BAB 3 SPACE DJ BATTLE

3733 Kata
“Baik, ini tugas kalian masing-masing, beri tanda pada bagian yang sudah kalian laksanakan. Tolong camkan baik-baik! Kalian semua partners, tidak ada yang menonjol antara satu sama lain termasuk kau ... Dante.” Melanjutkan kata-katanya setelah melihat Dante mengangguk tanda mengerti, “Bedanya hanya masalah timing, para kru menyiapkan dari A sampai Z, Space DJ kita eksekutornya. Sukses atau tidak, tergantung para Space DJ saat battle. Maksimalkan dirimu, Dante. Tidak ada yang mengganggumu.”  “Yup!”  Dante mengacungkan jempol. Suasana briefing akhir sebelum pertunjukan Space DJ Battle menghangat ketika Cain Throne menanyakan kedatangan kru klub dari kapal induk lain. Sesuai pengalaman terdahulu, dua kapal induk Silver Twin dan Blue Steel membawa kru mereka sendiri, tidak banyak, tapi adaptasi mendadak cukup merepotkan. “Mengapa Cain harus membahas ini? Menurutku semua kru sama saja, bisa bekerja sama secara profesional?” bisik Dante pada Shawn. Shawn menggeleng. “Tidak. Bahkan saat teknologi sangat memudahkan kita, bukan berarti faktor manusia di dalamnya akan mengikuti sistem. Masalahnya, mereka memiliki sistem sendiri-sendiri dan kadang menghambat kerja kita. Intinya, kru dua kapal induk itu tidak memercayai sistem teknologi Soundbuzzter Club. Takut jika hal itu mengurangi performa Space DJ mereka. “Tahun lalu Cain nyaris bentrok dengan beberapa tehnisi mereka karena terlalu cerewet mendikte cara kerjanya. Di balik panggung, kau tak tahu apa yang terjadi. Semua orang menahan napas saat itu. Dua orang besar sanggup menghancurkan acara, untunglah Ray datang mencegah. Padahal seharusnya Cain tidak mudah tersulut emosi. Secara mental dan emosional, dia lebih stabil dari kita semua.” renung Shawn.  “Lalu ... kita? Apa yang kita lakukan saat Space DJ Battle diadakan di kapal induk mereka?”  “Tidak ada.”  “Maaf?”  “Ya, Space DJ Saturn Gallant tentu berangkat sendiri dengan kru-nya sendiri. Kau tahu, selain dirimu, Space DJ menganggap diri mereka artis, memiliki tim make-up, desainer, bodyguard, segalanya! Kru klub cuma dianggap orang-orang biasa yang seharusnya menjaga ‘sang bintang’. Lalu ketika kau datang ... tidakkah kau perhatikan bagaimana cara kami memandangmu?” “Entahlah, mana mungkin aku memerhatikan sedetail itu. Pikiranku bercabang ditambah staf militer yang tiba-tiba menangkapku.” “Kami semua terkejut, bengong menatapmu. Apa tidak salah Space DJ Legacy meloloskanmu? Banyak pertanyaan spekulasi timbul tapi yah ... kami menganggapmu sebagai kesalahan sistem. Tempat yang terpuruk semakin terlihat buruk. Apalagi ketika kau ditangkap, jujur saja, kami merasa inilah akhir dunia. Lupakan segala harapan. Kau adalah malaikat pencabut nyawa dan kami harus siap dipecat.” ungkap Shawn tanpa kebohongan. “Seburuk itu?” Shawn mengangguk. “Parah, Bung. Kami benar-benar putus asa. Hingga akhirnya kau beraksi malam itu dan wow! Semua berubah total! Tempat ini kembali bersemangat. Setidaknya kami bisa bekerja untuk sesuatu ... tujuan. Tiba waktuya Soundbuzzter Club untuk berubah dan inilah saatnya. Kelihatannya Ray juga lebih santai dan bijak. Entah mengapa, kau memberi aura positif untuk tempat ini.” Dante tak menanggapi lagi. Perhatiannya tertuju pada penjelasan Ray. Jika memang battle begitu penting untuk klub .... Selesai briefing, Ray menahan kepergian Dante. Ia hendak bicara empat mata. Lagi. “Ada apa?” tanya Dante sambil duduk. “Soundbuzzter memiliki sistem penuh tradisi yang masih kuterapkan hingga saat ini. Berdiskusi. Kau lihat sendiri, kita berkali-kali briefing untuk satu acara ini. Itu artinya, pekerjaan ini sangat penting sehingga tidak mungkin dinomorduakan.” “Maksudmu? Kau pikir aku mengesampingkan tanggung jawabku sebagai Space DJ?” “Tidak, tapi kau berpotensi untuk itu. Sekitar empat puluh lima menit lalu, Kapten Ivan Skivanov menghubungiku. Dia bilang akan ada pembatasan waktu bagi Space DJ Carlo Dante untuk bekerja di klub dan dia tidak mengizinkan aku bertanya, apa alasannya. Intinya, kau hanya diberi waktu tiga jam untuk menyelesaikan battle. Kalah atau menang, dia tak peduli.” “Akan kucoba bicara padanya.” “Tak perlu. Aku sudah terikat sumpah untuk tidak mencampuri urusan militer dan birokrasi. Kau benar, ikut campur taruhannya nyawa. Aku hanya berharap agar nasibmu bagus, Dante. Berurusan dengan mereka, sama saja menjadi b***k pemerintah. Ikuti saja cara main mereka, tapi pastikan malam nanti sempurna. Aku dan para kru mengusahakan waktu untukmu tak terbuang sia-sia. Lakukan saja, siapkan musikmu.”  “Hanya itu?” “Ya, kau boleh pergi.” Cukup berat, tapi inilah tantangan terbesar Dante sebagai manusia ketika orang lain membutuhkannya. Dia mulai menyadari bahwa tidak lagi hidup sendiri. Tapi, saat menghadapi Kapten Skivanov ... sangat sulit memastikan bahwa ia orang baik. Masih cukup banyak waktu sebelum ia diizinkan untuk battle. Sebagian konsep musik ada yang sudah ia serahkan pada Cain, sebagian lagi adalah kejutan. Dante memutuskan melanjutkan pekerjaannya di lab. Di lab, ia menunda dahulu kesenangan tentang musik. Pelan-pelan rancangan sistem senjata mulai diterapkan walaupun sesungguhnya hanya bisa dioperasikan untuk masa yang belum ditentukan. Ia tahu bahwa staf lab akan cemas dan kecewa, namun ini satu-satunya cara. Ia sengaja mengumpulkan semua staf lab yang bisa dipercaya dalam pertemuan rahasia. Namun rata-rata dari mereka menyangsikan rencana Dante. “Jika Kapten Sivanov tahu .... ” “Tahu? Tahu apa? Tidak akan tahu jika tidak ada yang bermulut besar dalam ruangan ini. Kita tidak sedang melakukan kudeta, tapi memutuskan sesuatu yang lebih baik untuk Saturn melebihi keinginan Kapten. Hanya saja, membutuhkan waktu. Waktu, itu saja. Bukankah kalian sudah bersumpah melakukan yang terbaik untuk Saturn? Maka lakukan sesuai rencana dan percayalah, kita masih punya harapan walau Saturn harus hancur lebih dahulu.” Setelah beradu argumen tentang segala kemungkinan, akhirnya Dante berhasil meyakinkan mereka. Ilmuwan, staf lab, akan membantunya membangun Dual Exchanger dalam model portable tanpa diketahui siapapun. “Lalu bagaimana cara kita mendapat mineral ionos tanpa diketahui sistem keamanan EDOS?” tanya seorang ilmuwan senior. “Tenang, aku akan mencurinya ... setelah battle.” jawab Dante tanpa beban, seolah mengambil tanpa izin di lingkungan dengan sistem keamanan ketat bukanlah masalah baginya. Menghabiskan waktu beberapa jam di lab, ia memutuskan kembali ke klub setelahnya. “Tolong, bangunkan aku pukul tujuh,” pesannya pada seorang kru wanita di ruang istirahat. Memanfaatkan sebuah tempat tidur kecil, ia langsung menjatuhkan diri di sana. Tidur. Sarafnya mengendur dan larut dalam alam bawah sadar, melepas lelah badan dan pikiran. Beberapa menit berlalu, tak menyadari ada pergerakan yang mengarah pada dirinya. Kru wanita tadi sengaja menunggunya terlelap setelah tergoda untuk mendekati Dante karena hanya ini satu-satunya kesempatan langka yang takkan terulang. Bodoh rasanya jika melewatkan begitu saja, mengingat semua temannya memimpikan hal yang sama. Mengamati tubuh Dante yang mengenakan busana lateks serba hitam, dilengkapi jaket senada, tak ketinggalan sepatu boot kulit yang masih terpasang di kakinya, menambah kesan gagah pemuda itu, semakin membuatnya kehilangan akal. Perhatiannya tertuju pada wajah tampan Dante, kemudian sibuk mengatur napas agar aksi tercelanya tidak membangunkan sang Space DJ. Ketika nyaris tiada jarak antara bibirnya dan bibir Dante .... “APA YANG KAU LAKUKAN?!” Wanita itu terkejut ketika menyadari ada yang datang memergoki perbuatannya. “Sha-Shawn, sungguh, bukan maksudku .... ” “Pergi dari sini! Jangan coba-coba kau ulangi lagi karena aku bisa mengadukanmu pada Ray. Ray sudah bilang tidak ada yang mengganggunya, ingat itu!” ancam Shawn yang cukup membuat wanita itu mengalah tanpa syarat. Pelan didengarnya suara di belakangnya setelah wanita itu pergi. “Terima kasih.” Suara Dante memaksa Shawn berpaling padanya. “Apa maksudmu ‘terima kasih’ ? Kau tahu dia mau berbuat seperti itu padamu tapi kau diam saja? Jangan-jangan …. ” Dante menutup kedua mata dengan lengan kanannya, seraya melanjutkan tidurnya. “Aku sudah memerkirakan waktumu datang sejak belok dari kantor Ray. Jika kau tak jadi ke sini, aku sendiri yang akan mencegah gadis itu menyentuhku. Sekali lagi, terima kasih. Oh ya, berhubung gadis itu sudah pergi, jangan lupa bangunkan aku pukul tujuh. Aku dan Cain harus menyiapkan konsep akhir. Tinggal sedikit lagi.” “O ya? Berdoa saja supaya kali ini dia bisa mengendalikan diri. Kudengar Silver Twin membawa kru yang sama seperti tahun lalu.” Dante tak berkomentar lagi. Ia sungguh telah pulas. Shawn menggeleng lalu keluar ruangan setelah mengubah tulisan di depannya menjadi ‘DIPAKAI’. Dengan begitu tak seorang pun yang akan mengganggu sahabatnya itu. Sementara itu, Cain sedang sibuk menanam konsep musik Dante dalam sistemnya. Semua harus sesuai rencana sebab penampilan Dante juga tak lepas dari peran kerjanya. Ray berkeliling memeriksa, sesekali memberi masukan untuk para kru. Ia senang, tampaknya semua bersemangat, termasuk dirinya. Menjadi bagian dari kemenangan Dante adalah sesuatu yang lama menjadi sekadar impian. Tahun ini, kemenangan itu harus nyata karena sudah di depan mata. Di tengah kesibukannya, perhatiannya beralih pada rombongan kru Blue Steel yang segera masuk ke klub. Sekitar dua puluh orang dan lebih banyak dari tahun lalu. “Maaf, apa ini? Kau pikir ini sirkus atau apa, Bung? Kalian seharusnya datang sesuai ketentuan! Hanya dua belas orang, tidak lebih!” seru Ray memprotes keras, berhadapan langsung dengan manajer klub dari Blue Steel. Space DJ mereka yang ternyata seorang wanita, juga menatap Ray dengan angkuh. “Aku sudah diberi izin Legacy. Kau pikir bagaimana kami bekerja selama ini? Yang jelas tidak mungkin seperti kru Soundbuzzter Club yang terkenal payah! Kalian, pergilah! Biar kuhadapi manajer klub yang keras kepala ini.” perintahnya yang langsung diikuti seluruh anggota rombongan. “Akulah penanggung jawab tempat ini. Terlalu banyak personel akan menyulitkan cara kerja kru. Kenapa kau tidak memercayai kami?” “Huh, percaya? Kalian baru bisa dipercaya bila menang malam ini.” kata manajer itu sinis, meninggalkan Ray begitu saja padahal Ray belum selesai bicara. Manajer dan kru Blue Steel langsung bergabung dengan kru Soundbuzzter Club, namun kali ini, sesuai arahan Ray, krunya lebih siap. Sangat siap. Cain juga tidak masalah ketika tiga teknisi asing datang dan menyiapkan segala sesuatu bersamanya. Masalah sesungguhnya muncul ketika kru Silver Twin tiba setengah jam berselang. Mereka tak segan mengubah segalanya. Adegan yang sama mungkin akan berulang. Cain bangkit ketika seorang anggota timnya berteriak cukup keras, “Mengapa kau lakukan itu? Konsep kami terhapus semua, kami harus mengulang dari awal! Waktunya takkan cukup untuk checking akhir!” “Ada apa?” tanya Cain pada anak buahnya yang langsung menjelaskan duduk perkara sementara dua teknisi dari kapal induk Silver Twin tetap berdiri memasang tatapan menghina. “Kenapa cemas? Toh panggung kalian akan menjadi milik kami atau Blue Steel. Kami justru mempersingkat waktu.” ledek mereka tanpa rasa bersalah. Sudah pasti ini bagian dari cara kotor untuk memenangkan persaingan. “Cain?” ulang seorang anggota tim padanya, meminta saran tindakan. “Aku sudah menduga ini bakal terjadi lagi. Tenanglah, akan kuusahakan konsep itu cepat selesai.” jawab Cain bijak, ia pun cepat pergi sebelum tersulut emosi. Ray yang mengetahui hal ini langsung memegangi kepala. “Ya, Tuhan!” serunya putus asa, meskipun beruntung, Cain tidak mengamuk kali ini. Pukul tujuh tepat, tanpa seorang pun yang membangunkannya, kedua mata Dante terbuka. Turun dari tempat  tidur, tak lupa mengambil tas punggungnya, dan mengeluarkan salah satu isinya. Sebuah chip khusus. Ia beranjak dan mendapati semua orang cukup gempar dengan berita kru teknisi Soundbuzzter Club telah kehilangan data konsep yang harus siap kurang dari dua jam. Mengulang lagi dari awal hampir tidak mungkin, karena ini pekerjaan minimum tiga hari. “Apa yang terjadi?” Dante keheranan, berusaha memahami situasi dengan bertanya pada Shawn yang kebetulan lewat. “Ini buruk, Bung. Silver Twin memang sengaja mengeliminasi kita sebelum waktunya. Mereka sengaja menghapus data konsep musik yang kau bangun bersama Cain selama beberapa hari.” “Hm …. ” “Hanya ‘hm’ reaksimu, dude? Aku tidak salah dengar? Mereka berusaha menghancurkan kariermu dan kau tenang-tenang saja? Entahlah, aku tak tahu lagi. Akan kusaksikan klub ini dipermalukan dari balik meja bar.” Shawn berlalu. Dante lebih tertarik menuju ke kantor Ray dan dari balik kaca jendela, sang manajer masih memegangi kepala dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja. Ia benar-benar putus asa, tak menyangka Silver Twin akan tega ‘menghabisinya’, mempermalukannya di sarang sendiri bahkan tanpa perlawanan. Kejadian ini di luar rencana terburuknya. Jauh lebih buruk! Melihat itu Dante menahan diri, dan ketika berbalik, dilihatnya Cain Throne berdiri tak jauh darinya sambil mengangguk memberi tanda. Menjelang sepuluh menit sebelum dimulainya battle, Dante telah siap dengan suit pilihannya, berupa kaos ketat tech fit warna biru langit kombinasi putih yang menampakkan struktur tubuhnya, plus celana panjang pelaut warna putih dengan alur garis biru di sepanjang samping kakinya yang panjang. Modelnya futuristis, disesuaikan dengan gaya Dante yang dinamis dan penuh energi. “Kau yakin ikut?” tanya Ray ragu, tak tega melihat Space DJ-nya tampil tanpa dukungan teknik sesuai rencana yang sudah disusun sangat matang jauh hari sebelumnya. “Tenang, Ray. Aku lahir untuk ini.” Jawaban yang kurang meyakinkan bagi Ray. Mana mungkin bersikap tenang ketika detik-detik kehancuran reputasinya telah tiba di depan mata? Ia akan malu pada semuanya, terutama Kapten Skivanov dan Space DJ Legacy. Mengadukan ini pada Legacy? Urusan jegal-menjegal sudah menjadi risiko persaingan dan jika Soundbuzzter tidak segera mengatasinya maka Silver Twin akan leluasa melakukan ini setiap kali bertemu untuk sebuah battle. Dante menatap Ray yang semakin gusar walau sejak tadi mengamati dirinya memakai sepatu. “Kenapa kau bengong begitu?” Ray menghembus napas lelah penuh penyesalan. “Maafkan aku, Dante. Saking bodohnya sehingga tidak bisa melindungimu dan klub. Selama ini kupikir aku yang paling berkuasa, tapi nyatanya tidak. Aku bahkan tidak bisa melindungi musik klubku sendiri. Kuharap ada keajaiban nanti. Entahlah.” Sebelum Ray pergi, Dante berkata padanya, “Berdoalah. Keajaiban tidak datang setiap hari.” Senyum Dante yang penuh arti membuat Ray cepat-cepat pergi. MC sudah berteriak lantang membuat ear mic menjerit mengikuti voltase suaranya. DJ pembuka menghangatkan suasana dan clubbers semakin memenuhi arena. Staf keamanan mengatur arus manusia yang masih memaksa masuk walau acara sudah dimulai. Tujuannya tak lain, ingin menyaksikan sendiri penampilan Space DJ Carlo Dante yang tidak diunggulkan dan dianggap remeh oleh Space DJ lain. Tata cahaya dan musik perlahan berubah seiring waktu untuk battle pun tiba. Belum juga Space DJ dari Blue Steel tampil, crowd tak sabar dengan berteriak memanggil idola mereka masing-masing. Dan penampilan perdana pun dimulai. Space DJ wanita itu langsung menguasai medan dan pengunjung dibuat jatuh hati pada musiknya. Saat memutar beat lagu yang pelan dengan penguasaan beat matching yang tepat, membuat perpaduan nada menjadi harmonis dan gampang dinikmati. Selama tiga puluh menit, mereka lupa bahwa ini adalah battle. Tentu tak sedikit dari mereka adalah warga kapal induk Blue Steel atau Silver Twin, namun dalam urusan musik, perbedaan domisili hampir tak berpengaruh sama sekali. Siapapun yang tampil bagus atau sebaliknya, akan mendapat perlakuan yang sesuai. Kemudian disusul pertunjukan selanjutnya. “Here we come, Space DJ dari Silver Twin. Mereka kembar, tapi bukan itu alasan mereka bekerja di sana, melainkan untuk musik. Musik yang akan berbeda tahun ini. Musik yang agresif, akan membuat kalian lose control! Musik yang dijamin akan menggelegar sehingga membuat kalian minta lagi dan lagi. Inilah ... Silver Twin!” MC berseru, disambut gegap gempita clubbers yang tak sabar, siap berjingkrak. Musik pun meraung, sebagaimana ciri khas mereka yang jarang sekali menggunakan sampling lagu yang pelan, bahkan sering diselipkan aliran trance hardcore yang cadas, alhasil sebagian orang tetap bisa menikmati meskipun akhirnya semua melonjak ketika lagu andalan karya Space DJ kembar mendominasi pungkasan performa. “Finishing kerenn!” puji Shawn yang menyambungkan komunikasinya dengan ear mic Dante. “Kau tamat, Bung!” Dante bersiap. MC sudah berteriak memanggil namanya dan seketika suara penggemar Dante membahana. Ia pun siap di balik kemudi turntable dan mixer, melepaskan ujung nadanya yang pertama. Permainan piano. Tak seorang pun menyangka Dante akan membawa clubbers ke masa lalu dengan lagu lawas, kemudian perlahan namun pasti, semua beat-nya berubah lebih aktif dan dinamis, hingga mustahil bagi mereka untuk menolak bergerak. Nada yang semula dikira akan menjadi hasil gubahan remix biasa, berubah menjadi gelombang irama yang menghanyutkan suasana. Berkat musik Dante, ‘kegilaan’ makin menderu dan setiap orang hanya peduli pada indra pendengaran mereka untuk mengekspresikan diri. Dante pun mengajak mereka berinteraksi, memastikan para clubbers tetap sadar untuk mendukungnya dan hanya peduli pada musik racikannya. Faktor psikologis bermain di dalamnya dan di ujung jemari tehnik, Cain Throne telah memegang kunci kesuksesan Dante malam ini, yaitu sebuah chip khusus untuk memengaruhi daya keluaran musik Dante. Semua disiapkan Dante sedemikian rupa bersama Cain sebagai rencana cadangan akibat kecurangan dua lawan main mereka. Dante sudah setengah jalan menguasai para penikmat techno progressive, tinggal melakukan eksekusi dalam battle. Dua pesaingnya sudah ketar-ketir dengan semangat clubbers yang membludak tiap kali Dante mengubah tempo, mengetuk nada lagu ciptaannya sendiri atau beragam tehnik lain yang belum dikuasai Space DJ dari Blue Steel maupun Silver Twin. Mental mereka sudah jatuh bahkan sebelum battle dimulai. Space DJ dari Blue Steel naik sambil mengedipkan mata untuk memecah konsentrasi Dante, namun percuma. Space DJ Saturn Gallant kali ini bukanlah tipe orang yang mudah dirayu wanita. Lanjut Silver Twin, duo Space DJ kembar berniat menginjak-injak harga diri Dante dengan mengeluarkan musik pamungkas yang sengaja dimainkan saat battle. Kedua lawan Dante mengadu diri dalam hal meramu musik agar menjadi yang terbaik. Masing-masing diberi waktu untuk menguasai stage, namun juri dan reaksi penonton akan menentukan siapa yang terbaik. Setiap celah kelemahan lawan menjadi kunci bagi Dante untuk melepas beberapa nada sampling yang sudah disiapkannya. Sedangkan chip yang sudah masuk dalam sound system hanya mengenali musik Dante dan berhasil menonjolkan unsur nada paling detail sehingga tidak menyisakan gap sedikitpun.Musik Dante mampu didengar secara maksimal dalam jangkauan telinga manusia dengan jarak tiap orang yang berbeda-beda. Melihat Space DJ dari Silver Twin sudah melepas jari dari mesin, disusul Blue Steel yang kehabisan ide, Cain hanya senyum-senyum sambil berdansa kecil meskipun up beat Dante dipasang dalam tempo cepat. Lagi-lagi, panggung battle menjadi milik Dante dan tak memberi peluang bagi dua pesaingnya. Dengan demikian, gelar ‘raja’ sudah pasti disandang Carlo Dante tahun ini. Dante masih terus memanjakan para clubbers yang terus mendukung dan meneriakkan namanya, juri pun tak kesulitan menobatkan Dante sebagai pemenang. Jemari Dante terus menekan tuts elektrik, memainkan nada musiknya sendiri. Sebuah lagu baru. Lirik sederhana membuat pengunjung suka hati menghafalkannya seketika, menyanyikan lagu cinta. Kurang dari lima menit, mereka semua telah larut dalam nuansa penuh romansa, banyak yang tak sadar telah bergandengan tangan dengan pasangan, walau sebelumnya merasakan alur musik dance trance yang panas. Cain pun tanggap dengan mengatur pemandangan musim semi berbunga dengan tata cahaya yang redup temaram. Diakhiri nada terakhir, cahaya padam. Kemudian muncul sorot lampu yang mengungkap sosok sang Space DJ yang turun dari balik panggung kebesarannya lalu memberi hormat bagi para clubbers maupun pengunjung klub yang setia dan mendukung musiknya dari awal hingga akhir. Semua kru dari balik panggung bertepuk tangan dan memberi ucapan selamat. Dante menyalami mereka satu persatu dan tetap bersikap rendah hati. “Ini juga kemenangan kalian. Terima kasih!” Selanjutnya, ia melihat wajah Ray yang nyaris menangis. “Tenang, Ray. Kau-lah penyelamat hidupku karena sudah memberiku kesempatan bekerja di sini. Sekali lagi, terima kasih.” Mereka gembira, dan ketika nama Space DJ Carlo Dante dipanggil sekali lagi untuk menerima penobatan sebagai pemenang sekaligus menerima penghargaan berupa akses tanpa batas ke pusat musik Space DJ Legacy, semua mengelukan namanya. Ketika melepas para rombongan tamu di pintu keluar tamu setelah pertunjukan usai, tiba-tiba saja, Space DJ dari Blue Steel meninggalkan kartu nomor pribadinya sesaat sebelum meninggalkan klub bersama rombongannya. “Ingat, hubungi aku,” pintanya merayu sembari berlalu. Rambutnya yang dikucir kuda ikut melambai di depan wajah Dante. Dante dan Shawn saling pandang. “Dengan demikian bertambah menjadi tujuh. Tujuh kartu berkode akses dari gadis yang berbeda. Tapi yang ini … dia menginginkanmu. Tak sembarang pria menarik perhatiannya. Kau beruntung, setidaknya sebuah makan malam akan mendongkrak reputasimu,” komentar Shawn yang ikut mengamati cara Space DJ wanita itu berjalan sebelum menoleh ke belakang dan tersenyum pada Dante. “Ini. Kau boleh menyimpannya.” kata Dante, mengoper benda itu ke dalam genggaman tangan Shawn. “Sampai detik ini aku tidak butuh makan malam dengan seseorang untuk mendongkrak reputasiku.”                                                                                               ****   Lain halnya dengan suasana klub yang merayakan kemenangan Dante, lab senjata tetap muram seperti biasa. Andai Dante tak mengusulkan rencana menakutkan, tentu staf lab akan bersikap wajar di depan Kapten Skivanov. Beberapa orang tampak gugup dan hal itu membuat sang kapten curiga ketika sedang memantau perkembangan misinya. “Kenapa dengan orang-orang? Dante belum datang?” tanyanya pada seorang ilmuwan senior yang sering bersama Dante di lab itu. “Sebentar lagi, Capt. Pekerjaannya di klub juga membutuhkan perhatian khusus.” bela pria setengah baya itu meyakinkan atasannya. “Oh? Perhatian khusus? Biar kuberitahu mana yang butuh perhatian khusus. Lab ini satu-satunya yang bisa memberi perlindungan jika suatu saat musuh menyerang, bukan klub tempat bersenang-senang! Klub itu akan hancur, tapi tempat ini bisa menghasilkan sesuatu yang mampu melindungi semua orang. Itu perbedaan pemikiran antara orang militer dengan orang dari bisnis hiburan. Kami memikirkan strategi jauh ke depan, bukan cuma kesenangan sesaat yang menghanyutkan. Mengerti?” sanggah Kapten Skivanov yang mau tak mau harus disetujui. “Lagi pula, waktunya di klub hanya tiga jam untuk merampungkan battle.” “Memang, dan aku belum terlambat. Masih ada dua menit sebelum waktunya habis.” Kapten Skivanov menoleh ke belakang dan Dante sudah berada di sana, mengenakan jas labnya. “Bagus, sebab jika tidak, stafku akan menarikmu paksa dari panggung seperti saat itu. Nanti malam aku kembali, usahakan ada hasil yang membuatku kagum. Tidak mungkin lebih lama lagi.” Sepeninggal Kapten Skivanov, Dante mendekati ilmuwan seniornya. “Ayo, kita harus selesaikan prototype-nya segera.” Sebuah purwarupa, model awal Dual Exchanger yang belum diberi materi ionos. Dengan hati-hati Dante meletakkan ionos virtual ke dalam purwarupanya. Meskipun tidak sungguhan, tapi data akan mengalkulasi reaksi materi itu terhadap perangkat Dual. “Kau yakin semua staf bisa dipercaya?” “Ya,” jawab ilmuwan itu memperhatikan langkah demi langkah percobaan Dante. “Kami semua juga tahu bahwa keinginan Kapten tidak mungkin bisa dibangun dalam waktu singkat. Sama saja seperti mimpi. Meningkatkan sistem persenjataan sama saja merombak sistem Saturn secara keseluruhan. Sayangnya, Kapten tak mau menerima kenyataan itu. Ia pikir kami, para ilmuwan dan staf bisa menjadi penyihir Merlin untuk mewujudkan impiannya. Oleh karena itu, harapan kami satu-satunya hanyalah memercayaimu, Carlo Dante.” Dante tersenyum. “Terima kasih. Aku lega kalian percaya padaku.” “Oh ya, omong-omong, kau memenangkannya? Battle itu?” “Yeah, syukurlah. Semua berjalan lancar, kurang dari tiga jam. Tolong, urus bagian ini.” “Mereka pasti mengira kau sedang bersemangat.” ujar pria itu sambil mengolah data yang diminta Dante. “Sesungguhnya, aku memang bersemangat, namun adrenalin yang meningkat harus bisa dikendalikan pada saat yang bersamaan. Itu sangat sulit. Siap? Aku akan meningkatkan struktur ionos.” Ilmuwan tersebut mengangguk. “Ayo, lakukan.”                                                                                            ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN