Apa Maksudmu?

1500 Kata
"SIALAN! APA MAKSUDMU?" "KAMU MAU AKU TERIKAT DENGANMU? KAMU MAU BERMAIN DENGANKU KARENA AKU KAYA? DASAR CRAZY WOMAN!" Hanya itu yang berada di pikiran Berta. Dia memang tidak tahu siapa perempuan yang menjebaknya itu. Namun, dia yakin bahwa perempuan itu hanya ingin terikat dengannya karena hartanya. Banyak yang mengusahakan demikian. Sekarang memang banyak orang yang hanya ingin enak saja tidak mau bersusah payah terlebih dahulu. Sementara Ayla justru tertawa mendengar perkataan Berta, dia sendiri juga memaklumi kalau lelaki di hadapannya bisa berpikiran seperti itu. Dia juga meyakini bahwa sudah seperti perempuan tidak baik. Namun, untuk kali ini biarlah dia menganggap dirinya tidak seperti kenyataannya. Biarlah kenyataan diputarbalikkan sejenak. "Jangan tertawa atau akan ku—" Perempuan itu semakin ganas. Dia mendekati dan menghentikan pembicaraan Berta dengan mencium bibirnya. Tentu saja Berta membelalak. Sembari mengulum bibir Berta yang seksi itu, tangan Ayla bergerilya membuka jas dan kemeja yang melekat di tubuh Berta. Cukup mudah bagi Ayla meski sebenarnya Berta berusaha untuk menahannya supaya tidak membuka baju. Berta terbuai dengan ciuman yang diawali Ayla itu, makanya tidak berdaya untuk melakukan hal lebih. Berta yang lambat laun mulai terbuai pun hanya bisa pasrah. Bohong jika dia tidak menyukai wajah sekaligus tubuh Ayla. Perempuan itu ternyata pandai juga berciuman. Padahal ini kali pertamanya dia melakukan hal seperti itu. "Menyebalkan!" Berta mendesis, dia mengusap bibirnya setelah ciuman dilepas. Dia sendiri tidak menyangka membalas ciuman Ayla. Benar-benar seksi. Ayla terperangah menatap tubuh Berta yang kekar. Dia sendiri masih tidak menyangka bahwa dia yang telah melepaskan seluruh pakaian yang tadi membalut tubuh Berta. "Aku menyukai tubuhmu, muachh...." Ayla memberi kecupan di tengah d**a Berta. Dia segera mendorong Berta ke ranjang dan menindihnya. Ayla terus saja memancarkan senyumnya untuk mengalihkan perhatian Berta. "Hey! Aku tidak mau melakukannya denganmu! Kenal saja tidak!" Berta yang ditindih Ayla berusaha untuk berdiri kembali, namun dia juga kewalahan karena Ayla tidak mau berpindah posisi. "Lakukan saja. Bukankah lelaki juga suka jajan perempuan? Ini dikasih gratis kok malah nolak!" Ayla menyahuti perkataan Berta tadi. Dia menatap wajah Berta dengan lekat. "Enak saja! Aku bukan lelaki seperti itu!" Dan Berta langsung menyangkal. Apa yang dipikirkan Ayla memang ada benarnya, tapi untuk Berta tidak. (sepertinya) Dari Ayla sendiri juga yakin bahwa Berta tidak seperti lelaki lain yang senang jajan perempuan. Terlihat dari wajah Berta yang polos dan agak malu-malu saat pakaiannya terbuka tadi. Ayla jadi sedikit tidak takut untuk melakukannya karena dia juga berpikir bahwa tidak akan tertular penyakit seksual sebab lelaki yang akan bermain dengannya tidak bergonta-ganti pasangan, atau bahkan benar-benar belum pernah melakukannya? Celana Berta berhasil terbuka. Ayla benar-benar tidak habis pikir jika dia akan berbuat seperti ini. Sekarang giliran dia yang membuka pakaian ya. Tapi dia mengurungkan niatnya, menurutnya akan lebih baik jika dia tidak membuka pakaiannya sepenuhnya. "Kamu benar-benar tidak seperti lelaki lain?" "Ya. Aku bahkan juga belum pernah melakukannya." "Aku juga belum pernah. Aku masih perawan, aku akan melakukannya pelan," bisik Ayla. "Pergi dari tubuhku!" Berta tersadar dan berusaha mendorong tubuh Ayla yang menindihnya kuat. Pada akhirnya Berta tidak lagi ditindih Ayla. Dia berusaha untuk kabur dengan memakai pakaiannya kembali. Ayla tadinya terkejut karena dorongan Berta agak menyakiti dirinya. Dia pun bangun kembali dan menghampiri lelaki yang kini sedang berusaha memakai celananya lagi. Perempuan itu memeluk tubuh Berta dari belakang. Erat sekali. Ayla setinggi ketiak Berta ternyata. Wajah perempuan itu ditempelkan pada punggung Berta yang tidak berbalut pakaian apa pun. Rasanya agak aneh, geli juga tentunya. "Sungguh, aku mau punya anak. Ayo bermain denganku," lirih Ayla. Mendengarnya, Berta lekas berpaling dan melepaskan pelukan Ayla. Dia menatap perempuan yang benar-benar di luar dugaannya itu. Wajahnya penuh dengan kesungguhan yang itu berarti juga menyiratkan bahwa apa yang dikatakan Ayla tadi benar adanya. "Cari lelaki dulu. Nikah dan kemudian baru buat anak!" "Tidak mau menikah!" "Dasar stress!" Ayla terkekeh. Dia menahan kemeja Berta yang hendak dikenakan lagi. Lelaki itu tidak boleh pergi dari sana sebelum Ayla mendapat apa yang diinginkannya sedari awal. "Benar-benar mau punya anak?" Berta bertanya dengan penuh kesungguhan. Agaknya dia sudah tidak bisa bersabar lagi untuk menghadapi Ayla yang semakin menjadi-jadi. Dan setelah perempuan itu memberi anggukan atas pertanyaannya tadi, Berta kemudian berkata kembali. "Kalau tidak mau menikah berarti tidak akan punya anak. Tapi aku punya saran bagus, kamu bisa mengadopsi anak di panti asuhan." "Aku mau anak yang lahir dari rahimku sendiri." Ya, sangat tidak terpikirkan sebelumnya bahwa ada orang seperti Ayla. Berta kini bingung harus bagaimana. Dia tidak bisa memakai kembali kemeja serta jasnya, hanya memakai celana saja. Sekarang mau memakai kemeja serta jasnya atau tidak, tidak masalah. Yang terpenting adalah kartu kunci kamar tersebut supaya dia bisa keluar dan jauh dari perempuan itu. "Sebentar saja. Tunggu sebentar!" Ayla yang tahu Berta ingin mengambil kartu kunci kamar yang ternyata sudah tidak berada di genggamannya lagi melainkan jatuh di lantai dan tidak jauh dari tempat Berta berdiri. Keduanya saling memandang kartu itu dan pada akhirnya berlomba untuk mengambilnya. Berta jauh lebih cepat, lelaki itu segera menyembunyikannya supaya Ayla tidak merebutnya. Tentu saja Ayla kelabakan. Dia berusaha mengambil kunci kamar yang berupa kartu itu supaya usahanya malam ini tidak gagal. Dia dan Berta saling berebut. Ayla kembali menindih tubuh Berta. Dia tidak mau kalah lagi, segeralah celana yang tadinya sudah sempat dia buka, dibuka kembali. Dengan cepat pula perempuan itu menanggalkan pakaiannya sendiri dan melakukan hal yang benar-benar di luar dugaan serta tidak semestinya dilakukan. "Ah, sakit sekali!" "Ah, kamu ini benar-benar menyebalkan!" Berta sangatlah terkejut dengan perempuan yang bisa-bisanya memaksa dirinya yang kini terbaring di lantai dengan posisi ditindih. Ini pertama kali untuk Berta, pun dengan Ayla. "Kenapa sakit sekali?" Ayla meringis. Rasanya sungguh sakit ternyata. Dia pikir apa yang selama ini didengarnya tidak benar. Ternyata benar bahwa pecah perawan sangat menyakitkan. "Jangan dilanjutkan!" gertak Berta. Dia juga meringis kesakitan karena Ayla terus saja berbuat tidak semestinya. "Sudah telanjur!" Dengan sekuat tenaganya, Berta mencoba untuk bangkit dengan Ayla yang masih menindihnya. Dia berpindah dari lantai menuju ke kasur. Dia membanting tubuh Ayla seperti yang pernah dilakukannya tadi. Berta kini berada di posisi sebaliknya, dia yang menindih Ayla. Ditatap wajah perempuan itu dengan lekat dan dia tersenyum miring, lalu berkata, "Tadi kamu yang meminta. Sekarang kenapa jadi ketakutan?" Begitu perkataan Berta yang sekaligus meledek Ayla yang memang terlihat cemas. Perempuan itu dikungkung Berta, dia tidak bisa berpindah dari posisi yang menurutnya sangat tidak nyaman. Ah, sial, dia malah terjebak dalam perangainya sendiri. Keduanya terbuai akan nikmat duniawi. Mereka melakukannya cukup lama sampai Ayla mendapatkan apa yang dia inginkan sebelumnya. Berta yang tadinya menolak pun akhirnya terbuai akan tubuh Ayla yang memang menggoda. "Hah!" Berta menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Ayla yang lemah tak berdaya lagi. Perempuan itu berniat nakal, malah dia yang dinakali. Kini Ayla terpejam terlebih dahulu, tidak hanya berusaha menghilangkan penat melainkan juga berusaha menghilangkan rasa sakit yang didapatnya. Sementara Berta hanya mengatur napasnya. Dia memiringkan tubuhnya menatap perempuan yang telah dia pakaikan kembali pakaian yang dilepasnya tadi. Perempuan itu terlihat cantik dan manis. Selain itu juga terlihat perempuan baik, tapi Berta tidak paham kenapa memiliki ketakutan yang kemudian membuatnya bertingkah aneh. "Jangan menatapku atau aku akan membunuhmu!" lirih Ayla dengan mata yang masih terpejam. "Kamu belum tidur rupanya." "Sedang berusaha!" Posisinya tidak lagi menghadap perempuan itu melainkan menghadap langit-langit kamar hotel. Kini sudah hampir pagi, tapi belum terpejam sama sekali. Dia masih mencoba untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. "Semoga ini hanya mimpi. Kalaupun nyata akan kupastikan kamu tidak akan tenang hidupnya. Siapa suruh menggangguku!" gerutu Berta yang tentunya ditujukan pada Ayla. Dan Ayla yang mendengarnya pun kesal. Memang benar Ayla yang mengganggu terlebih dahulu, namun selanjutnya Berta yang justru mengusiknya. Lelaki itu tidak tahu diri, ingin rasanya Ayla menggigit kulitnya sampai bengkak. "Kalaupun ini benar-benar nyata, aku tidak akan pernah menyesali apa yang telah aku lakukan. Tapi kalau ini cuma mimpi, aku... Ah, entahlah!" Ayla mencoba membalas perkataan Berta. Dia kesulitan memberi balasan. Mau mimpi atau tidak, Ayla tetap tidak peduli dan berusaha untuk tidak menyesali apa yang terjadi serta dengan apa yang dia lakukan. Perkara Berta yang seolah akan balas dendam padanya, dia tidak peduli. Biarkan saja menjadi urusan nanti. Tidak lama kemudian Berta dan Ayla yang malam itu benar-benar tidak mengenal satu sama lain meski sudah bersatu tertidur. Keinginan untuk berkenalan pun tidak ada sebab lelah yang dirasakan keduanya meminta untuk segera beristirahat. Mereka akan tidur sejenak karena akan segera beranjak pagi. Beruntung Ayla bangun terlebih dahulu dari Berta. Setelah bangun, dia langsung menyadari bahwa apa yang terjadi semalam bukanlah mimpi. Ini sangat nyata dan dia akan berusaha untuk memenuhi perkataannya semalam. Perempuan itu segera merapikan pakaiannya dan bergegas meninggalkan kamar hotel itu usai membisikkan ucapan terima kasih di telinga Berta. Dia mengemas segalanya dengan rapi, tidak ada yang tertinggal satu pun. Termasuk identitas dirinya. Jujur saja, dia tidak mau lelaki yang dijebaknya itu tahu seluk beluknya dan justru akan membalas kekesalannya meski sebenarnya bukan salah Ayla sepenuhnya, melainkan juga salah lelaki itu. Dia pergi dengan hati yang tidak menentu. Apa yang diperbuatnya bukanlah perbuatan yang semestinya, namun sudah telanjur dilakukannya. Ke depannya akan seperti apa dia tidak tahu. Semoga hanya ada hal baik.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN