Iris memutar langkahnya saat melihat sosok pemuda yang sangat ingin ia hindari namun selalu berusaha untuk mendekatinya tak sengaja menangkap sosoknya dari kejauhan, dalam jarak sejauh itu saja ia sudah bisa raut bahagia pemuda itu yang tampak ingin menyapanya namun cepat-cepat ia hindari. Tujuan awalnya adalah berjalan menuju kantin, namun kini ia lebih memilih untuk kembali ke dalam kelasnya dan menyendiri seperti biasa, tak menghiraukan perutnya yang lapar akibat melewatkan sarapan pagi ini.
Ia semakin mempercepat langkahnya saat mendengar samar-samar panggilan Alex yang ternyata kini mengejar langkahnya. Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana pemuda itu selalu saja berusaha untuk mendekatinya di saat ia selalu memperlihatkan wajah dingin dan sikap yang tidak bersahabat, yang bagi orang lain cukup membuat mereka menjauh sejauh-jauhnya darinya.
“Iris, tunggu.”
Suara Alex semakin mendekat, dengan kaki jenjangnya ia tentu bisa menyusul langkah kecil milik Iris yang tingginya hanya sebatas telinganya dan kini ia sudah berjalan tepat di samping Iris yang semakin menunjukkan wajah risih melihat kehadirannya di sana. Namun ia tidak perduli dan tetap bersikap seperti biasa di hadapan gadis cantik itu.
“Mau kemana terburu-buru begini? Bukannya tadi kamu mau ke kantin?” Alex memandangi wajah Iris dari samping sehingga ia dengan jelas bisa melihat wajah cantik gadis itu yang selalu memakai topeng jahatnya demi membuat orang-orang menjauh darinya.
“Bukan urusanmu.” Meskipun sedang kesal, namun Iris tidak bisa mengabaikan begitu saja pertanyaan pemuda di sampingnya menggantung tanpa jawaban dan tentunya inilah alasan mengapa Alex selalu mendekatinya, karena pemuda tampan itu seolah tahu bagaimana sikapnya yang sebenarnya selalu perduli dan tidak bisa mengabaikan orang lain begitu saja.
Alex tersenyum, ia kini berjalan santai di samping Iris yang tampak tidak keberatan dan tidak ada kata penolakan untuknya. Meskipun sebenarnya ia sangat tahu bahwa di balik kediaman gadis cantik itu ia pasti sedang mengutuknya dalam hati sekarang. “Kalau begitu aku akan ikut denganmu saja.”
“Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain mengikuti orang?” Iris tentu tak bisa menyembunyikan nada ketus di dalam suaranya, terlebih lagi saat melihat wajah santai Alex yang seperti tak ada beban setiap kali mengganggunya. Seolah-olah apa yang ia lakukan saat ini adalah hal yang normal dan bukanlah sesuatu yang melanggar privasi orang lain.
Alex menoleh pada Iris yang masih menolak untuk menatap wajahnya, kedua alisnya bertaut. “Tentu saja aku punya. Tapi apa yang salah jika aku ingin bersama dengan temanku saat ini?” Senyumnya masih mengembang mengabaikan tatapan kesal milik gadis cantik di sampingnya.
Iris menaikkan satu alisnya, tatapannya jelas seperti menertawakan ucapan pemuda di sampingnya yang terdengar sangat konyol di telinganya saat ini. Sangat lucu sehingga ia rasanya ingin membuka mulutnya dan tertawa dengan kerasnya. “Sejak kapan kau dan aku menjadi teman?”
Alex tersenyum. “Sejak pertama kali kita bertemu aku sudah menganggapmu sebagai teman.” Ia kemudian menoleh pada Iris yang kini membuang muka, terlihat begitu enggan untuk sekadar bertatapan mata dengannya.
“Temanmu yang sebenarnya ada di dalam sana.” Tatapan Iris menatap lurus ke dalam kelasnya di mana Irina sedang asik mengobrol dengan beberapa orang yang mengelilinya yang tentu saja ia tidak tahu nama mereka semua, karena baginya itu sangatlah tidak penting yang bahkan nama gurunya sekali pun ia hanya tahu beberapa.
Alex mengikuti pandangan Iris, ia bahkan tak sadar sejak kapan mereka tiba di depan kelas gadis cantik itu. Saat ia sibuk menatap wajah Irina yang tampak ceria dan terlihat jauh berbeda dengan Iris yang selalu menampilkan wajah tidak bersahabat, tiba-tiba pandangan mereka bertemu yang tentu saja membuatnya tak bisa lari dari sana, terlebih lagi saat ia menoleh ke samping kanannya di mana sosok Iris sudah menghilang dari sana. Ia hanya tersenyum di posisinya melihat Iris yang berlari kecil menjauh darinya menuju tempat tujuan awalnya yang tertunda karena kehadirannya.
*****
Iris mendongak menatap sosok yang sedang berbicara melalui telepon di balkon yang berada tepat di samping balkon kamarnya. Hanya dengan melihat raut wajah saudari kembarnya itu ia sudah bisa tahu bahwa orang yang sedang diajak berbicara olehnya adalah ayah mereka. Entah siapa yang menghubungi terlebih dahulu yang pasti selama dua hari setelah kepergian ayahnya ke luar kota, ia tak pernah sekali pun mendapatkan telepon dari laki-laki itu.
Ia tahu, sikap kasarnya saat di mana ayahnya akan berangkat ke luar kota cukup untuk membuat ayahnya merasa kecewa padanya, namun ia tak pernah berpikir bahwa satu-satu sosok orang tua baginya saat ini mengabaikannya dan seolah menganggapnya tak ada.
Bohong jika ia tak merindukan sosok ayahnya, karena walau bagaimanapun hanya ayahnyalah satu-satunya sosok orang tua yang ia miliki saat ini. Bahkan jauh di dalam hatinya ia selalu merasakan penyesalan terdalam setiap usai menyakiti hati ayahnya, namun itu semua ia lakukan karena suatu alasan yang tidak ada seorang pun tahu selain dirinya. Setiap hari memainkan peran yang sebenarnya bukan dirinya hanya untuk melindungi seseorang yang bahkan ia sendiri merasa tidak pantas untuk dilindungi.
Ia kembali pada laptop di pangkuannya yang menampilkan file dokumen dengan beberapa tulisan di dalamnya. Di saat sedang senggang dan merasa bosan tanpa tahu harus berbuat apa, ia memang selalu menyempatkan diri untuk membuat sebuah karya tulisan berupa puisi atau sekadar curhatan hatinya yang memang selalu ia tuangkan dalam tulisan. Karya yang tidak pernah ia publikasikan di mana pun dan hanya dibaca olehnya sendiri.
*****
Pergerakan Iris untuk menyendokkan nasi goreng ke dalam mulutnya terhenti saat melihat seseorang meletakkan semangkok bakso di atas meja yang sedang ia gunakan saat ini. Ia mendongak hanya untuk melihat wajah menyebalkan milik Alex yang seperti tak pernah lelah untuk mengganggu waktu tenangnya, padahal ia bisa dengan jelas melihat ada banyak meja kosong yang bisa digunakannya namun ia malah memilih mejanya yang jelas-jelas tak ingin diganggu siapa pun.
Apalagi ditambah kehadiran Irina dan dua teman perempuannya membuatnya semakin tidak nyaman. Ia lebih memilih seluruh dunia memusuhinya dibanding harus berada dalam posisi tidak mengenakkan seperti saat ini. Kehadiran Alex saja sudah membuatnya tidak nyaman ditambah kehadiran saudarinya yang selalu ia benci itu.
“Hei, kami boleh duduk di sini ‘kan?”
Tanpa mendengar persetujuan darinya mau pun Alex, Irina beserta kedua temannya yang lagi-lagi Iris tidak ketahui namanya itu langsung mengambil posisi duduk di sampingnya dan Alex yang hanya tersenyum menyambut kedatangan mereka. Meskipun Alex tak mengatakannya dan menyembunyikan emosinya dalam senyum ramahnya, namun Iris tahu bahwa pemuda itu juga merasa terganggu dengan kehadiran Irina dan dua temannya di sana.
Iris menghembuskan napasnya dengan keras sebelum meraih piringnya dan berniat untuk pergi dari sana namun tentu saja pergerakannya tertahan oleh Alex yang tak akan membiarkannya pergi ke mana pun. Ia benar-benar tidak bisa menikmati makanannya atas kehadiran orang-orang yang tak pernah ia harapkan kehadirannya itu, namun tentunya Alex berpikiran yang sebaliknya.
“Kau mau kemana?” Alex menatapnya dengan tatapan mengiba, di mana pemuda itu bersikap seolah anak kecil yang tak ingin ditinggal pergi oleh orang tuanya. “Di sini saja,” lanjutnya dengan tatapan memohon yang membuat Iris merasa sangat jahat saat ini.
Iris yang awalnya sudah berdiri itu kembali duduk, beberapa pasang mata sudah tertangkap mencuri-curi pandang padanya dan ia jelas sangat benci jika harus menjadi pusat perhatian. Ditambah lagi dengan tatapan tanpa emosi milik Irina yang sangat mengganggu dirinya. Ia kembali menikmati nasi gorengnya yang jelas sekali terasa hambar saat ini, padahal tadi ia merasa tidak ada yang salah dengan makanannya itu.
“Apa kalian sudah mengerjakan tugas dari Ibu Nur?” Seorang gadis dengan rambut yang ia kuncir kuda yang duduk persis di samping kiri Iris mengelurkan suaranya. Matanya menatap bergantian pada Irina dan satu temannya lagi yang bertubuh tambun di sebelahnya.
“Tentu saja sudah. Kau pikir dengan kepribadian tegas milik Ibu Nur membuatku berani untuk mengabaikan tugas yang dia berikan?” Gadis bertubuh tambun itu menjawab di sela-sela kunyahannya pada nasi gorengnya yang membuat Iris mendelik tak suka, suara kecapannya yang mengganggu pendengaran membuat selera makannya semakin menghilang.
“Lalu bagaimana denganmu, Irina?” Gadis kuncir kuda itu kini memandangi Irina yang sejak tadi hanya diam saja,
“Hei.” Gadis bertubuh tambun melambaikan tangan di depan wajah temannya yang baru saja melontarkan pertanyaan pada Irina padahal jelas-jelas mereka sudah tahu jawabannya. “Kau salah kalau mau bertanya pada Irina. Tidak mungkin gadis cerdas di sekolah kita lupa mengerjakan tugas.” Ia tergelak mengakhiri kalimatnya.
Irina tersenyum, melirik sejenak pada Iris sebelum menatap kedua temannya yang memang merupakan teman sekelasnya dan duduk di meja yang sama. “Jujur saja aku hampir saja lupa mengerjakannya tadi malam. Untung aku segera mengingatnya setelah melihat jadwal hari ini.”
“Ya ampun, hampir saja. Untung saja itu kamu, kalau saja itu Dewi, aku yakin dia sudah tidur nyenyak tanpa ingat tugas sama sekali. Ini saja aku masih tidak percaya kalau dia sudah selesai mengerjakan tugasnya.” Si gadis berkuncir kuda tertawa meledek temannya yanag bertubuh tambun yang akhirnya Iris ketahui bernama Dewi.
“Enak saja, aku tidak seperti itu tahu. Itu ‘kan kebiasaanmu yang suka lupa kalau ada tugas.” Gadis yang bernama Dewi itu merasa tak terima ditertawakan dan disebut pelupa oleh temannya, tangannya dengan lincah mengambil selembar keripik nasi gorengnya dan melemparkannya pada si gadis berkuncir kuda yang masih sibuk menertawakannya. Namun alih-alih mengenai temannya itu, keripiknya justru meleset dan tak mengenai siapa pun, tapi karena berusaha menghindari dari lemparan keripik temannya, gadis berkuncir kuda yang memang duduk di samping Iris tidak sengaja menyenggol gelas minum gadis itu sehingga air minumnya tumpah ke dalam piring nasi gorengnya yang masih tersisa banyak.
Alex segera menatap wajah Iris yang terpaku melihat piringnya yang kini banjir oleh air minumnya sendiri, meskipun bukan ia pelakunya namun ia tetap merasa bersalah melihat kemalangan yang menimpa gadis cantik itu. siapa pun pasti akan marah jika berada di posisinya saat ini dan Alex merasa wajar jika gadis cantik itu melampiaskan amarahnya yang memang sudah ia pendam sejak tadi.
Sementara gadis berkuncir kuda di sampingnya mendadak kaku dengan wajah pucat. Bahkan untuk mengeluarkan suara dan meminta maaf saat ini saja tak bisa ia lakukan karena rasa syok yang ia hadapi. Ia bahkan rasanya tak berani untuk menatap wajah Iris yang jelas saja sedang menahan mati-matian emosinya saat ini. “M-maaf, aku tidak sengaja.”
Iris masih terdiam namun napasnya yang memburu serta genggamannya pada sendoknya yang mengeras membuat siapa pun tahu bahwa ia sudah bersiap-siap untuk meledak saat ini. Pandangan matanya yang tajam beralih pada gadis di sampingnya yang sudah seperti kehilangan darah di wajahnya yang seputih kertas. Namun belum sempat ia mengeluarkan suaranya, suara Irina di depannya membuatnya menoleh pada gadis itu.
“Iris, dia tidak sengaja. Lagipula hal seperti ini sudah biasa terjadi, jadi jangan membuat keributan hanya untuk masalah kecil. Lagipula dia juga sudah meminta maaf, bukan?” Raut wajah Irina tampak tenang namun dingin di saat yang bersamaan saat mengucapkan kalimatnya, sementara tatapan matanya mengarah lurus pada sepasang mata Iris yang memandanginya tak percaya.
Tidak hanya Iris yang terkejut mendengar ucapan dari Irina, namun juga Alex yang kini menatap tak percaya pada gadis cantik itu. Ia tidak menyangka bahwa gadis yang terkenal ramah dengan sikap baiknya pada semua orang itu bisa mengeluarkan kata-kata yang lumayan kejam untuk ia katakan di saat seperti ini. Lagipula siapa pun yang berada di posisi Iris saat ini juga pasti akan merasakan hal yang sama dengan gadis itu. Tidak akan ada orang yang hanya diam saja dan tersenyum melihat makanan yang sedang ia nikmati terkena tumpahan air yang membuat mereka tak bisa menikmatinya lagi, meskipun hal itu tidak disengaja sekali pun. Ditambah lagi Iris adalah adik kandungnya.
Tatapan Alex kini beralih pada Iris yang masih memandangi dalam diam Irina, tampak jelas sekali meskipun gadis itu terdiam dengan bibir yang tertutup rapat, namun emosinya masih tampak jelas di matanya yang tajam. “Biar aku belikan nasi goreng yang baru.” Ia baru saja akan berdiri namun sudah didahului oleh Iris yang mendadak berdiri dan berjalan keluar dari kantin mengabaikan semua orang di sana.
Ia hanya bisa menghela napasnya, cukup mengerti bagaimana perasaan gadis itu yang pastinya kini merasa sangat kecewa. Ia menoleh pada Irina yang duduk di sampingnya, tampak gadis itu sedang kembali menikmati kembali makanannya tanpa merasa terganggu sedikit pun mengenai sikap Iris yang pergi meninggalkan mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Ada apa?” Irina memberikan senyum manisnya saat menyadari tatapan Alex yang sejak tadi tertuju padanya. Sedikit pun tidak ada rasa penyesalan di wajahnya setelah mempermalukan saudari kandungnya di hadapan seluruh penghuni kantin.
Alex menatap lurus pada manik bening milik Irina yang tak goyah di hadapannya, ia tak tersenyum pun menampilkan wajah hangat seperti biasanya. Untuk pertama kalinya ia merasa ada yang salah dengan sikap gadis di depannya saat itu. “Aku kecewa sama kamu.” Ia berdiri kemudian tatapannya beralih pada gadis berkuncir kuda yang menjadi tersangka penyebab kesialan yang menimpa Iris hari ini, ia dengan jelas bisa melihat wajah gugup gadis itu namun tak mengucapkan apa pun dan segera pergi dari sana.
Sepeninggal Alex, Irina tak bisa mempertahankan senyum ramahnya seperti tadi. Ia jelas tak bisa terima ucapan kekecewaan yang diucapkan pemuda tampan itu tadi padanya, apalagi itu ada hubungannya dengan Iris. Raut wajahnya tampak dingin dengan tatapan datar tanpa ekspresi menatap lurus pada makanannya yang sama sekali tak bisa ia nikmati lagi itu.
“Irina.” Gadis berkuncir kuda memanggil namanya dengan perasaan sedikit takut, namun ia berhasil menyembunyikan wajah dinginnya dengan senyum manis seperti biasanya.
“Kenapa?”
“Sekali lagi aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku tahu seharusnya ini kuucapkan di depan wajah Iris tapi aku tahu dia tidak akan mau memaafkanku.”
Irina tersenyum, senyum menenangkan yang selalu sukses menghipnostis siapa pun. “Tenang saja, dia pasti akan memaafkanmu. Aku akan menyampaikan permintaan maafmu yang tulus padanya sepulang sekolah nanti.”
Gadis berkuncir kuda itu tersenyum lega, ia benar-benar merasa beruntung memiliki teman seperti Irina. “Terima kasih, Irina.”
*****