BAB 11 - Terpesona

1210 Kata
"Selamat pagi, Pak ..." "Selamat pagi ..." jawab sang CEO sambil tetap menatap ponsel yang tengah ia pegang. Tampaknya, pemuda itu sedang berkonsentrasi pada suatu masalah serius, sehingga tak sempat sedikitpun melirik Gita yang sudah masuk ke dalam ruangannya. Kemudian ia tampak mengetik sesuatu pada perangkatnya setelah berpikir beberapa saat. Begitu selesai membalas pesan, Niko mendongakkan wajahnya untuk menanyakan sesuatu pada sosok yang ada di depannya. Dari suaranya saja, ia tahu jika gadis itulah yang tadi masuk ke ruang kerjanya. "Gita ..." suaranya terhenti saat pandangannya terpaku pada seorang gadis yang masih berdiri tepat di depan meja kerjanya sambil menundukkan wajah. Ia teramat sangat terlihat cantik serta begitu anggun. ---   "Eh, oh ... kamu sudah datang ... emm ... kebetulan, duduk, yuk ..." Lelaki muda itu menjadi sedikit salah tingkah dan  terlupa tentang apa yang akan ia sampaikan pada sekretaris barunya. Betapa mungkin ia akan menjadi tidak terkejut? Gita yang ada di hadapannya kini benar-benar terlihat berbeda dengan gadis muda kuliahan ataupun buruh harian lepas bagian gudang yang kemarin ia temui. ---   Sesuai dengan perintah, ia sudah mengenakan pakaian baru yang dibelinya kemarin bersama Mbak Nuning. Melihat penampilan gadis tersebut saat ini, sepertinya ia tak akan mempercayai apa yang didengarnya terkait kehidupan sehari-hari gadis itu. Dan apa yang ada didepan matanya saat ini, rasanya sangat jauh dari gambaran tentang kondisi rumah serta keluarga gadis tersebut jika bukan Mbak Nuning sendiri yang menyampaikan. Setelan atasan serta bawahan resmi berwarna biru tua dan blouse putih berpita didalamnya, benar-benar menampilkan gaya seorang sekretaris profesional. Rambut yang biasanya tergerai atau hanya dikuncir ekor kuda, kini tergelung rapi ke atas seperti layaknya pekerja kantoran yang sudah bepengalaman. Belum lagi, sepatu high heels yang dipakai sang gadis. Tuhan Maha Besar ... karena dalam kekurangannya, Gita telah diberi sebuah karunia lain yang menjadi sebuah kelebihan. Saat itu, pasti tak akan mungkin ada yang percaya jika mendengar gadis tersebut hanyalah seseorang yang berasal dari sebuah rumah kumuh di gang sempit. Dan tempat tersebut,  bahkan tidak memiliki jendela untuk memberi jalan masuk bagi udara segar serta cahaya matahari. Lalu yang lebih istimewa lagi, tubuh sempurna dengan wajah bagaikan seorang dewi itu ternyata menjadi ‘bungkus’ sebuah kepribadian serta kecerdasan yang sangat luar biasa. Saat itu juga ... Niko benar-benar merasakan sebuah pemikiran serta isi hati yang bercampur aduk untuk seketika. ---   Pada awalnya, ia menginginkan Gita menjadi seorang sekretaris pribadi hanyalah karena sebuah wujud pembalasan bagi keluarganya yang terlalu memaksakan kehendak. Lalu keisengannya timbul ketika teringat jika seorang gadis yang sangat angkuh serta tak memandangnya sebelah mata juga bekerja di perusahaan keluarganya. Dalam kondisi pikiran serta perasaan yang seolah sedang tertekan oleh ancaman tugas-tugas sang dosen dan juga harapan keluarganya, akhirnya semua tertumpah dengan pelampiasan pada si gadis sombong yang tak tertarik pada seorang lelaki ganteng dan tajir. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Ia bisa membalas perlakuan keras keluarga dan juga kesombongan Gita. Tujuan Niko, ia hanya ingin melihat reaksi sang kakek saat perusahaan mereka nanti menjadi kacau karena ia hanya akan ‘bermain-main’ saja dengan gadis cantik itu. Karena setelah beberapa bulan memanfaatkan Gita sebagai alat untuk meluluskan mata kuliahnya, ia akan langsung mengakhiri kontrak gadis itu sebagai sekretaris pribadi. Namun ternyata semua menjadi berubah seratus delapan puluh derajat. Hasil tes IQ, EQ dan Test kepribadian sang gadis telah mengejutkan bukan hanya dia pribadi. Mbak Nuning sebagai sekretaris senior kepercayaan Narendra tua, langsung melihat dengan sudut pandang berbeda. Wanita bijak pertengahan tigapuluhan itu telah memberi saran kepada Niko untuk memanfaatkan sebaik-baiknya kecerdasan serta semua yang dimiliki sang gadis. Dan bukan itu saja. Kondisi latar belakang Gita malah telah membangkitkan simpati tersendiri bagi Niko yang memang berhati lembut. Pemuda itu memang bandel, tapi tak setitikpun ia pernah memiliki pikiran-pikiran jahat pada orang lain. Ketertarikan fisiknya pada Gita, hanyalah karena melihat kecantikan dingin yang seolah melecehkan pesonanya sebagai pemuda berpredikat ‘penakluk’ gadis-gadis cantik.  Laki-laki muda yang mendadak menjadi seorang CEO itu hanyalah berniat untuk ‘menjebak’ sang gadis yang ia anggap angkuh dan sombong itu, agar untuk beberapa waktu ke depan selalu berada dalam kekuasaannya. Dan tergetnya adalah tiga bulan, waktu untuk membuat dirinya lulus mata kuliah dan juga lulus memikat hati Gita. Setelah itu ... say goodbye baik-baik seperti yang sudah biasa ia lakukan. ---   Dan sekarang, hanya dalam waktu dua hari saja semua angan-angan serta harapan-harapan liarnya harus dihentikan. Karena, seorang Andrea Gita Arshavina yang sudah berubah menjadi sangat istimewa. Tak bisa disangkal lagi, gadis itu memang istimewa. Dan sesuai saran Mbak Nuning, ia sudah bertekad bulat untuk mempertahankan gadis itu di dalam perusahaannya. Niko akan belajar dan berusaha dengan keras untuk mengenal seluk-beluk perusahaan keluarga yang telah membesarkan mereka selama ini. Bersama seorang gadis cantik yang teramat sangat unik serta spesial, ia akan membuktikan jika seorang Niko Arya Narendra bukanlah pemuda malas tanpa kemampuan melakukan apapun yang berguna. Dan jika saatnya tiba nanti, ia juga ingin memiliki perusahaan pusaka keluarga secara utuh. Tak terkecuali, termasuk juga seorang gadis yang pasti akan membawa keberuntungannya di masa depan. --- “Oh, iya Mbak Nuning sudah memberitahukan tentang rumah dinas yang bisa kamu tempati nanti?” setelah bisa menepis kegugupan, Niko mulai mengajak Gita berbicara layaknya seorang direktur pada sekretarisnya. Saat itu, mereka sudah duduk saling berhadapan dengan batas sebuah meja besar berbahan kayu jati yang menjadi padanan dari kursi direktur. “Sudah, Pak. Terima kasih untuk semua yang sudah diberikan pada saya.” “Wait ... wait a minute ... Pak?” tanya Niko sambil tersenyum. “Oh, saya masih bingung harus memanggil Bapak dengan sebutan apa.” “Mas, itu sebutan yang paling tinggi. Atau panggil saja namaku, Niko. Kita tak berselisih usia banyak, lagipula kamu kan teman kuliahku juga,” Jawab Niko kembali. “Maaf, rasanya tidak pantas untuk menyebut atasan dengan nama begitu saja.” “Kalau begitu, panggil saja dengan sebutan ‘Mas’. Seperti aku memanggil Mbak Nuning dengan sebutan itu. “Mungkin masih kurang pantas jika terdengar oleh orang lain.” “Baiklah, sebut diriku dengan apapun yang kamu inginkan di depan orang lain. Tapi saat berdua seperti ini, panggil namaku saja tanpa embel-embel! Itu perintah pertamaku sebagai atasanmu.” “Baiklah, saya menurut. Tapi maaf, ini karena anda terlalu memaksa. Jangan nanti akhirnya saya dianggap kurang ajar.” “Saya luruskan lagi. Panggil nama saat kita berdua. Buang semua kata : saya, Anda dan sebutan yang hanya membuat jarak bagi kita. Aku, kamu, Niko, Gita ... cukup jelas?” “Baiklah ... Niko ...” “Oke, clear. Its done! Aku ingin mempelajari segala sesuatu tentang perusahaan ini denganmu. Karena itulah, jangan membuat batas-batas yang bisa menghambat kita untuk mencapai tujuan itu. Kamu paham?” “Iya, aku paham.” ---   Sesaat, Niko memandangi gadis yang saat itu malah tak lagi sepercaya diri kemarin. Entah mengapa, Gita menjadi terlihat sungkan dan agak melunak pada pagi itu. “Yang kedua, nomor ponsel kamu. Rasanya lucu kalau antara sekretaris pribadi dan direkturnya saling tak menimpan nomor.” Sambil trsenyum untuk mencairkan suasana, Niko menyambung percakapan mereka. “Oh, ada ... sebentar.” “Masukkan saja kontak pribadiku pada handphone kamu. Ingat, ini nomor pribadi yang tidak setiap orang tahu.” Tegas Niko kembali. “Oh, iya ... sebentar ...” berkata begitu, si gadis merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah benda yang seketika mengagetkan sang CEO. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN