Setelah beberapa waktu menunggu, pintu pun terbuka. Tampak asisten Steve bersama seorang pria paruh baya yang tak lain ialah tuan Darren Wilson, manajer PR di perusahaan milik keluarga Howard.
Tampak banyak bicara, Steve mempersilahkan tuan Darren untuk duduk. Awalnya Darren sedikit ragu karena yang menyuruhnya duduk bukanlah si CEO perusahaan, Carl. Tapi melihat reaksi Carl yang tidak keberatan dengan perintah asisten Steve untuk menyuruhnya duduk, akhirnya lelaki berkepala hampir 5 ini pun duduk.
Sejenak Darren merasa tak enak dan seperti ada sinyal bahaya tatkala pandangan matanya beradu dengan tatapan tajam nan dingin dari balik mata biru milik Carl. Dia memang selalu berusaha untuk menghindar selama ini agar tidak terlalu terlibat obrolan serius bersama sang CEO. Pasalnya tuan muda kedua keluarga Howard ini sedikit berbeda dengan tuan muda pertama, ia sulit tersentuh orang lain.
“Tuan Darren tahu apa kegarangan Anda saya panggil ke ruangan ini?” nada suara dingin dan rendah milik Carl seketika membuyarkan lamunan Darren.
“Ah..., em.., ti..., tidak pak” jawab Darren
“Hahaha, jangan terlalu takut tuan Darren” balas Carl dengan seringai di wajahnya
“Steve..”
“Baik bos” balas Steve dengan segera pergi meninggalkan mereka berdua
Saat ditinggal oleh Steve, Darren merasa suasana semakin mencekam, hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Namun, tak lama kemudian asisten Steve pun kembali masuk dengan membawa sebuah map berwarna biru yang isinya sama sekali tidak diketahui oleh Darren.
“Ini bos” ucap Steve sembari meletakkan map tersebut di atas meja tepat di hadapan Carl dan Darren
“Silakan di buka tuan Darren” titah Carl.
“Hah..?, sa..., saya?” tunjuk Darren kepada dirinya sendiri
“Ya..” balas Carl
Dengan sedikit gugup Darren mengikuti kemauan Carl. Pria itu perlahan membuka map dengan perasaan yang tak enak dan rasa penasaran yang besar.
“APA...!” teriak Darren terkejut, lalu ia segera menutup mulutnya
“Kenapa tuan?” tanya Carl
“Ah..., em..., pak..”
“Terkejut?” tanya Carl kembali
Darren hanya diam, dia tak tahu harus berbuat apa sekarang. Baru melihat sekilas isi map berwarna biru itu saja ia sudah kaget bukan main. Pasalnya di dalam map itu tertera bukti-bukti kejahatan yang selama ini ia lakukan. Bukti pengkhianatannya terhadap perusahaan, ada foto, bukti transaksi berupa koran bank, dokumen palsu, dan masih banyak lagi.
‘Tamatlah sudah’ ucap Darren dalam hati
“Tu...., tuan.., saya bisa..”
“Bisa apa..!” potong Carl
“Maafkan saya tuan, tolong maafkan saya” ucap Darren dengan mata yang memerah dan kepala menunduk. “Tolong maafkan saya, saya melakukan ini semua demi keluarga saya, demi anak saya yang sedang membutuhkan dana untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang aktor dan model” lanjut Darren.
“Apa hubungannya denganku” ucap Carl
“Tolonglah tuan, jangan hukum saya atau melaporkan saya, beri saya kesempatan agar saya bisa memperbaiki semuanya” ucap Darren masih memohon ampun
“Jaminannya?” tanya Carl, ‘Kena kau sekarang, sebentar lagi kau akan masuk ke perangkap ku’ batin Carl dengan seringai di wajahnya.
“Ha..?, ma..., maksud tu.., tuan?” tanya Darren tak mengerti
“Ya.., aku perlu jaminan untuk tidak memberikan sanksi kepadamu. Bagaimana dengan putrimu?, ya hitung-hitung untuk membayar semu kerugian yang dialami perusahaan” ucap Carl
Mendengar itu semua Darren hanya diam tanpa merespons, ia masih belum sepenuhnya mengerti maksud dari atasannya ini.
Melihat itu Carl pun kembali berbicara, “Bagaimana dengan putrimu?, dia bisa jadi pemuasku di ranjang, bukankah penyebab kau melakukan ini semua semata-mata demi dia” ucap Carl
Ah, sekarang Darren mengerti, kalau hanya sekedar memberikan putrinya itu bukanlah masalah yang besar. Terlebih yang meminta saat ini adalah tuan muda dari keluarga yang cukup terpandang di kota ini. Selain itu, Carl juga pria yang sempurna, tampan dan memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Lalu apa yang membuat putri tidak tertarik. Dia yakin Catherine pasti juga tidak keberatan.
“Jika memang tuan menginginkan putri saya, saya akan berikan dia kepada tuan. Catherine merupakan gadis yang pintar juga berbakat, selain itu dia juga baik tuan. Perihal can..”
“Cukup..!” potong Carl, “Apa kau hanya memiliki satu putri?” pancing Carl
“Ah..., em..., it.., itu..” jawab Darren sedikit gugup
“Apa..?” tanya Carl
“Sa..., saya hanya memiliki satu putri tuan” ucap Darren gugup
“Benarkah?, kau masih ingin berbohong” jawab Carl
“Ah..., em...”
“Kau tahu kan siapa aku?, siapa keluarga Howard” potong Carl
“Maaf tuan” jawab Darren sambil menunduk, “Saya memang memiliki satu putri lagi, dia anak saya bersama istri pertama saya. Tapi.., sekarang dia sudah tidak tinggal bersama kami” lanjut Darren
“Sekarang dia di mana?” tanya Carl, berusaha mencari informasi mengenai keberadaan Anna saat ini
“Em..,” Darren sedikit ragu untuk mengatakan di mana keberadaan Anna. Putri pertamanya itu sudah lama tak tinggal bersamanya dan di mana dia saat ini hanya keluarga yang boleh tahu. Hal itu berdasarkan saran dari istrinya agar kondisi kehamilan Anna yang tanpa suami tidak diketahui oleh orang lain. Sudah cukup mereka menanggung malu karena sudah ada beberapa orang yang mengetahui hal tersebut.
Sedikit ironi memang, alasan yang dibuat oleh ibu tiri Anna. Bukankah negara tempat mereka tinggal merupakan negara bebas, hamil tanpa ikatan pernikahan bukanlah hal yang baru di lingkungan mereka. Terlebih apa kata ibu tirinya, malu?. Malu dengan siapa?, orang-orang di sekitar mereka merupakan orang-orang yang sibuk dengan urusan pribadi dan tak punya waktu untuk memperhatikan orang lain. Jikalau mereka semua peduli dengan nasib tetangga, mengapa dulu Anna tak pernah ditolong saat mereka melihat ibu tiri Anna menyiksa gadis berkulit eksotis itu.
“Baiklah...” Carl terdiam sejenak, kemudian ia menatap asisten Steve sembari berkata “Steve, tolong hubungi 911” ucap Carl
“Ha..!” ucap Darren kembali terkejut. “Tu..., tuan” sepertinya tenggorokan Darren mulai tercekat
“Tuan..., apakah Anda menginginkan putri saya yang lain?” tanya Darren
Carl diam sebentar dengan raut wajah datar, lalu ia pun berkata “Ya, aku menginginkannya, kau harus memaksanya untuk tinggal bersama ku, bagaimana pun caranya bawa dia untukku” jawab Carl dengan nada suara datar, “Aku tunggu sampai besok, kalo tidak..., siap-siap saja kau” ancamnya
“Tapi.., tuan, putri saya itu se...”
“Aku tak peduli apa pun, yang jelas bawa dia kepadaku...!” bentak Carl
“Ba.., baik tuan” balas Darren dengan cepat
“Sekarang kau boleh pergi. Ingat..., bawa dia paling lambat besok pagi ke padaku. Untuk masalahmu, ini kesempatan terakhir, jika kau masih berbuat curang, maka kau akan terima akibatnya” sekali lagi Carl mengancam Darren dengan tatapan tajam.
“Baik tuan” balas Darren dengan cepat dan langsung bergegas pergi
“Awasi dia Steve” titah Carl setelah melihat Darren keluar dari ruangan
“Baik bos”.
***
Salam sayang dari author, jangan lupa
1. Masukkan ke library
2. Like and Komen