BAB 14 - Bertemu Para Pemegang Saham

2144 Kata
Bagai tersengat, Gita melepas genggaman tangan lelaki yang memiliki kulit sedemikian halus serta lembut. Apalagi, entah harum apa yang menguar dari sana hingga menyebabkan napasnya menjadi sesak ... hingga mau tak mau, sebaiknya harus ia lepaskan sentuhan itu agar tak menjadikan hatinya lebih kacau lagi. Untuk mengalihkan topik yang tiba-tiba mencemaskan hati, Gita langsung mengalihkan perhatian mereka pada satu hal lain, “oh ya, ini KRS dan jadwal kuliahku.” “Oke, aku terima ... saranku, jadwal yang sama, kita berangkat bareng. Yang berbeda, kamu berangkat dengan diantar sopir perusahaan.” “Ah, jangan ... aku berangkat sendiri saja. Nggak enak kalau harus bareng atau diantar.” “Baik ... dengan begitu, kamu membutuhkan kendaraan sendiri setelah lulus mengikuti kursus mengemudi. Eiittss ... jangan menolak. Ini sudah menjadi kebijakan perusahaan. Percuma rumah yang kamu tinggali ada garasi kalau belum ada isinya. Ehhhh .... no, no ... no! Jangan protes!” ***   Entah burung dari mana yang terbang membawa cerita ... kabar tentang adanya sekretaris pribadi yang cantik dan belia, ternyata sampai juga di telinga Haryo Bagus Narendra. Kabar angin tak hanya menggambarkan betapa elok dan rupawan, wajah si gadis yang selalu menempel pada Niko tersebut. Karena dengan semakin berbunganya cerita,  malah tersiar kabar yang mengatakan bila gadis tersebut juga telah menerima beberapa fasilitas yang sungguh tidak lazim diterima oleh si remaja belia sebagai karyawan baru. Namun, cerita lain juga menyebutkan ... jika konon katanya, gadis bernama Andrea Gita Arshavina itu  adalah seorang yang memiliki kemampuan lebih dengan pemikiran brilliant dan ingatan layaknya komputer. Jadi ... hal itulah yang menyebabkan sang tuan besar dengan kekayaan tanah perkebunan luas berlimpah,  untuk segera memanggil si aktor utama untuk mempertanggung-jawabkan kabar tersebut. ---   "Selamat pagi, Opa ..." Niko mengucap salam, begitu mengangkat panggilan telepon dari sang kakek. "Pagi, Nyo ... siang ini, kamu pulang  ke bukit. Kita makan siang bersama." Singkat, padat, jelas dan tanpa basa-basi, sang kakek memberi perintah. "Baiklah, Opa ... Niko akan datang," jawab sang CEO tanpa perlawanan. Si anak muda tahu, kapan sang Opa tengah biasa saja atau saat kakek itu sedang merasa tidak berkenan. Pangggilan 'Nyo' yang beliau pakai tadi, adalah singkatan dari kata 'Sinyo' sebagai sebutan pengganti namanya semasa ia kecil. Dan bila sang Opa menyebutnya dengan panggilan tersebut ... hal itu bisa diartikan bahwa ada satu hal yang sedang membuat beliau tidak berkenan kepada Niko. "Bawa gadis itu bersamamu." Satu perintah lagi terucap, tanpa memberi kesempatan pada sang cucu untuk bertanya. "Gadis itu?" "Sekretaris pribadi kamu. Opa ingin berkenalan." ---  Jelas dan gamblang, apa permasalahan kini. Entah dapat cerita dari siapa, Boss besar mungkin telah mendengar kabar yang terlalu dibesar-besarkan. Dan tentunya Narendra tua menjadi marah, karena menduga cucunya sedang bermain-main dengan menggunakan semua aset perusahaan untuk kesenangannya sendiri. 'Baiklah ... Gita akan bertemu Opa. Aku akan melihat bagaimana reaksi mereka masing-masing. Opa tak bisa mengingkari janjinya sendiri saat membebaskan aku memilih sekretaris. Dan aku harap perkenalan Gita dengan sang majikan besar perusahaan yang sesungguhnya, akan bisa berjalan dengan baik.' Demikian Niko berkata pada dirinya sendiri. ***   Gita benar-benar menikmati hamparan hijau pemandangan yang disebut oleh keluarga Niko sebagai bukit. Sebelum memasuki wilayah perkebunan, perkebunan milik keluarga itu sudah terlihat dari  jalan raya yang menghubungkan dua provinsi. Dan hingga selama dua puluh menit membelah belantara tanaman kopi serta cokelat yang entah berapa luasnya itu, barulah Gita menemukan sebuah sebuah bangunan besar yang merupakan pabrik pengolahan pertama Coffie en Chocoa van Java. Bangunan itu sedemikian besarnya, namun masih tampak tradisional karena model bangunan kuno yang berseling dengan beberapa renovasi bangunan lain di sebelahnya. Halamannya terlihat sangat luas, dimana saat itu dipenuhi dengan hamparan biji-biji coklat dan kopi yang dijemur dalam kelompok masing-masing. Mobil Niko memasuki halaman pabrik, tapi tak berhenti di tempat tersebut. Dengan tenang, ia melajukan mobil untuk mengintari bangunan dan menuju sebuah rumah cantik yang hasil  arsitektur peninggalan jaman Belanda. Tentu saja seperti itu ... bukankah moyang si bocah CEO juga merupakan keturunan bangsa itu? ---  Mereka berhenti di bawah teras besar yang mirip dengan bangunan kuno kantor karesidenan di kota. Tempat berhenti kendaraan, berada persis di depan deretan anak tangga yang menuju pintu besar rumah.  Niko hanya memberi isyarat, lalu turun dengan diikuti Gita yang mengekornya untuk menaiki tangga. Sampai di atas, terlihat dua set kursi tamu kuno  pada kanan kiri teras yang mengapit pintu ganda tinggi. Nampaknya, tempat tersebut sangat nyaman untuk dipakai sebagai ruang bersantai minum teh sambil menikmati gorengan hangat. Cocok, karena udara di sekitar yang demikian segar serta sejuk dibandingkan di kota tadi. “Selamat siang, Sinyo ... apa kabar?” sapa seorang perempuan tua yang menyambut kedatangan kedua orang tersebut. Hampir saja Gita tertawa ketika mendengar nama sapaan Niko dari bibir sang bibi tersebut. (‘Sinyo? Ah, iya ... dia memang blasteran Belanda’) demikian batin si gadis muda. “Baik, Mbok ... Simbok sehat?” jawab Niko sambil merangkul pundak perempuan tua itu dengan sayang, lalu serta merta menepuk-nepuknya seperti menunjukkan sebuah kedekatan. “Sehat, Nyo ... Simbok makin seger dan sehat.” “Pantesan, simbok sekarang jadi tampak muda lagi ...” “Hi-hi ... Sinyo ini ada-ada saja, kalau simbok jadi muda lagi, nanti kasihan sama gadis remaja. Semua kalah saing sama simbok,” jawab perempuan tua itu sambil tertawa lebar dengan mata menyipit dan kerut di sudutnya yang menambah kesan lucu. Tampaknya, mereka sedemikian akrab.  Bahkan, Niko juga tak sungkan memeluk perempuan tua sederhana yang memiliki wajah keriput ramah menyenangkan. Setelah adegan dialog lucu yang menyenangkan, dimana si orang muda menampakkan kemanjaan dengan menggoda ‘simboknya’  itu, tiba-tiba saja ada yang teralih perhatiannya. ---     “Eh, siapa Noni cantik ini? Maaf, simbok keterusan gemas sama Sinyo bandel ini. Lupa kalau ada tamu. Ini istri kamu, Nyo?” tanya perempuan tua itu dengan bawel sambil menggoda si anak lelaki. “Ihhh ... simbok, enak aja. Aku kan belum kawin.” “Hi-hi-hi ... Mbok kira, kamu kawin diam-diam tanpa kasih tahu ... eh iya, siapa nama kamu, Noni cantik?” dengan ramah, simbok itu mendekati Gita dan langsung menyentuh pipi halus si anak gadis. “Nama saya Gita. Saya sekretaris Mas Niko. Saya harus memanggil simbok dengan sebutan apa?” balas si gadis dengan sopan. “Panggil dengan kata Simbok saja, seperti Sinyo menyebutnya. Simbok ini yang momong Noni Nichole dan Sinyo Niko semenjak bayi.  Mereka juga memanggil saya dengan sebutan itu. Gita ... cantiknya nama kamu. Pantes, secantik wajah dan hati kamu.” “Ah, Simbok bisa saja. Bagaimana bisa tahu kalau hati saya cantik?” sambil sedikit tersipu, Gita mencoba menanggapi kata tersebut dengan wajar. “Simbok ini sudah tua, tentu bisa melihat mana gadis baik dan yang dibuat-buat seolah baik. Eh, ini sekretarisnya Sinyo?” “Iya, Mbok ...” Dengan mimik lucu, simbok tersebut menengok pada Niko dan tertawa sambil mencubit lengan si lelaki yang ada di sampingnya. “Gaya-gayaan, kamu Nyo ... sekolah aja pakai sekretaris. Seperti Ndoro sepuh saja.” Demikian katanya sambil terpingkal. “Ehh ... Niko udah kerja, Mbok.” “Kerja dimana?” “Di kantor Opa, Mbok ...” “Oh, syukurlah. Kerja yang rajin, yang baik seperti Opa kamu ... Ndoro sepuh itu orang paling rajin dan jujur  yang pernah Simbok kenal.” “Iya, Mbok ...” ---   Setelah menerima jawaban Niko, simbok itu kembali menengok pada Gita dengan pandangan yang mesra. Entah mengapa, si anak gadis malah menjadi jengah dan kembali tersipu menerima tatapan yang seperti itu. “Noni cantik, yang sabar kalau harus mendampingi Sinyo. Sejak bayi, simbok yang merawatnya. Dan nakalnya ... aduh, nggak ketulungan. Percayalah, kalau Noni Gita bisa bertahan sabar, kalian pasti akan berjodoh.” Dengan senyum penuh misteri, perempuan tua itu menatap Gita sambil sekali lagi menyentuh lembut wajahnya. “Ah, Simbok ... saya kan hanya kerja.” “Simbok tahu. Tapi, kelak di kemudian hari, kalian berdua akan paham apa yang sedang coba Simbok sampaikan.” Kedua anak muda itu mendadak kembali diam dengan salah tingkah. Mereka tidak tahu harus berkata apa, karena tiba-tiba saja wajah mereka memerah panas saat tak sengaja saling menatap seusai mendengarkan kata-kata si wanita tua itu. “Eeehh ... malah larak-lirik. Itu, sudah ditunggu Mama dan Noni Nichole dari tadi. Ndoro sepuh, sepertinya masih berada di pabrik.” ---   “Hallo, Niko ...” sebuah suara besar dan merdu, keluar dari bibir wanita cantik yang memiliki tubuh tinggi dan terlihat ideal. “Mama ...” jawab si anak lelaki dengan manjanya. “Kak Niki ...” sebut Niko sambil memeluk serta mencium pipi seorang wanita cantik lain yang lebih muda. Wanita-wanita  di depan Gita, adalah dua sosok cantik yang berbeda generasi. Namun, kecantikan serta kemudaan mereka, seakan menggambarkan dua orang kakak beradik dibanding menganggap mereka sebagai ibu dan anak. Dan dalam sekali pandang, ia juga langsung paham mengapa Niko menjadi pribadi yang sedemikian tak menoleransi penolakan. Pantas saja ... lelaki muda dalam usia yang seharusnya sudah dewasa, memperlihatkan pribadi yang semua permintaan serta keinginannya harus selalu dituruti tanpa mengenal kata penundaan. Manja, itulah si anak lelaki dalam keluarga kaya-raya pemilik perusahaan! Dan di tengah kemesraan mereka sebagai keluarga yang begitu erat serta saling menyayangi, mendadak saja Gita menjadi seseorang yang terkucil serta diabaikan. Mereka sibuk saling menggoda, bahkan tak segan si anak lelaki juga mendapatkan pelukan serta ciuman sayang dari dua wanita cantik yang merupakan darah dagingnya. ---   Tetapi, tampaknya perasaan itu harus dibuang jauh. Karena tak lama setelah prosesi saling menggoda dan melepas rindu, sang ibu cantik rupawan segera mengalihkan perhatian pada seseorang yang sedang berdiri bingung dan tak tahu harus berbuat apa. “Ahh ... sampai lupa ... maaf, pasti kamu yang bernama Gita.” Wanita tengah baya itu mendekat, lalu tanpa basa-basi memeluk gadis kurus yang terkaget mendapat sambutan seperti itu. “Iya, Bu ... saya Gita,” jawab si gadis setelah dengan canggung menuruti gerakan ciuman pipi dari mama Niko. “Ahh ... Ibu? Jangan panggil ibu. Panggil Mama, oke?” “Ba-baik, Ma-mama ...” “Nah, itu lebih bagus. Kamu kah seretaris Niko?” “Benar, Ma ...” “Hallo, Gita ...  aku Nichole. Panggil aku Kak Niki seperti Niko memanggilku.” Seseorang menyusul, lalu mengulurkan tangan untuk berjabatan. Setelah itu ia juga meraih pundak Gita, lalu memeluk gadis yang hampir sama tinggi dengannya itu. Ciuman pipi tanda kedekatan, serta merta menghiasi perkenalan yang sangat mengesankan Gita. “Oh iya, Kak Niki ...” “Nah ... yuk, kita duduk. Niko, kamu susul Opa ke pabrik. Bilang kalau makan siang akan disiapkan selepas dentang lonceng tanda istirahat pabrik berbunyi.” “Niko masih capek, Ma ...” “Ihh ... awas, Mama telepon Opa. Biar dia saja yang menyuruhmu kesana.” “Iya, Ma ... iya ...” Mendengar sang Mama akan mengadu pada Opanya, Niko langsung ngeloyor pergi ke pabrik yang ada di depan rumah mereka. ---   Gita yang cerdas, paham jika kepergian Niko adalah sesuatu yang disengaja oleh sang Mama dan juga Kak Niki. Entah untuk saling memperkenalkan diri dengan akrab atau maksud lainnya, ia sendiri tidak tahu. Yang jelas, ia harus menghadapi dua wanita kesayangan Niko itu dengan apa adanya. Iya, harus begitu ... sebab, bukankah ia tak memiliki maksud apapun di tempat tersebut selain hanya untuk bekerja? “Gita itu teman kuliah Niko, ya?” tanya Nichole untuk membuka pembicaraan setelah mereka duduk di sofa ruang tengah yang hangat. “Adik kelas, Kak ...” jawab Gita dengan singkat. “Ohh ... adik kelas. Semester berapa?” “Semester tiga ...” “Lho, kok masih semester tiga? Mama kira, kamu sudah hampir lulus seperti Niko. Memang usia kamu berapa?” tanya sang Mama dengan ingin tahu. “Baru sembilan belas. Betul, saya semester tiga, Bu .. eh, Ma-Mama ...” “Ahhh ... kerja di perusahaan juga? Kok bisa? Lalu, kenal dengan Niko dimana? Bukannya beda jauh semesternya?” proses interograsi dimulai. Entah apa maksud mereka, tapi Gita tak lantas gentar. Karena  sebuah kejujuran, pasti akan mengasilkan buah terbaik. “Kami bertemu secara kebetulan pada matakuliah dimana Niko mengulang. Maaf, saya hanya memanggil atasan saya dengan nama saja, karena itu kemauan dia.” “Ohhh ... begitu. Lantas, bagaimana Niko tahu kalau kamu bekerja di kantor pemasaran Kopi van Java?” “Maaf, saya juga tidak tahu bagaimana ceritanya. Tiba-tiba saja, saya dipanggil oleh pihak HRD untuk menghadap dan melakukan beberapa tes. Setelah itu, mendadak saya diangkat menjadi sekretaris pribadi.” “Hmmm ... begitu ceritanya. Oh, iya ... maaf kalau kami menanyakan masalah pekerjaan. Niko adalah merupakan CEO dan pemegang saham terbesar. Tapi Mama, Niki dan juga Opa Narendra ... juga merupakan pemegang saham. Kamu tak keberatan dengan pertanyaan seputar itu, bukan?” “Sama sekali tidak keberatan. Silakan kalau Mama dan Kak Niki akan menanyakan apapun. Tapi saya baru seminggu bekerja, mohon maaf kalau belum bisa sepenuhnya tahu tentang seluk beluk perusahaan.” “Ah, Mama hanya pengin tahu saja apa yang kamu pelajari selama satu minggu ini.” “Baik, Ma ... silakan bertanya.” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN