“Itu ponsel kamu?”
“Ya, memangnya kenapa?”
“Hanya itukah Handphone yang kamu miliki?”
“Benar. ini satu-satunya Handphone dan nomor yang kami pakai bersama di rumah. Ada masalah?” jawab si gadis tanpa memperlihatkan rasa rendah diri ataupun minder sedikitpun.
Gita bukannya tidak tahu tentang perkembangan teknologi di jaman masa kini yang sudah begitu pesat. Apalagi dalam lingkungan teman-teman kuliahnya di kampus, rasanya semua mahasiswa juga sudah jarang yang ketinggalan update untuk mengikuti kecanggihan perangkat komunikasi. Terbukti, rata-rata temannya sudah memiliki gadget terbaik yang sesuai dengan kebutuhan mereka.
Mayoritas rekan kuliahnya, adalah anak orang berada. Karena, takkan mungkin rasanya bagi orang miskin saat ini untuk bisa mengakses pendidikan tinggi di kota besar. Bagaimana mungkin anak orang tak berpunya akan bisa masuk ke dunia pendidikan tinggi? Sebab untuk membayangkan besaran biaya kuliah per semester saja, mereka sudah pasti akan menyerah.
Belum lagi jika memikirkan masalah uang sewa pondokan yang bisa mencapai jutaan rupiah setiap bulannya. Jika kesemuanya itu ditambah pengeluaran biaya hidup sehari-hari, pastilah akan memakan biaya yang lebih besar serta tak terjangkau oleh pendapatan kedua orangtua.
Karena itulah, Gita semakin yakin bahwa mayoritas teman-temannya adalah anak-anak dari kalangan berada. Terlebih bila ia melihat dari semua fasilitas yang didapatkan oleh anak kuliah pada saat ini. Paling tidak, kendaraan roda dua itu wajib dimiliki sebagai sarana untuk mobilitas mereka.
Sementara dirinya? Andrea Gita Arshavina hanyalah seorang gadis miskin yang memiliki cita-cita setinggi langit hanya bermodalkan tekad serta kekerasan hati dan kecerdasa otaknya. Jadi ... tuntutan untuk perkembangan teknologi, baginya masih bisa disiasati dengan kecerdasan yang ia miliki.
---
Apa yang biasa saja bagi teman-teman Gita, adalah satu hal yang sungguh luar biasa. Sebab, keadaan mereka sangatlah bertolak belakang dengan kondisi si gadis yang sepenuhnya harus prihatin untuk bersusah payah memperbaiki masa depan nanti.
Jadi, hal kecil seperti Handphone canggih yang dipermasalahkan oleh atasannya saat ini, bukanlah satu hal penting untuk Gita sendiri. Selama ini, ia sudah merasa sangat bersyukur karena memiliki alat komunikasi yang sudah sangat ketinggalan jaman tersebut. Atas jasa ponsel jadul itu, ternyata ia juga bisa mendapatkan manfaat di saat-saat kebutuhan mendesak dalam masalah komunikasi.
Internet, aplikasi lain dan solusi pengerjaan tugas yang dituntut untuk dimiliki sebagai salah satu sarana menimba ilmu, sementara masih dapat ia siasati dengan sesekali mengeluarkan sedikit uang untuk pergi ke warung internet.
So ... sebuah android, bagi Gita masih merupakan barang mewah yang memang belum saatnya ia miliki. Sebab, bahkan televisi lawas dirumahnya, juga belum bisa diperbaiki karena kondisi ekonomi yang belum memungkinkan.
---
Saat itulah, Niko kembali mendapat sebuah kesadaran yang selama ini tidak ia temukan. Tadinya, ia mengira bahwa semua makhluk muda di dunia ini pastilah akan memiliki sebuah perangkat komunikasi yang update terhadap teknologi. Namun, kenyataan di depan matanya saat itu, seketika mulai menumbuhkan rasa syukur dalam hatinya.
Betapa dirinya tidak bersyukur? Alat komunikasi yang dimiliki oleh Gita, adalah bukan perangkat gadget yang ia kenal sekarang. Sebab, benda yang tengah dipegang oleh sang gadis hanyalah berupa handphone lama yang sudah ketinggalan jaman.
Sementara bagi Niko, sebuah perangkat gadged adalah layaknya pakaian yang harus diganti setiap waktu. Karena setelah belum lama dibeli, ia akan mengistirahatkan apabila ada seri lain yang keluar baru serta lebih bagus lagi.
“Oh, kamu tidak memiliki aplikasi lainnya?”
“Untuk apa? Alat ini cukup baik jika digunakan untuk menelepon maupun menerimanya. Mengirim atau menerima pesan singkat, juga bisa. Saat butuh mebuka internet dan menggunakan aplikasi lain, aku bisa pergi ke warnet.”
“Oh, maksudku, aku membutuhkan perangkat yang bisa aku hubungi dengan cara ...”
---
Belum juga si lelaki muda tersebut menyelesaikan bicaranya, terdengar suara panggilan dari handphone milik Niko. Seketika pemuda itu melirik ke atas meja, lalu berkata, “duh ... itu lagi ...” demikian gerutunya.
Namun, tak urung ia mengangkatnya, lalu mendengarkan suara seorang wanita dari seberang sana yang terus nyerocos tak berhenti. Niko hanya diam, sambil sesekali menjawab singkat dengan menganggukkan kepala.
Tak lama kemudian, panggilan telepon itu diakhiri dengan kata-kata,
“baik, Bu ... baik, akan saya kerjakan secepatnya. Maaf, saya sedang ada tamu penting di kantor. Ah, bukan seperti itu. tugas kuliah dari Bu Winda, pasti lebih penting. Iya, benar ... saya sudah mulai bekerja di perusahaan keluarga saya. Baik, secepatnya. Maaf, terima kasih ...”
Selesai berbicara, ponsel langsung diletakkan ke atas meja. Lalu ia memandang ke arah Gita yang masih memperhatikannya dengan bingung. Sambil balas memandang, Niko berkata kecut pada sang sekretaris,
“Bu Winda ...”
“Ohhh ... tugas?”
“Iya, saat kamu masuk kemari, aku sedang berusaha mengerjakan tugas. Tapi, itu terpotong obrolan kita. Tampaknya ia jadi tidak sabar.”
“Hmm ... boleh aku lihat?”
“Nih ...” jawab Niko sambil menyerahkan Handphone dimana terdapat chating dari sang dosen yang meminta dirinya untuk mengerjakan sesuatu.
Sejenak, Gita membaca tulisan itu, lalu ia berkata, “aku tahu, tapi tak tahu bagaimana menggunakan ini ...” jawab gadis itu lirih sambil menyerahkan kembali ponsel tersebut pada pemiliknya.
“Oh, itu ... sebentar ...” Niko beranjak dari duduknya, lalu menyeberangi meja untuk menempatkan diri di kursi kosong sebelah sang gadis.
“Biar aku tunjukkan caranya.” Ia berkata sambil kembali menunjukkan benda tersebut ke depan Gita. Kini, keduanya duduk saling merapat sambil sama-sama memandang gawai yang sedang diajarkan cara pemakaiannya pada Gita.
---
Hanya dalam waktu kurang dari dua menit, gadis itu sudah tampak asyik memainkan jari pada perangkat komunikasi Niko. Dan lima menit kemudian, ia menyerahkan benda tersebut kepada sang pemilik sambil berkata, “selesai, semoga beliau berkenan.”
Niko menerima benda tersebut dan membaca tulisan yang tadi dikirimkan Gita kepada sang Dosen. Dan betapa herannya ia, saat melihat begitu panjang lebar serta detil penjelasan sang gadis pada jawaban itu.
Namun tak lama, sebuah notifikasi pesan yang masuk telah membuatnya kembali terkejut. Apa yang tertulis dari pesan terbaru Bu Winda, adalah satu hal yang membuatnya senang sekaligus khawatir.
Bu Winda : Jawaban kamu sempurna. Awas kalau nyontek atau ketahuan dituliskan oleh orang lain. Rasa-rasanya, ibu hapal dengan model jawaban seperti itu.
---
“Beliau berkata seperti itu?”
“He-he ... iya. Biarkan saja, yang penting aku sudah bisa mengerjakan tugas.”
”Oh, sebaiknya harus aku rubah gaya bahasa saat mengerjakan tugas selanjutnya. Atau, sebaiknya kamu yang mengerjakan setelah aku mendikte secara ringkas.”
“Kamu mau membantuku lagi?”
“Dengan catatan, kamu harus pelajari pertanyaan beserta jawaban tersebut setelah selesai mengirimkan pada Bu Winda.”
“Baik, aku akan belajar dengan lebih keras lagi. Oh iya, pakailah ponselku ini.”
“Maksudmu?”
“Agar kamu bisa menjawab pertanyaan Bu Winda, lalu mengirimkannya juga padaku. Dan tentu saja, memberi penjelasan lebih detil tentang masalah tersebut.”
“Ohhh ... kamu sendiri pakai apa?”
“Ha-ha ... nomor pribadiku ada di perangkat lain. Handphone yang dipakai untuk membalas Bu Winda, memiliki nomor-nomor telepon dari teman-teman baru yang tidak begitu penting. Pakai saja nomor itu beserta ponselnya. Kalau ada orang yang menghubungi selain Bu Winda, bilang saja salah sambung.”
“Ohh ... jangan. Tak usah, biar aku beli saja nanti setelah mendapat gaji pertamaku.”
“Tidak. kelamaan kalau harus menunggu itu. pakailah, perangkat itu juga jarang aku pakai.”
“Tapi, bagaimana kalau Bu Winda mencoba menghubungi kamu melalui telepon seperti tadi? Kan enggak lucu kalau aku yang pegang nomormu.”
“Hmm ... begini saja, besok aku beli nomor baru berikut ponsel yang berbeda lagi. Urusan Bu Winda, kamu handle selagi kita bersama. Tapi sementara, kau pakailah ini sebelum aku memberimu satu lagi yang baru.”
Setelah mengatakan demikian, Niko menyerahkan ponsel tersebut kepada Gita, lalu berdiri dan melangkah menuju kursi kebesarannya. Sampai disana, ia meraih tas, lalu mengeluarkan dua buah telepon genggam lain dari dalamnya.
“Lihat, aku masih punya dua ...” ia berkata sambil memamerkan benda tersebut dengan sebuah seringai yang terlihat lucu.
“Oh, aku lupa ... kamu anak orang kaya.” Sambil menunduk, Gita berkomentar dalam nada sedikit sedih.
“Ahh ... lupakan itu. Anggap saja, ponsel yang akan kamu pergunakan adalah merupakan benda inventaris dariku. Paham?”
“Iya, aku paham.”
“Nanti kau bisa beli sesuai seleramu kalau sudah mendapatkan gaji.”
“Baiklah ...”
“Oke, done ... sekarang, giliran aku yang bantu kamu untuk memakai semua fasilitas di Handphone itu. Aku yakin, kamu akan langsung paham dalam sekali penjelasan. Kamu cerdas, dan benda itu juga sangat mudah digunakan.”
Setelah berkata demikian, Niko kembali lagi berdiri dan menghampiri si gadis yang masih duduk di depan mejanya. Tanpa canggung, lelaki muda itu mencolek lengan Gita sambil memberi isyarat untuk mengikutinya duduk di sofa tamu dalam ruangan tersebut.
---
Tak lama kemudian, sepasang muda-mudi yang masih belia itu sudah terliat asyik membuka ponsel masing-masing untuk saling bertanya dan menjawab. Sesaat, Niko menangkap binar keceriaan pada wajah yang selama ini terlihat begitu datar. Si pemuda maklum, apa yang keluar sebagai ekspresi si gadis belia selama ini ... adalah sebuah sikap yang disengaja untuk menyembunyikan semua penderitaan hidupnya selama ini.
Dan saat itulah, untuk pertama kalinya dalam hidup Niko ... ia benar-benar merasa bahagia karena apa yang dilakukannya sudah bisa memberi arti dalam hidup seseorang. Kebahagiaan yang juga berusaha ditutupi oleh si gadis cantik, adalah wujud dari rasa syukurnya atas apa yang dilakukan oleh Niko.
Bagi si gadis sendiri, hari-hari yang kini tengah ia lalui adalah merupakan mimpi yang dengan seketika telah membangkitkan jiwa mudanya untuk kembali menempati sang raga. Sebab tanpa ia sadari, kehidupan penuh keterbatasan serta tanggungjawab yang harus dipikul selama ini ternyata telah begitu memaksanya untuk bertindak secara layaknya orang dewasa.
Perubahan hidup Gita sangat besar, hingga mungkin akan dapat merubah seseorang untuk menjadi lupa diri. Namun betapa beruntungnya Gita yang ternyata masih tetap memiliki kesadaran untuk bersyukur serta niatan agar senantiasa mawas diri.
Gadis yang telah kenyang tergembleng oleh ilmu pahitnya kehidupan itu, hanyalah merasakan secercah kebahagiaan yang akan ia syukuri dalam doa terimakasihnya. Ia tak akan kaget, atau bahkan merasakan euforia berlebih terhadap apa yang kini sudah ia dapatkan dalam genggaman tangannya.
---
Setelah saat yang membuat canggung jadi mencair karena keasyikan mempelajari penggunaan Ponsel tadi, Niko kembali ke belakang meja kerjanya dan mulai berbicara.
“Baik, kita lanjutkan ... Tugasmu atau tugas kita saat ini adalah sama-sama mencoba memahami semua yang diberikan Opa padaku. Dalam buku-buku yang akan kutunjukkan padamu nanti, adalah sesuatu yang akan menjadi tugas pertama kita. Sebab semua yang menyangkut detil perusahaan dari awal bahkan semenjak perusahaan pertama belum berdiri, seluruhnya tercatat disini. Kita baca bersama, dan kamu akan menjadi perpustakaan berjalan bagiku jika kau sudah mengerti dan memahami semuanya.”
“Aku usahakan,” jawab Gita mantap.
“Bagus.” Niko menimpali sambil melempar senyum pada gadis di depannya.
“Berapa hari bisa kau hapal luar kepala semua isi dalam buku itu?” tanya Niko sambil menunjuk tumpukan buku yang ia maksud.
“Hmm ... satu minggu, rasanya cukup bagiku jika aku diijinkan membawanya pulang untuk k****a dirumah.” Jawab si gadis dengan mantap setelah manaksir jumlah halaman dari berapa buku yang persatuannya terlihat sedemikian tebal.
“Biklah ... aku menunggu kabar baikmu setelah kau selesai membacanya,” meskipun terkejut, Niko tetap memaksakan dirinya untuk kembali tersenyum saat menyadari kecerdasan otak Gita.
Sebenarnya, sang CEO baru tersebut juga merasa sedikit sangsi. Nalarnya sendiri mengatakan jika rasanya teramat sangat mustahil bagi seseorang yang normal untuk bisa membaca sekian banyaknya buku dalam waktu satu minggu.
Ingat, hanya menyelesaikan untuk membacanya saja, itu sangat tidak mungkin! Apalagi, membacanya sekaligus menghapal serta memahami semua isi dan inti tulisan! Karena ... bahkan dirinya sendiri tak akan mungkin bisa menyelesaiakan membaca salah satu dari beberapa buku tebal tersebut dalam tempo tiga bulan. Apalagi, memahami isinya ...
Namun, ia tetap akan menghargai semangat dari seorang gadis cantik dan unik yang bernama Gita itu. Untuk saat ini, ia memang sudah berniat akan berusaha memahami serta menjalin komunikasi dengan gadis itu sesuai dengan apa yang ia inginkan dalam adaptasinya.
Kini, tampaknya mereka sudah sedikit bisa membuka diri. Niko akan menunggu Gita agar ia merasa lebih nyaman untuk menunjukkan semua kesungguhan serta kemampuannya. Dan ia juga berjanji, untuk memahami gadis yang tampaknya belum juga menampakkan tanda-tanda untuk memunculkan pribadi aslinya sebagai orang muda yang sewajarnya.
Sang Ceo akan bersabar untuk menanti gebrakan baru Gita yang kini telah sukses menambah kekagumannya lagi. Dan tentu saja, ia kan bersedia melakukan apapun untuk memperlakukan gadis tersebut sebagai sewajarnya seorang rekan dan teman baik.
Sebuah tawaran darinya telah begitu terbuka untuk dapat berdamai dengan sang gadis, demi kemajuan perusahaan yang kini berada dalam tanggungjawab mereka.
---
Entah mimpi apa semalam, Gita benar-benar mendapatkan sebuah surprise dalam diri pemuda yang ia kenal sebagai anak manja itu. Tak ada angin, tiada hujan ... mengapa mendadak Niko jadi sangat bersemangat untuk mengurus perusahaan? Padahal, ia sudah bersiap untuk menghadapi seorang anak bandel yang akan menyusahkan dirinya dengan segala tugas yang takkan mau disentuh oleh lelaki muda itu.
Kini, tampaknya ia serius saat mengatakan ingin belajar serta bekerja bersama-sama demi kemajuan perusahaan. Dan ... Gita jadi tak tahu harus membalas bagaimana ketika melihat senyuman yang sangat manis itu.
Ia gugup dan terkaget-kaget setelah kini menjumpai sosok sang atasan yang ternyata bisa ‘jinak’ dan terlihat sangat dewasa. Lalu senyum itu ... ia tak tahu harus bagaimana menyambutnya. Karena selama ini, berbicara dengan lawan jenis saja sudah merupakan ‘pantangan’ baginya.
---
Bukan sebuah sumpah atau janji muluk jika selama ini Gita memang tak pernah mengijinkan lelaki manapun untuk mendekatinya, baik secara fisik apalagi perasaan. Dan situasinya kini, ia harus siap ‘melayani’ seorang laki-laki yang begitu tampan dan penuh pesona. Akan lebih mudah bagi gadis itu jika saja Niko tetap menjadi pribadi yang menyebalkan dan pongah. Tapi sekarang ...? laki-laki itu tiba-tiba saja merubah diri menjadi sosok simpatik yang sangat pantas untuk dicintai. Lalu senyumnya itu ... ahhh ...
***