BAB 13 - Berdebar-debar

2398 Kata
Sore harinya ... “Apakah Ibu tidak sedang bermimpi, Nak?” dengan lirih, Ibunya bertanya saat mereka sudah memasuki rumah nyaman yang sedemikian besar dan bersih itu. “Ini rumah kita sekarang, Kak? Benarkah Kakak mendapatkannya karena naik jabatan?” sang adik juga ikut ramai berbicara karena girangnya. Malam itu, mereka pindah rumah dengan hanya membawa beberapa kardus barang pribadi. Sebab, tak ada sebuah benda besar yang layak untuk dibawa ke tempat baru itu. Jadi, semuanya bisa berjalan dengan cepat serta praktis tanpa memakan waktu lama. Hanya pakaian, buku-buku pelajaran dan mungkin beberapa benda kenangan saja yang disertakan dalam kepindahan mereka. Karena, sejujurnya mereka memang tidak memiliki benda apapun yang berharga untuk dibawa. Dan sangat kebetulan, semuanya telah serba ada dan siap untuk dipergunakan oleh penghuni baru di rumah dinas tersebut. “Kamu harus bersyukur, Nak ... semua ini adalah sebuah anugerah yang didapatkan karena kejujuran, kesederhanaan serta  semua sifat baik yang kau miliki.” Ibunya kembali berkata-kata sambil berlinang airmata haru. “Bukan hanya karena itu, Ibu ... sebab yang menjadikan Gita bisa mendapatkan semua ini, adalah karena doa  dari seorang Ibu yang tiada putus dipanjatkan bagi anak-anaknya. Terima kasih, Bu ... karena semua ini takkan bisa terjadi jika tanpa restu seorang Ibu,” jawab Gita perlahan sambil menghampiri ibunya yang tengah duduk nyaman di kursi empuk. Menatap ibunya, Gita menjadi terharu karena kebahagiaan yang demikian membucah. Sepanjang ingatannya, belum pernah ia melihat sang ibunda bisa duduk dengan nyaman di atas sebuah sofa yang berbahan lembut dan sehangat itu. Dan menurut kata hatinya, tiba-tiba ia merasa jika ibunya terlihat menjadi sehat tak seperti hari sebelumnya. “Ibu suka tempat ini?” “Suka sekali, Nak. Luas, terang benderang dan hangat yang tak membuat gerah. Ahhh ... terima kasih, Tuhan ... terima kasih, Gita ... Ibu sangat bersyukur untuk ini. Tapi, hanya satu yang akan ibu ingatkan padamu ...” “Iya, Bu ... Gita akan mendengarkan ...” “Berhati-hatilah, karena engkau sudah mendapatkan kepercayaan yang sedemikian besar dari perusahaan. Jujur, itu yang utama. Lalu, bekerjalah lebih baik dan keras lagi untuk menunjukkan bahwa segala yang sudah diberikan perusahaan untukmu ini, tidaklah sia-sia.” “Iya, Bu ... Gita akan selalu ingat.” “Dan satu lagi ... tetaplah menjadi baik. Sebab, sesukses apapun dirimu, akan sama sekali tak berharga dimata Ibu jika engkau malah menjadi orang yang tidak baik.” “Selalu, Bu ... Gita tak akan pernah melupakan pesan yang selalu diberikan itu semenjak aku masih kecil.” “Ibu percaya, anak kesayangan ibu pasti akan selalu seperti itu. Lebih baik mengalah atau dianggap kalah, daripada kau harus melakukan sesuatu yang tidak baik hanya demi mengejar kemewahan duniawi.” “Iya, Bu ... itulah yang selalu menjadi prinsip Gita.” “Jangan lupakan sekolahmu, meskipun kau sudah memiliki jabatan yang baik ...” “Baik, Bu ...” Ketiga orang tersebut kembali terdiam, mereka masih mencerna perubahan hidup yang sedemikian tiba-tiba dan tak pernah disangka oleh siapapun. Tentu saja, hal itu adalah merupakan sebuah karunia yang sangat besar untuk keluarga kecil yang merasa telah diangkat harkat serta martabat hidupnya.   ---      Bel pintu berbunyi ... Spontan, ketiganya tampak kaget saat mendengar suara seperti itu. Maklum saja, semur hidup mereka belum pernah sekalipun memiliki rumah yang dilengkapi oleh alunan musik dari bel pintu penanda datangnya tamu. “Kak ... apa itu? Tamu?” “Sebentar, Kakak temui.” Saat membuka pintu, Gita dikejutkan oleh seorang sekuriti bertubuh tinggi besar yang tadi ia lihat berjaga di pos depan perumahan. “Selamat malam, Ibu ...” penjaga keamanan itu mengangguk dengan hormat, ketika Gita sudah menampakkan dirinya. Sebenarnya, hal yang sangat menggelikan sedang terjadi saat itu. Sang sekuriti yang sudah berusia setengah baya, kini mengangguk dengan hormat sambil memanggil seorang gadis belia dengan menggunakan sebutan ‘Ibu’. Namun keduanya tak menganggap hal itu sebagai sebuah bahan tertawaan. Karena meraka memang masih sama-sama asing, sementara Gita juga belum terbiasa dengan kehidupan baru tersebut. Dengan sikap yang resmi, si gadis balas mengangguk dan menjawab sapaan sopan tersebut. “Selamat malam, Pak. Ada sesuatu keperluan apakah?” jawab Gita sambil melirik sekejap pada kedua tangan pengamanan komplek perumahan yang terlihat membawa sebuah bungkusan cukup berat. “Ohh ... ada kiriman untuk Ibu Gita. Karyawan perusahaan catering mengantarkan ini. Pemesannya dari Ibu Nuning.” “Ah, iya ... terima kasih, Pak. Saya terima ...” “Baik, Bu ... mohon diterima. Saya kembali ke pos depan. Hubungi nomor yang tertera pada telepon internal di rumah ini, jika Ibu atau keluarga membutuhkan bantuan apapun. Nanti, telepon akan terhubung langsung pada pos pengamanan yang siap melayani seluruh penghuni perumahan dinas.” “Baik, baik ... sekali lagi terima kasih.”     ---  Itulah juga kali pertama bagi mereka untuk mencicipi pengalaman makan bersama dengan nikmat di atas meja yang layak dalam ruang makan yang benar-benar bersih serta luas. Makanan yang dikirimkan, adalah masakan hasil karya sebuah restoran terkenal di kota mereka. Meski mengetahui betapa masyur kelezatannya, namun baru detik itulah mereka bisa mengetahui kebenarannya. “Terima kasih, Bu Nuning. Maaf, jadi merepotkan,” demikian ucap Gita saat ia menelepon sang senior sekretaris untuk mengucapkan rasa terimakasihnya. “Sama-sama, Gita ... Mas Niko sendiri yang meminta saya untuk memesankan makanan. Dia sudah menebak kalau kalian tak sempat memikirkan urusan makanan karena sibuk mengurus kepindahan,” jawab Nuning dengan suara ramah dan lembut. “Ohhh iya, memang kebetulan belum ada seorangpun yang sempat memikirkan itu ... baiklah, besok saja saya akan mengatakan terima kasih padanya.” “Iya, sebaiknya begitu,” sahut suara dari seberang telepon. “Iya, Bu ... kalau begitu,  terima kasih untuk semua yang sudah diberikan Bu Nuning bagi saya.” “Iya ... jangan dipikirkan terlalu serius masalah ini. Oh ya, besok pagi akan ada dokter yang datang ke rumahmu. Sebelum menuju klinik perusahaan, dokter kita akan mampir untuk memeriksa ibumu. Tolong kamu siapkan agar pagi hari, ibu sudah bisa diperiksa.” “Ohh ... iya, Bu ... iya ... terima kasih.” “Hi-hi ... Gita, santai saja ... dari tadi, kamu hanya bisa ngomong terima kasih saja.” “Habis, saya bingung mau bilang apa.” “Ya sudah ... hi-hi ... selamat menempati rumah barumu, Git ... awas, jangan bilang terima kasih lagi ... hi hi ... kamu lucu. Jangan lupa istirahat, besok kamu harus belajar kembali membaca semua buku serta meneliti laporan.  Selamat malam, selamat beristirahat. Sampai bertemu besok di kantor.” “Ya, ya ... selamat malam, Bu ... selamat beristirahat. Terima kasih untuk semuanya ...” ***   Keesokan paginya ... “Ibumu hanya memerlukan asupan makanan yang lebih bergizi. Selain itu, sirkulasi udara yang baik dan sinar matahari juga akan membantu kesehatannya untuk segera pulih kembali.” Demikian kata dokter setengah baya tersebut dengan penuh simpati. “Tidak perlu rawat inap, Dok?” tanya si gadis. “Saya rasa, tidak perlu. Ini saya beri resep beberapa macam obat dan vitamin. Tak usah khawatir, berikan saja resep ini pada apotik perusahaan. Kamu cukup tandatangan saja setelah mengisi formulir, tanpa perlu membayar. Ada catatan dari saya, perusahaan yang akan menanggung semua biaya.” Dokter itu kembali menjawab sambil tersenyum. “Iya, Dok ... terima kasih ...” “Usahakan agar ibumu jangan sampai memiikirkan hal-hal yang berat. Makan yang banyak, minum obat secara teratur dan istirahat yang banyak. Tak sampai satu minggu, Ibu pasti sudah sehat kembali.” “Baik, Dok ... terima kasih banyak.” “Sama-sama, Mbak ... seminggu lagi, saya akan kemari untuk menengok kondisi Ibu dan memberikan obat bilamana nanti diperlukan.” ---   Gita berjalan kaki menuju apotek yang hanya terletak beberapa puluh meter dari komplek perumahan karyawan. Sambil setengah termenung, ia melangkah perlahan dengan kelebatan peristiwa lalu dan masa kini. Sang Ibu, memang sakit-sakitan sudah semenjak beberapa waktu lalu. Jika benar apa yang dikatakan oleh dokter perusahaan tentang sakit sang ibunda, ia memang tak memungkiri bila semua terbukti seperti itu. Ibunya kurang asupan nutrisi yang baik, dan juga sirkulasi udara serta cahaya matahari yang menyehatkan ... semua itu menjadi penyebab sakit yang menahun. Rasanya sangat sedih, ketika memikirkan hal tersebut. Karena keadaan mereka yang jauh berada di bawah garis normal kehidupan manusia itulah yang menjadi penyebabnya. Gita dan sang adik, masih terhitung muda dan kuat. Dan hal tersebut telah menjadikan kedua anak sang ibu belum begitu merasakan dampak dari kondisi tempat tinggal yang tak memadai. Sementara untuk makan selama ini, jujur saja hanya sebatas bisa mengisi perut. Mereka tak pernah memikirkan bagaimana gizi serta nutrisi yang baik. Jangankan memikirkan yang muluk seperti itu ... bahkan untuk menjadi kenyang saja sudah merupakan satu hal yang harus disyukuri. Namun kini, secercah cahaya harapan telah mucul di hadapan mereka. Entah karena kebenaran kata sang ibu yang menyinggung kebaikan hati Gita, sehingga mereka bisa menemukan peningkatan taraf hidup ... atau, bisa jadi karena keberuntungan mereka yang telah dipertemukan dengan orang-orang baik. Tapi yang jelas, semua itu patut disyukuri. Dan menjadi satu hal yang lebih penting lagi ... adalah bagaimana cara agar ia bisa mempertahankan semua yang telah didapatkan saat ini. Dalam hati, ia berjanji untuk berusaha sekeras mungkin agar tak pernah lagi kehilangan semua yang ia miliki. Bukan hanya bagi Gita, tetapi lebih untuk kebahagiaan keluarganya. ***   “Selamat pagi, Pak ...” sapa si gadis pada atasannya yang pagi itu terlihat begitu imut serta ganteng. “Hmmm ... selamat pagi, Nak. Eh, maaf ... kapan aku jadian sama ibumu?” jawab sang Direktur dengan wajah tanpa dosa. “Ehhh ... maaf, aku lupa.” “Hmmm ... emang aku pantas jadi bapakmu?” “Ah, iya ... Selamat pagi, Mas Niko ...” “Selamat pagi, Dek Gita ... ah, nggak enak.” Dengan ekspresi wajah yang mulai bergerak cemberut, Niko kembali menjawab sambil menatap sang sekretaris yang jadi salah tingkah. Kembali, satu pengalaman baru dialami oleh si gadis. Tiba-tiba saja, ia menjadi canggung dan tak bisa berpikir taktis seperti biasanya. Ia sendiri tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi. Bisa saja karena rasa berhutang budi dengan perhatian yang diberikan pada keluarganya. Atau ... apakah karena pagi itu Niko terlihat begitu ganteng? Nah ... itu juga pengalaman pertama dan satu-satunya yang ia yakin pernah terjadi. Mengapa tiba-tiba ia jadi bisa melihat kegantengan dari seorang lelaki yang bahkan pernah sama sekali tidak ia lirik? Entahlah, entah dan entah ... sementara ini, isi kepala Gita memang telah menjadi kacau karena saking banyaknya arus listrik yang berloncatan diantara jaringan syaraf-syaraf halus.   ---   “Selamat pagi, Niko ...” “Yups, lebih enak didengar. Selamat pagi, Gita ... kamu terlihat cantik hari ini.” “Terima kasih. Tapi, mohon kata tersebut jangan diulangi lagi untuk selanjutnya. Sebab, apa yang terucap tadi bisa diartikan sebagai sebuah perbuatan pelecehan atasan kepada bawahan.” Kini, si gadis telah kembali pada pribadi aslinya. “Ohhh ... baiklah. Walaupun sebenarnya aku tidak bisa menerima aturan serta Undang-Undang yang mengatakan itu. Bayangkan ... di kantor perusahaanku sendiri, bahkan aku dihalangi sebuah peraturan untuk memberikan pujian jujur dari lubuk hati yang terdalam ... oh, apa yang terjadi pada dunia ini?” “Hmmm ... biasa saja, Pak. Jangan protes kepada saya. Aturan, tetap saja aturan. Dan mohon diingat, Undang-Undang tersebut bukanlah saya yang menyusunnya. Karena sudah ada semanjak saya mulai bekerja disini.” Dengan tegas, Gita menjawab lagi sepelah kembali menemukan dirinya sendiri yang selalu tampil cool. “Huh ... terserah kamu saja lah,” dengus sang Direktur utama dengan lagak tidak terima. “Baiklah ... kembali dalam pekerjaan, ada tugas untuk saya?” “Kamu sudah mulai membaca semua buku itu?” Niko balik bertanya sambil menunjuk pada buku-buku yang diberikan oleh sang Opa kemarin hari. “Oh, bagaimana kalau aku punya pendapat lain? Sementara di kantor, aku akan belajar dan meneliti semua laporan dengan bimbingan Bu Nuning. Sementara buku-buku itu, kalau boleh akan saya bawa pulang untuk dipelajari di rumah.” “Ahhh ... iya, kamu diijinkan dengan penuh. Mau dibawa semua?” “Secukupnya saja, kalau sudah selesai baru aku ambil yang lain.” “Oke ... butuh berapa hari untuk mempelajari satu buah buku itu?” “Hmmm ... aku kira, satu malam sudah cukup,” jawab Gita setelah menghitung jumlah buku dan manaksir isinya. Mendadak, mata Niko melotot terbelalak saat mendengar perkataan si gadis. Satu malam? Dan itu hanya membutuhkan waktu di luar jam kerjanya. Jujur saja, Niko terlihat takjub dan sangat heran ... ia hanya berpikir, sebenarnya terbuat dari apakah otak gadis itu? Berarti, omongan gadis itu kemarin memang serius. Satu minggu untuk menghapal serta mengerti semua isinya! ---   “Baiklah ... tujuh hari ke depan, aku akan banyak bertanya padamu tentang isi semua buku itu. kau berani?” penasaran, sang CEO mencoba mengajukan tantangan. Sebenarnya, kemarin ia hanya menganggap angin lalu terkait kesanggupan Gita yang hanya membutuhkan waktu saatu minggu saja. Namun, kini ia juga akan serius menagih hasi kerja tersebut sesuai dengan omongannya. “Berani ... aku akan mencobanya.” “Oke, fine. Sekarang, kamu mau ke Mbak Nuning langsung?” “Iya ... tapi ada satu lagi yang akan kukatakan. Terima kasih untuk semuanya. Rumah, makanan, dokter untuk ibuku ... terima kasih, Nik. Aku tak akan melupakan semua itu. dan, tentu hanya bisa membalas dengan semua tenaga serta pikiranku untuk membantumu memajukan perusahaan. Itu janjiku.” Dengan lugas, Gita berucap itu. “Baik. Aku kira, kita sudah mengerti posisi masing-masing. Aku butuh kamu, demikian juga sebaliknya. Semoga, kedepan akan menjadi lebih baik lagi.” “Iya, semoga demikian. Dan aku akan mengupayakan agar semua itu dapat terwujud.” “Deal, aku terima janjimu,” jawab Niko sambil berdiri dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Melihat itikad baik sang atasan yang hendak membuat kesepakatan dengannya, tentu saja si gadis tak menolak hal tersebut. Dengan sigap, ia mengikuti berdiri dan menyambut genggaman yang mendadak membuat tubuhnyanya menjadi lemas untuk beberapa saat. ---   Gita jadi tak paham dengan kemauan seluruh jaringan syaraf dalam tubuhnya. Otaknya masih waras untuk memikirkan semua hal berdasarkan logika. Tapi ... kenapa mendadak bagian tubuhnya yang lain seolah telah menjadi pengkhianat atas semua akal serta logika sehatnya? Sebab ... lagi-lagi, satu hal dalam hidupnya yang belum pernah ia alami ... mendadak saja menerkam seluruh sukma dan  seolah ingin membetotnya keluar untuk menggantikannya dengan pribadi asing yang lain. Karena ... ia sendiri tak paham dengan suatu rasa asing yang tanpa permisi telah menguasai perasaannya. Genggaman tangan yang hanya merupakan sentuhan dari sebuah benda terbuat dari tulang terbungkus kulit serta daging dan darah itu ... mengapa bisa menimbulkan sebuah efek yang menghujam jantungnya hingga berdebaran seperti itu? ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN