Niko bangkit dari duduknya setelah mengiyakan saran dari Gita. Meskipun begitu, nampak jelas sekali mimik muka masam yang ditunjukkan sang pemuda. “Senyum, Nik,” tegur sang gadis sambil menyenggol lengan Niko secara lembut. “Iya-iya,” jawabnya malas sambil mendengus kesal. Mereka berjalan beriringan saat menuju spot outdor yang ada di café tersebut. Dari tempat mereka berada sekarang, nampak Irvan masih duduk sambil berkutat dengan ponselnya. Hal tersebut membuatnya tidak tahu jika Gita dan sang CEO sedang berjalan menuju ke arahnya. “Mas Irvan, maaf sudah membuatmu menunggu lama.” Suara sang gadis seketika mengalihkan perhatian Irvan yang rupanya sedang sibuk membalas pesan dari Erwin. “Oh iya. Tidak apa-apa, Git,” sahut Irvan sambil mengangkat kepalanya untuk memandang sang gadis.

