BAB 2 PARTY!

3988 Kata
Soundbuzzter Club bukan klub biasa. Di luar angkasa, hanya klub ini yang menerapkan izin khusus bagi pengunjung. Sebagaimana jumlah penduduk manusia di Saturn Gallant yang lebih banyak, maka pengunjung selain manusia yaitu spesies alien dari berbagai koloni atau planet lain yang datang, tentu sangat sedikit. Spesies alien yang sudah mengantongi izin tinggal adalah yang mampu mengikuti aturan ketat Saturn Gallant. Jika terbukti melanggar, mereka akan ‘dibuang’. Hukuman yang terbilang sopan demi keselamatan semua warga, terutama manusia. Sebaliknya, bila manusia yang melanggar, tentu ada proses pidana terlebih dahulu sebelum dikembalikan ke bumi. Kehidupan harus berjalan sebagaimana mestinya, sesuai aturan Central di antariksa. Di bar klub, tidak ada minuman keras memabukkan yang berpotensi membuat pengunjung hilang akal, melainkan penghilang stres dengan aroma segar atau penambah stamina. Satu hal yang pasti, mereka harus dalam keadaan sadar ketika pulang, sama seperti ketika datang. Aktivitas di klub adalah pertemuan dengan rekan dan kerabat, menyaksikan beragam pertunjukan, terutama penampilan Space DJ. Carlo Dante adalah generasi kelima setelah setiap Space DJ pendahulunya habis masa kontraknya. Oleh karena itu mereka gembira, penantian selama enam bulan membuahkan hasil juga. Seorang Space DJ baru yang langsung terlibat masalah dengan staf militer pada penampilan perdana. Anehnya, banyak yang berpendapat hal itu keren. Berembus beragam spekulasi, tapi sebagai manajer profesional, Ray harus tanggap mengatasi, seolah peristiwa itu tak pernah terjadi. Sore ini ia mengadakan briefing santai. “Sudah semua?” “Ya!” jawab semua anak buahnya kompak setelah Ray memasuki panggung DJ yang lumayan luas. Mereka semua duduk di lantai, termasuk Ray. “Tehnisi, MC, DJ dan tentunya … Space DJ Carlo Dante, kau hadir?” “Ya, Ray. Aku di sini.” Tangan itu terangkat. Dante berada di antara Cain Throne sang tehnisi dan Shawn McNicky, bartender. Shawn yang baru kali ini berjumpa, langsung menjabat tangan Dante. “Jadi kau, Space DJ Carlo Dante? Kau keren, Bung! Senang berkenalan denganmu.” “Terima kasih,” jawab Dante walau tak tahu makna ‘keren’ yang dimaksud Shawn. Ia masih menganggap dirinya pecundang gara-gara malam itu. “Baiklah, jujur kuakui bahwa malam ini cukup berat. Tak pernah sekalipun aku menyangsikan kemampuan kalian, tapi harus kukatakan, inilah saatnya kita memperbaiki situasi. Bersama-sama. Keluarga besar Soundbuzzter Club adalah satu tubuh, bila ada masalah harus kita atasi bersama dan tidak saling menyalahkan. Semua orang mungkin berbuat salah maka sebab itu tidak boleh ada penghakiman selama tujuan kita masih sama, yaitu menjaga perdamaian alam semesta. Terdengar sepele, tapi … musik dan pertunjukan yang baik dapat meredam niat buruk dan kegelisahan seseorang. Menghibur seseorang yang ‘sakit’ secara mental lebih berharga dari obat apapun di dunia, jadi … aku sangat berharap kita dapat memperbaiki situasi. Itu saja untuk kasus intern kita. Ada pertanyaan?” “Yeah, Ray, mengapa Carlo Dante tidak maju memperkenalkan diri. Kau bilang, kita satu keluarga ‘kan?” tuntut seorang stafnya. “Tentu, kenapa tidak? Dante, kemarilah! Aku ingin kalian benar-benar fokus saat membahas Space DJ Battle.” pinta Ray kemudian. Tak lama, Dante sudah menghadap rekan-rekannya. Pandangan mereka tertuju padanya namun tak seorang pun yang menatap sinis seperti pada saat ia hendak menemui Ray saat itu. “Dengar, aku … masih merasa bukan di sini tempatku. Namun sebagaimana manusia biasa pastilah merindukan rumah. Aku berharap Saturn Gallant bisa menjadi tempatku pulang setelah sekian lama berjalan tak tentu arah. Masalahku dengan pihak militer sudah selesai. Kalian tidak perlu mencemaskan apapun. Ada satu pertanyaan yang masih membebaniku, apakah kalian mau menerimaku sebagai rekan kerja, sahabat maupun saudara? Lebih menyenangkan jika aku tahu tidak lagi sendiri. Kesepian itu kadang membosankan.” Lantas suara Cain Throne memecah keheningan. “Ya, Space DJ. Kau baru bisa diterima setelah main bagus malam ini. Kami pasti memberimu dukungan penuh. Lakukan saja, Bro! Lakukan yang terbaik!” serunya sambil mengacungkan dua jempol, membuat semua orang di situ tertawa lalu kembali tenang, menunggu reaksi Dante. Dante tersenyum. “Aku janji tidak seorangpun kecewa malam ini. Hm, ada lagi?” “Bisa kau beritahu nomor kontakmu? Aku yakin semua gadis di sini menginginkannya.” Seorang staf wanita menggodanya, disambut riuh, mendukung ucapannya. Space DJ adalah karir dengan kontrak eksklusif, ditambah sosoknya yang ideal tentu menjadi dambaan setiap perempuan. Mereka semakin penasaran ketika Dante tertunduk sesaat, tanda bahwa ia tak pernah sekalipun menjalin hubungan dengan wanita manapun sebab terbiasa hidup dalam kesendirian. “Dante, kau mau menjawab itu? Jika tidak, biar aku saja.” kata seorang staf pria, yang langsung mendapat penolakan ‘besar-besaran’ dari kaum wanita. Dante tertawa. Suasana mulai mencair dan entah mengapa hatinya pelan menghangat, seperti telah menemukan ‘rumah’ yang ia cari selama ini. “Ya, tentu. Kalian bisa mendapatkannya lewat Ray.” Dan mereka mengeluh kecewa tapi itulah bagian dari kode etik seorang Space DJ. Memaksa Ray memberikan nomor kontak Dante sama saja dengan ‘gantung diri’. Ray kembali mengambil alih. “Ada empat Space DJ sebelum Dante, mengapa baru sekarang kalian minta nomor kontaknya? Apa yang terjadi? Kita tahu bahwa Dante berbeda, lain dari pendahulunya yang mengutamakan kerja dan popularitas. Dia hanya menginginkan ‘rumah’ dan keluarga, kenapa tidak? Kita bisa memberi itu semua. Tak usah sungkan padaku, Dante. Bagi saja nomormu. Mereka yang paling peduli padamu.” Suasana kembali ceria. Ray lega semua baik-baik saja. Lanjutnya, “Baiklah, sekarang kita bahas tentang Space DJ Battle. Rencanaku …. ” Untuk sementara semua berakhir baik di klub. Awal yang luar biasa bagi Dante, setelah semua orang menganggapnya bagian dari keluarga. Tak seorangpun yang menanyakan lagi perihal masalahnya waktu itu. Penggemarnya kian bertambah. Saat membantu Cain Throne menyiapkan check sound, beberapa kali para gadis menggodanya atau sekadar memberi isyarat agar menelepon balik lewat jalur komunikasi pribadi. Bahkan ada yang pura-pura tidak sengaja menjatuhkan nomor kontak. “Sudah berapa?” tanya Cain terkekeh. “Entahlah, tidak kuhitung.” jawab Dante singkat, meneruskan pekerjaannya. Shawn datang dan langsung berkomentar, “Enam kartu nama berkode akses, lima tanpa akses, tiga nomor kontak ditulis dengan lipstick di atas tisu berparfum, belum termasuk kerlingan mata dan isyarat cinta lainnya. Sepertinya mereka benar-benar mencari ‘anggota keluarga’ seperti kata-kata Ray, lebih tepatnya suami. Percayalah, Bung, kau bertanggung jawab atas ‘kericuhan’ di sini. Gadis-gadis tidak bisa konsentrasi kerja. Hawa progesteron meningkat saat ini.” Cain tertawa melihat tampang Dante yang serba salah. ‘Bocah’ itu jelas menanggapi serius kelakar Shawn. “Tenang, anggap saja pelampiasan. Cepat atau lambat ini pasti terjadi sebab mereka tidak bisa mengencani Shawn.” “Apa maksudmu?” Giliran Dante yang ingin tahu. “Cain, sebaiknya kau diam atau tidak ada maquita gratis malam ini,” ancam Shawn. “Oh, tidak. Kau akan tetap memberiku maquita untuk menjamin rahasiamu yang lain.” balas Cain sambil tertawa penuh kemenangan, sama sekali tak terlihat cemas terancam tak mendapat jatah segelas minuman gratis dari bar malam nanti. “Kalian anak kecil sama sekali tidak paham soal wanita. Lagi pula Saturn Gallant hanya membatasi aturan berkencan, bukan melarang. Apa masalahnya?” “Sangat bermasalah karena setelah kau beristri, tidak akan ada penambahan kamar atau penggantian tempat tinggal yang lebih luas. Satu-satunya jalan adalah pindah ke bumi. Kau tahu bagaimana reaksi warga bumi yang sadar kalau kau adalah warga antariksa yang pindah karena berkeluarga? Mereka akan mengasingkanmu. Menganggapmu penyebab semakin padatnya populasi. Tidak, aku masih muda. Aku ingin bekerja dan tinggal di sini lebih lama dan untuk itu, aku hanya harus berhati-hati.” jelas  Shawn panjang lebar tanpa diminta. “Kau benar, Cain. Kenapa dari tadi aku tidak menyadarinya? Shawn paling tampan di antara kita semua. Mana mungkin dengan alasan itu para gadis melepasmu begitu saja. Katakan, Shawn, apa rahasiamu? Mengapa semua staf wanita di sini tidak menggodamu?” selidik Dante, sedangkan Cain ikut-ikutan memasang wajah seram. Shawn tak punya pilihan selain mengungkap rahasianya yang paling dalam, “Hm, aku bilang pada mereka … aku lemah. Aku juga tak berdaya karena suatu penyakit menular serius jika sampai berhubungan intim dengan seseorang.” Suasana hening, waktu seolah berhenti. Dante dan Cain saling pandang, antara percaya dan tidak, lalu keduanya pecah dalam tawa. “Hei, jangan menertawaiku! Cain, tidak bijak bagimu menertawaiku karena kau pernah berkeluarga, dan kau, Dante, berharaplah kau tak meniru tindakanku.” protes Shawn tak terima. Cukup lama bagi Dante mengendalikan tawanya. “Tidak, jangan khawatir, mana mungkin aku menirumu.” Ucapannya disambut gelak tawa Cain yang semakin keras, menambah ‘penderitaan’ Shawn. Dua sahabat pertama, seorang manajer yang baik meskipun angkuh pada awalnya, rekan-rekan kerja yang kompak dan humoris, juga pimpinan sadis macam Kapten Skivanov semakin membuat Saturn Gallant menjadi tempat menarik untuk tinggal. Mungkin ia akan betah.                                                                                           **** Sebagai Mr. Bartender Saturn Gallant atau disingkat Mr. B SG, Shawn McNicky telah siap di balik meja bar dan menebar senyuman. Memakai seragam khasnya, ia selesai menata beberapa jenis gelas seperti stem cocktail glass, high ball glass, collin glass, atau juice glass. Pelanggan pertamanya datang, disusul yang lainnya, dengan sigap ia layani sepenuh hati. Rata-rata mereka adalah wanita cantik yang bekerja sebagai staf Saturn Gallant dari berbagai divisi. Melepas penat, mencari hiburan atau sekadar mencari suasana baru setelah seharian penuh bekerja. Bahkan ada di antara mereka yang baru sempat berkunjung setelah beberapa minggu berkutat dengan berbagai kesibukan. Memahami alasan kedatangan setiap pengunjung, Shawn berusaha sebaik mungkin untuk akrab dan membuat mereka senyaman mungkin. “Sibuk, Mr. B?” sapa Carlo Dante menyempatkan diri sebelum waktu penampilannya satu jam lagi. Saat ini panggung masih diisi oleh DJ pembuka. “Wow, Space DJ! Kostum baru? Sedikit terlihat dari balik jaketmu. Bila tamu-tamuku melihatmu, kau tidak akan sempat berjalan menuju panggung.” “Yeah, warna putih. Kata Ray, aku harus terlihat suci seperti bayi.” “Hah, menggelikan, tapi kuakui, desainnya bagus. Kau beruntung, Ray memperlakukanmu istimewa. Terus terang, baru kali ini ia bersifat manusiawi. Mungkin, kau mengingatkannya pada sosok dirinya di masa lalu. Entahlah. Semua orang tahu siapa Ray, tidak seorangpun berani mengusiknya soal pekerjaan. Ia benar-benar penuh perhitungan. Setiap bulan ia akan menyinggung soal profit, jadi kami harus bekerja maksimal. Ini, sedikit hadiah.” Segelas cooling mint dihidangkan di depan Dante, membuat alis Space DJ itu naik keheranan. “Untukku?” tanyanya. “Ini gratis. Sebentar lagi Cain minta jatah segelas maquita-nya. Nikmatilah! Aku yakin tak ada minuman itu di kamar pribadimu.” Benar, rasanya segar. Sejenak pikirannya longgar, lalu teringat Space DJ Battle yang akan berlangsung di Soundbuzzter Club beberapa hari lagi. “Katakan, Shawn, tentang battle, benarkah separah yang dikatakan orang? Kudengar sudah tiga kali kalian kalah.” “Yah, begitulah. Itulah yang terjadi jika seseorang hanya mementingkan uang dan popularitas. Space DJ Battle tak berpengaruh pada karier, jadi buat apa repot-repot? Kalau kau ingin menang, buatlah musik yang bagus sehingga para penonton menyukaimu. Mungkin sudah saatnya Soundbuzzter bangkit, aku yakin kau bisa melakukannya.” Tak terasa hingga seorang rekan memanggilnya supaya bersiap. “Aku pergi dulu,” pamitnya. Dante bergegas menuju ruang ganti pakaian dan dalam sepuluh menit ia telah berada di belakang panggung. MC menyebut namanya dan pesta pun menjadi miliknya! Space DJ Carlo Dante tak membutuhkan waktu lama untuk mengubah atmosfer sesuai keinginannya dan harapan semua orang. Bahkan tipe pengunjung formal pun ikut menikmati musiknya dari kejauhan, banyak pula yang ikut masuk ke arena clubbers, ikut melompat dan bergerak mengikuti irama. Beat musik tak pernah sekalipun datar, sehingga mampu membuat lupa bahwa mereka butuh ekstra energi. Sedikit slow, Dante cukup mengubah tempo sesuai jenis lagu yang dipilih, kadang memadukannya dengan remix lagu bertempo cepat. Kelihaiannya semakin menggila ketika melakukan scratching disusul alunan melodi gitar listrik, lalu diakhiri beberapa detik dentum kekuatan bass. Malam itu pula, semua orang tergila-gila padanya. Selama dua jam pertunjukan, hampir dipastikan tak seorang pun pengunjung yang keluar klub tanpa basah oleh keringat. Yang pasti, mereka bergembira. “Kurasa kita akan menang tahun ini,” gumam Ray terpana, telapak tangannya disambut toast oleh Cain Throne yang lewat di depannya. Sebelum pulang, sebuah ‘pesta’ kecil ditujukan untuknya, Dante masuk ke dalam ruang kerja Ray sambil membungkuk hormat pada rekan-rekannya yang telah menunggu di sana. Mereka bertepuk tangan, memberinya ucapan selamat dan menariknya untuk segera duduk, memberi peluang Ray Bliss untuk bicara, meski cukup sulit bagi Ray untuk menenangkan para stafnya. “Malam yang luar biasa, terima kasih, Dante. Setidaknya kami yakin, gelar pemenang Space DJ Battle akan menjadi milik kita tahun ini!” Selang beberapa detik kemudian setelah situasi tenang, ia kembali angkat bicara, “Baiklah, bersiaplah untuk besok. Dante akan istirahat hingga hari itu tiba sambil menyiapkan konsepnya. Ingat, Dante, kau tahu  apa artinya battle. Kau takkan tahu jenis musik, tehnik apa yang akan ditampilkan pesaingmu. Para pengunjung memiliki hak untuk memilih pemenangnya dan itu berarti kau harus mengambil hati mereka sekali lagi. Tantangan ini cukup berbahaya jika tak ada persiapan khusus. Empat Space DJ akan ‘bertarung’ termasuk dirimu, dua dari Silver Twin dan satu dari Blue Steel. Kau boleh minta referensi video mereka tapi hal itu tak mengubah apapun. Masing-masing dari kalian punya ciri khas yang disukai clubbers. Oh ya, seperti yang sudah kukatakan saat briefing, jangan harap warga Saturn akan mendukungmu jika penampilanmu jelek. Selain itu akan datang pula clubbers dari dua kapal induk itu, jadi bayangkan saja seramai apa suasananya. Entah mengapa, lututku tiba-tiba gemetar,” Ray mengaku. Dia benar-benar bersemangat. Sudah lama gelar pemenang hanya sebatas impian tanpa kenyataan. “Oke, kalian boleh pulang sekarang.” Pada saat kru Soundbuzzter Club masih terlena dengan suasana, Dante harus menerima pil pahit saat Kapten Skivanov memanggilnya melalui gelang komunikasi. Ia cepat-cepat mengenakan jaket dan tas ranselnya, keluar dari klub walau beberapa rekan masih berusaha menahannya. “Ada apa? Aku tahu tugasku, Capt., tolong jangan hubungi aku ketika masih berada di klub.” “Sekarang saatnya kau masuk lab dan memikirkan tugasmu yang lain. Ingat, kau tidak mungkin tenar dalam semalam jika aku memasukkanmu dalam penjara.” Dante menghembuskan napas. “Baiklah, aku segera ke sana.” Laboratorium senjata bukanlah tempat yang menyenangkan. Penjagaan super ketat, peralatan yang berbahaya, namun Dante berupaya cepat mempelajarinya, termasuk menghitung jumlah kamera pengawas dan sistem keamanannya. Di luar dugaan, Kapten Ivan Skivanov menunggunya di sana. “Perlu kutegaskan, aku bukan budakmu.” kata Dante tepat di depan laki-laki tinggi besar itu. “Lucu, kau baru tahu? Sejak kau melangkahkan kaki di sini, hidupmu menjadi milik Saturn Gallant. Sudah kubilang, aku mengikatmu bukan demi kepentinganku, kecuali jika kau sama sekali tak peduli dengan keselamatan jiwa orang-orang yang menonton pertunjukanmu dan meneriakkan namamu. Untuk mengurangi perdebatan kita, duduklah di sana. Para staf ilmuwan akan membantumu menyesuaikan diri dan memenuhi segala kebutuhanmu. Pulanglah setelah tengah hari. Kau punya waktu tiga sampai empat jam istirahat sebelum mempersiapkan diri naik ke panggung DJ.” jelas sang kapten sekali lagi. “Masa istirahatku untuk menyiapkan konsep musik. Space DJ Battle tinggal menghitung hari.” kilah Dante, berharap orang itu memberinya sedikit keringanan. “Oh ya? Kalau begitu waktu istirahatmu habis. Jangan sampai aku melihatmu berubah seperti zombie, atau kesepakatan kita batal. Kau tahu apa akibatnya ‘kan?” “Tentu, tidak usah kau ingatkan lagi tentang itu.” “Bagus, mulai sekarang, berpikirlah!” kecam sang kapten seraya menunjuk dahi dengan jari. Ia pun segera berlalu diikuti beberapa staf militer di belakangnya. Dante selalu berhasil menyingkirkan siapapun yang dibencinya atau yang menghalangi jalannya, namun kali ini berbeda. Ancaman sekaligus kesepakatan dengan Kapten Skivanov membuatnya tak berkutik. Keinginannya untuk hidup normal tinggal selangkah lagi dan ia hanya harus bersabar. “Baiklah, beri aku akses ke layar utama, buka semua sandinya.” perintahnya pada ilmuwan di sebelahnya. “Ta-tapi … tindakan itu akan memberi kesempatan hacker untuk masuk.” tentang ilmuwan setengah baya tersebut. “Hacker? Akan kuberi mereka data usang, mereka boleh memakainya jika mau. Sekarang, buka sandinya.” Dante pura-pura memblokade sistem, berbuat seolah melindunginya sebelum mereka membuka sandi, padahal ia sedang memasukkan Shiva ke dalamnya, dan begitu sandi terbuka, Shiva pun masuk tanpa harus bersusah payah menjinakkan firewall. “Berapa lama sandinya terbuka?” “Sudah, sekarang, aktifkan firewall.” Lalu Dante berkomentar setelah mengamati hasilnya, “Sistem senjata tidak akan berguna jika masih bisa ditembus. Pertama, kita harus mengamankan data, meningkatkan kinerja EDOS. Setelah itu EDOS akan cukup kuat untuk menerima sistem persenjataan yang baru. Jujur saja, firewall EDOS … payah.” tutur Dante serius. Baru kali ini ia menangani sistem yang masif, tapi siapa peduli? Toh tak seorang pun yang tahu kalau ia sedikit curang. Sesungguhnya, perbaikan sistem senjata tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Kapten Skivanov berharap terlalu banyak padanya. Oleh sebab itu, ia hanya akan membuat senjata yang lebih kecil. Dual Exchanger.                                                                                               ****   Sebenarnya Dante sangat berhati-hati. Ia tak memerlukan waktu istirahat untuk sebuah pekerjaan profesional. Setiap menit di lab senjata ia manfaatkan dengan baik. Tak pernah ada kesempatan dua kali mengetahui setiap sudut kelebihan dan kelemahan Saturn Gallant. Semua harus dilakukan teliti dan sangat efektif mengingat para ahli, ilmuwan dan staf militer mengawasinya cukup ketat. Bila ada gerak-gerik yang mencurigakan, bisa jadi laporan mereka akan mengurangi persepsi sang kapten kepadanya. Oleh karena itu, di tempat itu, Dante tidak bisa menghubungi Shiva secara langsung. Lebih dari delapan jam Dante berkutat dengan rencana awal dan pengumpulan data. Ia perlu memilah bagian mana dari sistem persenjataan Saturn Gallant yang tidak sesuai, bila suatu saat proyek besarnya benar-benar diterapkan pada kapal induk luar angkasa itu. Suatu saat? Ya, memang. Kapten Ivan Skivanov tidak akan pernah tahu rencana apa dalam otaknya, dan untunglah, dia tak pernah menanyakan konsep rencana, semua berjalan begitu saja. Keuntungan bagi Dante, tapi … mengapa? Sungkan memikirkan hal berbau politis, Dante memilih terus bekerja dan pulang pada waktunya. “Buka layar,” perintahnya pada Shiva sesaat setelah tiba di ruang pribadinya. “Waktumu tiga jam untuk kembali ke klub. Yakin hendak membuka file?” “Lakukan saja.” Dan ia kembali sibuk, kali ini membuat rancangan senjatanya sendiri. “Pastikan Dual cocok untuk sistem Saturn, Shiva. Aku tak mau ada kesalahan.” “Tunggu. Kau tak berencana mengubah Dual menjadi …. ” Dante tersenyum. “Oh ya, mengapa tidak?” Tiba di Soundbuzzter Club dengan jaket dan topi untuk penyamaran, Dante cuma mengamati pertunjukan DJ dari jauh. Para DJ tersebut sama seperti DJ lain di bumi meskipun bekerja di kapal induk Saturn. Tugas mereka di klub hanya sebagai pengisi pertunjukan biasa atau pembuka acara, namun tak pernah menjadi bintang. Sangat sulit memenuhi kriteria sebagai seorang Space DJ, karenanya mereka memilih menjadi DJ biasa. “Hei, senang melihatmu datang. Sudah memikirkan konsepnya seperti keinginan Bos?” tanya Shawn McNicky yang langsung menghidangkan minuman jenis lain dari balik meja bar setelah mengenali pengunjung berikutnya ini. Tanpa bertanya dan pikir panjang, Dante meneguknya dan minuman itu mengalir begitu saja di tenggorokannya. “Tidak perlu. Aku hanya mengikuti naluriku.” “Nalurimu sebaiknya bagus atau tidak akan berguna sama sekali.” “Kalau aku bilang sudah kupikirkan, apakah kau akan percaya? Lebih baik jujur.” Shawn menatapnya cukup lama. Usia keduanya tak terpaut cukup jauh namun tampak jelas bahwa Dante sangat tahu apa yang akan dilakukannya. “Lalu, bagaimana soal wanita? Sejauh mana yang kau tahu?” Dicobanya membanting setir pertanyaan. Kini terlihat, orang itu semakin tak terlalu peduli. Aneh, padahal para Space DJ sebelumnya sangat suka menggandeng wanita yang berbeda, meskipun hanya untuk pamer. “Yang kutahu, mereka calon ibu. Mereka harus benar-benar bisa menjaga diri sebelum tertarik pada seseorang. Itu saja.” Shawn menepuk dahinya sendiri. Dante sengaja tak paham kata-katanya. “Maksudku …. ” “Maksudmu, sudah berapa kali aku berkencan, setajam apa perasaanku pada perempuan? Maka jawabannya, aku tak tahu. Umurku masih dua puluh satu. Menjadi bodoh karena tak tahu soal wanita bukan berarti tak menghormati mereka ‘kan? Kalau penggemar, itu soal lain. Tak ada perasaan yang bicara.” “Oh, maaf, para penggemar justru lebih ‘liar’ daripada gadis yang kau suka. Mereka sanggup melakukan apa saja.” “Begitu? Terima kasih sudah memberitahuku. Akan kuingat itu.” Shawn mengerutkan dahi. Ia malah terjebak pada perangkapnya sendiri dan cuma bisa menatap punggung Dante yang menjauh. “Bagaimana? Sukses?” tanya seorang gadis berbusana seksi yang datang ke arahnya, duduk dan meraih gelas pesanannya. “Maaf. Mungkin lain kali.” Baru pertama kali Shawn mengecewakan pelanggannya yang minta bantuannya mencari informasi tentang Dante. Di balik kegagalannya, ia semakin sadar kalau Dante bukan orang sembarangan. Dia tampak biasa, namun ada apa sebenarnya? Apakah keterlibatannya dengan staf militer benar-benar karena kesalahpahaman seperti yang digaungkan Ray? Jika bukan karena sayang pada pekerjaannya, tentu tak ragu baginya untuk mencari tahu. Mengeluh sendiri, Shawn sadar dia tak bisa mengganggu Dante. Untuk sementara hanya itu yang bisa ia lakukan. Bagi Dante, ucapan Shawn tak semata-mata karena dia peduli. Seseorang menggerakkannya dan ia sudah biasa dengan itu, sama sekali takkan memengaruhi pertemanannya. Ia meneruskan langkah hingga masuk ke area crowd. Di situlah clubbers leluasa berjingkrak. Saat ini, ia ingin tahu atmosfer sesungguhnya ketika mereka merasakan vibe dari setiap pertunjukan. Akankah hal itu berpengaruh pada penangkapan suara, atau sama saja. Berdiri di tengah clubbers yang tengah menikmati musik DJ klub, ia merasakan sensasi yang berbeda. Menemukan apa yang ia cari sesudahnya. “Shiva, masuklah ke sistem klub, apakah semua normal?” tanyanya, tanpa khawatir orang lain akan mendengar sebab suaranya tertutup musik dan tidak seorang pun yang peduli padanya. “Definisikan normal.” pinta Shiva. “Jangkauan, pelebaran suara, kecurangan, hal-hal semacam itu. Aku harus memastikan Cain Throne dan kru-nya bisa dipercaya.” terang  Dante kemudian. Beberapa detik kemudian, Shiva berhasil memindai semuanya. “Sejauh ini, normal. Semua berfungsi baik dan tidak ada kekhususan pada jalur tertentu. Jika ada kecurangan, aku pasti tahu karena ada ketidakseimbangan di dalamnya. Dante, kau bisa tampil maksimal. Di Soundbuzzter Club, semua sistem berjalan wajar. Terutama para kru. Kau bisa memercayakan konsep musik pada Cain Throne sesuai rencana.” “Baik. Terus pantau bila ada perubahan. Aku tidak mau gagal pada kompetisi Space DJ pertamaku.” “Baik.” Dante pun berlalu. Konsep musik untuk battle mulai mengalir di kepala. Selanjutnya mengenal calon lawannya. Space DJ dari kapal induk Blue Steel adalah juara battle sebelumnya. Spesialis tehnik sampling, mixing dan scratching. Kemampuan yang mumpuni tercipta setelah riset cukup lama untuk menghasilkan karya yang luar biasa. Sedangkan Space DJ kembar dari Silver Twin adalah kuda hitam dalam kompetisi tahun ini. Meskipun baru berkiprah dua tahun dan belum menjuarai battle, mereka telah berpengalaman dan pasti sangat yakin bisa menang dengan beragam persiapan. Cain Throne tersenyum mendapati Dante tengah mempelajari profil lawan mereka melalui layar virtual di ruang data milik klub. “Sibuk?” Menjawab setengah ragu, “Seperti yang kau lihat, tapi tak terlalu. Cain, jika aku boleh bertanya …. ” “Ya? What’s up?” Justru Cain yang penasaran. Pria tinggi berambut gimbal ahli capoeira itu duduk santai di sebelah Dante. “Kau telah melihat banyak kompetisi, terutama Space DJ Battle. Menurutmu, apa yang membuat Blue Steel juara? Semua tehniknya biasa, bahkan kupikir Silver Twin lebih baik.” “Jadi kau sudah menonton videonya?” selidik Cain. “Tadinya kupikir aku tak butuh, tapi jika ini murni bisnis, maka …. “ “Kau benar, ada bisnis yang bermain di belakangnya. Jika kau tak benar-benar bagus dan memikat hati sembilan puluh persen pengunjung, maka gelar pemenang hanya sebatas angan. Tidak ada yang akan membelamu meskipun menuntut hingga ke Legacy.” terang Cain. “Dan mereka memenangkan Blue Steel dua kali berturut-turut?” “Mungkin untuk selamanya. Silver Twin menyebalkan! Aku tak suka apapun dari mereka, terutama kru. Karena itu aku setuju bila Blue Steel pemenangnya.” “Hm, itu alasan klise, bukan dari segi musik.” “Oh ya? Kau tidak akan memikirkan tentang musik bila harus membela harga diri.” Cain menerawang tepatnya setahun lalu. Sebuah peristiwa memalukan yang membuatnya menjadi kambing hitam kegagalan Saturn Gallant. Dante menangkap ‘pesan’ kebencian di mata Cain, lantas menawarkan sesuatu yang menarik. “Bagaimana jika … kita membalas mereka kali ini? Tapi dengan cara yang baik.” “Kenapa tidak? Demi Saturn Gallant aku akan melakukan apapun.” Dante menarik ujung bibirnya penuh keyakinan seraya berkata, “Baik, sekarang, dengarkan aku.”                                                                                              ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN