Part 10 Ada yang Berubah Darinya

2060 Kata
Iris tahu ada yang berbeda dari sikap Irina saat pulang dari sekolah hari, ia dengan jelas bisa melihat raut wajah saudarinya itu tak seperti biasanya. Ia tak tahu apa penyebabnya, yang pasti jika ada yang marah dan kesal saat ini itu adalah dirinya. Ia tidak mungkin bisa melupakan begitu saja kejadian tak mengenakkan yang terjadi di kantin sekolah beberapa jam yang lalu ditambah sikap Irina yang malah membuatnya malu di hadapan Alex dan yang lainnya. Suara ketukan di pintunya membuatnya mendongak hanya untuk melihat seorang wanita muda kisaran usia tiga puluh tahun yang memasuki kamarnya setelah mendapatkan izin darinya. Ia memang sengaja memanggilnya dan menyuruhnya untuk menyediakan makan malam di dalam kamarnya seperti hari-hari sebelumnya, kegiatan yang menjadi kebiasaannya selama ayahnya berada di luar kota. Karena tentu saja ia tak ingin berada di meja makan yang sama bersama Irina terlebih lagi jika hanya ada mereka berdua di sana. Ia diam saja memperhatikan perempuan bernama Ayu itu menyediakan berbagai lauk di atas mejanya dan sesekali memperhatikan layar televisi yang menampilkan acara musik yang cukup menghiburnya. Saat iklan mulai muncul, ia kembali memperhatikan wajah Ayu yang tentu saja menyadari tatapannya dengan wajah gugupnya yang kentara. “Kau sudah berapa lama bekerja di sini?” tanyanya sekadar basa-basi. Tidak bisa dipungkiri ia cukup lelah juga jika harus berada di satu ruangan bersama orang lain tanpa mengeluarkan sepatah kata pun yang hanya membuat suasana terasa dingin dan mencekam. Ayu yang sudah hampir selesai dengan pekerjaannya itu menoleh pada sang anak majikan yang tidak seperti biasanya mau memulai pembicaraan dengan orang lain, terutama pada mereka yang hanya berstatus pembantu di rumah itu. Ia sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan Iris karena tak ingin melakukan sebuah kesalahan dalam ucapannya yang malah akan membuat gadis cantik itu murka dan bisa saja memecatnya sama seperti yang terjadi pada pembantu-pembantu sebelumnya. “Sudah hampir lima tahun, Nona.” Ia kini menaruh segelas air minum di atas meja yang menandakan pekerjaannya sudah selesai dan penderitaannya di dalam ruangan itu sudah akan berakhir. Siapa pun tentu sangat tidak nyaman berada cukup lama di dalam kamar Iris yang terasa dingin dan membuat mereka semua berkeringat dingin. “Sudah cukup lama juga, ya.” Iris mengangguk mengerti. Melihat perempuan yang lebih tua di depannya sudah bersiap-siap untuk keluar dari kamarnya ia tak tinggal diam. Entah kenapa ia rasanya tak ingin sendiri saat ini. “Tunggu.” Ia mengambil pisau kecil yang berada di atas keranjang buah yang memang dikhususkan untuk mengupas buah-buahan jika ia ingin memakannya. “Kupaskan aku buah sebelum keluar. Aku ingin memakan buah dulu sebelum makan.” Ayu yang melihat mata pisau yang tajam ditodongkan ke arahnya sudah hampir terkena seranga jantung saat itu juga, ia tadi sempat berpikir bahwa anak majikannya itu akan melukainya dengan pisau. Namun kemudian ia menghela napas lega bahwa ia hanya diperintahkan untuk mengupas buah-buahan, lagipula selama lima tahun ia bekerja di rumah itu, tidak pernah sekali pun ia mendengar desas-desus yang aneh mengenai Iris suka melukai para pembantu di rumahnya, melainkan hanya membentak atau yang lebih parahnya mereka dipecat. Meskipun ia merasa lega, namun tak bisa dipungkiri bahwa ia juga merasa tidak nyaman karena penderitaannya akan berakhir cukup lama saat ini. Inilah alasan ia sempat menolak untuk membawakan makanan ke dalam kamar Iris dan menyuruh temannya yang lain, namun mereka juga sama takutnya dengan dirinya ditambah lagi mereka masing-masing sudah memiliki pekerjaan yang harus mereka selesaikan dan kebetulan hanya dirinyalah yang sedang kosong saat itu sehingga ia tak bisa menolaknya. “Baik, Nona.” Ia mulai berjongkok di depan meja, mengambil pisau kecil yang sudah diletakkan kembali oleh Iris ke atas meja. “Nona Iris mau makan buah apa?” Matanya tertuju pada Iris yang masih duduk di atas sofa dengan mata yang memandang lurus ke layar televisi yang saat ini menampilkan acara musik dari luar negeri. Lagu yang menurutnya cukup bagus dan menghibur untuk orang yang tak begitu mengerti tentang musik seperti dirinya. Iris yang sedang fokus menatap televisi dengan kaki disilangkan dan tangan kanan yang memegang sebuah remote control menoleh pada Ayu yang mendongak menatapnya, masih ada sedikit kegugupan di mata perempuan itu saat melihatnya namun ia bisa merasakan bahwa perempuan berusia tiga pulah tahun itu sudah mulai cukup santai berada di dekatnya saat ini. “Aku ingin buah apel dan jeruk. Cepatlah, aku sudah lapar.” “Baik.” Tanpa ingin membuang waktu dan membuat sang anak majikan menunggu lama yang hanya akan memicu amarahnya, Ayu segera mengupas buah apel berwarna merah muda di keranjang yang berada di depannya. Beruntung ia membawa satu piring kosong yang lebih sehinga ia bisa menempatkan buah yang sudah ia kupas di sana. Di sela-sela acara menonton televisi, Iris sesekali melirik pada perempuan di sampingnya yang dengan serius mengupas buah apel untuknya. Sudut bibirnya sedikit melengkung ke atas menyadari bahwa tidak buruk juga memulai suatu interaksi yang baik bersama orang-orang, terlebih lagi yang telah berjasa membantu mereka di rumah sehingga ia dan keluarganya bisa makan enak dan tidur nyaman dengan keadaan rumah yang bersih yang tentu saja tidak bisa ia lakukan tanpa bantuan dari mereka semua. “Sudah selesai, Nona.” Iris melirik buah apel yang sudah dikupas dan diiris kecil-kecil sehingga memudahkannya untuk menikmati buah segar itu, ditambah dengan buah jeruk yang sudah dikupas yang semakin membuatnya tak sabar ingin menikmati rasanya. Ia meraih sebuah garpu buah yang diserahkan oleh Ayu padanya dan segera mengambil satu buah apel dan memakannya. Melihat Ayu yang tampak tidak bisa duduk dengan tenang di sampingnya membuatnya tak bisa mengabaikan perempuan itu. “Ada apa? Kau boleh makan buahnya juga kalau mau.” Ia berujar santai namun terasa sangat tidak nyaman di telinga perempuan di sampingnya yang tentu menyadari posisinya dan tidak akan berani melangkah lebih jauh yang hanya akan membuat majikannya murka. “Tidak, Nona. Aku akan kembali ke dapur sekarang.” Ayu sudah bersiap-siap untuk berdiri namun dicegah oleh Iris yang malah membuatnya bingung dengan sikap anak majikannya itu yang tidak seperti biasanya. Padahal biasanya ia akan sangat benci jika ada yang masuk ke dalam kamarnya dan berlama-lama di sana karena ia sangat benci diganggu oleh siapa pun, namun kini ia terlihat seperti sangat ingin untuk menahannya agar lebih lama di sana. Meskipun sikapnya sedang baik saat ini namun siapa pun akan tetap merasa tidak nyaman berada di satu ruangan yang sama bersama orang yang sewaktu-waktu bisa memecatmu kapan saja terlepas dari masalah yang kau buat itu besar atau hanya masalah sepele. “Tidak usah terburu-buru. Tinggallah di sini dan temani aku makan. Kau juga pasti belum makan malam ‘kan?” Iris tetap kekeh menahan Ayu yang bahkan tidak pernah ia ajak bicara selama perempuan itu masuk bekerja di rumahnya. Jangankan perempuan itu, mengajak bicara pembantunya yang lain saja sangat jarang ia lakukan jika bukan mengenai sesuatu yang ingin ia perintahkan. Ayu menatap buah-buahan yang segar dan makanan enak yang menggugah selara di atas meja di depannya, perutnya sudah meronta-ronta meminta makan sejak tadi ditambah ia memang belum memakan apa pun malam ini karena mereka punya jadwal tersendiri, mereka baru bisa mengisi perut mereka yang kosong jika mereka semua sudah mengerjakan tugas mereka dengan baik. Ia tentu sangat tergoda untuk menerima tawaran yang menguntungkan dari Iris, namun ia tak mungkin lupa dengan statusnya yang hanya seorang pembantu dan tentu saja ia tahu batasan apa yang tidak boleh ia langgar. Ia menggeleng dengan pelan. “Maaf, Nona Iris, saya tidak mungkin selancang itu mau makan di meja yang sama dengan Nona.” Iris tersenyum, sangat tipis sehingga Ayu yang berada di depannya pun tak akan bisa melihatnya jika ia lengah sedikit saja. “Kalau begitu kamu boleh makan di meja lain.” Matanya mengamati ekspresi wajah perempuan di hadapannya yang masih menampakkan keraguan di matanya. “Kenapa? Kau takut aku memberi racun di dalam makananmu?” “T-tidak, Nona.” Ayu menggeleng tegas dengan wajah pucat pasi, sungguh sangat lancing baginya jika ia memikirkan Iris akan melakukan hal k**i seperti terhadap dirinya yang hanya orang biasa. “Aku tidak pernah berpikir seperti itu tentang Nona.” Ia kembali duduk di posisinya semula dengan patuh, menunggu perintah lanjutan dari Iris yang kini tersenyum melihatnya. “Kalau begitu makanlah.” Ia meletakkan kembali garpu buah yang sejak tadi ia pegang, ada tiga buah apel dan dua buah jeruk yang dikupaskan Ayu untuknya namun ia baru memakan satu iris. “Buahnya kurang manis, aku tidak suka. Jadi kau bisa menghabiskannya kalau mau.” Ayu mengangguk dengan patuh, mengambil seiris buah apel yang sudah ia kupas tadi dengan tangan kosong dan memakannya dengan ragu. Rasa manis dan segar dari buah apel itu membuatnya mengerutkan keningnya, ia melirik singkat pada Iris yang kini menikmati makan malamnya dengan tenang. ‘Manis begini kenapa bisa dibilang hambar?’ batinnya merasa bingung dengan perkataan Iris yang menurutnya sangat bertentangan dengan kenyaataanya. Sementara Iris yang menyadari arti tatapan perempuan di sampingnya hanya tersenyum tipis sambil berpura-pura fokus dengan makanannya, yang ia katakan soal rasa buah apel yang hambar tadi tentu hanya akal-akalannya agar membuat perempuan itu ingin memakannya dan sepertinya ia berhasil melihat betapa lahapnya perempuan itu memakan buah-buahan yang ia kupas sendiri. ***** Iris berjalan menuju balkon kamarnya saat melihat langit malam yang dipenuhi bintang-bintang yang terlihat indah untuk dilewatkan. Ia tersenyum merasakan sentuhan angina lembut yang menyapu kulit wajahnya. Entah sejak kapan ia merasa setenang ini, bahkan setelah kejadian menyebalkan yang ia rasakan di sekolah tadi siang sudah ia lupakan. Lagipula ia saat itu memang tidak sedang lapar dan nafsu makannya yang menghilang sejak kemunculan Alex dan Irina, jadi ia cukup berterima kasih pada gadis berkuncir kuda yang duduk di sampingnya yang menumpahkan minuman ke dalam makanannya sehingga ia tidak perlu repot-repot untuk menghabiskannya sehingga bisa membuatnya memuntahkan isi perutnya saat itu juga. “Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain menyiksa mereka seperti itu?” Suara Irina yang berasal dari balkon di sebelah kanannya membuatnya yang sejak tadi memejamkan kedua matanya menikmati angin malam segera menoleh pada asal suara. Ia dengan jelas bisa melihat wajah tanpa eskpresi saudarinya itu yang tidak pernah bisa ia tebak apa isi pikirannya. “Apa maksudmu?” Irina tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya pada langit malam yang tampak cerah dengan bintang-bintang yang menghiasinya. “Pembantu kita yang bernama Ayu yang bertugas membawa makanan ke dalam kamarmu. Apa yang kau lakukan padanya?” Kini giliran Iris yang tersenyum, senyum ketus yang menertawakan pertanyaan konyol yang dilontarkan oleh saudarinya yang tentunya mengambil kesimpulan sendiri saat ini. “Aku tidak melakukan apa pun padanya.” Matanya tertuju pada Irina yang masih enggan untuk membalas tatapannya. “Kalau kau tidak tahu sesuatu, tidak usah mencampuri urusan orang lain.” Mata Irina kini kembali bertemu dengan miliknya. Gadis itu lama terdiam dengan tatapan datarnya dan ekspresi wajah yang tak bisa ditebak, Iris bahkan tidak bisa mengambil kesimpulan bahwa saudarinya itu sedang marah atau tidak saat ini. Karena sejujurnya meskipun mereka sedarah dan mempunyai wajah yang sama, namun ia tak pernah bisa menebak isi pikiran gadis itu yang selalu membuatnya waspada setiap saat. Tidak seperti dirinya yang selalu meluapkan emosinya dengan bebas, Irina malah selalu mempertahankan wajah tenang namun mematikannya. “Aku tidak suka saat kau mendekati Alex.” Alih-alih menjawab pertanyaannya tentang perempuan bernama Ayu tadi, Irina justru mengungkapkan perasaannya yang keberatan akan kedekatannya bersama Alex, pemuda yang selalu mengganggu ketenangannya di sekolah. “Siapa yang dekat dengannya?” tanyanya dengan sedikit emosi, padahal ia sudah jelas-jelas mengatakan pada saudarinya itu bahwa Alex lah yang selama ini selalu mendekatinya bukan dirinya. “Aku tahu kau ingin beralasan bahwa Alex yang selalu berusaha mendekatimu, namun di mataku justru yang terlihat bahwa kau lah yang menggodanya.” Di balik wajah tanpa ekspresinya saat ini, Iris bisa melihat sedikit emosi di sana. Tampaknya ia mulai goyah dan Iris tahu penyebabnya adalah pemuda yang ia sukai. Iris tersenyum, terlalu malas untuk berdebat dengan orang yang tidak akan pernah mau mendengarkan penjelasannya. Ia mengeratkan pegangannya pada pagar di depannya, menatap bintang-bintang yang berkerlap-kerlip di atas sana. “Terserah kau mau berpikiran apa aku tidak perduli. Jika di mataku aku menggoda Alex maka anggaplah demikian, karena kau terlalu malas berdebat dengan orang bodoh yang hanya akan membuatku ikut bodoh.” Ia menoleh pada Irina yang masih bertahan dengan wajah dinginnya, ia tersenyum sebentar sebelum berjalan masuk ke dalam kamarnya dan tak lupa mengunci pintu balkon dan juga pintu kamarnya. Ia tak sebodoh itu membiarkan pintu kamarnya tak terkunci mengingat bahaya yang sewaktu-waktu mengintainya. Ia tak aman meskipun sedang berada di rumahnya sendiri. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN