“Nik, bisa lepaskan? Kau harus ingat, kita masih berada di kantor. Tidak etis kalau ada yang melihat,” protes Gita setengah berbisik sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan sang CEO. “Hmmm ... kan sudah aku kunci pintunya,” sahut Niko dengan entengnya. “Niko?” nada bicara Gita sudah mulai terdengar dingin, hal tersebut telah seketika membuat Niko sadar jika sang kekasih memang tak senang dengan sikapnya yang demikian. Perlahan sang pemuda melepas pelukannya. Dan tanpa permisi, ia mendaratkan kecupan singkat di kening sang gadis yang kembali terkejut. “Nikoooo...” pekik Gita seraya mendorong d**a bidang Niko agar semakin menjauh darinya. Namun bukannya menjauh, sang CEO malah semakin merapatkan tubuhnya hingga kembali tak ada jarak diantara mereka. “Baiklah-baiklah, maaf aku sudah

