BAB 18 AKHIR SEBUAH PETAKA

2034 Kata
Dante menghajar semua penghalang, tanpa segan. Tentara Roughart tumbang berjatuhan dan mereka semua tewas mengenaskan. Kebanyakan hancur dengan organ dalam berantakan. Dual Exchanger mampu menghancurkan banyak musuh dalam sekali tembakan. Dengan demikian, tiap fasilitas yang ada di sekitar juga terkena dampaknya. Dalam waktu singkat, tingkat kerusakan akibat Dual telah mencapai titik kritis. Space DJ itu selalu meninggalkan tiap lantai dengan jejak kehancuran, kini ia menuju ruang kendali di mana Torrax telah siap mengambil alih kendali. Roughart melintasi bekas koridor yang telah luluh lantak. Di sana, dilihatnya Dante baru selesai mencabut kepala salah satu anak buahnya. Cairan hitam kemerahan mengotori area yang sudah menjadi tempat pembantaian bangsa Dark Zord. Pemuda itu dengan sengaja menjatuhkan bangkai kepala tersebut penuh penghinaan dengan raut dendam di wajahnya. “Itu untuk Alex dan Ruby, sebentar lagi kepalamu, Roughart!” tantang Dante padanya. “Oh, dua pengkhianat itu? Dante, mereka tak berharga. Inti Zord dalam tubuhmu-lah yang bernilai luar biasa! Bila kau bergabung, kekuatanmu akan mencapai maksimal. Bersamaku, kau akan tahu bahwa Central tidak ada apa-apanya. Selesai dengannya, kita tinggal menyasar bumi. Tinggal pilih, bumi dulu atau Central, tidak masalah bagiku karena mereka semua pasti kalah. Ikutlah, songsong dunia baru bersama bangsaku,” ajak Roughart lagi, dengan kata-kata manisnya. “Bukankah kau hanya menginginkan inti Zord? Lebih baik kita bertarung. Bila aku mati, inti Zord menjadi milikmu. Kau tahu gaya bertarungku, mestinya tak usah khawatir. Aku belajar darimu, ingat?” “Inti Zord selalu membutuhkan inang, sebuah tubuh untuk tempatnya hidup. Hanya saja kau belum tahu cara membangkitkannya, Dante. Bila kau pikir aku mengelabuimu, maka itu salah besar! Inti Zord tidak bisa menyatu dengan sembarang orang. Kau akan sangat dihormati oleh bangsa kami.” Roughart tak habis akal untuk meyakinkan Dante. Ia masih berharap tak perlu mengeluarkan benda itu sebab belum menjamin dirinya kuat menerima inti Zord dari tubuh Dante. “Oh, benarkah? Sayangnya sudah terlambat. Kau merenggut semua yang kumiliki. Seharusnya perlakukan aku seperti raja setelah kau tahu aku mampu menyangga inti Zord. Sekarang, aku bebas melakukan apapun yang kumau, termasuk mencabik-cabik satu hal yang berharga darimu. Dark Zord. Kalian semua akan mati!” Roughart menunggu Dante menyerang lebih dulu. Benar. Tehnik serangan Dante memang khas Lethal-X Academy yang dulu pernah ia ajarkan. Semuanya sempurna, minim celah. Kecepatan yang dihasilkan juga pengaruh dari energi inti Zord meskipun belum maksimal. Mengetahui kemampuan Dante melebihi dugaan, ia harus menganggapnya lebih dari sekadar musuh. Apalagi beberapa kali ia dibuat jatuh tersungkur dan nyaris kalah. “Jadi, kau menolak tawaranku? Tahukah kau akibat adanya inti Zord tanpa dibangkitkan kembali?” Dante sudah menyalakan lagi Dual Exchangernya. “Sampai jumpa, Roughart. Alex dan Ruby pasti senang melihat raut mukamu saat ini!” Dual nyaris menyemburkan lasernya ketika tiba-tiba Dante ditembak oleh alien yang belum mati. Muncul cahaya dan Dante terlempar cukup jauh, namun ia masih sanggup bangun. Sayang, akibat tembakan itu, Dual Exchanger tak lagi berfungsi. Energi ionos redup kemudian benar-benar mati. Lain halnya dengan Cain dan Shawn yang masih berkutat menembaki musuh, Ray memutuskan pergi menuju hanggar pesawat tempur di pangkalan unit antariksa. Tanpa memberitahu dua stafnya, Ray memutuskan masuk ke dalam kokpit untuk membantu armada terbang. “Sial! Kenapa semuanya butuh akses ganda? Aku tak bisa …. ” AKSES DITERIMA “Hah, siapa kau?!” Ray terlonjak kaget saat wajah virtual program AI menampakkan diri di layar pilot, sekaligus yang membuka kode akses untuknya. “Shiva. Dante mengirimkan pesannya untuk melindungi kalian bertiga termasuk akomodasi jaringan yang kalian perlukan.” “Jadi, kau menang melawan Eva?” “Tidak ada yang menang maupun kalah, kami sama-sama terlontar dari zona battle.” “Oh, begitu rupanya, selamat datang, Shiva. Senang berkenalan denganmu. Sekarang, karena kau sudah kembali, permudah sistem pesawat ini untukku, lalu kau bisa urus yang lain. Jangan sampai Eva meledakkan Saturn.” perintah Ray melengkapi dirinya dengan helm dan sabuk pengaman. Jauh dari standar sebab seragamnya apa adanya namun sama sekali tak menyurutkan niatnya membawa panji kemenangan untuk Saturn Gallant. “Siap, Letnan. Berhati-hatilah!” Ray tersenyum dipanggil ‘letnan’, bagian dari masa lalu yang kini harus terulang lagi. “Ay, yes, Mam.” jawabnya bersemangat. Tak lama berselang, ia pun terbang. Di anjungan, staf melihat pergerakan sebuah pesawat tempur yang terbang tanpa izin. Ia pun melapor, “Kapten, Donna Hawk dibajak dan kini menuju medan perang. Tindakan?” “Siapa pilotnya?” “Ini aku, Capt., melakukan tugasku yang dulu belum selesai. Oh ya, bukalah gerbang sistem jaringan untuk Shiva. Dia harus menggantikan sistem EDOS saat ini juga, sebelum terlambat.” Ray melakukan kontak, kemudian kembali sibuk bertempur di luar sana. “Capt.?” Staf anjungan tersebut pucat pasi. Mustahil mengganti sistem dengan program AI pengendali yang belum dikenal tetapi ada sesuatu yang sangat berbahaya terlihat jelas di depannya. “Dia benar. EDOS tiba-tiba memprogram ulang atas perintah program lain. Kita tidak bisa apa-apa, EDOS sudah dibajak!” “Lakukan seperti kata Ray. Buka gerbang sistem jaringan untuk program AI yang baru. Shiva, kau boleh masuk, perintah langsung Kapten Ivan Skivanov.” ucap sang kapten tanpa membuang waktu. “Siap bertugas, Kapten. Memperbarui data dan kembali memprogram ulang sirkuit. Mohon angkat anggota badan dari semua panel.” Dalam hitungan detik, Shiva mengambil alih jaringan komputer Saturn Gallant. “Panel aman, sistem terbebas dari pembajak, siap menerima perintah selanjutnya.” “Periksa semua fasilitas, deteksi jumlah musuh, kemudian aktifkan sistem senjata Saturn Gallant.” “Musuh tersisa tiga puluh persen, kelereng rubik dapat dikirim untuk menghancurkan mereka secara rahasia. Carlo Dante menginginkan senjata akhir digunakan untuk meledakkan kapal induk Dark Zord sesuai aba-abanya.” “Kelereng apa?” Semua saling bertanya-tanya. “Carlo Dante dan timnya di lab mengembangkan senjata mikro berbasis ionos. Luncurkan sekarang?” Shiva menunggu konfirmasi dari Kapten Skivanov yang tampaknya tak punya pilihan lain. “Luncurkan!” Maka butiran kelereng yang jumlahnya puluhan itu keluar dari wadah khususnya yang tersembunyi di laboratorium senjata, mengikuti perintah Shiva. Mereka memanfaatkan setiap celah untuk menuju ke lokasi musuh. Di mana ada alien anak buah Roughart, kelereng yang semula bulat langsung berubah tajam, terlempar otomatis dan menancap ke masing-masing alien tersebut. Ledakan lokal membinasakan para alien itu hingga hancur berkeping-keping meskipun mereka memakai zirah yang cukup tebal. Aksi dramatis terjadi tatkala Shawn terdesak dan sebelum alien itu menembaknya, sebuah kelereng membalikkan situasi sehingga ia pun selamat. Bingung dengan apa yang terjadi, Shawn menghubungi Cain. “Cain, Bung, ini gila! Kelereng-kelereng kecil menyelamatkanku!” teriaknya girang. “Kejutan Dante yang lain, tapi entah kenapa aku tak senang. Benda itu  merusak kesenanganku.” keluh Cain. “Apalagi sekarang?” “Sebaiknya kita bergabung dengan staf militer di zona mereka supaya tahu situasi. Ayo!” “Baik, tunggu aku!” Untuk sementara, Saturn Gallant mampu bernapas, namun tak berlangsung lama. Shiva merasakan pergerakan Eva di jaringannya. Program AI milik Carlo Dante itu pun masuk kembali ke dalam sistem. “Siap untuk pertempuran kedua?” Eva yang dalam kendali Dark Zord telah menerima perintah untuk menghancurkan Saturn Gallant dari dalam dengan cara apapun. Shiva menatap Eva sesaat tanpa senyum sedikitpun. Ekspresi ‘wajahnya’ sedingin es. “Baik, tunggu apalagi?” Eva mulai menyerang. Tanpa dukungan jaringan penuh, ia bukan apa-apa. Sebaliknya, Shiva dengan mudah memakai semua aset jaringan Saturn Gallant untuk mendukung aksinya meredam perbuatan si pengacau. Eva pun takluk. Shiva memanfaatkan kesempatan itu untuk menangkapnya, menunggu Dante pulang untuk menentukan nasib program jahat milik Dark Zord tersebut.  Di kapal induk Dark Zord, Dante melepas Dual Exchanger dari masing-masing tangannya. Pemandangan itu tertangkap oleh Shiva di ruang kendali yang menghubungkannya dengan layar utama sehingga Kapten Skivanov dan para staf bisa melihatnya. “Hanya senjata itu yang dia punya?” tanya Kapten Skivanov pada stafnya. “Semuanya bersifat pendukung, Capt., Dual adalah senjata utama. Dante pasti tak mengira bahwa Dual akan malfungsi lebih cepat sebelum sempat menghancurkan kapal induk Dark Zord sesuai rencananya. Maaf, Kapten, semua tergantung Dante sekarang.” “Shiva?” Kapten Skivanov minta pertimbangan. “Kita bisa mengirimkan senjata tangan yang lain. Sebentar lagi Roughart akan menghabisinya!” “Negative, Capt., Carlo Dante menolak bantuan apapun. Itu sinyal terakhir, kami putus kontak. Sekarang, kita hanya bisa menyaksikan apa yang akan terjadi.” Kalimat Shiva mencengangkan Kapten Skivanov. Carlo Dante rela berkorban nyawa demi Saturn Gallant setelah memikirkan semua aset dan strategi yang dia punya. Teringat derita Space DJ itu, terlintas sesal dan rasa malu akibat perlakuan tak adil padanya selama ini. Semua terjadi sesuai perkiraan Central, Dante adalah aset mutlak yang harus dimiliki Saturn Gallant! Tetapi, melihat situasi saat ini …. “Dante, kau dengar aku?” Suara Ray berusaha menghubungi Dante, tapi sia-sia. Ia bersama armada terbang yang tetap bertahan, masih berjuang menumpas pasukan Dark Zord di antariksa. Dante benar-benar memutus kontak dengan siapapun, seolah ingin menuntaskan urusannya dengan Roughart seorang diri. Ray tahu, ia harus menghormati keputusan Dante. Maka diurungkanlah niat membantu Space DJ itu, kembali mengarahkan pesawat tempurnya ke zona perang. “HAHAHAHA!! Kau bodoh! Rasanya bukan ini yang kuajarkan di akademi. Menolak semua bantuan teman-temanmu? Kau pikir inti Zord akan memanjangkan nyawamu? Tidak! Tanpaku hal itu mustahil terjadi! Kau sudah remuk, Dante. Pada dasarnya kau hanyalah manusia biasa yang teramat lemah. Kesempatan terakhirmu, bergabunglah denganku.” rayu Roughart sekali lagi. Dante berdiri oleng, tembakan tadi mengenai bagian kepala dan kali ini, setelah semua dera fisik yang ia derita, mungkin ia takkan sanggup lagi. Pandangannya kabur, darah mengalir dari ujung kepala ke pelipisnya. Tanpa perlindungan Zeal tadi, ia pasti sudah mati. Selamat, namun menyisakan sakit yang luar biasa akibat efek tembakan keras senjata besar yang menghantamnya. Diam sejenak, hanya satu orang yang terlintas di benaknya. “Eyn Mayra,” gumamnya merintih dengan bibir bergetar. “Sudah siap mati?” Roughart mengacungkan senjata yang sama, tak sabar ingin mempercepat kematian Dante yang terus menentangnya. Dalam keadaan seperti itu, Dante masih sempat tersenyum dan mengacungkan isyarat tantangan padanya, menyulut kemarahan Roughart. “Aku tidak butuh inti Zord-mu, Pengecut! TEMBAK AKU SEKARANG!!” Roughart murka. Jarinya langsung membidik Dante sehingga laser berkekuatan tinggi itu menyasar tanpa belas kasihan. Wajah Roughart yang semula gembira, berubah seketika. Cahaya perak muncul sebelum laser menyentuh kulit tubuh Dante, bahkan mampu memadamkannya detik itu juga. “A-apa yang terjadi?” Tak percaya pada apa yang dilihatnya. Dante memang berteriak, sangat keras, tapi bukan karena laser atau apapun yang berniat membunuhnya, melainkan sesuatu yang akan keluar dari tengkuk lehernya yang mulai terbuka. Tonjolan di punggungnya bergerak, perlahan sebuah pedang pendek muncul, lantas diam hingga tangan Dante menggenggamnya. Dante dalam pengaruh Zeal, sepasang matanya memutih demikian pula rambutnya telah berubah perak. Battle suit di tubuhnya lenyap, berganti zirah Zeal yang memperkuat tubuh Dante yang semula kehilangan daya. Pedang pendek pun membesar, melebihi ukuran normal pedang biasa. “Kau pikir bisa membunuhku dengan itu? Aku … AARRGGH!!” Belum sempat meneruskan hinaannya, leher Roughart telah terpotong. Kecepatan Zeal tak dapat dilihat, menggunakan tubuh Dante, ia meneruskan pekerjaan Dante yang sempat tertunda. Penghancuran kapal induk Dark Zord pun dimulai. Pedang besar itu mampu membereskan hampir separuhnya. Torrax tak mau ambil risiko. Menyelamatkan aset terakhir sangat penting daripada terus bertempur dalam keadaan tidak seimbang. Ia bergegas ke ruang kendali, mengambil chip Eva, sementara teman-temannya yang lain menjadi sasaran amukan Zeal. Beruntung, sebuah kapsul penyelamat masih bisa diaktifkan. Ia masuk dan melesat keluar, melarikan diri. Belum keluar dari batas perimeter, sesuatu mendarat di atas kapsulnya! “Dante! Pergilah! Aku tak punya urusan denganmu!” usirnya, ketakutan setengah mati. Zeal menghancurkan kaca kapsul begitu mudah, mengambil chip di tangan Torrax, lalu melempar alien pengecut itu ke antariksa. “AARRGGHH …. !!” teriaknya membahana, namun hanya ruang hampa yang mampu mendengarnya. Selesai memporakporandakan semua musuhnya bahkan sisa-sisa armada terbang Dark Zord, Zeal berdiri di tengah antariksa, menatap satu persatu bangsa manusia yang tercengang menyaksikan aksinya. Ia terbang tepat ke depan kaca anjungan Saturn Gallant, berbicara pada Kapten Skivanov. “Carlo Dante juga milik bangsa Eyn. Biarkan dia menikmati liburan beberapa hari di sana. Satu lagi, Anda bisa menghukum kapal induk Dark Zord sekarang. Gunakan senjata akhir Saturn.” Selesai mengucapkan itu, Zeal pun menghilang, membawa Dante ke istana Eyn untuk mendapat pertolongan. Sentuhan akhir untuk menyudahi perang, akhirnya dimenangkan Saturn Gallant. Satu-satunya senjata pamungkas dengan daya ledak tinggi menarget bongkahan kapal induk Dark Zord yang sekarat, dan dalam sekali tembakan eksekusi, Saturn menyudahi penderitaan musuhnya.   ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN