Anna masih menangis di bahu Marie. Mereka sudah masuk ke dalam kamar dan duduk di samping tempat tidur. Alan masih belum sadarkan diri, itu membuat Anna makin khawatir. “Dia sangat tampan, kau beruntung memiliki bayi seperti dia” Marie membiarkan cucunya menangis, dia mengelus rambut Anna dengan penuh kasih sayang. Tanpa sadar air mata mengalir dari sudut matanya. Cucunya kesayangannya sudah memiliki seorang putra dan keturunan dari keluarga terpandang. Dia sangat bersyukur dan berharap ke depan hidup Anna jauh lebih baik. * “Apa yang kau lakukan Anna?” Marie menaruh belanjaannya di sembarang tempat dan langsung menghampiri gadis kecil yang tengah membersihkan lantai. “Nenek.., hiks...,hiks...” Anna langsung memeluk pinggang neneknya, rambut dan bajunya basah. Marie bertanya-tanya a

