[1] Mau Menikah Denganku?
Seorang gadis dengan rambut sepunggung menatap tampilan dirinya di depan cermin. Bibirnya tersenyum lebar melihat tampilan dirinya yang tampak sempurna. Hidung bangir, bulu mata lentik dan bibir merah meski tanpa perona. Hal yang selalu menjadi kebanggaannya.
“Sempurna,” ucap gadis itu dengan senyum lebar. Hidupnya benar-benar dipenuhi kebahagiaan.
Violetta Azura—gadis yang selalu tampak ceria itu mulai bangkit dan melangkah ke arah sofa. Dia mengambil tas dan ponsel. Dengan langkah tenang, dia mulai keluar. Kali ini Vio memilih menggunakan gaun dengan panjang diatas lutut yang dipadukan dengan sepatu kets. Hingga dia yang sudah berada di lantai dasar langsung menuju ke arah ruang makan.
“Pagi Ma, Pa,” sapa Vio.
Damian dan Selena yang melihat kedatangan putri mereka hanya tersenyum. Rasanya bahagia karena melihat putri semata wayang mereka tumbuh mencari gadis periang. Hingga Vio mengambil sandwich dan memasukkan ke kotak bekal.
“Vio, kamu mau bawakan makanan untuk Sebastian lagi?” tanya Selena dengan sorot mata menyelidik.
“Tentu saja, Ma. Aku gak mau kalau dia sakit,” jawab Vio.
Selena yang mendengar hal itu pun hanya bisa menghela napas lirih dan mengelus d**a. Senyum yang awalnya terlihat, kini perlahan mulai memudar. Meski melihat putrinya bersemangat, dia tampak begitu lesu.
Damian yang mengerti perasaan istrinya itu pun hanya bisa meraih jemari sang istri dan menggenggam lembut. Dia memberikan isyarat supaya Selena bisa mengontrol ekspresi wajahnya. Hal yang selalu dilakukan keduanya.
“Ma, Pa. Kalau begitu aku berangkat kerja dulu,” kata Vio.
“Iya. Hati-hati,” sahuit Selena dan Damian secara bersamaan.
Vio pun segera melangkah lebar, keluar dari rumah dengan wajah dipenuhi kebahagiaan. Sesekali dia bersenandung dengan penuh semangat. Hari ini, dia sudah siap menghadapi kehidupan yang menurutnya keras.
Sedangkan Selena yang melihat itu langsung menggerutu, “Aku benar-benar tidak habis pikir dengan Vio, Damian. Kenapa dia begitu tergila-gila dengan Bastian? Sampai memilih kerja di perusahaan pria itu daripada di perusahaan sendiri. Padahal aku melihat Bastian tidak memiliki rasa dengan Vio sama sekali.”
Selena memasang wajah masam, tetapi hal itu malah membuat Damian tersenyum lebar. Dia merasa wajah Selena selalu menggemaskan saat marah. Hingga dia meraih pundak sang istri dan mengelus pelan.
“Biarkan saja Vio melakukan apa yang mau dilakukan. Kalau sudah lelah, dia pasti akan menyerah,” kata Damian dengan tenang.
Namun, Selena tidak yakin dengan hal itu. Iya kalau anaknya bisa sadar atas perlakuan Bastian. Kalau tidak? Bukankah itu menyia-nyiakan waktu mudanya saja? Berpikir begitu, Selena langsung menatap sang suami.
“Kamu harus bicara dengan keluarga Alvero, Damian. Pastikan anak kita tidak terluka,” kata Selena.
Kali ini Damian menganggukkan kepala dan menyahut, “Baik.”
***
Seorang pria dengan pakaian formal sedang menikmati sarapan. Ekspresi wajahnya datar, tidak terbaca sama sekali. Dia bahkan tidak peduli dengan sekitarnya. Sampai sebuah kalimat membuatnya mengalihkan pandangan.
“Bastian, usiamu sudah tidak muda lagi. Papa harap kamu bisa segera menikah,” kata Leo—papa Sebastian.
Bastian yang mendengar hal itu pun diam. Ekspresi yang awalnya terlihat tenang, kini berubah menjadi cemas. Jemarinya menggenggam sendok erat. Rahangnya juga mengeras, seakan menahan sesuatu.
“Papa tid—“
“Aku tidak mau menikah, Pa,” sela Bastian cepat.
Leon menghentikan ucapan, menatap Bastian dengan sorot mata menyelidik. Hingga dia membuang napas kasar dan berkata, “Papa tidak akan menentukan siapa calonnya, Bastian. Papa hanya mau kamu menikah. Tidak mungkin kamu selamanya hidup sendiri, kan?”
Hening. Bastian tidak menjawab apa pun. Ada hal yang jelas mengganjal dalam hatinya. Banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk menuruti keinginan sang papa.
Leon yang tidak mendapat jawaban itu pun kembali mendesah. Dia bangkit dan berkata, “Kamu pikirkan dulu saja, Bastian. Tapi papa harap kamu bisa memutuskan untuk menikah.” Dia menepuk pundak putranya. Setelah itu, Leon melangkah pergi.
Sedangkan Bastian hanya diam. Sepeninggalan sang papa, dia membuang napas kasar dan menyandarkan tubuh dengan punggung kursi. Dia berhenti sejenak, tetapi setelahnya dia bangkit. Wajahnya berubah dingin dengan tatapan tajam.
“Kita ke kantor, Hans,” perintah Bastian.
***
“Aku harap dia menyukainya,” kata Vio dengan langkah lebar. Dia tampak begitu bersemangat untuk pagi ini. Padahal hanya sebuah sandwich, tetapi jantungnya berdetak cukup keras.
Vio yang sudah sampai di ruangan Bastian pun berhenti. Dia menarik napas dalam dan membuang perlahan. Hal itu dilakukan berulang kali. Hingga Vio yang sudah merasa yakin pun mengetuk pintu.
“Tenang, Vio. Lagi pula ini bukan pertama kalinya. Jadi, kamu tidak perlu setegang ini,” ucap Vio, menyemangati diri sendiri.
Setelah itu, Vio langsung membuka pintu ruangan Bastian. Dia tidak langsung membuka lebar. Vio hanya mengintip sedikit. Hingga dia yang melihat Bastian sedang duduk di kursi pun tersenyum dan membuka pintu lebih lebar lagi.
“Bastian,” panggil Vio.
Bastian yang sejak tadi melamun pun tersentak kaget. Dia menatap ke arah Vio yang mendekatinya. Manik matanya menatap tajam dan tidak berpaling sama sekali.
Vio yang ditatap begitu lekat mulai merasa tidak nyaman. Padahal biasanya Bastian tidak mau melihatnya, tetapi hari ini berbeda. Bastian bahkan tidak mengalihkan pandangan sama sekali, membuat jantung Vio semakin tidak karuan.
‘Astaga, kenapa aku jadi salah tingkah begini,’ batin Vio.
“Ada perlu apa?” tanya Bastian.
Suara bariton itu membuat Vio terbuai sejenak. Bibirnya bahkan terus mengulas senyum. Pikirannya kacau. Benar-benar tidak karuan.
“Kalau tidak ada urusan lain, lebih baik kamu keluar, Vio,” ucap Bastian lagi.
Mendengar kalimat pengusiran, Vio langsung tersentak kaget. Buru-buru dia meletakkan kotak bekal di depan Bastian dan berkata, “Aku membawakan sandwich untukmu. Hari ini aku tidak sempat memasak. Jadi, bawa seadanya saja. Semoga kamu suka.”
Hening. Tidak ada suara sama sekali. Bastian dan Vio sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga Vio yang tidak mendapat jawaban pun mulai melangkah mundur.
‘Mungkin aku datang di waktu yang tidak tepat,’ batin Vio.
“Bas, kalau begitu aku keluar dulu. Aku harus lanjut bekerja,” ujar Vio. Melihat ekspresi Bastian, dia merasa nyeri.
Namun, di waktu yang sama Bastian berkata, “Tunggu.”
Vio baru mengangkat sebelah kaki ketika Bastian menghentikannya. Mau tidak mau, Vio berhenti. Dia berbalik dan kembali menatap Bastian. Tepat saat itu, Bastian juga sudah berada di belakang Vio, membuat keduanya langsung bersitatap.
‘Astaga, aku tidak pernah melihatnya sedekat ini,’ batin Vio dengan perasaan tidak karuan. Detak jantungnya bekerja dua kali lipat. Vio sendiri sampai takut kalau Bastian mendengarnya.
“Apa kamu menyukaiku?” tanya Bastian.
Vio yang ditanya diam dengan mulut setengah terbuka. Dia menatap Bastian tidak percaya. Dalam hati dia bertanya, ‘Apa selama ini perlakuanku tidak jelas sampai dia masih bertanya?’
“Kalau kamu menyukaiku, mau menikah denganku?” tanya Bastian.
Deg.
Vio membeku dengan kedua mata melebar. Tubuhnya kaku. Jantungnya bahkan langsung berhenti berdetak. Vio benar-benar tampak seperti orang bodoh.
“Kamu bilang apa?” tanya Vio dengan ekspresi terkejut. Dia mau mendengar sekali lagi.
“Aku bilang, kamu mau menikah denganku?” ulang Bastian.
“Mau,” jawab Vio tanpa basa-basi.