bc

Space DJ : The Beginning

book_age18+
86
IKUTI
1K
BACA
adventure
space
kicking
straight
genius
icy
special ability
alien contact
kingdom building
war
like
intro-logo
Uraian

Carlo Dante, mantan pembunuh bayaran, memutuskan keluar dari dunia hitam dengan bekerja sebagai Space DJ di kapal induk luar angkasa Saturn Gallant. Kenyataan yang tak seindah impian mengharuskannya tunduk pada kesepakatan dengan Kapten Ivan Skivanov. Petualangan terus berlanjut hingga alien jahat bernama Roughart berusaha menghancurkan Saturn Gallant. Pada saat yang sama, ia mulai mengenal Eyn Mayra, seorang putri kerajaan Eyn yang nyaris kehilangan nyawa akibat ulah penyihir hitam bernama Xorcius.

Upaya Dante menyelamatkan nyawa Eyn Mayra justru mengenalkannya pada Mica, gadis berumur delapan belas yang langsung jatuh cinta padanya. Konflik batin antara memilih sang putri atau gadis bumi biasa, memaksanya untuk menguji Eyn Mayra.

Bagaimana akhirnya? Apakah Dante menemukan kebahagiaan dan cinta sejatinya atau terseret dalam jurang yang semakin dalam? Space DJ : The Beginning akan menjawab itu semua.

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1 AWAL YANG 'SEMPURNA'
Carlo Dante menginjakkan kaki di lantai dingin ini untuk pertama kalinya. Tempat yang seharusnya terakhir untuknya setelah sekian lama berkubang dalam kegelapan. Terasa seperti mimpi, ketika Space DJ Legacy menyerahkan sertifikat penobatan dirinya sebagai Space DJ tahun ini. Menyisihkan ratusan DJ dari penjuru bumi, seorang Space DJ yang terpilih berhak bekerja di klub elit di sebuah kapal induk luar angkasa. Dengan demikian, ia bukan lagi warga bumi, melainkan warga antariksa di bawah naungan Central. Baginya, musik adalah bagian jiwa sekaligus pelarian. Ia tahu persis, hanya dengan menjadi Space DJ, kehidupannya punya kesempatan untuk berubah. Bumi sudah menempatkannya dalam daftar hitam status warga negara, jadi cuma tempat ini jalan satu-satunya, tempat terakhir untuk pulang. Boarding pass mantap dalam genggaman, ia pun melenggang aman menjauh dari pintu keluar, melewati para staf dan calon penumpang baru yang lalu lalang. “ID?” “Kartu. Tidak ada chip dalam tubuhku.” Tangannya menyerahkan boarding pass berbentuk kartu itu pada petugas. Selesai lolos dari deteksi chip, petugas berseragam lengkap dengan senjata memberinya jalan untuk lewat setelah mengembalikan kartu ijin masuk tersebut kepada Carlo Dante. Saturn Gallant memang luar biasa besar. Walau bentuknya memanjang seperti senapan, Saturn Gallant bukanlah kapal perang. Kapal induk luar angkasa itu sengaja dibuat untuk mengurangi populasi manusia di bumi. Sistem persenjataan standar sebab mengutamakan ruang yang luas untuk seluruh penduduknya. Bicara tentang ruangan, Dante mendapatkan kamar yang cukup luas. Pertama kali menikmati tempat tidur empuk, berharap bisa tidur nyenyak tanpa rasa cemas. Sebelumnya, ia hanya melewati tempat seperti ini hanya untuk mencabut nyawa seseorang, lalu menghilang, menunggu pekerjaan lain yang lebih kotor. Tidur di mana saja seperti tikus, makan apa saja yang dekat dengannya bila sudah sangat lapar. Mengenang itu semua, Dante menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Kedua tangan menyangga kepala sementara kaki masih menyentuh karpet lantai. Tak lama, pikirannya beralih pada suasana futuristik ruangan itu yang sesuai untuknya. Balutan warna silver, putih dan abu-abu mendominasi interior. Perabot memang tak tampak, namun Dante tahu, semua tempat penyimpanan memakai sistem tanam. Ia tinggal memberi perintah pada layanan kamar virtual, maka lemari bajunya akan terbuka. Layanan virtual? Ya, Tuhan! Ia lupa mengaktifkan Shiva! “Scanning.” Sosok virtual berkecerdasan buatan itu langsung memindai keamanan ruangan setelah diaktifkan. “Aman, namun jaringan EDOS yang dimiliki Saturn Gallant rawan serangan. Sistemnya terlalu standar.” “Tak usah memikirkan itu, kelemahan EDOS berarti keuntungan untuk kita. Aku di sini untuk bekerja, dan pekerjaanku bersih. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Space DJ Legacy tahu reputasiku dan mau memberiku kesempatan kedua. Itu sudah cukup.” ucap Dante mendesah lelah. “Aku bisa hidup tenang.” “Bukankah tempat tinggal yang aman juga penting untuk bahan pertimbangan? Bukan cuma kamar ini, tapi semua sudut Saturn Gallant. Apa gunanya menampung banyak manusia dan alien berbagai ras bila sistem pertahanannya lemah? Kita seperti tinggal dalam bom waktu!” “Lantas apa yang kau harapkan? Tempat ini sangat jauh lebih baik daripada bumi. Susah payah aku memperoleh lisensi namun berakhir pada keluhanmu? Shiva, tidak ada hal buruk yang akan terjadi. Percayalah!” “Harapan hidup di sini berkurang dua puluh delapan persen setelah aku menganalisa situasinya. Sama sekali bukan tempat yang aman.” Shiva terus berkomentar sambil menunjukkan hasil olah data Saturn Gallant secara statistik. “Shiva, kita tidak punya rumah. Jika Saturn memang untukku, maka mati di sinipun aku siap.” Mendengar itu Shiva tak menyanggah lagi. Perhatiannya tertuju pada panel jaringan komputer di balik dinding perak kemudian menghilang, mengambil alih program EDOS, agar ia memegang kendali penuh sistem keamanan kamar Dante, termasuk layanan kamar virtual. Dante yang sudah menebak kebiasaan Shiva, langsung memberinya perintah ringan, “Aku butuh air minum, dan tolong, bangunkan aku sebelum jam lima. Aku tidak mau terlambat pada hari pertama bekerja.” Pukul 11.45 waktu Saturn hampir tengah malam, Space DJ muda itu berjalan mantap dengan tas ransel di punggungnya. Ia sudah siap bekerja setelah puas berkeliling, mengagumi dan mencoba hampir semua fasilitas Saturn Gallant, meskipun sejauh ini, dia belum berminat menjalin pertemanan dengan siapapun. ‘Jangan percaya siapapun’ masih menjadi guru yang terbaik. Di depan pintu masuk khusus staf, petugas Soundbuzzter Club siap menyambutnya. Perlahan, kedua tangannya yang terbungkus sarung tangan hitam dan senada dengan kostum panggungnya, mempererat tali pegangan tasnya. Di luar dugaan, seseorang yang mengaku sebagai manajer klub, malah menyambutnya penuh omelan. “Jadi kau Space DJ baru, hah? Legacy bilang kau luar biasa tapi buktikan dulu kemampuanmu, baru kontrak bicara. Ini pre-show, ya! No money!” Taktik. Semua pebisnis pasti jual mahal kecuali jika mereka butuh. Namun bagi Dante bukan uang tujuannya. Dari dulu ia sudah kaya jika terbuai benda laknat itu. Bahkan sebagian besar pendapatan dari pekerjaan kotor di masa lalu ia gunakan untuk menghidupi orang lain. Sebagian kecil sisanya hanya untuk bertahan hidup dan membeli senjata. Akankah bisnis ini cuma peduli soal mengeruk uang? Mengapa sulit bagi sebagian orang untuk memahami arti musik yang sesungguhnya? Setidaknya Space DJ Legacy menghargai musiknya, bukan sekadar penggembira ingar bingar kehidupan manusia. Bagaimanapun, ia tak ingin berdebat dengan siapapun saat ini. Tata cahaya berteknologi tinggi mengekspos dirinya setelah MC mengumumkan kehadirannya, “Inilah momen yang kita tunggu setelah enam bulan mereka menyeleksi talenta para DJ terbaik dunia. Enam bulan! Kini saatnya kita buktikan kemampuannya. Pemenang kompetisi Space DJ Legacy tahun ini, puncak kemeriahan pesta, Space DJ Carlo Dante!” MC mengucapkan namanya cukup lama seperti di ajang tinju. Segera setelahnya, clubbers bersorak, banyak yang sudah tahu tentang dirinya, ikut meneriakkan namanya, meski Dante tetap merasa tak pernah memiliki penggemar. Cahaya meredup, lalu berubah meriah seiring hentakan pertama. Beberapa menit kemudian, seisi klub telah larut dalam alunan techno progressive dan permainan tempo, scratch dan tehnik DJ lainnya di belakang perangkat mixer dan hi-tech portable turntable. Suasana baru akan memanas ketika tiba-tiba belasan staf militer mengepung Dante dan mengacungkan senjata, memaksanya turun dari panggung. Dante kaget, tapi perlakuan ini sudah ia duga. Kemungkinan terburuk jika kekhawatiran Shiva menjadi kenyataan, dan detik itu juga berusaha mengendalikan diri, mengikuti permainan siapa saja yang berperan di balik penangkapannya. Kedua tangan terangkat ke atas, tanda bersedia tunduk. Otomatis musik pun berhenti, mengakibatkan clubbers kebingungan dan takut menyaksikan kejadian itu. Sebagian dari mereka memutuskan pergi, sisanya percaya pertunjukan akan tetap berlangsung sambil mencari tahu apa yang sedang terjadi. “TURUN!” seru seorang staf militer yang paling depan. Dalam waktu singkat, ia dan beberapa rekannya sudah membekuk sang Space DJ, mengunci kedua tangan di balik punggung agar tidak melarikan diri. “Perlukah satu unit staf militer untuk menangkap seorang warga sipil? Kupikir staf keamanan saja sudah cukup.” sindir Dante. “Warga sipil? Bukan itu yang dikatakan Kapten Skivanov tentangmu. Jalan!” balas staf itu tak peduli, sangat yakin bahwa orang yang ditangkapnya adalah penjahat besar buruan Dewan Bumi. Sepeninggal Dante dan staf militer yang membawanya paksa, Ray Bliss manajer klub, bertindak cepat. Memberi kode pada MC agar mengambil alih kendali, bagaimanapun pertunjukan harus terus berlangsung hingga selesai. “Bos, ini milik Carlo Dante,” kata seorang staf klub sambil menyerahkan sebuah tas punggung berwarna hitam kepadanya. Ray menatap benda itu cukup lama. Sejak pertama ia membuka bisnis dan menampilkan para Space DJ, baru kali ini peristiwa aneh terjadi. Seorang Space DJ bermasalah dengan pihak militer? Ada apa gerangan? Banyak pertanyaan tak terjawab menjejali pikirannya, namun ia tak mau berspekulasi. Sertifikat Space DJ Legacy bukan hal sembarangan. Mereka pasti mempertimbangkan sangat matang sebelum memutuskan Carlo Dante yang misterius itu sebagai pemenangnya. Satu hal yang pasti, ia harus mendengar pengakuan Dante sendiri, langsung dari mulutnya! Dante berjalan paling depan tanpa harus didorong. Yang mencengangkan beberapa staf militer di belakangnya, terkesan bahwa Dante-lah yang tak sabar ingin segera bertemu pimpinan Saturn Gallant yang memerintahkan penangkapan dirinya. Tiba di depan sebuah ruangan paling ujung dari koridor yang mereka lalui, staf tadi menghentikan langkahnya. “Berhenti! Masuk!” perintahnya kasar, mendorong Dante agar masuk ke dalam ruangan itu setelah pintu terbuka dan melepas borgolnya. Pintu menutup dan mereka berjaga di depannya. Ruang kerja sang kapten cukup mencekam. Bagaimana tidak? Di antara hiruk pikuk kemewahan gaya hidup penduduk Saturn, hanya tempat ini yang lebih buruk dari penjara. Memang bersih, tapi terlalu luas untuk ruangan yang cuma diisi dua kursi saling berhadapan yang dipisah sebuah meja kerja. Sedikit cahaya di atas meja tersebut membuat suasana kelam dan muram. Betapa membosankan!  Kira-kira, orang macam apa yang betah berlama-lama berkutat dengan pekerjaannya di sini? Kapten kapal induk lain pasti memilih ruang kerja super canggih, lengkap dan mewah. Sangat berbanding terbalik dengan reputasi Saturn Gallant yang terkenal dengan fasilitas yang serba ‘wah’ sehingga menggiurkan siapa saja untuk mengantongi izin tinggal di sini. Atau, di balik suramnya tempat ini, terdapat teknologi tertentu untuk melindungi sang kapten? Ya, mungkin saja. Carlo Dante telah terlatih untuk tak mudah percaya pada apa yang dilihat dan didengarnya. Kursi besar itu cukup menyembunyikan sosok seseorang yang sengaja membelakangi meja kerja. Benar dugaannya, Kapten Skivanov telah menunggu kehadirannya tanpa dikawal oleh seorang pun staf militer. “Berani sekali kau menginjakkan kaki di sini, Carlo Dante. Semua orang membicarakanmu di bawah sana, lalu seenaknya saja kau datang setelah memengaruhi Space DJ Legacy? Atas nama musik mereka bisa meloloskanmu, tapi dunia hitam, Dewan Bumi dan stafku tidak akan tinggal diam. Tinggal siapa yang tercepat bisa membuatmu menderita, itulah pengadilanmu.” Kalimat yang datar tapi sarat ancaman. Sangat jelas kalau pria itu juga membenci Dante karena lancang ‘mengotori’ tempatnya. “Bagaimana dengan Central? Sudahkah kau bertanya padanya mengapa aksesku masuk ke Saturn Gallant disetujui? Bukankah semua manusia yang datang ke sini, meskipun turis, harus melalui perizinannya? Atau kalian semua bodoh? Mana yang harus kupercaya?” Dante sadar bahwa kata-katanya berpotensi memancing emosi sang kapten. Kapten Skivanov memutar kursi kerjanya, sehingga tampak jelas rupa wajah dan sosok tubuhnya. Struktur tegas dengan rahang keras memenuhi kontur wajah Rusia-nya, bola mata biru sama sekali tak mengurangi kesan kejam tatapannya. Sedangkan tubuh tingginya pastilah dipenuhi otot yang mampu meremukkan lawan dalam sekali pukul. Otak Dante sibuk mengalkulasi impak fatal dan persentase kerusakan jaringan tubuh jika nekat menantang kapten itu sekarang. Daripada membuang tenaga, ia lebih tertarik mengetahui kemauan laki-laki berseragam itu dan kalau bisa, memanfaatkannya untuk kepentingan sendiri. “Duduk!” Dante menurut. Walau demikian ia segan menunduk. Mata elangnya membalas tatapan pria tinggi besar yang duduk di depannya. “Apa maumu?” tanyanya tanpa basa-basi. “Kau benar menanyakan izinmu. Saat membaca profilmu, aku tidak yakin kau bersih. Space DJ Legacy mungkin lemah tapi Central tidak sebodoh itu. Anehnya, aku sama sekali tidak tertarik menanyakan alasannya menerima aksesmu. Aku lebih suka memahami motif di balik ini semua, bahwa Central memang menginginkan kedatanganmu. Dia menganggapmu aset!” “Lalu? Bukankah aku memang aset? Aku bisa membuat kalian kaya dengan menarik pengunjung Soundbuzzter Club.” kilah Dante berpura. Tahu persis bahwa Skivanov mengincar sesuatu yang lebih besar darinya. “Kau mantan anggota Lethal-X, sudah disewa sebagai pembunuh sementara remaja lain seusiamu baru mulai kenal pesta! Kau seharusnya bernasib sama dengan angkatanmu sebab telah dicuci otak. Kalian setia pada perintah. Tapi kau berbeda. Kau selamat dari jebakan pemerintah karena tidak menuruti perintah. Semua orang termasuk Dewan Bumi pasti bertanya-tanya, apa yang terjadi? Mengapa masih tersisa satu anggota Lethal-X? Jawabannya mudah, seseorang membantumu melewati fase cuci otak tapi kau tetap menjadi yang terbaik. Kau serap semua pengetahuan dan kemampuan bertahan hidup yang Lethal-X ajarkan padamu, termasuk cara merancang dan membuat senjata. Bukankah begitu? Itu sebabnya ‘anjing-anjing’ dunia hitam di bumi tidak akan pernah melepasmu jika kau kembali. Dewan Bumi akan menguliti dan memindah isi otakmu ke dalam basis komputer mereka, sedangkan aku dan Central tentu harus lebih bijak. Memanfaatkanmu adalah keputusan cerdas.” Dante mengerti. Ia berhasil mencerna maksud kata-kata Kapten Skivanov. “Kau ingin aku … membuat senjata untukmu?” selidik Dante dan reaksi dari wajah Skivanov memang tepat. Begitu mudah ditebak. Belum ditemuinya kebaikan gratis di dunia ini. Kapten Skivanov menghela napas. Ia harap keputusannya tepat untuk memercayai Space DJ itu. “Bukan untukku, tapi Saturn Gallant. Dengar, Central bertanggung jawab pada lima kapal induk kita. Tiga kapal induk koloni, dan dua kapal perang antariksa. Dari tiga kapal induk koloni, hanya Saturn Gallant yang tidak memiliki persenjataan cukup. Walau armada militer cukup kuat, pasti akan lumpuh jika harus menghadapi musuh dengan persenjataan lengkap. Awalnya, aku heran dengan cara berpikir Central, namun begitu dia mengizinkanmu masuk, kurasa aku mengerti. Saturn Gallant bisa kuat jika kau turun tangan. Aku janji, sebagai imbalannya, kau berhak hidup bebas di sini dengan akses penuh, termasuk di lab senjata tempatmu bekerja nanti. Bahkan akan kuberikan sebelum kau mulai bekerja, sebelum kau pergi dari sini. Namun bila kau menolak …. ” Alis Dante naik. “Rasanya aku tak punya pilihan lain ‘kan?” Berpikir sejenak, curiga pada niat baik Skivanov, ia bertanya, “lalu, kau akan membunuhku setelah tugasku selesai?” “Dante, aset adalah aset. Kau takkan terbunuh kecuali bila berani berkhianat.” jawab Kapten Skivanov enteng. “Andai Saturn Gallant tidak seperti ini, mana mungkin aku sudi memintamu bekerja sama, sebab pembunuh tetap pembunuh. Kau hanya memasang kedokmu di sini.” Tuduhan yang menyakitkan, tapi orang itu bebas mengatakan apa saja tentang dirinya. Dante tak terlalu peduli. Mengesampingkan emosi dan menomorsatukan strategi adalah caranya bertahan hidup selama ini. “Perlu kau ingat, Capt., tak ada tipu muslihat. Ingat itu. Sekali seseorang membohongiku maka terpaksa aku mengotori tanganku lagi. Seperti katamu, pembunuh tetap pembunuh. Walau kenyataannya aku benci melakukannya karena sudah saatnya aku berhenti. Walau aku tahu, orang sepertimu tidak mungkin memahami itu, sampai kapanpun.” Penting bagi Dante mengamati reaksi sang kapten. Setidaknya Kapten Skivanov adalah pria berprinsip dan pasti menepati janji. Pemimpin tertinggi Saturn Gallant itu tersenyum puas. Penilaiannya tentang Carlo Dante tak meleset. Jujur dan penuh perhitungan. Pemuda itu juga harus memercayainya jika ingin hasilnya bagus. “Maka dari itu, lakukan tugasmu. Buktikan bahwa aku salah tentangmu.” Tawaran yang memuakkan sekaligus menggiurkan. Bagaimana mungkin menolak akses penuh ke semua fasilitas di Saturn Gallant? Dengan demikian, ia benar-benar merasakan kebebasan yang selama ini ia pikir cuma sekadar mimpi. Sebagai awal, ia meninggalkan ruang kerja Kapten Skivanov tanpa kawalan staf militer yang mengancamnya dengan senjata. Boarding pass-nya telah mendapat persetujuan full access signature dari Kapten sendiri sebelum Dante meninggalkan ruangan. Tangannya agak bergetar ketika mencoba menggunakan ijin masuknya itu ke sebuah pintu tertutup. Kunci virtual membuka pintu setelah membaca kode aksesnya, “AKSES DITERIMA.” Lupa bahwa ia tak perlu mengendap-endap, Dante menegakkan badannya. Pintu tertutup otomatis dan lampu menyala. Tampak jelas bahwa tempat itu adalah gudang penyimpanan berisi rak-rak kaca anti peluru. Di balik rak-rak kaca tertutup itu terdapat beragam batuan dan mineral yang sebagian besar belum dikenal Dante. Satu di antaranya adalah ionos, mineral dari planet Ortheoz. “Kau lihat ini, Shiva?” Shiva yang selalu terhubung dengan microchip dalam kepala Dante langsung menjawabnya. “Sangat jelas. Ionos cenderung stabil dan masif. Satu serpihan kecil saja bisa menghancurkan satu kapal induk dalam waktu cepat jika ditransfer dalam bentuk laser. Kita ambil sekarang?” Dante menggeleng. “Ruangan ini mungkin dilengkapi kamera pengawas. Meskipun tidak, sistem EDOS akan melaporkan aksesku telah digunakan di sini. Mereka akan langsung tahu bahwa aku pelakunya. Kapten memberiku akses bukan berarti bebas mengambil. Jika aku menginginkannya, aku harus mencurinya tanpa menggunakan akses yang kupunya.” “Kau yakin akan membuat Dual Exchanger?” “Mengapa tidak? Materi yang kubutuhkan ada di sini. Maaf, Kapten. Kurasa aku akan sedikit … mengkhianatimu.” Tiba di ruangannya, Dante tak langsung menghempaskan diri ke atas tempat tidur. Ia memilih masuk ke kamar mandi, melucuti semua pakaiannya dan membiarkan air dari dinding shower membasahi tiap inci anggota tubuhnya.Termangu di depan cermin seukuran d**a yang tersedia di sana, memikirkan langkah esok hari. Pukul 03.00, sebentar lagi pagi. Walaupun Saturn menggunakan tampilan dan waktu seperti di bumi, rasanya tidak akan pernah sama. Cahaya matahari dengan hangat yang sempurna tidak mungkin ditandingi oleh teknologi apapun, tak peduli seberapa canggihnya. Sejenak, ia merindukan bumi. Mengenang segelintir orang yang cukup baik ia kenal, lalu mereka akhirnya mati. Tentu saja karena terlibat dengannya. Dua di antaranya adalah Alex dan Ruby. Pasangan suami istri yang tulus membesarkannya, melindunginya dari pengaruh jahat Lethal-X Academy. Merekalah penyebab mengapa Carlo Dante selamat dari fase cuci otak dan menolak perintah untuk menyerang pemerintah. Setelah perbuatan mereka ketahuan, hukuman penggal adalah ‘hadiah’ yang harus mereka terima. Sejak kehilangan mereka, Dante berkomitmen tidak akan dekat dengan seseorang. Apalagi … wanita. Sebagai laki-laki biasa, tentu ia berhasrat. Namun, bila teringat darah yang akan mengalir dari tubuh mereka, sangat menyakitkan seumpama ia benar-benar nekat. Sikap egois yang pasti berujung pada terbunuhnya anak gadis seseorang. Ia tidak akan sanggup menanggung rasa bersalah itu, sampai kapanpun. “Kau akan mandi sampai kulitmu berkerut?” Suara Shiva menyadarkannya karena mandi terlalu lama. “Cepatlah! Kutunjukkan sesuatu.” “Ada apa?” Tak lama Dante keluar dengan handuk terlilit di pinggangnya. Tubuh atletis pemuda itu dihiasi beberapa bekas luka. Sambil menyimak penjelasan Shiva yang menunjukkan data Saturn melalui layar hologram, Dante mengenakan pakaian yang nyaman untuk tidur, walau cuma sebentar. “Ucapan Kapten Skivanov benar. Saturn Gallant hanya memiliki empat puluh lima persen persenjataan, di banding kapal induk Blue Steel dan Silver Twin. Ini gila! Stasiun pengisi bahan bakar saja punya lebih dari itu. Tanpa suplai dari Central, rencana pembuatan senjata tidak akan berhasil maksimal. Kau pasti kesulitan melakukan tugas itu, Dante.” “Oleh karena itu kita perlu rencana cadangan. Dual adalah rencana terbaik.” “Tapi jika Kapten tahu kau menyembunyikan Dual Exchanger darinya, risikonya terlalu tinggi.” “Tidak jika kugunakan Dual untuk melindungi Saturn,” bantah Dante. “Aku hanya tak mempercayai seorangpun dari mereka untuk menggunakan senjata itu. Tidak untuk saat ini.” “Kapan kita mulai menyiapkan materi?” “Secepatnya, tapi sebelumnya aku harus mengurus sesuatu. Pekerjaanku di klub juga tak kalah penting. Manajer dan semua orang di sana sudah menganggapku kriminal. Jika kondisi itu tak berubah, Space DJ Legacy akan mencabut lisensiku. Itu berarti Kapten Skivanov akan leluasa menjeratku. Lab senjata memang menyenangkan, tapi aku tak berencana untuk menetap di sana.” Shiva yang menunjukkan tampilan virtualnya, mengangguk setuju. “Baiklah, akan kuurus semua data dan kalkulasinya sesuai prototipe. Sementara itu, usahakanlah untuk kembali bekerja di klub.” “Ya. Tolong lampunya.” Selama dua jam, Dante terlelap, tapi Shiva tidak. Sampai sejauh ini keberadaannya belum terdeteksi staf keamanan Saturn Gallant. Sosok virtual itu tidak boleh diketahui siapapun. Dante tidak akan pernah mengaku bahwa memiliki chip di dalam kepala yang letaknya sangat rahasia. Benda super kecil yang menjadi penghubung dirinya dan Shiva. Dante tak perlu menunggu malam untuk bertemu Ray Bliss dan bicara empat mata dengannya. Soundbuzzter Club juga berfungsi sebagai markas para stafnya, sehingga ia bisa ke sana kapan saja sebelum waktu pertunjukan. Tentu saja, semua mata menatapnya. Diijinkan masuk ke ruang kerja Ray, sebuah tas punggung dilempar ke arahnya. “Milikmu. Aku tergoda membukanya tapi tidak kulakukan. Entah mengapa, hingga sekarang aku masih menganggapmu pemuda baik-baik.” ujar Ray. “Duduklah, aku ingin bicara.” Ia menarik napas dalam sebelum kembali bicara. “Namaku Ray. Ray Bliss. Di pintu itu memang ada namaku tapi secara langsung kita belum berkenalan. Dengar, jika kau ingin menjelaskan sesuatu, sekarang waktumu. Kecuali kau ingin situasinya semakin berlarut-larut, maka sebaiknya kau pergi. Tak peduli lisensi atau nasib kariermu. Tamat. Selesai. Game over. Aku punya hak untuk menolakmu.” “Maaf, membuatmu malu. Bisnis ini tercoreng karenaku.” “Benar, tapi aku bisa memperbaikinya jika kau mau jujur padaku.” “Meskipun kau harus mati?” Ray ternganga, namun cepat-cepat sadar. “A-apa maksudmu?” “Akan kuberitahu jati diriku, siapa aku pada masa lalu, kecuali urusanku dengan Kapten Ivan Skivanov. Apabila kau tetap memaksa, dia yang akan membungkammu, bukan aku.” Dan Ray menyimak seksama penjelasan Dante. Sulit dipercaya, tapi inilah saatnya sikap profesional seorang manajer diuji, meskipun berkali-kali berusaha supaya dagunya tidak turun. Di depannya, duduk seorang bekas pembunuh bayaran jebolan Lethal-X, buruan para penjahat dunia hitam, dan buronan paling dicari oleh Dewan Bumi. Bagaimana tidak? Siapapun takkan menduga kenyataan itu. Tinggi sekitar enam kaki, d**a bidang dengan susunan tulang proporsional persis petarung jalanan, ditunjang otot badan yang pasti terlihat jika dia tak mengenakan atasan, pastilah sangat mudah bagi Dante untuk menghajar seseorang dengan kecepatan yang diperhitungkan. Sikapnya tenang dengan ekspresi wajah tampan yang wajar. Sama sekali jauh dari kesan pembunuh seperti yang dia katakan. Mungkinkah Dante jenis manusia psikopat multi talenta yang belum disadari semua orang? Tapi mengapa Central mengabulkan izin tinggalnya? Semakin lama kuping Ray memanas, bahkan sebelum Dante menyelesaikan ceritanya. “Apakah kau ingin tahu bagaimana aku menghilangkan jejak misiku? Pertama, aku harus mengondisikan letak mayat-mayat itu, lalu menyayat bagian …. ” “Sudah, cukup! Bagian itu tidak penting lagi.” Tanpa sadar menyeka keringat di pelipisnya walau sebenarnya ruang kerja itu berpendingin. “Dengarkan aku, Dante. Kau sudah menjadi orang yang berbeda sekarang. Aku percaya, bila seseorang menyukai musik dan bisa menciptakan lagu yang indah, maka kebaikan ada pada dirinya. Oleh karena itu, aku percaya kau orang baik. Ya, baik. Baik berarti kau tidak akan menyakiti seseorang walau kadang berbuat salah. Salah tapi tidak menyakiti, kau tahu maksudku ‘kan?” Dante mengangguk pelan. “Ray, kau berputar-putar.” “Apapun itu,” ucap Ray setengah tertekan, “jangan berbuat bodoh seperti dirimu di masa lalu. Aku tidak akan bertanya lagi tentang urusanmu dengan Kapten Skivanov tapi pastikan saja tidak seorang pun yang dirugikan. Central memercayaimu, aku juga harus begitu. Jadi jangan kecewakan kami, kau mengerti?” Tersenyum karena berhasil melalui percakapan itu, Dante mengangguk lebih tegas. “Baik, Pak. Aku sudah bersumpah. Tak seorang manusia pun yang kupercaya tapi aku percaya pada Tuhan. Akan kupastikan diriku yang lebih dulu menderita sebelum kalian. Terima kasih, memberiku kesempatan.” Ray menghembus napas panjang setelah Dante pergi dari hadapannya. Ini sungguh tidak mudah. Tiada yang menjamin Carlo Dante betul-betul sudah berubah. Semoga saja dia sanggup memegang janjinya, karena hanya itu yang dia punya. Beralih pada hal lain, Ray menerima panggilan virtual dari rekannya sesama manajer klub dari kapal induk Blue Steel. “Ya?” “Siapkan Space DJ-mu untuk Space DJ Battle beberapa hari lagi. Acara itu tidak bisa ditunda lagi. Aku tahu masalah yang telah terjadi tapi hal itu tak memengaruhi keputusan final Space DJ Legacy. Ada yang ingin kau sampaikan, Ray?” “Hm, tidak. Aku baru bicara dengan Dante dan kupikir … kita harus memberinya kesempatan. Opini publik bisa dibangun ulang tergantung bagaimana penampilannya nanti.” kata Ray hati-hati, tanpa membongkar kenyataan bahwa Space DJ-nya kali ini ‘lain’ dari biasanya. “Bagus. Siapkan juga Soundbuzzter Club. Jangan sampai ada kesalahan lagi.” Kontak pun berhenti. Kesalahan. Semoga ia tak menyesali keputusannya kali ini.                                                                                              ****

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.1K
bc

Patah Hati Terindah

read
80.6K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Scandal Para Ipar

read
708.0K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

JANUARI

read
49.0K
bc

Life of Mi (Completed)

read
1.0M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook