesal. Valerio kenapa? Ia jutek sekali akhir-akhir ini.
"Aku yang kesana. Kamu stay. Aku udah di mobil. Bye!"
Velyn memutuskan sambungan telepon dan berjalan cepat ke arah lift. Daripada Valerio yang nekat membawa mobil sendiri padahal ia sedang sakit dan bisa saja hal yang tak diinginkan terjadi, lebih baik ia yang ke sana, Valerio tanda tangan dan semuanya selesai.
***
Valerio memang tadinya sedang membeli beberapa bahan makanan. Ia juga menerima telepon dari Fara. Perempuan itu mencemaskannya dan ingin bersamanya, merawatnya. Tapi sayangnya, Fara sedang berada di luar kota. Ia tidak bisa ada di sisi Valerio secepat mungkin.
Valerio tahu Velyn menghubunginya, karena itu menghubungi balik siapa tahu ada yang penting. Ia tidaka ingin kejadian beberapa hari yang lalu terjadi lagi. Kalau dipikir-pikir pun ia jatuh sakit karena kejadian itu. Pikirannya terlalu kemana-mana tentang Vaden dan Velyn hingga akhirnya ia pusing dan demam.
Valerio menelepon Velyn dengan sebelah tangan yang mengaduk mi di atas panci. Ketika panggilan terputus dan Velyn berkata ia akan ke apartemennya. Entah kenapa tangan Valerio bergerak otomatis mengambil satu bungkus mi lagi dan menuangkannya ke dalam panci. Di dalam kepalanya sudah ada bayangan Velyn yang bersamanya di dalam apartemennya.
Entahlah, tapi Valerio sangat rindu dengan momen itu.
Untuk sesaat, Valerio memang merasa ia mengkhianati Fara karena dengan tega masih memiliki perasaan cinta pada Velyn. Tapi, seperti yang Velyn bilang, bukankah mereka teman? Tapi apakah ini tidak terdengar seperti ia yang bersembunyi dalam kata teman?
Valerio menghela nafas, kepalanya berdenyut nyeri sekarang. Ia menunduk dan melihat mi yang ia masak sudah matang, ia kemudian mematikan api dan menuangkan mi dari panci ke dua mangkuk yang sudah ia siapkan.
Valerio diam di tempat. Ia berpikir, apa Velyn sudi masuk apartemennya lagi? Bagaimana kalau tidak? Ah ia akan kecewa pastinya.Apalagi ia sudah menyiapkan dua mangkuk mi dengan harapan bisa memakannya bersama Velyn. Kalau tidak sesuai dengan ekspetasinya, ia pasti merasa ada yang tak enak di hatinya.
Apa ia kasih tetangga saja, ya?
Valerio masih sibuk berpikir ini itu ketika bel apartemennya berbunyi. Ia berbalik badan dan mengernyit samar.
"Dia udah dateng?" gumamnya bermonolog. "Cepet banget." Valerio membawa dua mangkuk tadi ke meja di ruang tamu.
Ia tidak mau pusing lebih lama. Jika Velyn hanya butuh tanda tangan lalu pulang, ia juga tidak apa. Mi itu bisa ia habiskan sendiri atau ia kasih tetangga, itu pun kalau mau.
Di sisi lain, Velyn sudah cukup kesal karena Valerio lama sekali membuka pintunya. Tidak tahukah pria itu jika ia sudah sangat kehausan, tenggorokannya terasa kering sekali.
Sekali lagi Velyn menekan bel apartemen, barulah Valerio membuka pintunya. Pria itu berdiri di depan pintu dengan sebelah tangan memegang pena. Ia bahkan sudah mengisyaratkan Velyn untuk jangan masuk?! Velyn melipat bibir semakin kesal padanya.
"Mana dokumennya?" Tangan Valerio menengadah, meminta berkas itu.
Velyn menghela nafas dan memberi Valerio apa yang ia inginkan. Tapi, ketika Valerio sedang mencoret kertas itu dengan tanda tangan penting miliknya, Velyn mencium sesuatu yang hidungnya tidak bisa untuk tidak peka.
Velyn memiringkan kepalanya dan mengintip sesuatu di belakang Valerio dari sela tangan pria itu. Mata Velyn membesar, ia kemudian mendongak pada Valerio dengan keinginan besar di matanya. Astaga, ia melihat jelas ada dua mangkuk di atas meja dengan asap yang mengepul. Di tengah rasa haus dan lapar yang tiba-tiba datang, siapa yang tidak mau!
"Kenapa?" tanya Valerio pelan, dahinya mengerut melihat Velyn yang menatapnya seperti anjing tetangga yang meminta makan.
Velyn tersenyum miring. Bermimpi saja Valerio mengijinkannya masuk.
"Udah selesai? Aku harus pergi lagi," ujar Velyn berjinjit melihat berkas yang Valerio pegang.
Valerio itu memang tipe pria yang memiliki tinggi lebih dari tinggi rata-rata pria negara ini. Velyn yang 163cm saja masih setara dengan bahunya.
Valerio yang melihat Velyn berjinjit berusaha mengintip tanda tangannya pun dengan cepat mengangkat kertas itu tinggi-tinggi. "Nanti kan bisa liat," protesnya.
Velyn mendesah malas. "Cepet dong. Tanda tangan doang lama banget." Velyn berseru kesal. Perutnya sudah berbunyi minta diisi tapi Valerio malah terlihat melambat-lambatkan tanda tangannya.
"Bentar."
Velyn memejamkan matanya. "Aku di sini aja gitu? Gak kamu tawarin masuk?" tanya Velyn berani, ia tak tahan dengan aroma mi. "Eh, ada Fara di dalam, ya?" Lanjutnya melirik ke dalam apartemen Valerio.
"Enggak ada. Dia besok baru ke sini."
Lega mendengarnya. Velyn ingin bersuara kembali, tapi tiba-tiba Valerio memundurkan tubuhnya dan berdiri menyamping membelakangi pintu. Matanya fokus ke arah kertas dan ia tak mengucapkan apa-apa.
"Kenapa berdiri aja? Katanya mau masuk," gumam Valerio masih tidak menatap Velyn.
"Oh? Oh iya. Kamu jahat banget biarin tamu di luar gitu aja," lirih Velyn sembari masuk ke dalam apartemen Valerio.
Valerio melirik punggung Velyn sesaat sebelum menutup pintu apartemen. Ia sudah selesai dari tadi membaca dan menanda tangani dokumen itu. Ia hanya memperlambat saja.
Velyn sendiri bersikap seolah itu adalah apartemen pribadinya. Ia berjalan cepat ke arah sofa dan segera duduk di sana, bahkan Valerio belum menawarkannya.
"I-ini mi punya kamu semua?" tanya Velyn menunjuk dua mangkuk mi itu bergantian. Ia tersenyum pada Valerio.
"Hm." Valerio menggumam. Ia duduk di depan Velyn dengan sebelah kaki menumpu pada kaki lainnya.
Velyn mengerjap, Valerio hanya bergumam dan tidak mengucapkan apapun lagi. Akan aneh rasanya jika ia meminta satu mangkuk darinya begitu saja.
"Emang kamu habis sebanyak ini? Biasanya kan enggak," ujar Velyn melipat tangannya.
"Emang enggak," jawab Valerio mengambil satu mangkuk mi di tangannya. "Satunya lagi buat kamu," lanjutnya pelan.
Velyn merasa hatinya berbunga-bunga seketika. Seperti melayang di udara dengan awan-awan putih yang mengelilinginya. Velyn kemudian berseru. "Aaa! Makasih, Vale!"
***