Rencana Konyol
"Aku mau punya anak. Tapi aku tidak mau menikah. Aku juga tidak mau anak adopsi. Aku hanya mau anak yang lahir dari rahimku!"
"Ya, Tuhan. Pemikiran macam apa ini?"
*
Selelah apapun, seberat apapun pekerjaan yang ada jika kita mencintainya maka tidak akan terasa. Yang ada justru kita semakin senang dan jatuh cinta dengannya. Lain halnya jika tidak menyukai pekerjaan tersebut, seringan apapun pasti justru akan terasa berat dan melelahkan.
Jelasnya, semua yang ada di hidup ini perlu disesuaikan dengan keinginan pribadi, bukannya mengikuti arus dunia. Jika mengikutinya yang ada kita hanya akan diperbudak dunia, padahal kita sangat bebas mau bertindak bagaimanapun juga. Dunia tidak semestinya diikuti, namun sekarang ini keadaan sangat tidak terduga.
Banyak yang pada akhirnya memilih untuk memanjakan diri usai dihadang dengan beragam pekerjaan. Banyak hal yang dilakukan dan semua hal itu kembali disesuaikan dengan diri sendiri. Jelasnya, apa yang dilakukan itu mampu mengurangi penat, meski tidak mengurangi sepenuhnya. Namun, ini benar-benar sudah lebih dari cukup.
Dua perempuan itu sedang berhadap-hadapan dibatasi oleh meja bundar yang terdapat dua caramel macchiato dan dua potong kue cokelat. Perempuan yang sama-sama menjadi jurnalis di sebuah stasiun berita.
Ini merupakan cara mereka berdua memanjakan diri usai seharian digeluti pekerjaan yang seolah tidak akan pernah selesai. Mereka memang merasa lelah dan berat sekali menjalaninya, namun tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sebenarnya dalam diri berseru bahwa mereka senang dengan pekerjaan yang sedang digeluti. Hari ini merasa lelah, begitu pula dengan hari selanjutnya, tapi keduanya tidak akan pernah menghentikan suatu hari. Hal itu dikarenakan keduanya terlampau jatuh cinta dengan pekerjaan yang melelahkan tersebut.
Mereka terdiam beberapa saat membiarkan penyanyi di kafe itu melantunkan sebuah lagu indie—lagu bermakna dalam yang cocok sekali dengan senja kala itu. Meski suaranya tidak merdu, namun semuanya tetap menghargai. Sama halnya dengan dua perempuan itu. Mereka tetap duduk di sana mendengarkan apa yang memang bisa didengar.
Biasanya suara penyanyi kafe itu merdu, hanya saja kali ini tidak. Maklum, ganti penyanyi. Penyanyi yang baru itu agaknya masih demam panggung karena belum terbiasa dengan situasi yang ada, oleh karenanya suaranya juga terdengar bergetar seolah menahan sesuatu yakni rasa grogi.
Memasuki dunia baru memang tidak semudah yang dibayangkan. Banyak hal yang perlu diadaptasi, perlu dipahami, dan perlu pula untuk dicintai sebelum melanjutkan ke hal berikutnya.
Dua perempuan itu jadi teringat pertama kali mereka memasuki dunia jurnalistik yang sesungguhnya. Banyak hal di luar dugaan dan juga membuat kesulitan beradaptasi. Namun, pada akhirnya mereka mampu menaklukkan dunia tersebut. Mereka bahkan sudah terlampau jatuh cinta dan enggan untuk keluar dari dunia jurnalistik.
"Ay, Kenapa kamu masih menghindari Gading, sih? Kasihan dia udah setengah tahun ini berusaha ngedeketin kamu, tapi kamunya cuek terus," ujar Rena, membuka obrolan.
Sedari tadi obrolan memang belum dibuka. Mereka masih asyik berdiam diri karena tubuh juga meminta untuk berdiam diri sejenak. Sudah cukup lelah hari ini, maka dari itu agak enggan untuk bercakap-cakap lebih.
Sahabat yang kini menyantap kue cokelat itu hanya menatap sekilas dan tersenyum cuek usai pertanyaan yang sekaligus membuka obrolan di antara mereka berdua itu dilontarkan. Bosan karena obrolan mereka pasti diawali dari lelaki yang tidak disukai sama sekali.
"Ay!" Rena menggertak. Dia teramat kesal karena Ayla tak kunjung menyahuti perkataannya.
"Apa?"
Pada akhirnya Ayla menyahut. Ya, begitulah. Dia agak judes. Tidak banyak bicara jika memang hal yang perlu dibicarakan tidak sesuai dengan dirinya.
"Kamu nanti pasti nyesel kalau Gading pergi. Mumpung belum pergi, kamu coba deh balas perasaannya dia. Pelan-pelan aja...."
Tawa justru keluar. Ayla merasa geli dengan perkataan sahabat satu-satunya itu. Dia merasa Rena sedang bercanda karena dia seperti lupa ingatan. Padahal Rena tahu benar bagaimana Ayla yang sebenarnya. Tapi tidak tahu kenapa kali ini Rena tetap saja mendesak seolah tidak tahu hal yang mendasar.
Di sisi lain, Rena yang justru melihat Ayla tertawa jadi kalang kabut. Dia rupanya tidak lupa dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Ayla. Hanya saja dia juga tidak bisa mengontrol dengan baik.
"Aku sebentar lagi udah mau nikah, masa kamu satu cowok aja belum ada, sih?"
Rena segera mencari topik lain yang sekiranya nantinya tidak akan membuat Ayla marah. Dia jadi teringat dengan sebelumnya yang mana Ayla pernah marah besar karena dia terus saja mendesak untuk membukakan hati pada lelaki.
"Aku tidak tertarik sama cowok," jawab perempuan yang bernama Ayla itu dengan jengah. Dia benar-benar ingin segera menghentikan dan mengganti topik obrolan.
"Hah!" Rena menggebrak meja pelan, terkejut akan perkataan Ayla tadi. "Jadi... Kamu suka cewek dong berarti?" tanyanya kemudian dengan raut jijik. Dia bercanda akan hal ini. Dia sendiri paham benar Ayla itu bagaimana. Kali ini dia hanya menggoda supaya suasana tidak aneh.
"Mulutmu!"
Sepertinya Ayla juga paham maksud Rena itu bagaimana. Dia menggelengkan kepala menyaksikan sahabat yang duduk di hadapannya itu terpingkal-pingkal. Untung saja perkataan Rena tadi tidak terlalu keras dan tidak terdengar pengunjung kafe lainnya. Kalau saja terdengar, maka sudah dipastikan bahwa Rena tidak akan pulang dengan baik-baik saja. Haha.
"Aku tidak tertarik sama siapapun. Aku mau sendiri, aku tidak mau membina rumah tangga!" Ayla berkata dengan malas karena sudah berulangkali mengatakannya pada Rena. Dia mencubit tangan Rena di awal supaya perempuan itu berhenti dari tawanya yang menarik perhatian pengunjung lainnya.
Ayla kemudian kembali bercerita tentang ketakutannya akan lelaki. Dia benar-benar tidak tertarik dan bahkan tidak terpikir akan menikah dengan seseorang serta menjalani hidup sebagaimana mestinya. Ketakutan yang ada memang sangat besar sampai apa yang direncanakannya ini seolah memang akan terlaksana.
"Aku tidak mau menikah. Tapi aku mau punya anak yang lucu. Setidaknya mengisi kesunyian di rumahku."
Begitu pikiran Ayla. Entah bagaimana pula dia bisa memiliki pikiran semacam itu. Jelasnya Ayla memang tetap membutuhkan seseorang untuk mendampingi hidupnya, namun seseorang itu tidak akan berwujud lelaki yang kemudian terikat hubungan suami. Ayla tidak mau.
"Edan kamu, tuh!"
Tentu saja Rena terkejut. Dia pikir sahabatnya hanya tidak mau menikah, rupanya memiliki keinginan lain yang benar-benar di luar dugaan. Dia kali ini harus menghentikan apa yang diinginkan Ayla karena hal tersebut memang tidak benar.
"Aku tidak mau adopsi. Aku mau melahirkannya sendiri. Aku ma—"
Sentilan keras mendarat di kening Ayla. Rena tidak habis pikir dengan keinginan sahabatnya itu. Entah mendapat ide darimana sampai bisa berkata demikian. Kalau Ayla mau adopsi, mungkin Rena akan memperbolehkannya. Tapi ini Ayla mau memiliki anak yang lahir dari rahimnya sendiri. Semakin di luar dugaan.
"Kalau pengen punya anak, ya nikah dulu. Kalau tidak...." Rena terhenti, dia berusaha memikirkan solusi untuk kegilaan Ayla. Tentu solusi yang baik supaya kegilaan yang ada dalam benak Ayla tersingkir sempurna.
Ayla ikut terkekeh jadinya melihat Rena yang pasti juga kelabakan atas ide yang tiba-tiba muncul. Dia sendiri juga sedang memikirkan cara supaya kegilaannya terobati, mungkin terobati dengan cara yang semestinya? Entah. Intinya apa yang telah diinginkan Ayla seolah harus dipenuhi.
"Kalau tidak, aku bisa menjebak seorang pria dan bermalam dengannya! Ah, ide bagus. Ayo bantu aku menyelesaikannya supaya aku segera mendapat anak!" Ayla menyahut cepat ketika mendapat ide.
Pikiran Ayla semakin jauh saja. Dia merasa ide yang baru saja tercetus dari otaknya itu merupakan cara yang tepat untuk menuntaskan kegilaannya.
"Lalu, kamu bakal ninggalin dia?" Rena mengusap wajahnya, dia semakin tidak habis pikir saja memiliki sahabat seperti Ayla yang entah kenapa pikirannya hanya dipenuhi dengan hal konyol dan di luar dugaan.
"Tentu saja! Untuk apa mempertahankannya? Aku hanya membutuhkan benihnya, bukan orangnya. Beberapa hari ke depan akan menjadi hari di mana tingkat kesuburanku meningkat. Mungkin melakukannya semalam saja bisa menumbuhkan benihnya di rahimku."
Mungkin ini terbilang nakal. Tapi entah kenapa Ayla terus saja membenarkan ide yang semakin jauh saja. Agaknya hidupnya akan benar-benar dimulai ketika dia memulai aksinya. Dia sendiri juga yakin sekali bahwa apa yang akan dilakukannya berhasil hingga kemudian dirinya menemui tujuan yang memang sudah direncanakan.
Rena menghela napas panjang sembari menatap Ayla yang seperti tidak menyangka bahwa ide tersebut muncul dari pikirannya. Dia ikut berpikir hebat apakah rencana bodoh Ayla itu akan memberikan dampak positif atau hanya akan menimbulkan masalah besar. Agaknya kedua dampak yakni negatif ataupun positif akan tetap datang. Dan Rena tidak bisa lagi mencegah Ayla yang jika sudah bertekad maka harus benar-benar dilakukan. Jelasnya, Rena sudah lelah memberitahu bahwa apa yang direncanakan itu sebenarnya bukan hal baik. Dia hanya bisa berharap supaya hal tersebut tidak terlalu menyulitkan Ayla dan dampak yang ditimbulkan tidak banyak.
Dan benar saja. Rencana bodoh yang muncul ketika senja itu benar dilakukan Ayla, bahkan tidak harus menunggu di hari berikutnya karena Ayla beraksi malamnya. Dia mencari lelaki yang terlihat pandai dan menawan untuk berhubungan dengannya. Di balik kebodohannya, Ayla juga ternyata pandai untuk memilih mana yang menghasilkan keturunan yang baik. Dia tidak mau jika keturunannya nanti bodoh dan tidak menawan.
Terkadang memang benar bahwa hal buruk justru akan menjadi hal baik yang kemudian terus saja dilakukan. Si pelaku seolah tidak memikirkan lebih panjang lagi sebelum melakukannya. Padahal jelasnya segala tindakan yang dilakukan tetap akan memunculkan dampak negatif ataupun positif.
Semuanya hanya perlu direncanakan dengan baik. Tapi terkadang memang ada beberapa hal yang tidak perlu direncanakan dengan baik. Sebagai contohnya yaitu hal yang sudah menggeluti diri, sudah menyeruak, dan yang perlu dilakukan hanya merealisasikan hal tersebut.
Belum tahu apa yang akan terjadi pada Ayla nantinya setelah hal bodohnya dilakukan. Kalaupun lingkungan sekitarnya tahu, sudah dipastikan bahwa Ayla mengurungkan niatnya. Hanya saja orang sekitar Ayla tidak ada yang tahu selain Rena dan tidak ada yang berani mengacaukan rencana bodoh itu.