Part 8 Menghindar Lebih Baik daripada Tersiksa

1209 Kata
Sarapan hari ini terasa lebih menyenangkan bagi Iris dibanding hari-hari sebelumnya, melihat wajah sedih Irina yang tentu saja terasa palsu di matanya serta raut wajah berat ayahnya yang akan meninggalkan mereka berdua selama seminggu di luar kota. Ini bukan yang pertama kalinya mereka berdua ditinggal pergi oleh ayahnya karena kesibukannya bekerja, namun entah kenapa ayahnya selalu saja menunjukkan wajah keberatan dan tampak tidak ikhlas meninggalkan mereka berdua yang jelas-jelas sudah bukan anak kecil lagi. Ia hanya sesekali melirik menyaksikan interaksi antara Irina dan ayahnya seolah mengabaikan keberadaannya di sana. Namun ia tak berkecil hati, karena ia tidak butuh perhatian dari ayahnya yang hanya akan selalu membuatnya merasa kecewa dan sakit hati. Sehingga ia rasanya sudah mati rasa dan tidak membutuhkannya lagi, sesuatu yang disebut kasih sayang oleh ayahnya. “Iris.” Kepalanya mendongak hanya untuk sekadar melihat wajah ayahnya yang masih tampak sedih saat ini, ditambah raut ketidak ikhlasan milik saudari kembarnya yang masih saja tidak ingin melanjutkan sandiwara palsunya. Ia tidak bertanya perihal ayahnya memanggil namanya, hanya cukup melihat wajah ayahnya saja laki-laki dewasa itu sudah tahu maksud dari tatapan matanya yang menyiratkan sebuah pertanyaan. “Jaga kakak kamu baik-baik selama ayah pergi.” Bagas dengan jelas bisa melihat raut tidak suka yang ditampilkan putri bungsunya itu saat mendengar kalimatnya barusan. Namun ia tak begitu menghiraukannya karena baginya saat ini yang bisa ia andalkan untuk menjaga putri sulungnya yang memang terkenal mempunyai fisik yang lemah sejak lahir itu. Meskipun ia tahu bagaimana hubungan keduanya yang tak pernah terlihat akur dengan Iris yang selalu menebarkan aura permusuhan pada kakaknya, namun ia selalu berharap bahwa suatu saat nanti keduanya akan saling menyadari bahwa mereka butuh satu sama lain. Terutama Iris yang tentunya akan sangat butuh pada kakaknya yang bisa mengayominya dan ia yang sebagai sosok pelindung bagi kakaknya itu. “Kenapa ayah tidak menyewa bodyguard saja untuk menjaganya? Kurasa mereka lebih bisa menjaga Irina dengan baik dibanding aku yang hanya seorang pembuat onar ini.” Bagas menghela napasnya, meski sudah tahu jawaban apa yang akan diberikan oleh putri bungsunya namun ia tetap berharap bahwa kali ini Iris akan memberikan jawaban yang sesuai dengan yang ia inginkan. “Kamu adalah adiknya dan kalian adalah saudara. Bukankah memang sudah seharusnya saudara untuk saling menjaga satu sama lain?” “Lalu bagaimana dengan Irina? Apa ayah juga menyuruhnya untuk menjagaku selama ayah pergi?” Sebenarnya Iris benci menanyakan hal itu karen itu hanya akan membuatnya terlihat sangat ingin diberi perhatian oleh ayahnya dengan menuntut untuk diperlakukan dengan hal yang sama seperti Irina. Namun ia tidak bisa menahan kekesalannya terhadap ayahnya yang benar-benar hanya memikirkan soal keadaan Irina, sementara dirinya terasa seperti orang asing di rumahnya sendiri. “Iris.” Irina berusaha meraih tangan kiri Iris yang bebas, namun sebelum ia sempat meraihnya Iris dengan segera menjauhkannya darinya. Adiknya itu tentu tidak ingin disentuh olehnya yang merupakan orang yang sangat dibencinya. Ia tersenyum simpul, berusaha menahan gejolak amarah di dalam hatinya yang tentunya tak ingin ia perlihatkan kepada orang lain. “Jangan salah paham dulu, maksud ayah adalah dia ingin agar kita berdua bisa saling menjaga satu sama lain selama kepergian ayah.” “Ah, benar. Itu yang ayah maksud, maaf ayah tidak bisa mengatakannya dengan benar.” Bagas berusaha meluruskan kalimatnya beberapa saat yang lalu saat melihat kode yang diberikan oleh putri sulungnya yang tentunya memintanya untuk andil dalam usahanya membujuk sikap keras kepala milik Iris yang memang sejak kecil selalu membuat masalah. Hal itu jugalah yang membuatnya harus berpisah dengan wanita yang dicintainya, ia tidak pernah menyalahkan Iris karena wajar seorang anak kecil untuk melakukan kesalahan. Kilas memori sepuluh tahun yang lalu masih membekas dengan jelas di ingatannya. Tentang bagaimana Iris kecil yang saat itu masih berusia tujuh tahun gemar membuat masalah, dimulai dari ia yang suka menyiksa binatang dan menaruh bangkainya di kamar para pembantunya, melukai pembantunya yang sedang memasak dengan api atau pisau yang membuat tidak ada satu pun yang betah tinggal bersama mereka sehingga akhrinya banyak dari mereka yang memilih untuk mengundurkan diri, Serta kejadian di mana ia mendorong ibunya sendiri saat akan menuruni tangga yang meskipun ibunya masih sempat berpegangan pada pegangan tangga dan selamat dari kejadian naas yang hampir membuatnya terluka, namun itu cukup membuatnya trauma sehingga ia tidak sanggup lagi menghadapi sikap anak bungsunya itu yang menurutnya sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Banyaknya protes yang mereka dapatkan dari para guru mau pun orang tua siswa lain yang dilukai oleh Iris membuat ibunya bahkan tidak berani keluar rumah, karena bahkan mereka sendiri tidak lepas dari ancaman bahaya dari Iris yang seperti sudah tidak tak terkendali. Gadis kecil itu bahkan juga tidak segan-segan melukai saudari kembarnya yang akhirnya membuat Irina kecil jadi gampang sakit dan memiliki trauma yang ia bawa hingga dewasa. Hal itu jugalah yang akhirnya membuat keluarga mereka terpecah, dengan ibu yang pergi meninggalkan mereka dan kini hidup bahagia dengan pria lain. “Ayah.” Panggilan lembut dari putri sulungnya membuat Bagas segera kembali pada kenyataan. Ia tak ingat sejak kapan ia melamun dan kembali mengingat masa lalu kelam yang tentu saja membuatnya patah hati karena harus ditinggal oleh orang yang sangat ia cintai. Ia tersenyum berusaha menenangkan Irina yang tampak khawatir padanya, “Ada apa, sayang?” “Ayah tidak apa-apa? Wajah ayah tampak pucat saat ini.” Ucapan Irina membuat Iris ikut memandangi wajah ayahnya yang memang terlihat pucat saat ini dengan keringat yang mengalir di pelipisnya padahal ruang makan yang mereka tempati saat itu terdapat Air Conditioner yang suhunya tidak bisa disebut panas yang mampu membuat ayahnya berkeringat seperti itu. Bagas mengelap keringatnya dengan selembar tisu, senyum masih tampak di wajahnya yang tampan. “Ini bukan apa-apa. Mungkin efek kelelahan akibat bergadang semalam.” Ia menyeruput kopi pahit yang memang menjadi favorite-nya setiap pagi atau saat bekerja yang mana membuat rasa pusing di kepalanya bisa berkurang dan ia bisa bekerja dengan baik. “Kalian makan lah, jangan sampai kalian terlambat. Ayah sendiri yang akan mengantar kalian ke sekolah hari ini.” Irina tersenyum. “Terima kasih, ayah.” Ia kemudian kembali menikmati sarapan paginya dengan wajah bahagia, mengabaikan tatapan tak suka Iris yang malah keberatan jika harus diantar oleh ayahnya yang tentu saja membuatnya harus berada di satu mobil yang sama dengan Irina. “Aku sudah selesai.” Iris meletakkan sendoknya begitu saja di atas piringnya yang masih tersisa banyak makanan. Ia memang tak begitu menikmati sarapannya pagi ini karena obrolan mereka yang sangat tidak menguntungkan baginya. Selain itu, ia juga menolak menghabiskan makanannya dan berusaha untuk berangkat sekolah sebelum ayah dan saudarinya selesai dengan sarapan mereka. Ia tentu tak ingin berada di satu mobil yang sama dengan orang-orang yang selalu membuatnya sesak. “Tapi makananmu belum selesai, Iris.” Iris menoleh pada ayahnya saat langkahnya sudah berada di ambang pintu. “Aku sudah kenyang dan aku akan berangkat ke sekolah sekarang bersama Pak Anto.” “Bukannya tadi kamu dengar kalau ayah akan mengantar kita berdua?” Irina bertanya dengan tatapan yang lurus padanya sementara ayahnya mengangguk di sampingnya. “Benar, duduklah dulu. Ayah dan kakakmu sebentar lagi akan selesai.” Iris melihat ayah dan saudarinya secara bergantian, raut wajahnya dengan jelas menunjukkan penolakan atas perintah ayahnya. “Maaf, yah. Tapi aku akan berangkat sendiri hari ini.” Kemudian ia berlalu dari sana mengabaikan teriakan ayahnya yang menggema di ruang makan. *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN