Part 11 Sikap Aneh Alex

2104 Kata
“Aku minta maaf.” Iris mengangkat wajahnya yang semula menatap novel di tangannya, menatap ke sekitar kelasnya yang tampak sepi dan hanya ada dirinya sendiri di sana, sebelum kehadiran pemuda yang kini berdiri di depannya dengan wajah bersalah. Ia melepas satu earphone-nya yang di sebelah kanan, masih memandangi wajah Alex yang tak seceria biasanya. “Maaf untuk apa?” tanyanya, lagipula ia merasa pemuda itu tidak pernah melakukan sesuatu yang menuntutnya untuk meminta maaf padanya, kecuali fakta bahwa ia selalu mengganggunya yang membuatnya menahan kesal setiap hari. Alex mengambil posisi duduk di kursi kosong yang berada tepat di depan meja Iris yang masih setia memandanginya dengan wajah tanpa ekspresinya. Ia m******t bibir bawahnya yang terasa kering. “Untuk kejadian kemarin di kantin,” jelasnya. Matanya tertuju pada sepasang manik bening milik Iris yang masih tidak memiliki emosi di sana. Ia merasa meskipun kejadian di kantin kemarin bukan salahnya sepenuhnya, namun ia tetap merasa bertanggung jawab dengan hal itu. Terlebih lagi Irina dan kedua temannya ikut duduk di meja yang sama dengannya karena mengikuti dirinya. “Kenapa kau harus meminta maaf untuk kesalahan yang tidak kau perbuat?” Irina melepaskan salah satu earphone-nya yang masih terpasang di telinga kirinya, meletakkannya di atas meja belajarnya serta tak lupa mematikan musik yang masih mengalun indah dan lembut melalui ponsel pintarnya. Meskipun ia tahu penyebab kehadiran Irina dan kedua temannya untuk makan di meja yang sama dengannya serta melarangnya untuk pergi dari sana adalah pemuda di hadapannya, namun ia tak bisa menyalahkan sepenuhnya pemuda itu karena ia tahu yang namanya musibah tidak ada yang tahu kapan akan terjadi. Tersenyum, Alex memandangi suasana kelas yang tampak sepi dan berharap akan tetap seperti itu sampah beberapa menit kemudian agar mereka berdua bisa lebih leluasa untuk mengobrol bersama tanpa khawatir akan ada yang mengganggu mereka. Terlebih lagi sosok Irina yang pastinya akan sangat mengganggu jika mengetahui bahwa dirinya hadir di kelas itu untuk menemui Iris yang tampak sekali ia benci dan Alex masih belum menemukan penyebab kebencian gadis cantik itu terhadap saudari kembarnya sendiri, terlepas dari sikap Iris yang memang dingin pada orang lain namun sebenarnya ia yakin gadis itu tidak seperti itu. “Tapi aku turut andil dalam kejadian itu. kalau saja aku tidak mengganggumu dan melarangmu pergi dari sana, kau tidak akan pernah mengalaminya.” Iris tersenyum tipis, sangat tipis sehingga Alex tidak menyadarinya. “Ternyata kau sadar bahwa selama ini kau menggangguku, tapi kenapa kau tidak pernah berusaha untuk berhenti dan membuatku hidup tenang?” Mengakhiri kalimatnya, Iris menatap tajam pada Alex yang tampak canggung ditatap seperti itu olehnya, seolah tertangkap basah melakukan hal memalukan saat ini. “Bukan begitu, aku ….” Alex menggantung kalimatnya kemudian menghela napasnya dengan pasrah. “Baiklah, aku akui aku memang sedikit mengganggu selama ini. Tapi itu semua kulakukan hanya untuk berteman denganmu. Lagipula menurutku tidak ada yang salah dengan itu.” Iris membuang muka, pandangannya kini kembali fokus pada novel dengan halaman yang sejak tadi terbuka lebar menampilkan halaman terakhir yang ia baca tadi dan belum ia selesaikan karena kehadiran Alex yang cukup menyita waktu bersantainya yang damai dan tenang. Setidaknya, dengan ketidak hadiran Irina di sana membuatnya sedikit lega karena ia tentu tak suka jika selalu diberikan tatapan tak bersahabat oleh gadis yang sedang kasmaran. “Tentu saja ada yang salah. Aku tidak suka diganggu apalagi oleh orang sepertimu. Aku hanya ingin menikmati waktu yang tenang di sekolah jadi kuharap kau bisa menghormati pilihanku itu dan tidak pernah menggangguku lagi.” Mata Iris melirik pada meja Irina yang masih kosong ditinggal pemiliknya entah kemana. “Lagipula aku tidak suka dianggap sebagai perebut kekasih orang dan kembali mengalami kejadian memalukan seperti kemarin.” Mata Iris kembali fokus membaca novel di tangannya dengan posisi novelnya yang ia angkat sejajar dengan bahunya, seolah ingin menunjukkan pada pemuda di hadapannya tentang pengusiran halusnya yang menandakan bahwa ia ingin sendiri sekarang dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun lagi. Alex tersenyum menangkap kode yang dibarikan gadis cantik di hadapannya. Meskipun ia sebenarnya cukup terganggu dengan ucapan Iris yang jelas sekali selalu menolak kehadirannya namun ia tetap optimis dan akan terus berusaha untuk mendekati gadis itu seperti biasa seolah-olah tidak pernah mendengarkan ucapan Iris hari ini. “Baiklah, aku akan pergi sekarang. Lagipula urusanku di sini juga sudah selesai.” Ia berdiri dengan posisi kedua tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celananya. Matanya masih memandangi Iris yang masih berpura-pura mengabaikan keberadaannya di sana dengan senyum yang mengembang. “Tapi sekadar informasi saja, aku dan Irina tidak berpacaran dan itu tidak akan pernah terjadi.” Iris melirik kepergian Alex yang berjalan lurus tanpa menoleh sedikit pun padanya. Ia sejujurnya tidak perduli jika keduanya memang sepasang kekasih atau bukan, hanya saja ia merasa tidak nyaman jika Irina selalu menatapnya penuh kebencian hanya karena mendekati pemuda yang ia sukai. Namun ia cukup penasaran juga atas dasar apa Alex mengatakan kalimat itu, padahal selama ini yang ia tahu keduanya begitu dekat layaknya sepasang kekasih yang tak terpisahkan, terlebih lagi sikap posesif Irina yang tak ingin siapa pun mendekati Alex terutama dirinya. ***** Alex sedikit memelankan langkahnya saat matanya menangkap Irina yang berdiri di depan kelasnya, seperti menunggu seseorang dan ia yakin orang itu pasti adalah dirinya. ia lihat hanya ada gadis cantik itu di sana, ia tidak dikelilingi oleh para temannya yang selalu setia menemaninya kemana pun ia pergi sampai-sampai ia menyebut mereka sebagai pengikut Irina. “Irina?” Ia berjalan mendekat dengan wajah yang menggambarkan kebingungan, baru kali ini gadis cantik itu mengunjungi kelasnya karena biasanya dirinyalah yang selalu mengunjungi gadis itu di kelasnya sendiri karena rasa tidak nyaman Irina di tengah-tengah orang yang tak begitu ia kenali serta tatapan kekaguman akan kecantikannya yang membuatnya merasa sedikit terganggu. “Sedang apa di sini, bukannya tadi kamu ke kantin?” Irina yang melihat kehadiran Alex menampilkan senyum indahnya, ia sudah cukup lama menunggu di sana dan tak menemukan sosok pemuda itu di dalam kelasnya yang saat ia bertanya pada temannya sekali pun ia tidak bisa menemukan jawaban yang puas. “Aku menunggumu. Aku tadi memang berencana untuk ke kantin bersama yang lainnya, namun setelah kupikir-pikir aku ingin ke kantin bersamamu hari ini. Lagipula sudah cukup lama kita tidak ke kantin bersama.” Alex mengusap tengkuknya dengan senyuman, ia merasa dirinya selama beberapa minggu belakangan ini memang sedikit mengabaikan sosok Irina yang selalu ia damping setiap hari di sekolah bahkan di luar sekolah sekali pun. Namun karena ketertarikannya terhadap Iris membuatnya berusaha untuk dekat dengan gadis itu dan akhirnya malah mengabaikan Irina yang selama ini tak pernah jauh darinya. Rasa bersalah sedikit menggerogoti perasaannya, namun ia juga ingin agar Irina sadar bahwa ia punya kehidupannya sendiri dan tidak harus selalu ada untuknya. “Maaf, tadi aku ada urusan sebentar.” Matanya melirik arloji hitam yang melingkari pergelangan tangannya yang memang selalu ia gunakan setiap harinya baik di sekolah mau pun di luar. “Tapi sepertinya kita tidak bisa ke kantin sekarang, waktu sudah terlalu sempit untuk bersantai di sana.” Ia menunjukkan wajah bersalahnya. “Maaf sudah membuatmu menungguku sampai kamu harus melewati makan siang karena aku.” “Tidak apa-apa.” Irina tersenyum, tampak sama sekali tidak keberatan atau terpengaruh dengan kalimat pemuda di depannya karena ia sudah yakin akan mendapatkan jawaban seperti itu. Lagipula ia juga tahu bahwa Alex baru saja menemui Iris di kelas mereka dari bau parfum yang menempel di tubuh pemuda itu. Ia sudah cukup mengenal Alex dan ia tahu pemuda itu bukan tipe orang yang menyukai parfum aroma bunga yang lembut seperti ini, lagipula ia pernah menemukan parfum dengan aroma yang sama di dalam kamar Iris meskipun saudarinya itu jarang menggunakannya. Raut wajah Irina berangsur-angsur berubah, dari yang ramah menjadi dingin seperti tak tersentuh. Matanya masih memandangi Alex yang sedikit bingung dengan perubahan gadis cantik itu yang tak biasanya. “Aku ingin bertanya satu hal, ada hubungan apa kamu sama Iris?” Kedua alis Alex bertaut, ia merasa cukup bingung mendapatkan pertanyaan tiba-tiba seperti itu, lagipula ia merasa itu haknya untuk berteman dengan siapa pun tanpa harus meminta persetujuan dari orang lain terlebih dahulu. Terlebih lagi mereka berdua adalah saudara jadi sudah sewajarnya jika Irina merasa senang dengan kedekatannya bersama Iris, bukan malah sebaliknya. “Kenapa?” Alih-alih menjawab pertanyaan gadis di depannya, ia malah tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya kembali. Lagipula ia merasa sedikit risih jika harus menjelaskan sesuatu yang ia rasa tidak perlu untuk ia lakukan. “Aku hanya bertanya, apa itu tidak boleh?” Irina menoleh sebentar pada beberapa siswi yang baru saja melewatinya, berusaha memastikan bahwa mereka tidak berusaha menguping pembicaraan mereka yang memang sejak tadi berdiri di depan kelas. Ia sadar posisi mereka itu salah dan mengganggu teman sekelas Alex yang ingin keluar atau bahkan masuk ke dalam kelas mereka, namun egonya terlalu tinggi untuk sekadar menyingkir dari sana. Alex berdehem singkat demi mentralkan suaranya akibat ternggorokannya yang terasa kering, mendadak ia merasa seperti seorang kekasih yang sedang diinterogasi akibat ketahuan selingkuh oleh pasangannya. Namun kenyataannya hubungan mereka tak lebih dari seorang teman. “Aku dan Iris tidak punya hubungan apa-apa,” jelasnya, ia tentu tak ingin menambah rumit masalah yang sebenarnya cukup mudah untuk diselesaikan. Terlebih lagi melihat bagaimana sikap gadis cantik di depannya saat ini membuatnya ingin cepat-cepat memasuki kelasnya dan mendapatkan ketenangan di sana. Akhirnya senyum yang sejak tadi menghilang dari wajah Irina kembali muncul, merasa cukup puas dengan jawaban pemuda di depannya ia memang ia tunggu-tunggu sejak tadi. Ia kembali pada kepribadiannya yang lembut dan anggun. “Aku tahu kau akan menjawab seperti itu. Baiklah, aku akan kembali ke kelas sekarang.” Saat ia berjalan melewati tubuh Alex, ia tak lupa membisikkan sesuatu di sana. “Aku tidak suka kau mendekati Iris, jadi kuharap kau tetap jaga jarak dengannya.” Alex memandangi punggung ramping Irina yang berjalan menjauh darinya. Ia tak habis pikir dengan kalimat terakhir gadis cantik itu yang terkesan terlalu mengaturnya. Raut wajahnya mengeras seiring menjauhnya sosok Irina dari pandangannya, ia tak suka hidupnya diatur terlebih oleh orang yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya. Untuk pertama kalinya ia merasa telah melakukan kesalahan karena berteman dengan Irina yang memang sejak pandangan pertama mereka saat masih menjadi siswa baru di sekolah itu cukup membuatnya tertarik dan suka padanya. ***** Iris tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya saat mendengar suara bising dari pintu utama di lantai bawah rumahnya. Ia meletakkan laptop yang ia pakai bermain game di atas mejanya sebelum beranjak ke pintu kamarnya dan membukanya. Ia berjalan mendekat pada pagar dan melihat Irina dengan senyum bahagianya menyambut Alex yang baru saja tiba. Saudarinya itu terlihat memegang sebuket bunga mawar merah yang memang menjadi kesukaannya dengan wajah ceria yang membuatnya yakin bahwa bunga itu adalah pemberian dari Alex. Saat sedang asik memandangi keduanya dari lantai atas, Alex mendongak ke arahnya dan pandangan mereka bertemu. Ia bisa melihat senyum simpul pemuda itu yang tidak secerah biasanya, raut wajahnya juga tampak lelah namun begitu ia tetap memaksakan senyumnya di hadapan Irina yang sudah seperti gadis yang sedang dikunjungi oleh pacarnya saat ini. Irina mengajak Alex untuk menuju kamarnya yang berada persis di samping kanan kamar milik Iris. Saudarinya itu hanya memandangnya singkat sebelum membuang muka dan memberi perintah pada salah satu pembantunya agar menyiapkan sesuatu yang bisa dinikmati olehnya bersama pemuda yang ia sukai. Iris melihat seperti ada yang berbeda dari Alex, selain senyumnya yang tak biasa sikapnya juga seolah mereka tak mengenal satu sama lain. Padahal biasanya pemuda itu akan menghampirinya dan menyapanya seperti biasa meskipun ada Irina di sana. Namun kali ini ia seperti berusaha untuk menjaga jarak darinya dan itu membuatnya bingung. Berusaha tak acuh, Iris kembali masuk ke dalam kamarnya setelah dua orang itu memasuki kamar Irina. Entah apa yang akan keduanya lakukan di dalam sana ia tak perduli, bukan urusannya jika sesuatu terjadi di antara keduanya yang memang baru kali ini Irina berani untuk mengajak Alex memasuki kamarnya. Ketidak hadiran ayah mereka di rumah itu jelas menjadi suatu kesempatan besar bagi Irina, karena biasanya ia hanya mengajak Alex untuk mengobrol di ruang tengah diawasi oleh bodyguard ayahnya yang tentu saja tak ingin terjadi sesuatu terhadap anak kesangannya itu. Tak ingin memikiran apa pun tentang Irina dan Alex yang berada di kamar yang sebelahnya, ia kembali mengambil laptopnya dan kembali memainkan permainan yang sempat ia tunda karena kedatangan Alex yang cukup mengganggu konsentrasinya. Meskipun berusaha tak perduli, namun telinganya cukup ia tajamkan untuk mendengarkan apa saja yang sedang dilakukan saudarinya bersama seorang pemuda di kamarnya. Ia menggeleng, menepuk pipinya dengan pelan berusaha untuk menyadarkannya bahwa apa yang ia lakukan sekarang sangatlah tidak penting dan tentu saja melanggari privasi orang lain. “Sadar, Iris, apa pun yang sedang mereka lakukan itu bukan urusanmu. Jadi fokus saja pada game yang sedang kau mainkan.” *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN